One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 113



Sampai di rumah sakit, Andika segera berlari dengan menggendong tiga nyawa. Membawanya ke ruangan bersalin dan meminta penanganan secepatnya karena Andini sudah merasa jika kedua buah hatinya berebut ingin keluar.


"Cepet dok, aduh....nggak kuat mulesnya dok!" keluar Andini saat tubhnya sudah di rebahkan di ranjang rumah sakit.


"Iya Bu, sabar ya Bu." Dokter menatap Andika dengan tatapan penuh makna, melihat penampilan Andika yang berantakan membuat dokter ingin tertawa.


"Biasa aja liatnya dok, cepat tangani adik saya!"


Dokter tersipu kemudian segera menyiapkan alat-alat medis.


"Bapak, setau saya suami ibu Andini tampan.. kemana suaminya Pak?"


"Emang saya kurang tampan Dok? ngajak ribut nich dokter, nggak tau orang lagi pusing!" sewot Andika.


Dokter segera meminta Andika untuk keluar dan melakukan tindakan pada Andini. Raihan yang baru datang pun segera menerobos masuk ruangan. Ia ingin menyaksikan perjuangan sang istri melahirkan kedua anaknya dan mendampingi Andini yang sedang berjuang.


Sepasang pengantin baru dan para orang tua menunggu dil luar dengan perasaan cemas. Apa lagi para orang tua yang menantikan cucu pertama, gurat kekhawatiran dan ketakutan tampak jelas di wajah mereka.


Suara tangisan bayi yang saling bersahutan terdengar membuat semua yang menunggu merasa lega. Bahkan air mata mereka mulai membasahi pipi masing-masing.


"Alhamdulillah ya Allah...."


Raihan keluar menarik perhatian semua yang ada di sana. Bahkan Andika tercengang melihat penampilan Raihan. Sedangkan para papah mengulum senyum melihat anak dan menantunya keluar dari dalam ruangan dengan lemas.


"Loe ngapa Rai? abis di gebukin massa di dalam? atau jangan-jangan anak-anak loe keluar terus nggak terima punya bapak modelan kayak loe?" tanya Andika heran.


Raihan dengan langkah gontai berjalan menuju kursi tunggu, semua memperhatikan wajah Rai dengan keringat yang bercucuran.


"Mah..."


"Sssttt.....nanti kamu bakal ngerasain! Papah juga dulu sama kayak Raihan, malah muka Papah penuh cakaran," ucap Papah saat Andika yang makin penasaran. Sedangkan mamah yang mendengarnya segera memukul lengan Papah.


"Jangan di bongkar donk Pah!" tegur mamah malu.


"Nah ini dia yang nurunin garangnya ke Andini Rai." Papah Andika menunjuk sang istri membuat semua yang ada di sana tertawa.


"Nasib loe Rai, punya bini bar-bar sampe ke anak-anak loe juga ikut lebay." Ledek Andika setelah tau apa yang terjadi pada Raihan.


Raihan hanya diam dengan berkali-kali membuang nafas kasar, merapikan penampilannya yang berantakan setelah melewati amukan sang istri saat mengejan.


Setelah Andini selesai di tangani oleh dokter, semua keluarga masuk melihat ibu baru dan kedua anaknya di ruang rawat inap yang sudah Raihan siapkan dengan segala dekor yang ada.


"Wiidiiihh berasa ulang tahun ya dek," celetuk Andika yang masih berpenampilan sama seperti tadi berangkat mengantar adiknya ke rumah sakit. Kaos dan kolor di atas paha, betul-betul perpaduan yang luar biasa.


Andini hanya tersenyum menanggapi ucapan Andika, dia sangat berbahagia saat ini. Karena kedua anaknya lahir dengan lancar dan sehat. Terlebih sang suami sabar dalam menghadapi dirinya di detik-detik melahirkan buah hatinya.


"Selamat ya sayang..." para orang tua mendekati dan memberikan selamat serta doa pada putri dan menantu mereka.


"Alhamdulillah lancar, apa jenis kelaminnya nak? sampai lupa menanyakannya pada Rai," tanya mamah Sifa yang kini sudah menggendong salah satunya.


"Yang mamah Sifa gendong itu laki-laki mah, sedangkan yang mamahku gendong itu perempuan."


"Wah sepasang, Alhamdulillah ya. Langsung sepasang." Kedua mamah yang kini sudah menjadi nenek muda sangat antusias menggendong bayi tampan dan cantik dengan pipi chubby.


Sedangkan Erna saat ini berdiri di samping Andini menatap haru kedua bayi Andini. Andika yang paham akan perasaan sang istri segera mendekati.


"Semangat kita buatnya ya sayang, biar cepet jadi. Kalo bisa kembar 3 biar rame," Andika berusaha menghibur Erna. Andini yang melihatnya pun segera meraih tangan Erna.


"Mbak, Andini tunggu ponakan baru dari mbak dan Kak Andika ya. Jangan sedih mbak, oh iya Andini minta maaf kalo tadi ganggu kalian sedang melakukan ritual. Sampai kak Andika kesel banget, ini juga masih pake koloran. Maaf ya kak dan makasih udah nolongin Andini."


Mendengar ucapan Andini, Andika segera memeluk sang adik. Dia sebagai kakak merasa sangat di butuhkan oleh adiknya. Dan ia sudah tak mempermasalahkan perkara malam pertama lagi. Karena masih ada malam berikutnya.


Erna menundukkan kepala, pipinya merona apa lagi ada kedua mertuanya dan kedua orang tua Raihan.


"Selamat ya Din, udah jadi ibu sekarang. Lebih dewasa lagi dalam bersikap, doain gue juga cepet jadi bapak," lanjut Andika dan di aminkan oleh semuanya.


"Rai, apa kamu sudah mempersiapkan nama untuk kedua anakmu?" tanya papah Vino yang kini sedang duduk di sofa bersama dengan Raihan dan besan.


"Sudah Pah, sudah Rai persiapkan. Sebenarnya sich baru saja Pah setelah melihat keduanya lahir ke dunia dengan selamat."


"Siapa namanya Rai?" tanya beliau lagi.


"Joni dan Jeni Pah."


uhuuuk


Uhuuuk


uhuuuk


Erna segera menepuk pundak suaminya yang tiba-tiba tersedak saat minum. Andika menatap tajam adik iparnya. Ingin rasanya ia menjambak rambut Raihan dan membenturkan kepalanya ke dinding.


"Apa coba ucapin sekali lagi Rai?"


"Joni dan Jeni!" ucap Rai lagi.


"Ganti nggak kalo loe nggak mau ini sendal mampir ke kepala loe!" ancam Andika membuat semua yang ada di sana tak mengerti akan kesalahan apa dengan nama cucu-cucu mereka.


"Emang apanya yang salah Dika?" tanya mamah yang benar-benar heran dengan sikap Dika. Sebegitu emosinya dia setelah mendengar nama kedua ponakannya.


Andika mengusap kasar wajahnya, kemudian menghela nafas berat dengan tangan menyugar rambut.


"Mah, mamah tuh nggak ngerti. Dengan nama itu tuh Dika melihat mereka seperti.....tau ah! pokoknya ganti Rai!" tegas Andika, dengan cepat Erna menenangkan.


Raihan menggelengkan kepala, menatap Andika dengan jengah. "Apa yang salah sich? toh emang buatnya antara Joni dan Jeni yang saling melebur."


"Gila loe Rai!" ucap Andika frustasi.


Setelah perdebatan perkara nama yang membuat Andika emosi jiwa, kini para orang tua pamit. Begitupun dengan Andika dan Erna yang akan pulang ke rumah Raihan untuk mengambilkan baju ganti mereka berempat karena tadi belum ada yang sempat di bawa.


Setelah para orang tua keluar ruangan, Andika kembali menatap Raihan dengan tajam yang saat ini sudah duduk di samping Andini.


"Ada apa lagi?" tanyanya Rai kesal.


"Gue bakal liat ntar bayi loe yang loe namain Joni, kalo tuh anak kecil dan gedenya gemulai berarti emang punya loe nggak segagah pembawaan loe!"


"Pulang sana! aneh-aneh pikiran loe!


"Makanya ganti namanya keburu di bikinin bubur merah putih sama mamah!" sewot Dika.


"Udah Dika ayo balik, loe nggak capek apa emosi terus!" Erna segera menarik tangan Dika dan membawanya keluar ruangan.


Setelah mereka keluar, Andini menatap sang suami dengan tatapan begitu dalam. "Makasih ya mas..."


"Buat apa sayang? harusnya aku yang makasih, kamu sudah berjuang sampai di titik ini. Aku bersyukur punya kalian." Senyum Raihan mengembang.


Andini juga tersenyum bahagia, namun seketika itu ia terdiam, menatap sang suami dengan penuh tanda tanya.


"Mas, apa betul anak-anak kita namanya Joni dan Jeni?"


"Kamu keberatan?"