
"Mas, siapa yang mau di masukin ke penangkaran?"
Mendengar suara sang istri Raihan yang fokus pada perut Andin segera mengalihkan pandangannya pada Andini.
"Sayang, kamu sudah bangun. Kamu buat aku panik sayang.." Raihan segera memeluk Andini, mengecup seluruh wajahnya hingga Andini merasa risih. "Apa yang kamu rasakan? pusing? mual?"
Andini mengernyit, menatap heran Raihan yang begitu panik. Hingga sesekali mengusap lembut perut Andini yang masih rata.
"Kenapa sich mas? kok pegang-pegang perut aku segala? aku masih lemes loh mas, nggak sanggup aku kalo mau lagi. Semalem aku sampe kedinginan di kamar mandi," keluar Andini.
"Owh owh owh......ternyata itu yang buat adik gue masuk angin. Sampe berefek mlendung 9 bulan lamanya."
"Kak Dika!" Andini terkesiap melihat Andika yang ternyata ada di kamarnya. Kemudian matanya melirik ke sebelah Andika ada pria yang masih koloran seperti suaminya.
"Mas itu siapa lagi? ini kenapa banyak lelaki begini di kamar aku mas?"
"Dia dokter yang tadi periksa kamu sayang, sahabat aku."
"Kok dokter pake koloran kayak kamu gitu? itu kakak aku juga kenapa bisa nyasar kesini pagi-pagi, nyari sarapan?"
"Ck, adik durhakim loe, gue itu kesini karena sayang sama loe! tau adik gue pingsan makanya gue datang. Tapi kalo mau di kasih sarapan juga nggak apa-apa, laper gue. Loe lama banget bangunnya!"
Sejak tadi Bayu masih diam, kesal pada Andini yang lupa siapa dirinya. Hingga Bayu beranjak dari sofa dan mendekat.
"Loe bener-bener ya Ndin, pingsan buat loe amnesia? sama gue lupa lagi loe! giliran sama Raihan fasih benar sampe mau di jadiin istri duda jabl@i begini."
"J@blai?" heran Andika.
"Jarang di belai!"
"Kak Bayu Pamungkas? ngapa jadi kayak gembel begini sich kak?" tanya Andini polos yang mendapat pelototan dari Bayu.
"Wah keterlaluan bini loe! Gue di kata gembel. Gembel-gembel begini profesi dokter ya. Laki loe tuh yang minta gue buru-buru kesini. Lah loe juga nggak nyadar laki sendiri udah kayak CEO gembel!"
"Sssttt sesama gembel harap diam! ayo sarapan! Dek udah sehat kan? ayo kita sarapan, kasian ponakan gue nanti kelaparan." Andika membantu Andini untuk bangun, sedangkan Raihan yang mendengar ocehan Andika dan Bayu menggelengkan kepala.
"Eeehhh.....loe mau bawa kemana bini gue?" Raihan tidak terima melihat Andika membawa Andini keluar kamar.
"Bini loe adik gue nyet, gue laper. Loe berdua kalo mau adu gembel Monggo dech, gue mau sarapan sama adik dan ponakan gue!" seru Andika merangkul pundak Andin.
Raihan yang melihat istrinya di bawa kabur kakaknya segera mengikuti, begitupun dengan Bayu. "Seeett gue di tinggal!" Bayu mengambil tas kerjanya dan segera keluar kamar.
"Makan yang banyak dek, biar ponakan kakak sehat."
"Harusnya gue yang ngomong gitu, ngapa jadi loe! gue yang usaha loe yang berkoar!" celetuk Raihan.
"Adil tau nggak!" sahut Andika.
"Dari tadi ponakan-ponakan terus, apa sich kak? Mana ada bocah di sini?" tanyanya yang masih belum nyambung arah pembicaraan mereka.
"Ck, loe mengandung dek, bunting, kalo nggak tau juga mlendung perut loe ada cebongnya si Raihan di situ!"
"Yang ngomong ini anak setan siapa?" celetuk Andika. "Laki loe stress, belum siap jadi bapak makanya otaknya geser! adikku yang cantik, manis, walaupun ngeselin, loe itu sedang hamil. You know hamil? pregnant? bener nggak sich bahasa Inggrisnya Bay?"
"Au' akh, laper gue. Ribut aja pada loe sono, jangan ganggu gue lagi makan."
"Sayang, udah kamu cepet sarapan abis itu kita ke rumah sakit buat cek kandungan ya."
"Jadi benar apa yang di bilang kak Andika mas?" tanya Andini dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Iya sayang, sebentar lagi kamu mau menjadi Ibu." Raihan mengusap kepala istrinya dengan sayang dan rasa haru yang membuncah di dada. Jika tak ada kedua sahabatnya mungkin dia sudah menangis bahagia.
Beberapa saat Andini terdiam, dia memikirkan ucapan Andika dan Raihan tadi. Andika pun sudah mulai mengambil nasi dan lauk, sudah tak tahan kala melihat ayam Upin melambai di piring. Raihan pun sama dengan senyuman hangat ia ingin memulai pagi ini dengan indah, sarapan dengan hati senang.
Tapi sesaat kemudian semua di buat panik dengan seruan Andini.
"APA? AKU HAMIL? BENERAN AKU HAMIL?"
Semua yang ada di meja makan menghentikan aktivitasnya, Raihan yang sedang menyendok sayur seketika melempar centong sayurnya, Andika yang ingin menikmati ayam sontak tercengang dengan paha ayam yang masih tertinggal di mulutnya, sedangkan Bayu sedang mengunyah tiba-tiba tersedak hingga mukanya memerah. Ketiganya masih sempat menganggukkan kepala. Dan tak lama kemudian di buat tercengang dengan tangisan Andini yang histeris.
"Hua.........hiksss.....Hua.....hikss......hikks..... Kenapa aku hamil sich mas, kan aku belum siap. Mamah ....hiks hiks."
"Sayang, kita kan bikinnya semangat banget loh, masak pas jadi bayi kamu nangis?"
"Din, loe bikinnya nafsu bener, siang-siang di kantor keramasan. Di pamerin ke gue lagi, ngapa loe sekarang mewek begini? jangan-jangan kesambet setan mandul loe ya?"
"Duuhhh Din, giliran bunting heboh bener, gue Ampe mau mati gara-gara keselek. Loe nggak inget bikinnya diem-diem!"
"Mas....." rengek Andini dengan wajah sendu, seketika Raihan berdiri dan memeluknya. Entah Andini lupa atau memang syok ketika kenyataan terjadi, tapi Raihan harus sabar menghadapi. Dia mengusap lembut punggung Andini dan mengucapkan kata-kata sayang.
"Kasian banget ayam Upin gue sampe nyangkut ke gigi," gumam Andika meneruskan gigitannya. "Gue yakin nich anak bar-bar kayak emaknya! hiiih..... pait-pait jangan aja ntar nyusahin gue!"
"Ngedumel Mulu loe kayak emak-emak nggak dikasih jatah! gue sumpahin adik loe bunting, loe yang di buat pusing!" celetuk Bayu.
"Heh....doa mulut sering ngerujak bibir nggak bakal di ijabah ya, kecuali doa emak gue!"
"Sayang, kita kan udah sepakat dan kamu sudah mau, kenapa malah menangis? nggak enak dong sayang di dengerin tetangga nanti di kiranya aku kdrt sama kamu! padahal kan cuma perkara si Joni mau punya adik!"
"Aku kaget mas, semua kayak mimpi. Cepet banget hamilnya."
"Berarti si Joni nggak kaleng-kaleng donk sayang, sekali meluncur tepat sasaran. Apa mau bikin lagi? biar nanti pas periksa nambah personil jadi kembar 3. Gimana?" tanya Raihan dengan mata berbinar.
"Mas.....!" kesal Andini yang tak mengerti jalan pikiran Raihan yang malah mengajaknya mengadon kembali.
"Nah, udah sana dari pada nangis, ntar gue sama bayu live streaming."
"Kak Andika!"
"Biar pinter dek, gini-gini Kakak loe masih perjaka."
"Pulang sana!"