
Melihat Andini yang mendekati seorang pemuda membuat Raihan geram. Dia beranjak dari duduknya kemudian melangkah menuju tempat dimana Andini berdiri.
"Sayang...."
"Mas, loh kok kesini? bukannya sedang makan? nggak enak loh sama kliennya di tinggal-tinggal begitu." Andini sedikit terkejut dengan Raihan yang tiba-tiba menyusul.
"Ini siapa sayang?" tanyanya penuh selidik, bahkan tatapannya begitu tajam pada pemuda tersebut karena tangan sang istri dengan nyaman bertengger ditangan pemuda itu.
Pria itu pun santai saja, padahal tatapan Rai seperti ingin menguliti dirinya yang meminta penjelasan.
"Oh ini, dia sepupunya Tara mas. Dia kebetulan baru membuka usaha salonnya di dekat daerah sini. Aku melihatnya seperti orang bingung makanya menghampiri. Eh beneran aja dia lagi nyariin Tara. Janjian di restoran sini beneran?" tanya Andini yang dengan santainya masih mencekal lengan pemuda itu tanpa niat melepas membuat mata Raihan semakin panas.
"Hhmm...."
"Tangannya nggak bisa lepas dulu dek?"
Mendengar itu Andini segera menoleh ke arah sang suami. Andini melihat Raihan tetap lembut tetapi menahan emosi. Kemudian menoleh tangannya yang masih mencekal lengan sepupu Tara.
"Mas cemburu?" tanya Andini dengan dengan senyum yang tertahan.
"Ayo balik ke meja kamu!"
"Ikh ntar dulu, kasian dia aku mau ngobrol. Udah lama juga nggak ketemu, mas balik aja sana. Tuh klien nya lihatin kesini terus."
Penolakan Andini dan keinginannya semakin membuat Raihan emosi. Apa lagi mendengar alasan sang istri dengan santainya masih ingin mengobrol terlebih dahulu.
"Ck, kamu dalam masalah dek!"
"Masalah apa?" tanya Andini polos.
"Tangan kamu, dan kamu ju...."
"Boy!"
Ucapan Raihan tertahan saat melihat Tara datang dan menyerukan sepupunya. Mereka saling sapa dengan asik, bahkan Andini pun ikut larut di dalamnya.
"Loe gue cariin juga! malah nyasar kesini. Din makasih ya udah nemuin ini anak. Gue tadi kan bilangnya di restoran dekat kantor, tapi ngapa loe kesini sich, loe kan tau gue nggak suka makanan Jepang boy!"
"Ish, loe nggak bilang dari tadi. Gue sampai kayak orang tersesat, untung ada Andini. Kalo kelamaan terus di culik duda gimana, kan enak jadinya," ucap boy seraya menoleh ke arah Raihan dengan mata genitnya.
Hal itu membuat Rai mendelik tak percaya. Rasanya ia malu karena cemburu di tempat yang salah.
"Boy, mata loe harap di kondisikan ya. Ini laki gue! mau gue colok pake sumpit!" celetuk Andini yang kemudian beralih mendekati Raihan. Bahkan wanita itu memeluk lengan Rai.
"Loe jangan bikin masalah, ini bos gue!" ucap Tara tak enak apa lagi melihat wajah bosnya yang sudah merah padam. "Maaf Pak Raihan, sepupu saya memang kurang sekilo adonannya, jadi rada meleyot begini. Jangan di masukin hati ya Pak."
"Owh ini laki loe Ndin? loe berdua udah putus, hmmm...kalo saingannya sama modelan begini gue juga mau cin. Hempaskan saja Tara.... iya nggak mas."
"Jangan godain laki gue! udah sana si Boy ajak pergi Tara, kegantengannya bikin orang pengen nyapa tapi giliran tau aslinya pada kabur sia-sia. Sampe laki gue salah sasaran." Andini rasanya ingin tertawa melihat wajah sang suami yang sudah memerah menahan malu, bahkan mengalihkan pandangannya saat Andini menatap.
"Eugh posesifnya punya laki ganteng, udah kena tongkat sakti loe ya! kalo punya temen modelan begini lagi kenalin gue ya Ndin, salon gue nggak jauh dari sini. Kapan-kapan main, udah lama kan rambut loe nggak gue pegang."
"Iya siip, gratis ya boy!"
"Beres asal gue boleh cium manja laki loe sesuka hati..."
"Aish, pergi loe! nggak aman laki gue dekat-dekat loe!" sewot Andini semakin mengeratkan pelukannya.
"Udah ayo Boy, maaf ya pak permisi." Tara menarik lengan pria tampan dengan wajah bersih itu yang masih saja menatap Raihan. Hingga Andini melepas heelsnya dan mengarahkan kepada si Boy, baru dia kabur.
Andini kembali memasang sepatunya. Kemudian menatap Raihan yang masih diam di tempat. Setelah tau modelan pria yang membuatnya cemburu, Raihan diam tak berkomentar. Dirinya bergidik melihat itu dan malu pada sang istri.
"Mas, kenapa?"
"Oh nggak apa-apa sayang."
"Ya udah, balik lagi sana ke meja kamu mas. Aku mau bayar terus balik ke kantor, udah hampir satu jam disini. Kalo nggak mau cemburu jangan bikin orang gerah mas!"
"Oh i..iya..."
Andini berjalan menuju mejanya yang kemudian diikuti oleh Raihan yang juga akan kembali ke mejanya sendiri.
"Ngapa loe?" tanya Andika yang sudah menahan tawa sejak tadi. Dia tau apa yang terjadi antara Andini dan Raihan serta sepupu Tara tadi. Andika juga dulu pernah menjadi incaran si Boy saat beberapa kali menjemput Andini di salon miliknya.
"Ck..."
"Pak Rai, wanita tadi siapa?" tanya Bu Agnes yang sejak tadi memperhatikan. Sempat cemburu tapi ia berpikir jika itu hanya karyawan yang menggoda.
"Maksudnya? Pak Andika saya nggak ngerti, itu loh pak yang duduk di sana."
"Dia istri saya Bu Agnes."
Bu Agnes tercengang mendengar ucapan Raihan. Istri? jadi pak Rai sudah memiliki istri? kapan dia menikah? aku kalah star.
"Oh...istri bapak, tapi sepertinya saya tidak tau jika bapak sudah menikah."
"Belum resepsi Bu, di tunggu saja undangannya."
Sepulang kerja, Andini tidak menunggu Raihan di ruangannya melainkan di lobby bersama Erna. Andini tidak tega jika Erna pulang sendiri. Bahkan diam-diam dia mengirim pesan pada sang kakak untuk mengantar Erna pulang.
"Mbak udah pesan taksi online?"
"Hp aku lowbat, aku pinjam hp kamu aja ya Din."
"Oh oke, aku aja yang pesan ya mbak." Andini mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.
"Masukin sini alamatnya mbak!"
Erna mengetikkan alamat rumahnya di aplikasi hijau kemudian mengembalikan ponselnya pada Andin.
"Di tunggu ya mbak!"
"Din kamu duduk di sini banyak yang liatin tau, mereka berpikir istri bos duduknya di teras lantai kantor. Kalo mertua kamu liat bisa heboh mereka."
"Biarin aja mbak, aku nggak perduli. Kapan-kapan kita padangan di sini aku juga mau." Andini tertawa menyikapi ucapan Erna.
"Kamu memang beda!"
"Aku nggak suka di anggap wah kak, aku ya aku. Anak dari pengusaha Mabel kelas menengah. Tapi Alhamdulillah di beri rejeki yang berkah. Hingga Papah bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi. Di tambah lagi semenjak kakak aku bekerja di sini sebagian uangnya di kasih ke mamah, dia juga bukan orang yang boros. Jadi tambah lagi rejeky di keluarga aku. Aku kesorot ya semenjak ada kak Rai. Tapi itu aku anggap rejeki, hoki juga. Siapa yang nggak kenal keluarga dia kak. Mertua aku udah terkenal dimana-mana, bisnisnya udah kayak jamur. Tapi kan bukan milik aku, aku di kasih begini aja udah bersyukur banget."
"Iya kamu beruntung, nggak semua juga bisa membawanya. Biasanya kalo sudah di atas mereka lupa untuk berpijak, terbang terus nggak mau liat kebawah dan turun ke asal hanya untuk sekedar menyapa."
"Padahal itu semua cuma titipan ya mbak."
"Iya bener banget, eh..... ngomong-ngomong ini taksinya kok nggak nyampe-nyampe Din? coba di liat aplikasinya."
"Bentar mbak," Andini menoleh ke belakang mencari sosok yang ia cari. Senyumnya terbit ketika melihat dua pria tampan berjalan mendekati. "Itu sopir taksinya mbak!"
"Mana?" tanya Erna celingukan mencari taksi yang masuk parkiran. "Nggak ada loh Ndin!"
"Ayo Erna, kita pulang!"
deg
Erna mendengar suara yang masih mampu menggetarkan hatinya, ia menoleh ke arah Andini yang sudah beranjak mendekati Raihan.
"Mbak, pulang sama sopir yang udah aku siapin ya, bye!" Andini melambaikan tangan dan mengajak Raihan segera pergi dari sana.
"Ayo mas...."
"Hati-hati sayang, jangan buru-buru!"
Erna masih diam terpaku, bahkan dia masih belum beranjak dari duduknya. Hingga Andika memegang pundaknya untuk membantu berdiri.
"Ayo kita pulang."
"Tapi...."
"Er, loe pengen gue di cakar sama Andin?"
"Hhmm...."
"Makasih dek, loe udah mulai mau dukung gue jadi pebinor, yang penting dosa loe tanggung sendiri aja. Jangan ngajak-ngajak gue!"
...****************...
Part selanjutnya kita mulai masuk ke Andika dan Erna tapi masih tipis-tipis ya. Karena aku sayang kalian dan banyak yang minta tetap di sini, aku akan lanjut disini.
Owh iya cover judul ini baru tapi jangan buat kalian kabur oke!
Like,coment, Vote dan ❤️