
Sore ini Andika mengajak Erna ke rumah yang biasa ia kunjungi. Rumah seorang gadis yang bernama Cantika. Erna tak keberatan akan itu. Ia justru penasaran dengan gadis yang mencintai Andika.
Terlepas dari masalah yang ada Erna ingin mengajak gadis itu berteman, ia tau sulitnya gadis itu melepaskan Andika karena ia merasa sendirian. Ada rasa takut dan tekanan di dirinya mengingat kedua orang tuanya telah tiada.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, keduanya hanya diam dan fokus dengan pikiran masing-masing. Ketengilan yang Andika miliki pun kembali hilang. Ia fokus dengan setirnya dan tak menoleh ke arah Erna.
Perubahan itu juga Erna rasakan,sempat heran tapi Erna tak mempermasalahkan. Mungkin ini adalah sikap Andika jika di depan Cantika yang membuat Cantika mencintainya.
"Bentar, gue beliin makanan kesukaan dia dulu!" Andika turun dari mobil setelah memarkirkan mobil di depan toko kue.
Erna yang melihat Andika keluar dari mobil hanya menarik nafas berat, ini lah Andika baik dengan siapa saja dan tak pernah lupa apa yang di sukai oleh orang yang di sayang.
Setelah membeli kue keju kesukaan Cantika, pria itu kembali melajukan mobilnya hingga terparkir rapi di halaman rumah yang cukup besar.
Dapat di lihat gadis ini adalah orang berada, tak kekurangan walaupun orang tuanya tiada. Mungkin dulu papahnya seorang pengusaha sukses yang meninggalkan banyak harta.
Andika membukakan pintu untuk Erna, ia mengapit jemari Erna dan mengajaknya masuk ke dalam.
"Assalamualaikum.."
"Wa'allaikumsalam den..." jawab seorang wanita paruh baya yang sedang membersihkan rumah.
"Masuk den, non cantika ada di kamar."
"Makasih Bi," Andika menarik tangan Erna mengajaknya menuju kamar Cantika. Sempat heran dengan Andika yang begitu lancar dan dengan sikap santai menuju kamar seorang gadis. Tapi disini Erna masih diam mengamati.
Andika mengetuk pintu beberapa kali saat sudah sampai di depan pintu kamar yang bertuliskan nama "Cantika" hingga pintu itu terbuka dan menampilkan seorang gadis cantik dengan wajah imutnya berdiri di ambang pintu dengan mata berbinar.
"Mas... " Cantika segera memeluk Andika saat tau siapa yang datang. Sejak semalam ia tak bisa tidur. Sekolah tak fokus dan di rumah pun hanya melamun. Ia takut jika apa yang ia lakukan semalam membuat Andika membencinya dan tak mau lagi menemuinya.
Pelukan Cantika membuat genggaman tangan Andika pada erna terlepas. Dirinya yang tak siap hanya menerima tanpa membalas.
Erna pun hanya mengernyitkan dahinya melihat gadis itu tiba-tiba memeluk pria yang ia cintai. Ada rasa cemburu tapi Erna menekan itu dan memilih menundukkan kepala tak ingin melihat terlalu lama.
"Lepas dulu Cantika!" ucap Andika yang merasa tak nyaman apa lagi Erna mulai menunjukkan aura wajah yang berbeda.
"Mas, maafin aku. Aku tau aku salah. Tapi tolong jangan membenciku dan jangan menjauhiku mas, maafin atas perilakuku semalam." Cantika belum kunjung melepaskan pelukannya hingga Andika mencoba kembali melepaskan.
"Lepas dulu ya!" ucapnya lembut.
Cantika akhirnya melepaskan pelukannya, ia belum sadar jika disana tak hanya Andika yang datang. Karena posisi Erna yang berdiri di belakang Andika.
"Mas," Cantika menggenggam tangan Andika dengan wajah sendu.
Erna hanya tersenyum getir melihatnya, ternyata Cantika sudah sedekat itu tanpa canggung. Sedangkan dirinya saja yang mengenal lama Andika bahkan berhubungan lebih dari teman tak berani mengekspresikan diri dulu pada pria yang kini berusaha melepaskan genggaman tangan gadis itu.
"Kita ngobrol di bawah saja ya, mas sudah membelikan kue kesukaan kamu. Ada di bawah sama Bibi."
Sikap Andika pun berbeda 180⁰ dengan Cantika, begitu lembut dan perhatian. Tak heran jika gadis itu tergila-gila.
"Mas..." panggilan dari Cantika membuat langkah Andika dan Erna terhenti. Keduanya menoleh kebelakang menatap Cantika dengan wajah yang begitu sedih.
"Dia siapa mas?" Andika baru paham jika sejak tadi Cantika tak tau jika ada Erna bersamanya.
"Dia....kenalin dulu, namanya Erna calon istri mas," tegasnya membuat Cantika membeku di tempat, matanya mulai berkaca dan hatinya bagai di hujam batu besar.
Cantika tersenyum getir, kemudian meraih tangan Erna dan bersalaman.
"Cantika..."
Erna hanya menganggukkan kepala, dengan senyum hangat yang ia berikan membuat Cantika seperti tertampar. Sosok wanita dewasa dengan wajah cantik dan keibuan, pantas saja Andika begitu mencintainya. Jauh dengan dirinya yang hanya seorang gadis SMA dengan sikap kekanakan.
Kini ketiganya sudah duduk di sofa, sikap Cantika tak seperti tadi saat melihat Andika datang. Ia lebih diam dengan wajah sendu dan menundukkan kepala.
Andika menoleh ke arah Erna dan di sambut oleh senyuman manis wanitanya. Kemudian kembali menatap Cantika. Pria itu menarik nafas dalam sebelum akhirnya meraih tangan gadis itu.
"Mas nggak marah, mas anggap itu kenakalan remaja. Mas paham akan tindakan kamu dan tujuan kamu. Tetapi mas tidak membenarkan itu."
"Cantika, mas kesini membawa Erna agar kalian saling kenal. Mas nggak akan lepas tanggung jawab akan janji mas pada mendiang ibu. Maka dari itu mas membawanya agar kalian akrab dan kamu tidak merasa kesepian."
Andika meraih tangan Erna dengan tangan yang lainnya.
"Lupakan malam itu dan maaf jika mas tidak bisa membalas cinta kamu. Tapi mas sangat menyayangi kamu sama seperti Andini adikku. Jika kamu mau mas akan mengenalkan kamu dengan keluarga mas."
Air mata yang Cantika tahan sejak tadi akhirnya jatuh juga, ia sudah tak bisa menahan rasa sakit hatinya melihat Andika membawa wanita yang ia cintai dan mendengar ucapan Andika yang hanya menganggapnya sebagai adik.
"Mas bisa pulang, Cantika ingin sendiri dulu!" Cantika melepaskan genggaman tangan Andika dan segera beranjak dari sana.
"Kejar Dik!" titah Erna yang melihat Cantika berlari menuju kamarnya. Tapi Andika hanya menggelengkan kepala, ia menatap Erna dengan tatapan penuh makna.
"Kalo gue kejar gue bakal nyakitin loe juga. Biarin aja, dia butuh waktu buat sendiri dan memikirkan semuanya. Sekarang kita pulang! besok kita kesini lagi."
"Tapi Cantika?"
"Loe mau gue disini dan kasih harapan buat dia lagi? terus gimana sama hubungan kita? loe nggak takut gue bakal luluh dan berpaling dari loe?"
"Gue percaya sama loe!" ucap Erna tegas membuat senyuman di wajah Andika mengembang, tanpa mereka tau jika gadis itu melihat interaksi antara keduanya. Dan segera menuju kamar dengan kepiluan di dada.
Keduanya beranjak dari sana dan pamit pada Bibi, sebelumnya Andika pun menitipkan Cantika pada wanita paruh baya itu dan memintanya segera menghubungi jika ada sesuatu yang terjadi pada Cantika.
"Makasih ya udah mau ikut kesana dan nemenin gue! gue tau sekarang di kepala loe banyak pertanyaan dengan sikap gue kan?" tanyanya saat keduanya sudah sampai di halaman rumah Erna.
"Hhmmm..nggak nyangka Andika bisa selembut itu, gue nggak heran kalo Cantika bakal baper sama loe! mas Andika..." Erna memberi penekanan di akhir kalimatnya, ada rasa tak nyaman dengan panggilan Cantika pada Andika.
"Sorry kalo gue nyakitin loe..." lirih Andika. Dia paham Erna cemburu, tapi sejak awal bertemu memang Cantika sudah memanggilnya dengan sebutan "mas" dan Andika tak melarang itu.