One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 100



Pagi ini meja makan sudah kembali terisi dengan formasi lengkap. Andini, Raihan dan Andika yang sudah rapi bersiap berangkat kerja. Sedangkan Papah hari ini bersantai ria karena mengambil cuti ingin menemani mamah belanja dan sore nanti lanjut ke rumah Cantika.


"Makan yang banyak nak, mamah dengar pagi-pagi kamu sudah mual muntah. Kasian itu si kembar kelaparan!"


"Iya mah," setelah mengisi piring Raihan Andini mengisi piringnya sendiri dengan lauk dan sayur tanpa nasi membuat Rai melirik dengan tanda tanya yang mengisi kepalanya.


"Nasinya?" pertanyaan Rai membuat kedua mertua dan juga kakak iparnya segera menoleh ke piring Andini.


"Iya nak, nasinya mana? nggak boleh diet loh lagi hamil!" ucap mamah memperingati.


Andini menarik nafas panjang, ia menatap sang suami dan mamah yang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


"Nggak pengen makan nasi mas, nanti malah mual. Ini aja yang penting aku kenyang."


Di dalam piring Andini terdapat paha ayam dua potong dan sayur capcay buatan mamah. Baginya sekedar untuk sarapan pagi, ini saja sudah membuatnya kenyang.


"Tapi mana kenyang?" tanya Raihan lagi.


"Mas...." rengek Andini membuat Raihan akhirnya mengalah.


Andika yang melihat itu hanya menggelengkan kepala. "Gila sich masih di dalam perut aja udah nggak doyan nasi. Itu ntar kalo udah lahir, rambutnya bule apa hitam kayak emak bapaknya ya? Gedenya makan roti terus nggak bisa ngomong R. Sebenarnya loe minta di cicil sama siapa pas bikin dek?"


Plak


"Auwh ....pedes banget tabokan loe! tenaga bertiga ya?" geram Andika yang merasa kesakitan karena tamparan dari andini yang mengenai lengannya hingga memerah.


"Makanya punya mulut di jaga! ini ORI anak Indonesia. Anak papah Raihan Putra Baratajaya. Jangan bikin gosip loe kak! nggak liat mata laki gue udah mau keluar?" sewot Andini dengan muka kesal berkacak pinggang berdiri di samping Andika.


"Sayang udah! jangan kesal-kesal nggak baik buat kesehatan kamu dan anak kita!"


"Denger tuh apa kata laki loe! galak banget lagi, perasaan loe semalam di kasih jatah sama laki loe sampe gue nggak bisa tidur. Masih aja mood loe amburadul!" celetuk Andika membuat Andini dan Raihan menatap tajam pria yang menjabat sebagai kakak itu.


"Ini mulut ngapa nggak pake portal sich! loe nggak mampu beliin portalnya? Besok gue beliin gembok anti maling biar kalo ngomong nggak asal ngecap ni mulut! Nggak malu sama mamah papah!" kesal Andini seraya mencubit bibir Andika.


"Kalian berdua yang nggak malu!" sewot Andika.


"Kakak!" Andini mengarahkan garpu ke arah Andika membuat pria itu memundurkan tubuhnya dan Raihan segara merebut garpu yang Andini pegang.


Mamah yang melihat perseteruan kedua anaknya di buat geram hingga menggebrak meja makan dan papah hanya mampu menggelengkan kepala.


"Kalian ini! nggak bisa gitu kalo nggak ribut? pagi-pagi bukannya anteng sarapan malah pada bikin tetangga jadi pada punya bahan ghibah!"


"Andika! duduk dekat mamah sini!" titah ibu ratu yang tak bisa di abaikan membuat Andika segera berpindah tempat duduk dengan membawa piring makannya.


"Dan kamu Andini, duduk! nggak malu sama suami, udah mau punya anak juga. Ngidam apa mamah dulu punya anak seperti kalian berdua." Mamah kembali duduk kemudian memijat pelipisnya.


Sedangkan Andini segera menelusup ke dada bidang Raihan guna menetralisir rasa kesal dan menurunkan emosi yang membuat nafasnya tak beraturan.


Kini ketiganya sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, masuk kedalam mobil masing-masing dan meninggalkan kedua orang tua yang nampak bernapas lega mengantar anak-anaknya sampai di halaman rumah.


"Sayang, nanti sore cek kandungan kan ya?" tanya Rai yang fokus menatap jalan.


"Nanti aku usahain menyelesaikan dengan cepat ya, biar bisa berangkat lebih awal. Penasaran sama kembar," ucapnya dengan mata berbinar dan mengusap lembut perut Andini yang sudah tampak terlihat efek anak kembar.


"Iya mas aku juga, sudah sebesar apa ya mas?"


"Pasti rebutan tempat ya sayang disana, secara perut mommynya masih kecil gini." Keduanya tertawa membayangkan si kembar yang berada di dalam perut Andini.


"Bulan depan aku udah masuk kuliah lagi mas, kasih nilai bagus ya!" Andini menatap Raihan dengan wajah imut menggemaskan.


"Bakal di kasih apa kalo aku memberi nilai bagus buat kamu?" tanyanya dengan wajah meledek.


Andini segera memberi tampang jutek dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Rai yang kembali fokus menyetir.


"Kurang tiap hari di kasih jatah Doble? bapak yang satu ini mau serakah rupanya, hhmm?" lirihnya dengan wajah datar.


Sikap Andini bukan membuat Raihan takut justru membuatnya tertawa melihat tingkah sang istri yang bar-bar. Dan dengan satu tarikan Raihan mampu membawa Andini ke dalam pelukan.


"Apapun buat kamu sayang, lagian pekerjaan kamu itu bagus kok. Aku nggak akan mencurangi dosen kamu, tapi aku akan menilai dengan sebenarnya-benarnya."


"Sungguh?" tanyanya dengan hati berbunga.


"Hhmm.....udah jadi juga berkasnya yang siap kamu bawa nanti. Tapi janji sama aku, ketika sudah masuk kuliah, kamu harus bisa jaga diri kamu ya. Karena aku nggak bisa dekat seperti ini sama kamu lagi."


Raihan sebenarnya berat membiarkan Andini untuk kembali berkuliah di tengah kehamilannya, ia tak ingin terjadi sesuatu apa lagi istrinya selalu membutuhkan di saat mualnya datang. Akan sulit jika mereka berjauhan.


Tapi sang istri ingin segera menyelesaikan kuliahnya agar saat mendekati lahiran ia bisa fokus dan tak terganggu tugas yang menumpuk.


Cuti sampai lahiran pun serasa sayang mengingat perjuangan Andini yang sudah sampai di titik ini. Ia hanya butuh beberapa bulan untuk menyelesaikan dan bisa fokus menanti kelahiran dan mengurus kedua bayi serta belajar menjadi istri yang baik di rumah.


" Mas, sepulangnya dari rumah sakit aku ingin beli sesuatu."


"Kamu yang ingin atau baby?"


"Dua-duanya," jawabnya dengan menampilkan puppy eyes yang membuat Raihan hanya mampu mengiyakan.


"Mau apa sayang?"


"Yang lagi viral itu mas."


"Apa?" tanyanya tak mengerti.


"Mau mixue mas, yang antriannya tuh sampe jalanan itu loh! boleh ya?"


"Emang pengen banget sayang? pesan lewat aplikasi saja gimana?" mendengar antrian yang mengular membuat Raihan tak yakin akan menuruti keinginan Andin.


"Iksss..... justru itu yang seru. Nanti kamu ikut antri ya mas, kan jarang-jarang CEO masuk antrian. Nanti aku temenin, gimana?" bujuk Andin dengan mata berbinar penuh harap.


Raihan menghela nafas berat, hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepala. Mungkin ini sebagai pengorbanan dirinya menjadi ayah siaga, memenuhi keinginan kembar yang baru di bayangkan saja sudah merepotkan .