One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 50



"Aku balik ke ruanganku ya mas," Andini merapikan penampilannya yang sedikit berantakan karena ulah sang suami. Padahal semalam sudah di beri jatah tapi masih saja seperti bayi yang kehausan.


Setelah makan Raihan merusuh hingga membuat Andini tak bisa menolak. Niat hati ingin mengorek kisah percintaan sang kakak malah mulutnya di bungkam hingga meninggalkan bekas di lehernya.


"Lima menit lagi."


"Stop mas, yang semalam saja masih belum hilang. Pasti ulah Mas barusan meninggalkan jejak. Nanti kalo ada yang lihat gimana?" kesal Andin.


"Bilang aja sudah punya suami, beres kan!" jawab Raihan enteng.


"Mana ada yang percaya, mereka taunya aku belum menikah, kecuali mereka bertanya langsung pada pihak HRD. Muka ku belum cocok menjadi wanita bersuami, masih kinyis-kinyis imut gini."


"Tapi milikmu tak bisa di bilang imut sayang, bahkan memenuhi genggaman tanganku!"


"Mas!"


Andini melangkah keluar ruangan Rai dengan menenteng tempat nasi yang sudah kosong. Raihan tak diam, dia segera menyusul sang istri dengan membawa beberapa berkas karena Andika sudah menunggu di lobby untuk meeting dengan klien.


"Mau kemana mas?" tanya Andini saat Rai menarik tangannya untuk masuk ke dalam lift karyawan.


"Aku mau meeting dengan klien, kamu nggak boleh nakal, oke! nanti pulangnya hati-hati ya sayang, sepertinya aku sampai sore."


"Iya mas, kamu juga ya. Jaga hati jaga mata, kalo berani main kata dengan wanita lain. Siap-siap menduda!" ucap Andin kemudian keluar dari lift.


"Ancamannya bini gue! nggak Anda yang lain apa, serem bener." Rai bergidik ngeri dengan menatap sang istri yang melangkah semakin menjauh.


Andini merapikan kembali kerah kemejanya, berjaga-jaga jika ada bekas yang Raihan tinggalkan karena ia tadi tidak sempat melihat di cermin.


Beberapa langkah menuju ruangannya Andini di hadang oleh Cika yang tiba-tiba datang dengan tangan yang bersidekap dada.


"Apa maksud loe ngelarang Tara buat tanggung jawab atas bayi yang gue kandung? gue udah minta maaf ya Din sama loe, gue udah menyesal khianati loe! tapi kenapa loe malah ikut campur urusan gue? loe masih cinta sama Tara?" tanya Cika dengan tatapan sinis.


"Cinta? sorry gue udah nggak ada rasa apa-apa sama dia. Kalo loe mau ambil aja, tapi dengan cara yang benar. Loe harusnya sadar, nggak seharusnya loe minta Tara buat tanggung jawab. Loe pikir gue nggak tau siapa ayah dari bayi itu!"


"Siapapun dia bukan hak loe ikut campur urusan gue! loe sendiri yang mutusin buat nggak berhubungan lagi sama gue sekalipun itu hanya sebatas teman."


"Kita memang udah nggak berteman, tapi Tara temen gue. Gue cuma kasian sama dia, karna salah bergaul sampe harus dituntut lebih padahal bukan punya dia!" tegas Andini. "Jadi gue nggak ada urusan sama loe! hanya sekedar rasa manusiawi sama temen sendiri!"


Cika tersenyum miring, "nggak usah munafik Andin, bilang aja loe nggak mau kan Tara nikah sama gue? padahal loe sendiri lagi deketin bos! Jangan serakah Andini, gue tau kelakuan loe sama si bos, loe deketin bos Rai mentang-mentang dia sahabat Kakak loe!"


"Gue nggak seperti yang loe pikirin! dan nggak usah loe bawa-bawa kak Andika karena loe nggak tau apa-apa!"


"Nggak tau? mata gue nggak buta Andin, gue sering liat loe masuk lift CEO, gue sering liat loe keluar dari ruangan bos, dan....." Cika mendekat ke arah Andini. "Cupangan loe buktinya," bisik Cika reflek membuat Andini merapikan kerah bajunya. Dia menatap sekitar hingga tindakan Andini membuat Cika semakin tersenyum lebar.


"Kenapa, hmm? loe pikir gue nggak tau? apa loe mau ikutin jejak gue? manjadi selingkuhan!"


"Jaga ucapan loe! gue nggak kayak loe penghianat! gue masih punya harga diri, loe nggak tau apa-apa jadi mending loe mingkem aja. Jangan gara-gara ucapan loe itu menimbulkan fitnah, mau gue di cupaaang siapapun itu nggak ngerugiin loe! karna gue nggak ngerebut pacar loe dan pacar siapapun! Dan satu lagi, gue bukan wanita yang suka punya milik orang lain!" Andini melangkah menuju ruangannya, menyenggol lengan Cika hingga tubuhnya mundur ke belakang.


"Brengs3k!"


Andini masuk ke dalam ruangan dengan wajah memerah, melangkah menuju mejanya tanpa perduli tatapan Tara dan mbak Erna yang melihat heran. Sebelum mengerjakan pekerjaannya Andini menarik nafas dalam, mengatur emosi yang sempat memuncak, baru menyalakan kembali laptop miliknya.


"Din, kenapa?" Tara menatap dalam Andini, dia tau Andini saat ini sedang memendam emosi.


Andini menggelengkan kepala, tersenyum tipis kemudian kembali lagi menatap laptopnya. Tapi Tara tau jika Andini sedang tidak baik-baik saja. Tidak sulit membaca suasana hati Andini karena hubungan meraka yang tak sebentar.


"Din," Tara meraih lengan Andin hingga tubuhnya menghadap ke Tara.


"Hhmm...."


"Loe ke_" Tara memberi tatapan penuh selidik ketika matanya menangkap tanda merah yang susah payah Andini tutupi dengan kerah. Efek kesal ia lupa menutupi dengan pondation padahal tadi Cika sempat menyinggungnya.


"Siapa yang buat itu?" tanyanya dengan nada rendah, jemari Tara semakin memegang erat lengan Andin. Dia tau persis Andini tak mungkin melakukan hal itu dengan pria, sedangkan selama hubungannya dengan Andin mencium kening pun tidak berani.


"Apa?"


"Siapa yang bikin tanda itu di leher loe Andin?" Andin terhenyak, segera dia merapikan kembali kerahnya.


"Lepasin Tara!"


"Bilang dulu siapa yang berani lakukan itu?"


"Nggak ada, lepas!" bentak Andini.


Tara melepaskan tangan Andin, menatap wajah Andin yang berusaha untuk tenang tetapi matanya tersirat kegelisahan.


"Loe nggak tau kan, mantan yang loe anggep polos ini sekarang mempunyai hubungan dengan bosnya," ucapan Cika membuat Tara kembali mengingat tatapan tajam Rai setiap kali melihatnya. Tatapan yang beda juga ia berikan pada Andini.


"Benar?" lirih Tara.


"Bukan urusan kalian, gue mau pulang!" Andini menekan tombol turun dan menunggu pintu lift terbuka.


"Akan jadi urusan gue kalo dia keterlaluan sama loe, akan jadi urusan gue kalo dia ngelakuin itu hanya untuk menuntaskan hasratnya. Dia duda dan gue tau loe nggak gini Din. Apa yang udah dia ucapkan sampe loe biarin tubuh loe....." Tara tak sanggup menyelesaikan ucapannya, dia tak mampu membayangkan tubuh Andini di jamah pria lain.


"Gue masih sayang sama loe Din, bilang sama gue dia udah ngapain loe! Biar gue yang hadapi." Mendapati Andini yang sejak masuk ke ruangan hanya diam dan di tambah dia melihat bekas merah yang Rai tinggalkan membuat Tara berpikiran buruk tentang apa yang sudah Rai lakukan pada Andin.


"Tara!" sentak Cika.


"Loe diem Cika, kita nggak ada hubungan apa-apa dan loe nggak berhak marah. Tugas loe cuma buktiin kalo itu emang anak gue."


Andini masuk kedalam lift, membiarkan Tara dan Cika ribut berdua. Dia tak peduli dengan keduanya yang hari ini sukses membuat moodnya hancur.


Sampai di rumah Andini segera masuk ke dalam kamar, seruan simbok pun tak ia pedulikan. Dia butuh berendam agar moodnya kembali tenang. Memejamkan mata dan menjernihkan pikiran. Berharap Raihan pulang ia sudah kembali ceria.


"Mbok, Andini mana?" Raihan datang hampir malam, tepat jam setengah tujuh dia menginjakkan kakinya di rumah.


"Di atas Den, sejak tadi belum turun."


"Makasih mbok, saya ke atas dulu!" Raihan melangkah menuju kamar, membuka pintu kamar dan mengedarkan pandangannya mencari sang istri.


"Sayang..."


"Sayang..."


Raihan memanggil tetapi tak kunjung ada jawaban, hingga langkahnya terhenti di depan pintu kamar mandi. Membuka dengan pelan pintu yang tak terkunci.


"Sa_"


"Andini!"