One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 43



"Kenapa bibirnya manyun gitu, ke ruanganku kalo vitamin pagi kurang!"


Andini menatap sengit pria yang berjalan di depannya, pria yang memiliki gelar sebagai suami. Berjalan santai setelah membisikkan kata-kata yang membuatnya bertambah kesal. Sudah tadi bertemu dengan wanita bergaya penguasa, kini di ledek suami yang tak tau apa-apa.


"Nyebelin dua-duanya!"


Setelah Rai masuk ke lift khusus untuknya, Andini pun segera masuk ke lift karyawan. Dia tak ingin kejadian biasanya terulang lagi. Rai menariknya masuk ke dalam lift khusus CEO yang dapat membuat orang lain curiga.


"Napa itu bibir masuk-masuk merengut begitu?" Erna tertawa meledek Andini yang masuk ruangan dengan wajah kesal.


"Biasa lah," Andini duduk kemudian menyalakan laptopnya.


"Rai?"


"Sssttt jangan berisik mbak, nanti ada yang dengar, jangan sampe aku jadi tranding topik di kantor ini. Apa lagi jadi bahan empuk mbak-mbak julid yang biasa ngegibah di meja resepsionis." Andini melirik Tara yang sejak tadi sudah fokus bekerja.


"Ck, Andini mau sampe kapanpun kamu tutupi suatu saat bakal ketahuan juga. Walaupun sementara ini kedekatan kalian tertutup rapat!"


Ucapan Erna mampu membuat pikiran Andini gusar, paling tidak semua tertutup sampai waktu magang usai dan ia keluar dari kantor ini.


"Tara, aku minta tolong yang ini nggak ngerti." Tara menatap layar laptop di meja Andini, dia membungkukkan tubuhnya agar lebih jelas melihat. Mengajari Andini dengan baik, karena walaupun Tara hanya anak magang, dia cukup berpotensi dalam bidangnya.


"Jangan terlalu dekat, nanti tegangan tinggi repot loh!" bukan mbak Erna yang meledek mereka tapi pak Heru yang sengaja menyindir.


Andini dan Tara hanya diam, Tara yang menjawab dengan senyuman sedangkan Andini menundukkan kepala.


"Saya hanya mengingatkan..."


"Kan Andini ngeluh nggak bisa Pak, butuh tutor biar cepet kelar," Tara menjelaskan.


"Lanjutkan, tapi awas kalo sampe yang punya marah. Kamu dalam masalah Tara!"


Andini tertegun, melihat pak Heru kemudian melirik mbak Erna yang hanya diam dan mengangkat kedua bahunya. "Udah dech Tara, ribet!"


Tara tersenyum, "kalo nggak ngerasa ngapain takut? emang loe udah ada yang punya?" tanyanya dengan wajah menyelidik.


"Ck, nggak usah kemana-mana pembahasannya, gue kan cuma minta tolong jelasin ngapa jadi nanya urusan pribadi?" ucap Andin tanpa menoleh ke arah Tara.


"Gue paham loe Din," sahutnya kemudian mengusak lembut kepala Andin. Keduanya sempat saling menatap, pancaran cinta masih jelas di mata Tara. Tapi sudah tak ada getaran sedikitpun di hati Andin.


Mungkin dengan yang lain Andin bisa menutupi sesuatu, tidak dengan Tara. Pria itu cukup paham sifat dan sikap Andin. Dia yakin ada yang Andini tutupi.


"Bekerjalah dengan profesional, kamu di kirim kesini oleh Bu Flo bukan untuk menggangguku!"


"Rai, jangan terlalu dingin denganku. Aku patner kerja mu sekarang, model yang akan membintangi produkmu. Jika saja kerjaku tidak maksimal pekerjaan ini tak akan cepat selesai sesuai target yang kamu dan Bu Flo sepakati. Dan itu akan membuat kalian merugi. Apa kamu siap? sedangkan untuk kerja sama dengan bu Flo akan mendapatkan keuntungan yang banyak tentu akan mengecewakan mamah Sifa jika kamu menggagalkannya."


"Kamu mengancamku? kamu pikir model di dunia ini hanya kamu? aku hanya menuntutmu untuk kerja dengan benar, tanda tangani dan kamu bisa langsung bekerja. Pergi ke studio karena kru yang lain sudah menunggumu. Bukan kamu malah bersantai di sini!"


Andika masuk ke dalam ruangan Rai, dia melirik siapa gerangan yang membuat sahabatnya bermuka masam.


"Udah dateng dia? berasa kantor sendiri, punya kuasa apa dia di sini?" tanya Andika seraya menatap malas Sarah yang duduk santai di sofa.


"Dari pagi?" tanya Andika dengan alis yang terangkat sebelah. "Ngapain aja loe sama dia semenjak gue nggak ada?"


"Jangan ngadi-ngadi otak loe! loe pikir gue ngapain? Dari tadi udah gue suruh keluar tapi nggak mau." Raihan menandatangani berkas yang Andika bawa setelah membacanya.


"Itu ruangan apa Rai? sepertinya kemarin belum ada.." tunjuk Sarah kemudian melangkah mendekati Rai.


"Kamu nggak perlu tau itu ruangan apa, jangan kamu usik privasiku!" tegas Rai. "Cepat tanda tangani dan bekerjalah dengan baik!"


Sarah mendekati meja Rai, mengambil pulpen dan mulai menandatangani kontrak kerja yang sudah di siapkan.


"Loe mau kemana Dik?" tanya Rai saat melihat Andika ingin keluar ruangannya.


"Laper gue, lagian liat Wewe disini bikin tenggorokan kering, mau ngecap takut salah diem aja gatel lidah gue! loe urus aja sendiri, buat masalah yang ini gue angkat tangan!"


"Ck,...." Raihan menatap nanar sahabatnya yang keluar ruangan begitu saja. Andika memang sejak dulu tak pernah akur dengan mantan istrinya. Sahabatnya ini sejak awal memang sudah tak setuju jika dirinya dan Sarah menikah. Sarah yang terkenal memiliki ambisi yang tinggi dalam karir nya tentu hanya akan menjadi boomerang untuknya. Dan benar saja baru beberapa bulan menikah, Rai sudah seperti lajang dengan status kawin. Sarah sering keluar kota bahkan keluar negeri demi karirnya di dunia modeling tanpa memikirkan Rai. Bahkan dia KB hanya untuk terhindar dari pembatalan kontrak yang menuntutnya untuk tidak hamil dalam waktu tiga tahun.


Naas, rumah tangga yang di harapkan akhirnya kandas karena keegoisan sang istri yang rela berpisah demi karir yang telah susah payah ia dapatkan. Raihan yang awalnya masih menutup mata akhirnya menyerah dan menggugat cerai. Apa lagi dirinya yang sudah beberapa kali mendapati Sarah tengah dekat dengan pria lain di belakangnya.


"Ayo kita makan siang Rai, ke tempat favorit kita dulu. Aku rindu...setelah ini aku akan berkerja dengan baik." Sarah beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Rai yang tengah duduk di kursi kerja.


"Mau apa?" tanya Rai waspada.


"Aku hanya ingin mengajakmu makan siang, nggak lebih. Segitu menolaknya kamu hingga makan siang saja tak mau? Rai, aku ingin kita seperti dulu, jangan kamu batasi aku untuk mendekat. Aku akan berubah demi kamu, aku masih mencintaimu Rai." Sarah berdiri di depan Rai dengan wajah memelas, yang ada di pikirannya adalah memanfaatkan kedekatan yang tak lama ini agar bisa kembali dengan Raihan. Dia menyesal dengan apa yang pernah ia lakukan dan bersungguh-sungguh akan memperbaikinya. Dirinya sadar, jika apa yang ia kejar selama ini hanyalah kesenangan sesaat. Dan dia menyia-nyiakan orang yang sangat tulus menerimanya.


"Maaf Sarah, kita sudah tak seperti dulu. Bahkan statusku juga sudah berubah. Tak ada alasan aku untuk menerimamu kembali. Kita hanya sebatas rekan kerja, seandainya Bu Flo tidak merekomendasikan kamu untuk menjadi modelnya pun mungkin aku nggak akan memilih kamu untuk menjadi model produkku."


Sarah berusaha meraih tangan Rai, tapi secepat mungkin Rai menepisnya, "Rai beri aku kesempatan sekali lagi, jika perlu aku akan datang kerumah mamah dan bersimpuh di kaki beliau agar mau menerimaku menjadi menantunya kembali."


"Nggak perlu berlebihan Sarah, mamah sudah bahagia melihat kehidupanku sekarang. Jadi tak perlu kau mengusik mamahku lagi, beliau sudah cukup kecewa saat melihat menantu yang ia sayang tega pergi demi karir. Padahal beliau bisa memberi apapun yang menantunya inginkan. Tapi keras kepala menanti kesayangannya akhirnya membuat beliau kecewa."


"Rai..."


"Cukup jangan memelas seperti itu, kamu cantik, kamu baik, di balik sikap kasarmu dengan orang lain kamu memiliki hati yang lembut. Aku doakan kamu mendapatkan yang lebih baik dari ku. Yang bisa menerima kamu dan sesuai kriteria yang kamu inginkan. Sekarang pergilah! setelah jam makan siang datanglah ke studio dan bekerja dengan baik. Aku akan memberimu bonus jika pekerjaanmu mulus."


Sarah mengusap kasar air matanya, mendekati Rai hingga membuat pria itu segera beranjak dan berusaha untuk menjauh. Tapi Sarah berhasil menarik jas Rai hingga pergerakan itu terhenti.


"Aku nggak butuh bonus atau uangmu Rai, yang aku mau itu kamu!"


"Jangan macam-macam Sarah, lepas atau aku bertindak kasar!" tegas Rai saat cengkraman di jasnya semakin erat.


"Apa kurangku Rai?"


"Lepas Sarah!" seru Rai yang sudah tidak tahan. Dia khawatir Andini segera datang dan salah paham. Mengingat dia meminta istrinya untuk makan bersama.


"Nggak akan Rai! aku yakin kamu masih mencintaiku!" seru Sarah dengan nada yang tak kalah tinggi. Sarah menarik jas Raihan, ia ingin meraih bibir Rai, karena ia yakin jika Rai masih mencintainya. Dan membuktikan jika yang ia pikirkan itu benar.


"Apa yang kamu lakukan pada suami saya!"