
Andini memutuskan untuk pergi ke kantin, dia butuh minuman segar agar otak dan hatinya dingin kembali. Melihat wanita di dekat Rai membuat Andini marah, tapi sebisa mungkin ia bersikap tenang karena untuk menghempaskan wanita yang ingin merayu sang suami bukan dengan cara marah-marah dan nangis Bombay.
Andini masuk ke kantin dan mencari-cari keberadaan kedua sahabatnya. Tapi tak dia temukan salah satu di antara keduanya. Hingga ia memutuskan untuk duduk di kursi kak Dika dan Erna yang tengah makan begitu lahap.
"Ngapa loe?"
Andini menoleh ke arah kakaknya sebentar kemudian kembali membuang muka. "Sejak kapan mantan istrinya kak Rai datang kemari?"
Andika yang mengerti tersenyum kecut melihat wajah sang adik yang kesal dan memerah.
"Loe abis ketemu? apa malah mergokin mereka berduaan?"
"Dua-duanya!"
"Bentar-bentar...minum dulu Andin, nich seger es jeruk buatan mang Udin." Erna menyodorkan satu gelas es jeruk ke hadapan Andini, belum ada satu menit gelas itu sudah kosong karena Andini yang langsung menyedotnya hingga tuntas.
"Loe haus apa doyan? Er pesen lagi aja ya, adik aku malu-maluin emang anaknya."
"Kak Andika!"
"Lagian loe marah? panas? sampe tuh es jeruk segelas abis sama balok-balok esnya! cemburu ya? bilang nggak cinta giliran loe tau dia kena goda kepanasan, makanya jangan muna! bucin kan loe!" oceh Andika yang membuat Andini melempar tatapan tajam,
"Sebenarnya adik loe gue apa kak Rai sich? pro banget loe berdua! bukan ngademin hati gue, jelasin kek. Andini cantik loe nggak usah khawatir, Raihan nggak akan berani macam-macam kok, biar nanti gue kasih bogem mentah orangnya, gitu!" Kesal Andini.
"Pengen banget loe gue manja-manja, lagian mau begitu nggak perlu gue ngomong sama loe dulu! loe tenang aja, laki loe nggak bakal berani macam-macam. Bukan karena takut sama gue, tapi emang sifat Rai begitu. Dia nggak mudah di goda, jadi aman!"
"Tetap aja, gue liat dia nggak bisa berkutik pas tuh cewek main nyosor aja."
"Makanya kalo laki minta tuh di kasih, jangan loe anggurin. Lah loe kata kagak pusing! mungkin Rai udah kepingin pas banget ada yang mau ngasih!" Andini menganga mendengar ucapan Andika. Seketika tangannya maju memukul lengan Andika begitu kencang.
"Loe nggak usah ngarang ya kak! jangan jadi kompor buat mbledukin hati gue!" sewot Andini.
"Terserah loe kalo nggak mau dengerin ucapan gue! yang penting kalo sampe kejadian, jangan loe nangis Dayak aja sama gue!"
Erna yang sejak tadi hanya menyimak akhirnya paham hubungan apa yang terjalin antara Rai dan Andini. Dia segera melerai kala ucapan adik dan kakak itu mulai bernada tinggi, khawatir akan mengundang asumsi orang lain yang tentunya menimbulkan banyak gosip.
"Stop, kalian berdua nggak ada akurnya. Bicara yang baik-baik emang nggak bisa, Dika juga jangan kayak anak kecil kenapa? adiknya minta di perhatikan bukan malah di buat semakin kesal!"
"Nah bener banget tuh, barter aja kali nanti pulang kantor otw ke rumah mamah ya mbk. Mbak resmi jadi Kakak aku!"
Andika tak terima ucapan Andin tapi dia pun mengaminkan jika Erna menjadi kakak ipar adiknya. "Nggak usah ngarang loe! terus maksud loe gue suruh duel pisang sama lakinya! kecuali kalo Erna jadi Kakak ipar loe baru gue mau!"
"Andika!"
Andika mengangkat kedua jarinya, menggambarkan permintaan maaf.
"Rai suami kamu?" tanya Erna to the point', membuat Andini gelagapan dan ingat akan keributannya dengan Dika tadi.
"Udah nggak usah loe tutupin, Erna pinter nggak mungkin loe kadalin terus!" Kemudian Andika beralih menatap Erna, "Iya mereka sudah menikah, tapi begitu masih suka kayak Tom Jerry, maklum efek nikah sama bocil jadi nggak ngerti maunya laki!"
Erna tersenyum dan paham maksud dari andika, "Din, Raihan orangnya nggak gampang tergoda kok! kalo sampe dia aneh-aneh di belakang kamu, bilang sama mbak. Nanti biar aku yang ngasih pelajaran, kamu tenang aja! tapi tadi Sarah masih sama Rai apa sudah pergi?"
"Makasih ya mbak, perempuan itu tadi sudah pergi, dia nggak terima kalo lihat aku mesra sama kak Rai."
"Bucin ya?" ledek Erna.
"Apa sich mbak!" Andini tersipu malu.
"Udah move on dong sama mantan?"
"Kayaknya udah!" Andini tertawa, dia baru sadar jika sejak tadi marah, kesal, karena cemburu pada Rai.
Setelah dari kantin, Andini lanjut kerja. Tak ada niat makan siang, dia hanya menghabiskan dua gelas es jeruk. Melanjutkan pekerjaan dengan serius tak ingin banyak yang mengganggu. Hingga jam pulang kerja, kedua sahabatnya tiba-tiba sudah menunggu di pintu ruangannya.
"Kalian pada ngapain?" tanya Andini heran.
Andini memutar bola matanya, sudah dapat di pastikan kedua sahabatnya ini akan menanyakan hubungannya dengan Rai.
"Mau dimana?"
"Cafe tempat biasa!"
Ketiganya menuju cafe tempat biasa dengan menggunakan mobil Andini.Tak lupa memesan makanan dan minuman, sebagai pelengkap obrolan yang tak akan sebentar.
"Jelasin!" tegas Tia.
"Ck, makanan gue belum abis." Andini kembali memakan makanannya, perut yang belum terisi dari siang sedangkan energinya sudah terkuras di ruangan Rai tadi membuat perutnya ngereog kelaparan.
"Loe beneran ada hubungan sama kak Rai Din?" tanya Riri yang juga penasaran.
"Hmm..."
"Sejak kapan? loe sama Tara nggak saling selingkuh kan?" tanya lagi, dan di jawab gelengan kepala oleh Andini.
"Terus?"
"Nggak terus-terus!"
"Ck, loe gue gigit Din kalo nggak mau jelasin!" gereget Tia.
Andini meletakkan sendok dan garpunya kemudian meminum minuman miliknya setelah itu baru menatap kedua temannya yang sejak tadi dalam mode kepo maksimal.
"Gue udah ada sebulan sama kak Rai."
"Seintim itu? hanya dalam sebulan?" tanya Tia yang tak percaya karena dia yang tempo hari melihat Andini di cium dan mendapat pelukan dari Rai di atas ranjang. Sedangkan dia tau, cara pacaran Andini tak seperti itu. Bahkan tak perduli jika di cap pacaran dengan bocah.
"Hhmm....kalian mikirnya gue gimana?"
"Lebih dari pacaran lah, sekarang loe bayangan aja, di ranjang berduaan. Mesra-mesraan, cium-cium, peluk-peluk. Loe pikir gue lupa cara pacaran loe? apa gara-gara pacaran sama duda loe jadi liar?" tanya Tia penuh selidik, dia yang paling tidak terima jika Andini tersesat.
"Ck, Kak Rai suami gue!"
"Haaaahhh!!! keduanya terkejut hingga mereka mencondongkan tubuh mereka membuat Andini mundur kebelakang.
"Gue nggak salah dengar kan Din, sejak kapan suka sama duda?" sahut Riri.
"Serius kalo ngomong, loe ngarang? di kata lagi pelajaran bahasa? kita nggak lagi main-main!" timpal Tia.
"Gue juga serius blay! kalian nanya gue jawab! ngapa jadi pada malah maju semua begini, mundur loe pada!"
Mereka kembali ke posisi semula, memposisikan duduk menghadap Andini. "Kenapa nggak ada undangan? janur kuning kering juga nggak ada di pager rumah loe!"
Andini akhirnya menceritakan semuanya, sejak awal datang ke kosan Tara, memergoki kelakuan sang mantan, hingga akhirnya ia mabuk dan tersesat di kamar tamu yang menyebabkan kehilangan kehormatannya.
"Nggak nyangka sampai seperti itu efeknya!" Tia memijit pelipisnya.
"Tapi bersyukurlah, loe jatuh ke pelukan kak Rai, walaupun duda, tapi bukan duda sembarangan. Tiap pagi bisa liat wajah gantengnya, mau bobo di peluk sama badan kekernya, di cium-cium di sayang-sayang. Gue juga ma_" Riri meringis ketika sendok singgah di kepalanya.
"Mau jadi pelakor?" kesal Andini.
"Widih....udah bucin, padahal mah kemarin nolak, nggak masuk kriteria pak duda. Udah kena pedang sakti loe ya makanya begini!" ledek Tia.
"Terserah apa kata loe! yang jelas nggak ada yang boleh lagi bayangin laki gue! dan gue harap kalian rahasiain semuanya ya, gue nggak mau ada yang tau dulu. Biar nanti kalo waktunya udah pas, baru dipikirkan lagi."
"Oke, tapi salam ya buat kak Rai!"
"Iya, tapi sini loe berdua gue beri dulu!"