One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 80



Hari ini Andini sudah mulai masuk kantor kembali, sebelum Raihan takjiah ia menyempatkan diri untuk mengantar sang istri ke kantor. Awalnya Andini ingin ikut ke pemakaman Gio tetapi Raihan melarangnya. Kondisi Andini yang sedang hamil menjadi pertimbangan.


"Mas jalan dulu ya, kamu kalo mual atau pusing istirahat dulu nggak apa-apa. Kalo nggak ke ruangan mas, tidur di kamar. Jangan di paksain ya."


"Iya mas," Andini mencium punggung tangan Raihan kemudian Rai memberi kecupan di kening dan bibir. Tak lupa juga mengusap lembut perut Andini.


"Papah pergi dulu sebentar ya sayang, kalian nggak boleh nakal."


cup


Raihan mencium perut datar Andini, kemudian kembali mengecup bibir istrinya.


"Udah mas, aku mau masuk dulu ya. Kamu hati-hati di jalan, oh iya sama siapa kesananya?"


"Tuh!" Rai menunjuk keluar tepat Andika sedang sang berjalan mendekati. Tadi sebelum berangkat ternyata keduanya sudah janjian. Dan ingin ke pemakaman Gio sekarang.


"Ya udah aku masuk ya mas," Andini membuka pintu mobil tepat Andika yang ingin masuk ke dalam mobil Rai.


"Eh nyonya Rai baru turun," sapa Andika dan bergeser agar adiknya bisa keluar.


"Eh jokut, masuk dech udah di tungguin sama si bos."


Andika mengernyitkan dahinya, apa maksudnya jokut....ia menggaruk tengkuknya kemudian menahan lengan Andini yang ingin melangkah.


"Jokut apa?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik.


"Jomblo akut!" Andini tersenyum miring melihat wajah kesal Andika. Kemudian melangkah kembali. Tapi Andika yang tak terima kembali menahan lengan Andini.


"Eh, urusan belum kelar. Minta di tegesin nich anak, nggak ada ya jomblo akut, bentar lagi gue sold out. Lampu hijau udah gue dapet, tinggal nunggu calon istri sehat dan kelar masa Iddah lanjut ke pernikahan." Ucapnya sombong, karena hati Andika sedang berbunga membayangkan menikah dengan Erna. Padahal dia juga tau, kondisi Erna masih sama.


"Anda pede sekali, usaha anda masih di butuhkan bung." Andini bersikap jumawa dan menepuk pundak Andika. Tapi hal itu membuat Andika gemas dengan sang adik, dia segera meraih jemari yang masih singgah di pundaknya kemudian menurunkan dengan kasar.


"Terserah loe mau kata apa, masuk sana loe bumil-bumil rusuh!" kesal Andika.


"Misik sini Li bimil-bimil risih." Andini mengulangi kata dengan bibir di buat-buat membuat sang kakak semakin kesal. "Loe yang dari tadi nahan gue!"


"Dasar adik nggak sopan! Bae-Bae jangan sampe ponakan gue ikut-ikutan! dasar bar-bar!" seru Andika yabg melihat adiknya sudah berjalan lebih dulu.


"Bodo amat!"


Andini tak perduli seruan sang kakak yang sedang mengumpat kesal, ntah kenapa ia suka melihat pemandangan itu. Andini masuk ke dalam dan segera keruangannya.


Hari ini Andini agak sedikit repot karena dirinya yang tengah hamil muda. Sejak pagi sudah mual dan sebelum berangkat menyiapkan makanan apa saja untuk mengurangi rasa mual dirinya.


Simbok juga ikut di repotkan, selain menyiapkan makan beliau menyiapkan buah-buahan dan segala macam permen yang asam. Karena Andini sadar tak mungkin ia menempel terus dengan suaminya untuk meredakan rasa mual.


Masuk ke dalam ruangannya di sambut oleh senyuman Tara, tapi Andini merasa kurang saat tak melihat Erna di sana. Biasanya Erna yang lebih dulu menyapa, tapi kali ini hanya Tara karena mbak Erna yang masih belum bisa masuk kerja.


"Pagi Bu Raihan...." sapanya.


"Udah lah, kerjaan gue banyak ya. Loe baru masuk dan gue harus ngerjain punya mbak Erna dan loe juga dari kemarin. Sekarang bantuin gue lah, mau copot rasanya ini mata manteng laptop terus!" celetuk Tara, padahal dalam hati ia senang bisa dekat Andini walaupun hanya sebatas menyapa atau pekerjaan.


"Iya, tenang aja gue kan udah masuk lagi nich. Satu hari nggak masuk aja udah bawel banget loe, kayak bapak-bapak nggak di kasih sarapan!"


"Bukan nggak si kasih sarapan tapi nggak di kasih jatah!" sahut Tara.


"Jatah? aish......otak loe!"


"Lah ngapa sama otak gue? otak gue pinter, emang ada yang salah?" tanyanya dengan wajah polos.


"Otak loe pagi-pagi melalang buana, jatah-jatah! nikah dulu baru minta jatah," Andini menggelengkan kepala tak tau apa yang ada dalam pikiran Tara saat ini.


"Loe pagi-pagi udah ngeres, mikir apa loe! emang jatah begituan doank? gue tuh kesel nggak dapet jatah duit jajan sama nyokap gue, mamah abis jual sawah tapi nggak ngasih jatah buat gue, katanya mau di buat beli sapi jadi kalo gue nikahan itu sapi di potong buat lauk prasmanan."


Andini di buat tercengang mendengar penuturan dari Tara. Sadar otaknya yang salah, wanita itu menyembunyikan wajahnya di balik laptop menghindari tatapan Tara yang tersenyum miring padanya.


"Wah ...wah....semenjak menikah Andini tak sepolos dulu ya. Otaknya sudah bekerja dengan baik sesuai usia dan tingkat kematangan. Dulu kalo di ajakin ciuman aja nggak mau nggak mau, giliran sekarang udah ngerasain lebih, eh itu otak kesana terus arahnya."


Melihat Andini kesal dengan wajah malu dan memerah membuat Tara tertawa. Tak menyangka si polos Andini kini sudah dewasa. Masih tersisa rasa menyesal, andai samua masih sama. Pasti saat ini ia sudah memeluk tubuhnya dengan gemas.


Pekerjaan hari ini memang cukup banyak, benar saja jika Tara kewalahan mengerjakan sendiri. Sedangkan Pak Heru sedang ada tugas di kantor cabang. Andini sejak tadi menahan mual setiap kali otaknya bekerja keras.


Memakan aneka buah agar tak berujung muntah. Andini dan Tara seperti sedang bermusuhan. Sejak fokus kerja tak ada obrolan apa lagi perdebatan seperti pagi tadi. Mereka sama-sama fokus karena pekerjaan yang menumpuk.


Uwek ...


uwek...


Di sela-sela kerjanya Andini tak tahan menahan rasa mual, padahal sejak tadi mulutnya tak bisa diam mengunyah buah dan permen bergantian.


Tara di buat terkejut dengan suara Andini, dia segera beranjak dan mendekati. Nampak Andini sedang menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerja dengan mata terpejam.


"Kenapa?" tanyanya yang merasa aneh dengan sikap Andini.


"Nggak apa-apa." Andini benar-benar mual, tak keluar apapun hanya enek dan ingin rebahan. Tapi tidak mungkin ia lakukan mengingat pekerjaan yang masih banyak dan mereka bekerja hanya berdua, akan kasian Tara jika ia harus menambah pekerjaan yang sudah menumpuk di meja Tara.


"Sakit?" tanyanya lagi, melirik ke meja Andini yang begitu banyak bungkus permen dan kotak buah-buahan. Ada rasa penasaran dengan kebiasaan yang tak pernah Andini lakukan. Apa lagi suara menahan mual yang ia dengar, dugaannya sepertinya benar.


"Nggak kok Tara, cuma badan gue lagi nggak enak aja. Udah sana balik ke meja loe, gue nggak apa-apa."


"Beneran loe?


"Bener, ya kali gue bohong. Udah nggak usah mikirin gue, balik ke meja loe sana biar jam istirahat bisa buru keluar. Kerjaan kita cepat kelar."


Akhirnya Tara menganggukkan kepala kembali ke mejanya meninggalkan Andini yang berusaha menahan mual.