One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 93



Setelah memarkirkan mobilnya Andika mengajak Erna segera masuk ke dalam rumah. Sedikit ragu hingga wajah Erna memucat dan tangannya begitu dingin. Hal itu sukses membuat Andika mengernyitkan dahi. Menatap Erna yang tertunduk gugup.


"Loe kenapa? sakit?" Andika meletakkan punggung tangannya di dahi Erna dan di jawab dengan gelengan kepala.


"Tangannya dingin begini, kenapa sayang?" tanyanya lembut.


"Nggak apa-apa, udah ayo masuk," ajaknya.


"Aduh yang pengen ketemu camer udah nggak sabar banget kayaknya." Erna mendengus kesal, Andika sungguh tak peka. "Assalamualaikum Mah Pah...calon mantu datang," seru Andika.


"Andika, jangan teriak-teriak malu tau!" ucap Erna mengingatkan.


"Udah biasa sayang." Andika kembali membuat Erna tersipu. Jarang Andika memanggilnya sayang. Tapi tak juga di permasalahkan oleh Erna, baginya lebih baik memanggil biasa dari pada sayang-sayang tapi sikapnya tak menunjukkan rasa sayang. Dari pada memanggil sayang, kontak pun di namai sayang, tapi di belakang pasangan ada sayang yang lain yang di sembunyikan.


Mamah yang sedang berada di dapur segera mendekati. Sama halnya dengan Papah, beliau yang baru selesai mandi segera keluar kamar untuk menemui Andika yang heboh membawa calon menantu pulang.


"Wa'allaikumsalam toa! biasa banget, itu mulut mendingan buat adzan di mesjid dari pada teriak-teriak nggak karuan. Nggak malu sama tetangga, ngakunya masih perjaka tapi mulut nggak bisa di jaga. Nggak ada kalem-kalemnya," cibir mamah.


"Lah, apa hubungannya perjaka sama mulut? emang si Joni suka main-main ke mulut sendiri?" tanyanya heran.


"Andika!" bisik Erna tegas, ia jadi risih sendiri mendengar ucapan Andika yang begitu frontal terhadap mamahnya.


"Ya pikirkan saja sendiri!" celetuk mamah kemudian mengalihkan pandangannya pada wanita cantik di sebelah Andika. "Eh ini Erna ya?"


"Iya Tante," dengan sopan Erna menyalami kedua orang tua Andika.


"Cantiknya, sudah sembuh nak?" tanya mamah lagi membuat Erna tersipu.


"Alhamdulillah sudah Tante, sudah bisa bekerja kembali."


Mamah tersenyum melihat Erna yang begitu sopan sama halnya dengan Papah, sejenak teringat tentang rumah tangga Erna yang di rundung kekerasan dan berujung kehilangan. Mereka masih tak menyangka wanita sebaik Erna di sia-siakan.


"Mah, ini calon mantu nggak di suruh duduk? tuh kaki berakar loh mah kalo berdiri aja, udah kayak lagi upacara."


"Eh iya ya, ayo duduk nak. Kita ke meja makan aja ya. Sekalian makan malam, Tante sudah masak banyak. Andika tadi bilang kamu mau datang, makanya Tante langsung masakin buat kalian."


Mendengar itu membuat Erna tak enak hati, apa lagi ia datang tak membawa apapun. Perdebatan tadi di supermarket tak berujung baik, karena tak ada solusi yang tepat. Dengan menyesal Erna harus datang tak membawa apa-apa.


"Tante repot-repot banget masak sebanyak ini, Erna kesini aja nggak bawa apa-apa loh Tan. Erna bingung mau bawain apa, kata Andika udah punya semua."


"Sombong sekali anakku ini, tapi memang iya nak. Mamahnya selalu teliti dengan kebutuhan dapur, bahkan kulkas saja sampe penuh," sahut Papah Andika.


"Iya Erna, nggak usah mikirin mau bawa apa kalo kesini. Dapur Tante udah kayak pasar, apa aja ada. Soalnya ini keluarga makannya banyak, kalo sewaktu-waktu kehabisan stok Tante pusing sendiri," lanjut mamah dengan melirik Andika.


"Kalian selalu memojokkanku, padahal memang mamahnya aja yang doyan belanja. Nyetok-nyetok makanan, padahal mah kalo kelamaan di buang. Mubasir ibu ratu!" Celetuk Andika.


Erna menundukkan kepala melihat perdebatan keluarga ini, ia menemukan kehangatan di dalamnya, keakraban dan kasih sayang jauh berbeda dengan keluarganya yang tampak kaku dan biasa.


Mamah dan Papah hanya menatap jengah, tanpa menimpali keduanya kemudian mengajak Erna untuk makan. "Maaf ya Erna, udah hafal kan sama Andika. Jangan jantungan ya nanti kalo ngadepin dia, mulutnya suka minta di sentil."


"Iya Tante," Erna mengulum senyum memandang Andika yang tercengang mendengar penuturan sang mamah.


"Ada yang mau di beli sebelum sampai rumah?" tanyanya Andika.


"Nggak ada, langsung pulang aja. Capek mau istirahat."


"Oh oke, besok pagi gue jemput ya?"


"Iya, tapi kalo misalnya kesiangan kabarin aja. Biar gue berangkat sendiri," jawabnya.


"Gue usahain nggak kesiangan ay."


"Ay?" tanya Erna heran.


"Ayang, biar beda. Suka nggak?" tanyanya seraya mengusap lembut kepala Erna. Hal itu membuat Erna kembali merona. Andika kembali seperti dulu, mulai manis walaupun terkadang ngeselin.


"Suka."


"Malu-malu, udah kayak ABG jatuh cinta!" Ledek Andika membuat senyuman di wajah Erna luntur. Ia mencebikkan bibirnya membuat Andika gemas.


"Itu bibir, pengen gue bungkus bawa pulang buat gantungan di kamar."


"Andika!" kesal Erna, sedangkan Andika tertawa terbahak.


Setelah mengantar Erna pulang, Andika mampir ke suatu tempat. Ia membeli beberapa makanan serta vitamin yang dibutuhkan. Masuk ke dalam sebuah rumah dengan sopan. Meninggalkan sikap selengekkan yang melekat di dirinya.


"Den..."


"Oh iya, dimana Cantika bi?"


"Ada di kamarnya den, sejak sore menunggu."


Andika menganggukkan kepala, ia segera melangkah menuju kamar yang tak tertutup rapat. Melihat gadis yang sedang menatap langit malam lewat jendela kamar.


"Kenapa baru datang mas?"


"Maaf, aku sibuk. Ada makanan kesukaan kamu, aku kasih bibi agar segera di siapkan."


"Aku nggak butuh makanan dari mu mas, aku hanya merindukanmu! gadis itu berbalik menatap Andika dengan wajah sendu. "Tak bisakah tiap hari berkunjung? setidaknya agar aku tidak merasa sendiri."


"Aku punya pekerjaan dan aku juga punya wanita yang harus aku prioritaskan. Maaf jika aku tak bisa datang setiap hari. Kamu pun tau alasannya apa."


Gadis itu tersenyum getir, mendengar ada wanita lain yang di prioritaskan membuat hatinya begitu sakit. Setelah beberapa tahun terakhir dekat dan menopangkan hidupnya yang tinggal sebatang kara dengan sosok yang berdiri di depannya berharap ada celah untuk di cinta tapi begitu sulit ia dapatkan.


"Aku tau, aku paham dan aku tau kamu tak ingin aku berharap banyak. Tapi aku hanya punya kamu dan ibuku sudah menitipkan aku sama kamu. Bahkan aku mencintaimu."


Andika menarik nafas dalam, ia tak mungkin membalas. Sedikit tersentuh saat melihat Cantika menangis. Hingga tak tega dan menarik gadis itu ke dalam dekapannya.


"Jangan menangis, aku ingat akan janjiku." Andika membuang nafas kasar, raganya disini tapi hatinya memikirkan Erna. Tak ada yang tau tentang Cantika. Bahkan Raihan yang sangat dekat dengannya pun tak tau kedekatan Andika dengan Cantika dan ibunya.