
Setelah makan siang, Raihan dan Andini menuju butik untuk mengambil gaun pengantin, sebelumya mamah Sifa sudah kembali menghubungi dan mengingatkan keduanya untuk ke butik terlebih dahulu baru menuju hotel, karena nanti malam akan ada makan malam keluarga.
Tapi perjalanan menuju butik tak semulus yang si dipikirkan. Raihan di buat bolak balik keluar mobil untuk menuruti permintaan bumil. Entak kenapa Andini hari ini ingin sekali makan jajanan pinggir jalan. Hingga Raihan harus menahan sabar, apa lagi harus melihat sang istri yang makan sembarangan.
Di turuti, Raihan ngeri. Nggak di turuti tapi membuatnya tambah sulit karena Andini yang menangis ketika apa yang ia mau tak di belikan.
"Cimol udah, basreng udah, telor gulung udah, terus ini Sempol juga udah, nah itu ada lagi mas....waaahhhhhh hotang, gede banget. Sama sebelahnya bakso jumbo juga gede-gede banget pasti enak. Mau mas!"
Raihan menggelengkan kepala, sudah banyak yang ia beli tapi tak di makan dan sekarang masih ingin jajan yang di bilang gede-gede.
"Sayang, kamu udah pernah makan loh!"
"Kapan?" tanyanya polos.
"Semalam, emang si Joni nggak kalah gede sama itu makanan? punya si Joni juga nggak kalah besar sama bakso itu."
"Maaaaaassssss beda donk, ini ada rasanya. Joni anta!"
"Tapi joni nggak kalah besar. Lagian udah donk yang, ini siapa yang mau makan. Banyak banget gini jajanan kamu." Raihan tak habis pikir, kembar memang amazing. Berasa kurang semalam udah di tengok sampe balik dua kali. Eh sekarang minta jajanan yang mau ngalahin pesona si Joni.
"Mas, aku pengen!"
"Ya udah ayo pulang!"
"Pengen itu, tuh liat enak banget tuh. Liat mas, orang itu makan sampe lahap. Pokoknya beliin! aku mau dua hotangnya, dan baksonya empat ya yang besar itu!"
Mau tak mau Raihan pun turun dari mobil dan membeli semua keinginan Andini, dia melihatnya saja mual. Bagaimana sampai memakannya. Raihan yang sejak kecil tak pernah makan sembarangan merasa aneh dengan aneka makanan pinggir jalan dengan segala bentuk yang membuatnya ngilu.
"Ini bakso emang gede begini ya bang?" tanyanya pada penjual bakso bakar.
"Iya Pak, tapi enak kok Pak. Kenyal juga nggak keras."
"Ya udah mau 4 dech ya pak," ucap Raihan menunggu pedagang itu membungkus pesanannya.
"Kok gue ngeri ya, minta hotang dua bakso empat. Ini bini gue fiks mau triple_ oh SHIIITT otak gue traveling!"
Setelah membeli semua pesanan dan sekalian es Boba takut Andini meminta dan menyuruhnya turun lagi. Jadi Raihan membeli dulu sebelum di perintah ibu ratu.
"Waaahhhh es Boba, mau mas. Kamu pengertian dech, aku haus banget." Andini segera meminumnya. Raihan hanya melihat dengan nafas berat.
"Untung sayang....."
"Apa mas?"
Raihan gelagapan istrinya mendengar keluhannya, tambah ribet kalo sampe nanti ngambek.
"Oh...itu sayang kalo sudah habis buang." Raihan segera melajukan mobilnya, merasa aman karena Andin percaya.
Setelah fitting baju pengantin dan semua pas, mereka segera membawanya pulang. Raihan ingin pulang terlebih dahulu untuk membersihkan diri sebelum nanti malam datang ke hotel. Tapi Andini tiba-tiba ingin pulang kerumah orang tuanya. Mengurungkan niat Raihan yang ingin segera pulang dan kembali memutarbalikkan mobilnya menuju rumah mertua.
"Assalamualaikum.....Andini dan kembar pulang!" seru Andini yang sudah turun dari mobil.
"Sayang, jalannya pelan-pelan!" Raihan mencoba mengingatkan karena Andini yang berjalan dengan semangat. Menenteng semua jajanan yang tadi di beli, belum lagi ada penjual rujak tadi pas di depan butik. Ia membeli mangga muda beserta sambelnya yang Raihan yakin itu pedas sekali.
"Wa'allaikumsalam eh anak mamah pulang ..." sambut mamah dengan hati senang. Papah dan Andika pun baru saja selesai makan siang.
"Ngapain loe bumil kesini? bukannya istirahat di rumah!"
"Kenapa? ini juga rumah, loe kata ini ******." Andini duduk di kursi sebelah kakaknya dan meletakkan semua jajanan di atas meja makan. Raihan pun ikut duduk di sebelahnya.
"Itu apa? banyak banget!" Andika membuat satu persatu plastik yang membungkus aneka jajanan yang Andini bawa.
" Ini loe bawa pulang jajanan banyak banget, ngidam loe enak ya nggak mahal. Punya laki kaya raya ngidam jajanan pinggir jalan."
"Biarin sich!" Andini mengeluarkan semua makanan yang ia bawa.
"Banyak banget Din, ini semua keinginan kamu?" tanya papahnya.
"Iya Pah, seru ya Pah banyak banget macemnya. Cobain dech Pah, di jamin ketagihan." Andini menyuapi sang papah dengan telur gulung yang ia beli. Tak tanggung-tanggung Raihan membelinya 15 tusuk.
"Enak kan Pah?" tanyanya dan Papah hanya menganggukkan kepala sambil mengunyah dengan tenang.
Tapi yang Raihan heran dari tingkah sang istri, dia hanya melihat, bilang enak, tapi tak kunjung memakannya, mencicipi pun tidak. Lalu untuk apa membeli semuanya, toh jika ingin melihatnya saja tadi bisa.
"Mau lagi Pah?"
"Udah nak, Papah kenyang piring kotor papah aja masih ada tuh!" sang papah menunjuk piring kotornya yang masih ada di meja, menandakan beliau sudah makan.
"Terus ini mau kamu makan semua sayang?" tanya mamah yang sejak tadi memperhatikan.
"Mamah mau?"
"Nggak, mamah juga kenyang. Lagian mamah nggak suka nak." Beliau memang tak begitu suka jajanan pinggir jalan. Dan merasa asing karna dulu kecilnya belum ada jajanan yang seperti ini.
"Ya sudah kalo papah dan mamah nggak ada yang mau, aku mau kak Andika yang ngabisin ini semua." Ucapnya enteng sukses membuat semua yang ada di sana tercengang terutama Raihan dan Andika.
Raihan tak menyangka sang istri akan meminta Andika memakan semuanya. Sedangkan ia saja melihatnya sudah mual. Dalam hati Raihan meminta maaf karena telah menyusahkan kakak ipar dan menyesal membeli porsi banyak.
"Gila kali loe dek! gue suruh abisin ini semua, nggak mau!" Andika menolak, ia tak akan mau memakannya sedangkan ia sendiri sudah kenyang. Itu semua memang jajanan keduanya dulu saat sedang gabut, tapi beli 10 ribu bisa dapat dua macam bukan sebanyak ini.
"Yang gila bukan gue! Loe ngebully ponakan loe kalo gitu! Mah, kalo nggak di turuti keinginan anak aku nanti bisa ngiler kan ya mah? Terus Kak Andika nggak mau mah, nanti kalo ngiler gimana mah? masak kembar ngiler mah...." ucapnya mencari pembelaan.
Andika sudah memasang wajah kesal tapi mau tak mau ia menuruti semua permintaan Andini, karena dia pun tak ingin kedua ponakannya ngiler seperti mitos yang ada.