One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 68



Sampai di rumah Erna segera membersihkan tubuhnya, hari ini Andika mengurung Erna di ruangannya sepulang jam kerja. Pria itu meminta Erna untuk menemaninya lembur tanpa sepengetahuan Raihan.


Walaupun hanya saling diam dan tak ada pembahasan hingga Erna bosan dan tertidur persis dengan apa yang Andini lakukan. Tapi seenggaknya membantu Andika untuk tak terlalu memikirkan dia yang cepat bertemu dengan Gio.


Erna juga sudah menghubungi Gio dan mengajaknya ke rumah orangtuanya dan di jawab jika dia pulang jam 7, pas dengan waktu Andika memulangkan Erna.


Besok weekend dan mereka memutuskan untuk menginap. Tak tau apa yang akan terjadi, tapi masih ada bekas lebam di wajah Erna yang Andika harap bisa membuka mata kedua orangtuanya.


Keluar dari kamar mandi bertepatan dengan Gio yang juga masuk ke dalam kamar. Saling menatap sebentar setelahnya mereka seperti musuh bebuyutan. Gio tak ingat jika wanita yang ia musuhi itu adalah ibu dari anaknya.


"Aku sudah siap, ayo kita berangkat ke rumah papah sekarang!"


"Hhmm....."


Sepanjang perjalanan tak ada yang buka suara, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga mobil masuk ke dalam gerbang tinggi dengan rumah mewah yang begitu mencolok dari deretan rumah lainnya di komplek tersebut.


Erna bersiap untuk ke luar tetapi tiba-tiba Gio menahannya. Wanita itu kembali bersender di kursi. Tangan gio mengapit dagu Erna, dengan sorot mata tajam keduanya saling memandang.


"Jangan buka suara apapun mengenai rumah tangga kita, kalo nggak loe bakal tau akibatnya. Gue nggak pernah main-main sama ucapan gue. Bahkan buat bunuh loe aja gue berani. Ingat! disini loe tuh cuma ****** yang di lempar oleh bokap loe demi kepentingan perusahaan. Dan keluarga gue udah banyak ngasih uang ke keluarga loe. Terus apa yang harus loe bayar dengan bahagianya bokap loe itu?"


"Harga diri loe! loe nggak ada harganya buat gue! dan apa yang loe terima belum setimpal dengan apa yang bokap loe dapatkan. Andai bokap loe nggak datang dan mengajak untuk menjodohkan anaknya sama gue. Gue nggak semenderita ini hidup sama loe!" Gio melepaskan cengkramannya begitu kasar.


"Loe pikir loe doang yang menderita? gue lebih dari itu, jadi ayo kita pisah. Gue nggak akan nuntut loe apa-apa. Penyiksaan Loe ini nggak akan buat gue goyah Gio! suatu saat loe bakal nyesel Gio, orang yang loe benci ini adalah ibu dari anak loe! dan nantinya gue nggak bakal mau anak gue loe sentuh sedikitpun! gue nggak ikhlas anak gue punya bapak modelan kayak loe!" Erna segera masuk ke dalam rumah di susul oleh Gio.


"Assalamualaikum..."


"Wa'allaikumsalam nak, kalian akhirnya datang juga, malam banget datangnya, pasti gio sibuk ya?" tanya Papah yang sejak tadi menunggu kedatangan keduanya.


"Iya Pah, tadi jam tujuhan baru sampai rumah. Jadi sampai sini nya sudah hampir larut."


"Ya sudah nggak apa-apa, kebetulan mamah kamu sudah tidur. Mau makan dulu apa mau langsung istirahat? kita bisa ngobrol-ngobrolnya besok kan weekend.


"Jujur aku capek Pah, tapi gimana Erna aja."


"Istirahat dulu aja ya Pah."


"Oke, ya sudah langsung ke kamar kalian saja."


"Iya makasih Pah," mereka masuk ke dalam kamar. Papah masih berdiri memperhatikan, melihat gio yang merangkul bahu Erna dengan mesra. Tapi di hatinya sedikit bertanya, kenapa wajah sang anak begitu muram seperti banyak beban.


,


,


,


Rumah tangga yang indah benar-benar Raihan rasakan, bersama Andini dia begitu bahagia. Tiada yang dapat mewakili rasa yang membuncah di dada.


Keluar dari kamar mandi dengan gagah setelah mengeluarkan benih unggul di tempat yang seharusnya. Lega, itu yang Raihan rasakan. Satu jam mengurung Andini hingga membuat sang istri merajuk tak membuat Raihan merasa bersalah justru hal itu membuat Raihan semakin gemas.


Langkahnya disusul oleh sang istri yang merengut berjalan dengan gontai sambil sesekali menghentakkan kaki.


"Jangan ngambek donk sayang, tadi katanya terus mas terus mas lagi. Sekarang ngambek, nggak aku kasih permen lollipop lagi loe ntar sayang."


"Terserah kamu dech mas, aku capek mau istirahat." Setelah mengenakan pakaiannya Andini segera naik ke ranjang. Tak perduli ocehan Raihan yang merayunya.


Hingga pagi menjelang Raihan di buat keliyengan karna terkejut dengan suara benda terjatuh yang begitu keras. Pria itu terbangun dan tercengang melihat sang istri yang sudah tergeletak di lantai.


"Sayang...."


Raihan segera turun dari ranjang dan mengangkat sang istri ke atas ranjang. Dia segera menghubungi dokter dan memintanya untuk segera datang.


"Halo Dok, eh Bay loe kerumah sekarang ya, tolongin gue bini gue pingsan."


"Apa loe bilang? Andini pingsan?"


"Nying loe telpon Bayu tapi mencet nomer gue!"


"Oh salah gue ya, oke!"


Tut


Raihan segera mencari kontak Bayu dan memintanya untuk segera datang. Kemudian Raihan berlari turun ke dapur untuk mencari simbok.


"Mbok...mbok!"


"Iya Den," jawab simbok yang sedang berjalan menuju dapur dengan langkah gontai.


"Mbok Andini pingsan mbok, nanti kalo Bayu datang langsung suruh ke atas aja ya mbok!"


"Apa den? Andini pingsan la ngopo to den polahe?"


"Rai nggak tau mbok, Rai bangun Andini udah tiduran di lantai. Mbok tolong buatkan teh hangat ya, biar nanti kalo Andini sudah bangun bisa segera di minum."


"Baik den," simbok segera membuatkan teh hangat sedangkan Raihan segera berlari menuju kamarnya. Tanpa sadar sejak tadi Rai hanya menggunakan celana kolor. " Den Rai ki pake apa to? aduh ngerusak otak simbok yang sudah manula, jadi kangen bapak."


Raihan duduk di tepi ranjang dengan memberikan minyak angin di hidung Andini, berharap sang istri akan segera sadar.


"Sayang bangun donk, aku takut banget sumpah Yang, apa kamu kelelahan gara-gara aku? jangan buat aku gelisah sayang."


Brak


Raihan terkejut mendengar suara pintu begitu kencang. "Ck, tangan Lo ketinggalan sampe kaki loe yang maju?"


"Kenapa adik gue?"


"Masih belum sadar, si Bayu belum juga datang."


"Kampr3t nich anak pake nyelup dulu kali pagi-pagi. Dokter sabl3ng minta di demo," sewot Andika, dia yang mendengar jika sang adik sakit segera meluncur kerumah Raihan tanpa memberitahu sang mamah.


"Good morning kawan."


Bayu datang tanpa rasa bersalah, berjalan santai mendekat ke arah ranjang dengan tas kerja di tangannya.


"Dokter modelan apa loe dateng-dateng pake kolor begitu?" celetuk Andika.


"Baru bangun gue, hari ini gue off tapi harus ngacir kesini, dari pada kelamaan pake mandi segala mending gue cuci muka langsung jalan."


"Terserah loe, cepet periksa istri gue!" Raihan beranjak dari ranjang, mundur memberi ruang untuk Bayu melakukan pemeriksaan.


Bayu duduk di tepi ranjang, memeriksa dengan seksama. Sesekali melirik ke arah kakak dan adik ipar yang menatap mengawasi.


"Jangan buka-buka, macem-macem sama adek gue, gue tendang kayak pintu tadi loe?" celetuk Andika saat tangan Bayu meletakkan alat medisnya di dada Andini untuk mendengarkan detak jantungnya.


"Posesif loe, lakinya aja diem." Kemudian Bayu kembali memeriksa Andini.


"Ehemm....." Raihan berdehem seketika menghentikan tangan Bayu, hingga kedua tangan terangkat menatap Rai dengan perasaan geram.


"Ogah gue besok-besok loe panggil kesini! ribet, gue tuh profesional ya. Nich tangan kalo lagi kerja ya kerja, kalo lagi kagak ya udah pasti tau apa yang harus di kerjain."


"Udah nggak usah ngambek, udah kayak anak perawan loe! gimana itu adek gue?" tanyanya.


"Mending bawa ke dokter kandungan nanti kalo udah sadar," Bayu melangkah menuju sofa tetapi Raihan segera mencecarnya dengan pertanyaan.


"Maksud loe apa nyuruh bawa ke dokter kandungan?"


"IQ loe tinggi ya, bahkan di atas kita berdua. Nggak perlu gue jelasin loe paham oke!"