One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 39



"Kakak...." Andini merengek kesal dengan memukul lengan Raihan.


"Kenapa sich sayang?" kini keduanya sudah dalam posisi terduduk. Rai tak menghindar saat pukulan tangan Andini berulang kali mendarat di lengannya.


"Kenapa datang nggak ngasih aba-aba sich? temen aku heboh kan jadinya. Hari ini tuh aku mulai di cecar pertanyaan dari temen-temen aku, di kantor mbak Erna udah nanya terus dan tadi Tia juga sama, eh malah liat kakak dateng main nyosor aja. Besok aku harus bilang apa coba kak?" keluh Andini.


"Tinggal bilang jujur apa susahnya, mereka orang yang bisa di percaya kan?" ucap Raihan santai kemudian melepas dasi dan membuka satu persatu kancing kemejanya.


Melihat itu Andini seketika memalingkan wajah, tak terlalu menanggapi ucapan Rai karena dia dalam mode gugup. Seketika bayangan saat di kantor tadi membuat wajahnya bersemu.


"Wajah kamu kenapa kok merah gitu, hhmm?" ledek Rai. "Inget apa sayang?" lirih Raihan yang mulai jail dengan meniup tengkuk Andin membuat tubuh istrinya meremang.


"Kak, jangan gitu ikh..." Andini yang tidak kuat dekat dengan Raihan segera beranjak dari ranjang tapi dengan cepat Rai menahannya dan memeluk tubuh Andini. Hingga dapat di rasakan kulit Rai menempel di tubuhnya.


"Kak...Jangan bikin ulah donk, mandi sana terus ayo kita makan malam. Simbok pasti udah selesai masak."


"Lagi nggak pengen makan masakan simbok."


"Terus kakak mau makan di luar?" tanya Andin lagi.


"Makan yang ada di dalam kamar, kapan selesai sayang?" pertanyaan yang Andini sudah tau arah dan tujuannya. Apa mungkin menikah dengan pria dewasa yang diinginkan selalu urusan ranjang. Raihan pun berubah mesum setelah di kasih lampu hijau.


"Masih empat harian kak, lepas dulu dech kak jangan gini. Kakak nich nempel Mulu sich! nggak gerah apa?" sewot Andini menutupi rasa gugupnya.


"Masih lama banget sich dek, nggak bisa di nego gitu tamunya? bilang gantian sama yang lain kunjungannya. Menyiksa banget dek, pala aku pusing," keluh Raihan dengan nada lemah.


Andini sempat melirik wajah Raihan yang tampak lesu, dalam hati kasian tapi mau di paksa pun portal masih menghadang bahkan gemboknya masih belum bisa di buka.


"Minum obat kak kalo pusing kepalanya," lanjut Andin.


"Obatnya kamu sayang, yang pusing pala si Joni, udah nggak sabar pengen ketemu sama jeni. Sampaikan salam ya sayang, Joni menunggunya."


Andini tercengang mendengar ucapan santai Raihan, dia tak habis pikir dengan isi kepala Rai. Sekarang yang di ucapkan tak jauh dari urusan ranjang bikin Andini selalu tegang.


Andini berbalik menatap Raihan yang tampak sayu, lelah di wajahnya tak dapat di sembunyikan, tubuhnya pun sedikit lesu. Apa mungkin pekerjaannya terlalu banyak hingga membuat capek pikiran. Apa lagi keinginannya belum keturutan sudah tentu menjadi faktor utama yang membuat tubuh semakin tak bersemangat.


"Memangnya harus ya kak? dari semalam yang di minta itu terus, kayaknya kemarin-kemarin nggak, dan aku masih aman. Kenapa sekarang malah terus buat aku gelisah dan merasa bersalah?"


Raihan memeluk pinggul Andini dengan menatap wajahnya, "harus pake banget sayang, demi terciptanya keharmonisan dan kemesraan rumah tangga kita. Kemarin-kemarin kan aku masih nahan, kamu juga belum bisa di taklukkan, kalo sekarang kan beda. Lagian liat yang bening sudah pasti ingin dan bikin pala pening. Aku merindukanmu dan nakalnya kamu. Aku ini pria normal sayang, pria dewasa yang juga butuh kehangatan. Jadi jangan heran jika aku sedikit memaksa karna rasanya sudah sangat menyiksa."


Melihat wajah Raihan yang memelas membuat hati Andini semakin tak tega. Kedua tangan ia kalungan di leher Raihan bermaksud ingin menenangkan. Tapi justru tatapan Raihan semakin membuat jantung tak aman.


"Kenapa?"


"Jangan menggoda sayang, kamu membangunkannya..." lirih Raihan.


"Serba salah dech, aku cuma mau menenangkan kakak. Tapi ternyata malah mengusiknya, ya sudah mending cuek aja."


Andini menurunkan kedua tangannya tetapi segera di tahan oleh Rai, " iya maaf sayang, jangan cemberut gitu, bikin tambah snut-snut. Jangan salahkan aku jika nanti kamu ikut aku mandi lagi."


"Kakak ikh, udah sana mandi. Aku siapin air hangat ya, udah malam. Nanti lanjut makan, biar bisa langsung istirahat. Jangan melulu berdekatan kalo nggak tahan, sabar dikit jaga jarak aman biar si Joni tak terjaga."


Raihan membuang nafas kasar, bukan dia yang terlalu mesum. Tapi gejolaknya akan naik jika selalu berdekatan dengan Andini. Hal yang tak pernah terjadi jika bersama wanita lain, bahkan dengan mantan istrinya pun bisa kuat berbulan-bulan tanpa melakukan penyatuan. Tapi dengan Andini, rasanya sudah ingin menerkam setelah sebulan ia mampu menahan.


cup


"Aku lepaskan kamu malam ini dan mungkin empat malam selanjutnya, tapi jika tamumu sudah pulang, aku akan berkunjung setiap malam."


Andini bergidik ngeri, apa lagi jika teringat si Joni, rasanya ingin kabur tapi mau. Kegagahannya masih terbayang di ingatan, rasanya masih tak percaya jika bisa menerobos masuk tanpa salam. Sungguh pria yang satu ini membuat gelisah.


"Bilang sama di joni kak, ototnya suruh ngecilin kalo mau ketemu jeni. Rajin ngangkat barbel ya, sampe besar begitu, sungguh mengerikan!" Andini melesat masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.


Setelah mandi dan rapi dengan pakaian rumahan Raihan menyusul Andini ke meja makan. Turun dari tangga dengan wajah yang sudah fresh dan sumringah, perdana Andini menyiapkan segala perlengkapannya dari air hangat, handuk hingga baju ganti. Berasa di perhatikan dan makin geregetan.


Apa lagi sekarang ia melihat sang istri keluar dari dapur dengan membawa secangkir teh hangat dan di letakkan di mejanya. Perubahan kecil yang membuat hati tersentil, sebelumya berumah tangga semua tetap simbok yang mengurus, tapi sekarang entah Andini belajar dari mana mampu membuat hatinya menghangat.


"Ayo makan kak, jangan liatin aku terus. Nggak bikin kenyang malah laper aja nanti bawaannya."


"Paham banget kamu dek, udah mulai pinter ya. Nanti belajar lagi ya, biar jadi suhu!" Raihan mengedipkan sebelah matanya membuat Andini merinding melihatnya.


"Ini kak, tambah lagi nggak sayurnya? apa mau aku ambilin lagi sayurannya?" tanya Andini yang lebih perhatian, yang bisanya cuek dan tak pernah peduli dengan piring Raihan. Sekarang menjadi lebih peka dan melayani tanpa harus di minta.


"Sudah cukup nanti kalo kurang nambah lagi," jawab Raihan dengan senyum yang sejak tadi tak luntur dari wajahnya. Melihat sang istri dengan pancaran kasih sayang, serasa tak ingin berjauhan dan terus bersama.


"Kak, besok weekend. Boleh nggak aku pulang ke rumah mamah?" tanya Andini di sela-sela makannya.


"Boleh, udah lama juga nggak main. Nanti sorenya giliran ke rumah mamahku ya."


"Siip biar adil ya kak, bawa apa ya kerumah mertua. Kalo ke rumah mamah lenggang aja udah biasa, tapi ke rumah mamah mertua nggak enak kalo cuma bawa diri. Nanti di kira mantunya pelit."


"Mamah nyantai orangnya sayang, nggak pernah berpikir buruk dengan siapapun. Jadi kamu nggak perlu khawatir, justru kita datang aja mamah sudah sangat senang, beliau pengen dekat dengan menantunya."


"Oke dech, tapi besok mampir di toko kue favorit aku ya kak, mamah Sifa harus coba di jamin suka."


"Iya sayang," Raihan mengusap pucuk kepala Andin kemudian keduanya melanjutkan makan.


Malam Minggu yang syahdu, biasa habis makan lanjut tidur. Kini Andini dan Rai memilih untuk menikmati malam di balkon kamar.


"Kenapa Kakak kemarin betah menduda? bukannya yang suka sama kakak banyak? bahkan karyawan kakak semua suka."


"Mungkin belum menemukan yang srek di hati, apa lagi kan aku pernah gagal, lebih hati-hati aja," jawabnya dengan menggenggam tangan Andini.


"Hati-hati tapi akhirnya jatuh juga, nggak nyesel punya istri masih muda kayak aku? belum pengalaman apa-apa loh, biasanya kan duda suka nya yang dewasa."


"Kata siapa? masih muda tapi kamu sudah menggoda, buktinya aku yang kuat menahan dengan banyak wanita, tapi bisa goyah gara-gara gadis muda. Kamu itu nggak sepolos itu sayang, aku kenal kamu lama. Cuma nggak nyangka aja bakal menikah."


"Aku masih polos walaupun otak aku suka ngajak jalan-jalan liar. Selama pacaran aku hanya pegangan tangan, nggak pernah macam-macam," sahut Andini.


Raihan menyimak dengan menatap wajah sang istri, "berarti kamu nggak pernah ciuman?" tanyanya dan di jawab gelengan kepala oleh Raihan.


"Kenapa?" tanyanya lagi, Raihan seakan tak percaya, karena dia tau betul berapa lama hubungan Andin dengan Tara dulu.


"Sama-sama ngejaga aja," jawab Andini santai.


"Tapi malah kecolongan!" celetuk Raihan dengan senyum miring.


"Yang penting aku nggak rugi!"


"Tapi Tara rugi melepas kamu, buktinya dia menyesalkan?"


Andini menatap Rai dengan senyum mengejek, terus kalo tara nyesel kakak kasian?"


"Kasian aja, rela ngelepas permata demi batu koral."


"Kalo kasian berarti rela dong memberi, ikhlas bagi-bagi, nggak masalah aku di deketin lagi. Kakak kan baik, pasti nggak pelit!" setelah mengucapkan itu Andini segera masuk ke dalam kamar.


Wajah Raihan berubah panik, mencerna ucapan Andini dan menatapnya menjauh pergi. "Mau kemana dek?"


"Mau hubungin Tara kalo mulai besok bisa ajak aku jalan lagi!" seru Andini.