One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 101



Sesampainya kedua pasutri yang sedang hangat-hangatnya ini, ponsel Raihan berdering dengan menampilkan nama Andika. Raihan membuang nafas kasar, ia sudah menduga jika ada sesuatu dengan kakak iparnya.


Menerima dengan malas membuat Andini heran siapa si penelepon tersebut.


"Siapa?" ucap Andini tanpa bersuara kemudian Raihan memperlihatkan layar ponselnya. Dan di angguki oleh Andini.


"Kenapa?"


"Rai, gue ijin bentar ya. Agak sianganlah sampai sananya!"


"Kenapa?"


"Kenapa mulu loe? nggak ada pertanyaan lain apa?"


"Iya udah, loe mau ngapain telat begini?" tanyanya dengan geram.


"Di telpon sama art nya Cantika kalo itu anak sakit. Gue mau nganter bentar terus lanjut kerja."


"Jangan macem-macem loe! hubungin mamah sama papah aja biar mereka yang urusin!"


"Udah, gue nganter doank. Loe tenang aja, bentar lagi mamah sama papah nyusul ke rumah sakit."


"Hhmm ya udah."


Tut


"Kenapa mas?" tanya Andini penasaran.


"Biasa, dedek gemesnya sakit. Tapi mamah sama papah udah nyusul ke rumah sakit. Mudah-mudahan bisa buat masalah mereka selesai. Dan kamu juga bisa menerima dia menjadi adik kamu." Raihan sangat berharap masalah ini tak berlarut dan menjadi penghalang hubungan Erna dan Andika.


Keduanya adalah sahabat sejak jaman sekolah dan dia pun tau kisah keduanya, hingga sulitnya untuk bersama. Bahkan cukup salut dengan Andika yang kuat bertahan menunggu Erna menjanda. Sedangkan dirinya sudah dua kali menikah.


"Aku bagaimana mamah dan papah aja mas, mudah-mudahan dia gadis baik yang bisa mengerti akan posisinya saat ini. Jadi mudah menerima semua tanpa membuat keadaan semakin sulit."


"Iya, pintar istri aku. Jadi makin cinta. Keruangan aku dulu yuk!" ajakan yang Andini waspadai.


"Mau apa?"


"Gemesin kamu!" Raihan mengecup pipi Andini dengan gemas hingga pipi Andin memerah.


"Maaaasssss....." rengek Andini. "Ayo turun! mau kerja apa mau pacaran sich?"


"Kalo bisa kerja sambil pacaran kenapa nggak? Jarang-jarang bisa begini, ayo lah temani aku. Biar semangat jadi cepet kelar kerjaannya, katanya mau pulang cepat?" bujuk Raihan membuat Andini jengah, ia tau ini hanya modus seorang Raihan yang ingin terus merusuh padahal semalam sudah puas bergelut di ranjang.


"Mas kamu tuh nggak ada capeknya, waktunya kerja ya kerja donk mas!"


"Emangnya aku minta apa sich sayang? mommynya kembar aja yang piktor, orang di ajakin kerja bareng. Mumpung aku nggak ada jadwal meeting hari ini, jadi di ruangan aja."


Mendengar itu Andini segera keluar dari mobil, ia malu karena ucapannya ternyata salah dan pikirannya jelas minta di bersihkan. Hingga membuat wajahnya merona dan Raihan yang paham segera turun dari mobil kemudian merangkulnya.


"Kenapa sayang?"


"Apa sich mas? ayo masuk!" Andini melepaskan rangkulan Rai kemudian berjalan lebih dulu dan segera di susul oleh Rai.


"Hai, jalannya pelan-pelan!" Raihan meraih tangan Andini kemudian menggenggamnya dengan erat. Tingkah keduanya pun tak luput dari para karyawan yang diam-diam mengamati keharmonisan keduanya. Hingga tak jarang mereka tersenyum melihat atasannya.


"Nah kamu duduk sini oke!" Raihan mendudukkan Andini di kursi kerjanya agar lebih nyaman. "Bulan depan tuh tinggal beberapa hari lagi loh sayang, apa susahnya dekat denganku?"


Andini menghela nafas berat, sudah tak dapat terbantahkan jika sang suami sudah bertitah. Ia hanya bisa mengangguk pasrah.


"Makin cantik mommy kembar kalo nurut, aku akan minta bawakan pekerjaan kamu ke sini. Sebentar aku hubungi Erna dulu."


"Jangan minta mbak Erna kesini mas, kasian!"


"Nggak sayang, disana ada Tara. Biarkan dia yang mengantarkan, kamu nggak perlu khawatir. Daddy paham itu mommy!"


Setelah menghubungi Erna dan meminta Tara untuk mengantarkan pekerjaan Andini ke ruangannya, Raihan segera duduk di kursi depan meja Andin. Memutar laptop miliknya agar segera memulai pekerjaan.


"Jadinya mau di panggil Papah atau Daddy?" ternyata membahas tentang panggilan untuk kedua anaknya lebih menarik. Andini menopang wajahnya dengan sebelah tangan menatap intens sang suami yang sedang duduk di depannya.


"Sepertinya panggilan Daddy lebih hangat."


"Hangat? hot Daddy maksudnya? Aish....berasa masih muda ya?" tanyanya memicingkan mata.


Raihan tertawa dan mengusap lembut kepala Andin, "kamu bertanya dan aku menjawab, hhmm? aku lebih suka di panggil itu sayang dan kamu di panggil mommy jadi lebih menggemaskan."


"Awas kalo kamu berani main belakang mas!" ancam Andin.


"Main depan saja enak untuk apa main belakang? atau kamu mencoba? tapi awas nanti ketagihan!"


Andini memundurkan tubuhnya, menatap sengit sang suami yang ucapannya mulai ngelantur.


"Kamu nich ngomongin apa sich mas? otak kamu nggak jauh dari itu .....itu..... itu terus, nggak bisa di ajak serius!"


Raihan tertawa melihat wajah kesal sang istri yang membuatnya terhibur, kemudian mencubit hidung Andini hingga wanitanya merengek minta di lepaskan.


"Maasss....."


"Kapan siapnya?" tanya Rai dengan menaik turunkan alisnya.


"Apanya? bahas mesum terus aku tinggal ke ruanganku loh mas! apa kali begituan di bahas, aku jadi curiga sama kamu mas, kalo lagi lama di kamar mandi kamu sambil nonton ya?" tanya Andini penuh selidik. Sedangkan Raihan sudah menahan tawa tak menyangka sang istri berpikiran sampai sana.


Raihan berdiri dan beralih ke samping Andini, mengukung sang istri dengan dua tangannya menatap dalam wajah cantik yang membuatnya geregetan.


"Nonton apa sayang? menurutmu film apa yang menarik selain melihat langsung? coba kasih info, biar aku cari. Sepertinya istriku sudah lebih pandai sekarang, hhmm?" bisik Raihan.


Andini gelagapan, wajahnya merona mendapat pertanyaan dari Raihan.Ternyata apa yang ia ucapkan menjadi boomerang dan membuat sang suami dengan lihai membalas.


"Apa sayang? coba kasih tau link nya?" lirih Raihan tepat di telinga Andini hingga jantung Andini berdebar merasakan hatinya berdesir dengan tubuh meremang.


Andini serasa ingin mencelupkan diri di dalam kolam saat ini. Jika di lihat mungkin wajahnya sudah semerah tomat. Otaknya ngeblank, Andini memang tak sepolos namanya. Ia paham bahkan kadang kedua sahabatnya diam-diam mengajak nobar di sela-sela nonton Drakor hingga Andini menelusup ke dalam selimut malu melihat adegan yang ada. Hanya dia dari kedua sahabatnya jika di ajak mengintip film dewasa akan malu dan ingin kabur.


"Mas....sana ikh!"


"Jawab dulu!" desak Raihan. "Kamu pernah nonton dimana?"


"Nggak pernah mas! udah sana aku tuh hanya asal bicara saja karena setau aku pria ya seperti itu. Tak jauh dari film yang membuatnya candu," sewot Andini menutupi rasa malunya dengan memasang wajah kesal.


"Tapi aku lebih candu sama kamu dari pada film biru!"