
Pagi yang melenakan bagi Raihan, setelah menagih janji pada sang istri untuk menambah jatah di pagi hari. Kini ia sedang berpacu di bawah guyuran shower dengan merengkuh tubuh Andini. Menikmati sarapan pagi yang begitu hangat, menyatu hingga menimbulkan suara manja.
"Sebentar lagi sayang, ini luar biasa."
Andini mulai melemah, semalaman di gempur hingga tiga ronde dan kini sudah di buat bergetar berulang kali.
"Mas, kuat benget sich! si Joni nggak ngantuk. Jeni udah memble nich, minta bobo."
"Sebentar lagi sayang, aku mau sampai."
Sebentar lagi yang Rai ucapkan adalah satu jam untuk Andini, Rai lemas dengan merengkuh tubuh Andini yang sudah bergetar hebat. Apa lagi mendapatkan semburan bisa dari si Joni yang begitu galak. Membuat suara manja keduanya menggema di kamar mandi.
Raihan membalikkan posisi hingga Andini bersandar di dada Rai. Permainan berakhir di dalam bathtub.
"Makasih sayang, jatahnya memuaskan. Aku suka," bisik Raihan dan mengecup pundak polos Andini.
Andin hanya diam tak menjawab, tubuhnya remuk redam setelah melemparkan diri ke mantan duda. Wanita itu tak habis pikir, jika sang suami begitu kuat menguasai Medan perang.
Setelah mandi, kini Raihan mengangkat tubuh Andini dan menurunkan di atas ranjang. Raihan menyiapkan baju kerja untuk Andin dan dirinya. Kemudian memberikannya pada Andin.
"Ini sayang, apa mau aku pakaikan juga?" tanya Raihan meledek.
"Ish.....senengnya, badan aku kayak abis di lindes tronton, remuk!" keluar Andini. "Kamu minum apa sich mas, kuat banget!" Andini memaksakan dirinya untuk menggunakan pakaian walaupun sebenarnya malas gerak.
"Tapi enak kan? semalam aja, lagi mas, terus mas, lebih cepat mas...." Raihan menirukan ucapan Andini membuat wajah sang istri memerah.
plak
"Jangan meledekku!" Andini memukul dada Rai yang sudah berbalut kemeja kerja.
"Iya sayang kok kdrt sich!" ucapnya memeluk sang istri. "Makasih ya, kamu buat aku gemas, memuaskan sayang!" bisik Raihan.
"Ikh dasar mesum!"
"Kamu suka aku mesumin!"
"Apa sich mas, lepas! aku mau make up. Pakai celananya mas!" Andini segera melepaskan diri dari Raihan dan duduk di depan meja rias. "Mas! jangan main buka aja donk!" seru Andini melihat Raihan dengan santainya membuka lilitan handuk dan memakai celana di depannya.
"Udah akrab sama Joni kan!"
"Udah sampe ledes!" celetuk Andin yang membuat Raihan tertawa.
Setelah rapi keduanya turun dengan Raihan yang menggandeng tangan Andini. Wajahnya tampak berseri dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
"Sarapan den, duuuhhhh mesrane, wajah den Rai juga berseri. Abis dapet jackpot ya den," ledek Simbok.
"Lebih dari itu Mbok!" Raihan mengecup kening Andini membuat wanita itu bersemu malu.
"Sarapan dulu mas!" Andini melepas genggaman tangan Rai kemudian segera duduk.
"Mbok, nggak usah bawain bekal buat istri saya ya," seru Raihan di tengah sarapan. Andini yang mendengar itu menatap sang suami dengan penuh tanda tanya. "Makan di cafe sama aku!"
"Tapi mas_"
"Nggak ada yang harus di sembunyikan lagi sayang! mulai hari ini juga berangkat kerja sama aku. Oke!"
Andini hanya diam tak menjawab, menolak pun tak akan di iyakan. Karena Raihan tak menerima penolakan. Raihan mengusap lembut kepala sang istri saat melihat Andini yang diam menurut.
"Kamu belum jelasin ke aku sayang!"
Andini menoleh ke arah Rai, tersenyum miring kemudian kembali menatap keluar jendela. Saat ini keduanya dalam perjalanan berangkat ke kantor.
"Aku pikir udah lupa, setelah semalam mendapat servis doble-doble."
"Sayang!"
"Iya aku jelasin, kemarin Tara itu tiba-tiba narik aku. Dia berpikir aku pun selingkuh di belakangnya setelah tau status kita. Dia nggak percaya kenapa aku bisa menikah begitu aja sama kamu."
"Terus!"
"Ya udah aku jelasin! dan semua udah beres, dia bisa terima dan mudah-mudahan bisa ikhlas."
"Jangan terlalu dekat dengan dia!" tegas Raihan. "Aku nggak suka!"
"Bagus donk sayang!"
"Bukan gitu, aku nggak suka di perlakukan seperti itu mas, biasa aja tanpa harus di hormati segala. Kalo gini kan kentut aja aku tersorot!" celetuk Andini membuat Raihan gemas.
Sampai di kantor, Raihan tak membiarkan Andini berjalan lebih dulu. Dia menarik tangan Andin saat sang istri ingin mencoba kabur.
"Eh, siapa yang suruh jalan duluan. Bareng aku sayang!"
Andini menatap jengah sang suami yang berubah jadi posesif. "Ini udah sampe kantor loh mas, jangan nempel terus. Aku risih di liat karyawan yang lain."
"Mulai sekarang biasakan!" Raihan mengecup kening Andini membuat kedua matanya membulat. Bahkan Raihan tak malu melakukannya di area parkir.
Keduanya berjalan bersama, tangan Rai tak juga melepas jemari sang istri yang sejak tadi tak bisa diam ingin melepas.
"Mas!" lirih Andini.
"Ayo!" Raihan menarik pinggul Andin dan membawanya masuk ke dalam lift khusus untuknya.
Andini diam menatap sang suami yang cuek saat semua menyapa dan melihat keduanya dengan mata kagum.
"Kenapa sayang?" tanya Raihan yang tiba-tiba memepetkan tubuh sang istri di dinding lift membuat Andini mendelik terkejut.
"Mas!"
"Sepertinya disini seru sayang, kapan-kapan kita coba ya!" lirih Rai dengan tatapan ingin.
"Jangan berpikir macam-macam mas, awas ada cctv. Mundur mas, ya Allah kamu meresahkan sekali sich. Aku pagi-pagi udah di buat gerah begini!"
Raihan terkekeh mendengar keluhan sang istri, mengecup singkat bibir Andini kemudian mundur saat lift sudah sampai di divisi Andin.
"Kerja jangan PHP in anak orang!"
"Aish, nggak ada seperti itu!" Andini keluar dari lift tanpa menghiraukan ucapan sang suami yang terus meledeknya.
Sepuluh menit sebelum jam istirahat Andini di buat gelisah dengan panggilan di ponselnya. Raihan menelponnya tak henti. Sedangkan pekerjaan Andin tanggung untuk di tinggal.
"Din ponsel kamu dari tadi berdering!" ucap Erna mengingatkan.
"Biarin mbak, biasa pak bos!"
"Angkat dulu lah, siapa tau penting."
"Cuma ngajak makan di cafe mbak, biarin aja nanti aku nyusul. Nanggung banget ini mbak, biar cepet kelar."
Tara melirik Andini yang sedikit kesulitan, kemudian mendekati berniat membantu.
"Coba aku lihat!"
"Eh..." Andini bergeser saat Tara tiba-tiba berdiri di sampingnya. Mengambil mouse yang tadi di genggam Andini dan membantunya mengerjakan.
"Udah kelar, sana istirahat!" ucap Tara kemudian menegakkan tubuhnya.
"Makasih ya."
"Hhmm..."
"Jaga jarak aman Tara, pawangnya udah nungguin nih di ambang pintu!" ucap Erna mengingatkan.
Tara dan Andini melihat ke arah pintu dan benar saja Raihan sudah berdiri bersedekap dada menatap sang istri yang terkejut akan kehadirannya yang tiba-tiba.
"Tumben pak bos sampe turun ke divisi marketing!" ledek Erna mencairkan suasana yang mendadak tegang.
"Lagi nungguin istri nakal, dari tadi di telpon nggak di angkat."
"Bini loe lagi repot, jangan terlalu posesif gitu Rai!" ucap Erna mengingatkan.
"Mbak aku duluan ya, repot kalo suami udah dalam mode garang," lirih Andini yang masih dapat di dengar oleh Tara. Masih ada rasa cemburu di hatinya. Ikhlas mungkin sudah tapi jika menghilangkan rasanya masih begitu sulit .
"Uda jangan dilihatin aja, mending makan bareng bumil."
"Eh....iya mbak, ayo!"