One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 78



Sejak tadi Andini menangis membayangkan nasib Erna saat ini, apa lagi kabar kematian bayi yang sangat Erna nantikan. Setelah Raihan menjelaskan semua masalah yang ada hingga ia telat pulang kerumah. Kini keduanya dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Sayang, sudah jangan menangis terus. Ingat kamu nggak boleh banyak pikiran!"


"Aku nggak tega sama mbak Erna mas, mbak Erna harus menerima kenyataan sepahit ini. Mungkin dia kuat di sakiti suaminya tapi seorang Ibu nggak akan sanggup di tinggal pergi oleh anaknya."


"Iya, mas ngerti. Mas juga sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa Erna. Tapi kita nggak boleh menunjukkan rasa sedih di depan dia. Erna sedang butuh support dari kita. Semangat agar dia bangkit lagi menata hidupnya. Melupakan semua kejadian pahit yang akan menjadi trauma tersendiri di dirinya. Berhenti menangis ya, kita harus tetap tersenyum di depan Erna."


Andini menganggukkan kepala, benar kata Raihan. Dia tidak boleh menangis di depan Erna, karena akan menambah kesedihan di hatinya. Bukan air mata yang Erna butuhkan saat ini, tapi dukungan dan semangat hingga ia bisa kembali tersenyum.


Raihan menggenggam tangan Andini, membawanya menuju ruangan Erna karena tadi Andika berpesan jika dia sudah keluar dari kamarnya dan kini berada di kamar rawat Erna.


"Erna, makan ya gue suapin." Andika sejak tadi membujuk Erna untuk makan tapi tak ada respon sama sekali. Kondisinya masih sama, hanya diam dengan tatapan kosong dan tak bersuara sama sekali. Bahkan hanya ada air mata saat ingatannya teringat akan kematian bayi yang ia lahirkan.


Kemarin saat Erna melakukan operasi, dia sadar tak ada suara bayi menangis ketika di keluarkan dari dalam perutnya. Bahkan suara gumaman dokter yang sedang berusaha melakukan tindakan pada bayinya membuat Erna penasaran.


Hingga ia keluar dari ruang operasi sampai di pindahkan ke kamar rawat tak kunjung di pertemukan dengan bayinya. Awalnya Erna masih berpikir positif akan itu semua. Dia berpikir mungkin karena pendarahan yang ia alami dan hujaman yang ia dapatkan hingga terjadi benturan di perutnya membuat kondisi bayi perlu penanganan serius.


Tapi saat orang tuanya masuk ke ruangan dengan wajah sendu. Erna mulai berpikir buruk dengan semua yang ia alami. Erna menatap wajah mamah, kemudian menyentuh tangan mamahnya yang sudah berdiri di samping ranjang.


"Mah...."


"Iya nak, bagaimana keadaan kamu?" tanyanya dengan senyum yang di paksakan.


"Masih sakit di area perutku Mah. Mah, mana bayiku? kenapa kalian kesini tak membawanya?"


Mamah semakin menunduk sedangkan Papah tak mampu menjawab. Mereka diam hingga Erna semakin yakin jika ada sesuatu yang terjadi dengan bayinya.


"Mah...."


"Allah lebih sayang dengan cucu mamah nak, dia sudah tak bernyawa saat di keluarkan," lirih Mamah membuat air mata Erna pecah. Jantungnya berdebar kencang dengan tubuh yang seketika lemas. Bahkan genggaman tangan di tangan mamahnya pun terlepas.


"Nggak mungkin..."


"Mamah bohong kan? dia bayi yang kuat Mah, dia menemaniku setiap perlakuan buruk yang aku dapatkan. Dia selalu sehat setiap aku cek kehamilan. Nggak mungkin dia pergi ninggalin aku Mah, nggak mungkin!" teriak Erna yang sudah tak mampu mengontrol emosinya.


Bayangan akan bahagia bersama anaknya sirna sudah, kini hanya tersisa kenangan menyakitkan yang Gio berikan hingga dirinya tak sanggup menjalani hidup saat kabar duka yang harus ia terima.


"Maafkan kami nak, andai Mamah lebih peka lagi sebagai ibu. Kamu nggak akan menderita seperti ini."


"Papah juga minta maaf Erna, disini Papah yang salah. Papah yang membuatmu menderita. Andai Papah tidak egois, kamu nggak akan sesakit ini nak," Papah menangis menyesali semua yang ia lakukan, ketidakpercayaan dia pada semua orang karena gelap mata akan kedudukan. Berujung kehilangan cucu yang selama ini dinantikan.


Hingga paginya, kedua orang tua Erna meminta Andika untuk membujuk agar Erna mau makan. Dan membantunya untuk kembali pada keadaan sebelumnya.


"Nak Andika, saya minta maaf atas perlakuan buruk yang saya lakukan selama ini. Ucapan yang telah membuat kamu sakit hati. Dan restu yang sempat saya halangi."


Pak Nugraha bersimpuh di depan Andika saat Andika ingin meninggalkan kamar rawatnya.


"Om jangan seperti ini...." Andika membantu Pak Nugraha untuk bangkit kembali. Dia menatap wajah pria paruh baya yang biasa tampak angkuh dengan kata-kata menusuk kalbu, kini tampak kuyu dan lesu. Semalaman beliau tak tidur, menunggu Erna yang terkadang bangun dan menangis saat merasakan dadanya yang sakit karena ASI yang tak bisa di keluarkan. Bahkan semalam Erna sempat mengalami demam.


"Saya mohon maafkan saya Andika, saya berjanji akan merestui hubungan kalian. Tapi saya mohon, bantu saya mengembalikan lagi Erna seperti dulu sebelum ia menikah dengan Gio."


"Saya sudah memaafkan Om dan saya juga akan berusaha membantu Om semampu saya. Tapi saya tidak bisa berjanji akan semudah itu mengembalikan mental Erna yang sudah rusak atas perlakuan Gio selama ini."


Pak Nugraha menganggukkan kepala, dia paham ini tidak akan mudah. "Tidak apa-apa, kamu mau membantu saya saja saya sudah sangat berterima kasih. Karena saya tau, Erna masih mencintai kamu. Mungkin dengan kedekatan kalian, Erna lebih mau merespon dan keluar dari lamunannya yang membuat dirinya sulit sembuh."


Setelah pembicaraan itu, Andika yang tadi berniat ikut ke pemakaman, kini menjaga Erna karena kedua orangtuanya harus mengantarkan cucu mereka ke tempat peristirahatan terakhir.


"Erna, gue tau ini semua sakit banget buat loe gue juga ngerasain hal yang sama kayak loe. Tapi bukan untuk meratapi semuanya, loe harus bangkit dari ini semua. Hidup nggak berhenti di sini."


"Gue sayang sama loe, gue akan dampingi loe terus. Dan kehilangan yang loe alami semua akan ada hikmahnya, Allah akan gantikan semuanya. Ikhlasin dia ya, mungkin ini bukan yang terbaik buat loe. Nanti kita bikin lagi, gue janji akan kasih anak yang banyak buat loe. Selama loe kuat ngeden mau berapa juga gue jabanin. Sembuh ya...loe nggak pengen muntah emangnya dengerin ocehan gue yang kayak orang bener tadi?"


Andika berdiri kemudian mengecup kening Erna. Dalam diam Erna kembali meneteskan air mata. Ia mendengar ucapan Andika, tapi untuk kembali membuka suara ia belum sanggup. Dia masih butuh waktu untuk menerima semuanya.


"Assalamualaikum..."


"Wa'allaikumsalam....Er, liat noh calon adik ipar loe datang. Loe tau, kita bentar lagi punya ponakan kembar." Andika nampak semangat berusaha membuat Erna merespon yang ia ucapkan.


"Sini dek, kasih tau Erna dek. Kalo loe lagi hamil kembar."


Andini melangkah mendekati ranjang Erna setelah sebelumnya Raihan mengusap lengannya menguatkan agar tidak menangis di depan Erna.


"Mbak, maaf aku baru datang. Bagaimana keadaan mbak?" tak ada respon dari Erna membuat Andini menoleh ke arah kakaknya. Andika hanya menganggukkan kepala, kemudian Andini kembali mengajak Erna berbicara. Sedangkan Raihan yang tau sakitnya Andika menahan sesak di dadanya segera menarik tangan Andika keluar ruangan.


"Nangis kalo udah nggak kuat, jangan di tahan. Gue tau loe sakit liat kondisi Erna saat ini."


Andika memukul tembok berulangkali hingga air matanya runtuh. Rasanya ia ingin membunuh Gio hidup-hidup. Menghajarnya kemarin tak membuatnya puas jika efek dari semua kelakuannya membuat mental Erna tertekan.


"Dimana dia sekarang?"


"Sudah ada di tempat yang seharusnya."