One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 49



Semakin hari semakin nyata, hati pun selalu ingin dekat dan jika mungkin tubuh pun tak ingin bersekat. Menjalani rumah tangga yang berawal dari kesalahan tak semudah membalikkan telapak tangan. Hati yang sempat retak kini mulai tertata dan berharap menyatu walaupun sudah tak sesempurna dulu. Akan lebih sakit rasanya jika harus tergores kembali. Tapi egoisnya tak ingin miliknya di rampas lagi.


Andini berjalan menuju ruangan Raihan, sengaja santai agar tak bertemu sekretarisnya yang selalu melempar tatapan tajam. Langkah jenjang Andini dengan kaki mulus berbalut sepatu heels kini membawanya sampai di depan ruangan sang suami saat memastikan semua aman terkendali.


"Eh ada Tante lagi, masih usaha ya Tan?" tanya Andin santai saat masuk ke dalam ruangan Rai tanpa mengetuk pintu. Lagi-lagi dia harus melihat mantan istri dari suaminya mendekati dan berusaha untuk mengajak makan siang di luar.


Melihat sang istri yang datang senyuman di wajah Rai mengembang, ia menghampiri Andini dan mengecup keningnya. "Makan?"


"Hmm...kok dia masih disini?"


"Habis pemotretan mampir kesini dan mengajak Mas makan di luar. Biarkan saja tak usah dipedulikan. Mas sudah memintanya keluar tapi masih aja terus berusaha.


Andini menarik nafas dalam, dia melirik sang kakak yang masih duduk di sofa memperhatikan adegan antara sang istri dan mantan istri yang berada satu ruangan dengan pria yang di cintai.


"Udah kayak sinetron loe bertiga, mending loe keluar Sarah, adik gue udah datang nich!"


"Oh jadi ini adik loe, loe sengaja deketin adik loe sama Rai? mau manfaatin Rai, sampe adik loe, loe jadiin tumbal? pantes aja dulu loe nggak suka banget sama gue Dika ternyata ini alasannya!"


Dika yang duduk di sebrang Sarah mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan yang membuat telinganya panas, tapi dia tak semudah itu terpancing emosi, Dika tersenyum miring meminta sang adik untuk duduk dekatnya. Dan Raihan pun ikut duduk di sofa.


"Adikku yang cantik, pernah kakak minta kamu buat merayu Rai?" tanyanya sambil merapikan anak rambut Andini dan Andini menjawab dengan gelengan kepala.


"Pernah kakak minta kamu buat manfaatin Rai dan menjebaknya?" Andini menggelengkan kepalanya lagi.


"Apa yang kakak lakukan saat tau kalian bersama?"


"Menghajar mas Raihan sampai babak belur," jawab Andini lantang.


Andika kembali tersenyum, kali ini ia menatap sinis Sarah yang kini wajahnya sudah memerah.


"Loe nggak tuli kan? loe denger kan apa yang adik gue bilang?"


"Bisa aja kalian berdua bersekongkol? Rai orang baik, dia bisa dengan mudah kalian kelabuhi!" Sarah masih saja tak terima, dan itu sukses membuat Raihan geram.


"Stop Sarah, terserah kamu mau percaya atau nggak! aku juga nggak minta pengakuan apa-apa dari kamu, sekarang kamu keluar dari ruanganku sebelum aku telpon scurity untuk mengusir kamu!"


"Rai!"


"Makasih kamu sudah bekerja dengan baik, kontrak sudah selesai. Bonus akan aku kirim ke rekening kamu segera dan aku minta jangan temui dan datang kesini lagi! karna sudah jelas, aku sudah memiliki istri, jika kamu masih nggak percaya bisa datangi kediaman orang tuaku dan bertanya sendiri pada beliau. Atau tunggu undangan resepsi pernikahan kami yang akan di gelar sebentar lagi!"


Raihan melangkah menuju pintu dan membukanya, agar Sarah sadar dan pergi dari ruangannya saat ini juga.


"Aku kecewa Rai, aku berharap banyak sama kamu dan bisa kembali, tapi ternyata kamu benar-benar sudah memiliki istri. Maaf jika sikapku berlebihan, itu karena aku masih sayang sama kamu. Dan makasih atas kenyataan ini, semoga kalian bahagia." Sarah keluar ruangan dengan dada yang sesak, menyesal pun sudah tak ada artinya saat melihat mantan suami sudah kembali menjalin kasih dengan wanita lain. Bahkan wanita yang lebih muda dan menarik, tentu ia kalah telak dalam hal ini. Andai dulu tak egois, mungkin ia masih menjadi ratu di hati Rai, dan menjadi satu-satunya wanita yang Rai cintai.


Raihan menatap sang istri yang tertunduk diam, dia yakin hati Andin pun terganggu dalam masalah ini. Apa lagi mendengar Sarah yang memaki Andika dengan kata-kata yang tidak benar. Rai mendekati Andini, menariknya kedalam pelukan. Mengusap lembut punggung sang istri memberi ketenangan.


"Nggak usah merasa bersalah sama kakak, loe nggak salah dek. Jodoh nggak ada yang tau, biarin orang mau ngomong apa, mulut-mulut dia, kalo capek juga mingkem. Mungkin emang cara loe aja yang sejak awal emang salah, tapi semua udah terjadi. Yang penting loe sekarang bahagia dengan pria yang tepat."


Andini melepas pelukannya dari Rai dan beralih memeluk sang kakak, perkataan Sarah tadi sedikit membuatnya bersalah pada Andika.


"Udah nggak usah cengeng! sana pelukan sama laki loe lagi, nggak lihat noh muka laki loe udah bete. Raihan kalo udah bucin gitu, jangankan sama gue, sama papah aja dia cemburu kalo loe kelamaan di peluk."


Andini melirik Rai dan sengaja mencium kedua pipi Andika, membuat Raihan menarik tubuhnya hingga kembali kedalam pelukan suaminya.


" Gila loe, adik gue itu!"


"Nggak harus cium-cium juga sayang!" Raihan memperingatkan Andini.


"Mas ikh, Kak Andika kan kakak aku. Ya kali cemburu sama kak Andika." Andini protes, dia yang iseng tapi dia yang kesel.


Andika segera beranjak dari duduknya, ia memilih untuk segera pergi dari pada harus ikut menyaksikan drama rumah tangga adik dan sahabatnya.


"Mau kemana kak?"


"Mau makan siang gue, laper. Liat loe berdua perut gue makin dangdutan, apa lagi abis ngadepin wanita jadi-jadian. Jadi pengen minum es degan," jawab Andika ngasal.


"Bilang aja mau makan sama Erna!" sahut Raihan sukses mendapat tatapan tajam dari Andini.


"Kak jangan bilang loe suka sama mbk Erna, jangan jadi pebinor kak, mbak Erna lagi bunting, bentar lagi anaknya launching. Loe malah mau jadi duri dalam pernikahan sahabat sendiri. Gue bilangin mamah biar di sunatin lagi loe kak!"


"Berisik loe, terima jadi aja nggak usah banyak ngecap. Loe pengen dia jadi kakak loe kan, gue wujudin! Asal loe diem nggak usah ngadu-ngadu!"


"Ikh, liatin aja kalo sampe di samperin lakinya gue nggak mau belain! punya cita-cita jelek amat loe kak!"


"Udah sayang biarin aja, kita cuma cukup diem dan menyaksikan. Lagian aku dukung Andika kali ini, aku juga nggak mau liat Erna terus di sakitin. Sebagai sahabat aku nggak terima Erna salah mendapat pendamping." Lagi-lagi ucapan Rai mendapat perhatian khusus dari Andin, jiwa kekepoannya meronta. Seperti ibu komplek yang sedang menggali berita, kalo belum kelar belum pengen udah.


"Dengerin laki loe, udah akh gue mau ngantin. Kasian Erna sendiri." Andika keluar meninggalkan Andini yang masih tak mengerti. Sedangkan Raihan segera meraih bekalnya mengalihkan pembicaraan.


"Mas..." rengek Andin.


"Kenapa sayang? ayo makan!"


"Mas, ceritain!"


"Makan dulu sayang, nanti kalo udah kenyang baru cerita ya.." Raihan menyuapi Andini agar diam dan segera makan. Tak ingin banyak cerita karena nggak akan kelar satu bab.