One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 42



Tidur mendekap erat walaupun sang istri hanya diam saja. Andini tak bisa menolak saat Rai memintanya untuk masuk ke dalam pelukan. Mungkin karena efek pms yang belum kelar dan siang tadi di buat kesal membuatnya tak bisa nyenyak, bahkan memejamkan mata saja sulit.


Raihan yang peka menarik tubuh istrinya hingga masuk ke dalam pelukan, mencari titik ternyaman di dada Rai hingga tertidur pulas. Malam ini Rai tak minta susu segar, bahkan menciumpun ia tak punya nyali. Istrinya sedang ingin di mengerti hingga dia pun harus bisa memaklumi.


Andini terbangun lebih dulu, moodnya sudah mulai membaik. Mungkin karena kehangatan tubuh Rai yang membuat hati Andini melunak. Bahkan saat membuka mata pun Rai masih memeluk erat. Andini melihat wajah sang suami yang masih terpejam, ada rasa kesal jika ingat suara wanita itu, tapi tak tega juga jika terus marah tanpa Rai tau penyebabnya.


"Jadi inget lagu di aplikasi tok tok.. Pelakor ada dimana-mana, ibu-ibu harus waspada. Capek emang kalo punya laki cakepnya di atas rata-rata, hhuuuuhhff...masa iya orang mah pengen tuker tambah lah gue tuker sama yang biasa. Padahal kan lumayan buat memperbaiki keturunan," keluh Andini.


"Tapi aku nggak mau kamu tuker, lagi siapa yang mau ngerebut suami kamu?" Andini di buat terkejut, Raihan berucap tanpa membuka mata. Ia pikir suaminya masih tidur tapi ternyata sudah bangun entah sejak kapan.


"Aku pikir masih mimpi, awas kak aku mau turun!" ucap Andini cuek, padahal dalam hati ia malu sendiri. Andini menyingkirkan tangan Rai dari tubuhnya tapi Rai malah mengeratkan.


"Jawab dulu, kamu marah dari kemarin kan? diemin aku tanpa alasan, sebenarnya apa yang buatmu marah? ada yang membuat kamu curiga?" tanyanya lembut dengan menatap kedua mata Andini.


Andini masih diam, dia malah menunduk tak sanggup melihat mata teduh Raihan yang kini menunggu jawaban.


"Kenapa sayang? jujur aja..apa yang buat hati istriku jadi gelisah begini, hmm?" Raihan menarik dagu Andini agar menatapnya.


Tangan Andini meraih kaos Raihan dan menggenggam erat. "Aku....aku mendengar suara wanita dari panggilan di ponsel kakak."


Raihan mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan penuh selidik. Dia memang kemarin tidak mengecek ponsel, jangankan untuk mengecek ponselnya. Melihat sang istri diam dan tak ingin bicara jika tak di tanya saja membuatnya resah.


"Siapa yang meneleponku?"


"Mana aku tau, mungkin pacar kakak! atau di belakangku kakak punya cem-ceman? apa malah punya pos dua?"


Raihan memijat pelipisnya, dia saja tak pernah dekat dengan wanita secara berlebihan. Bagaimana Andini bisa tanya dirinya punya pos dua.


"Mungkin jika aku ingin, mudah untukku memiliki pos dua seperti yang kamu pikirkan. Tapi aku nggak ada niat sayang, walaupun banyak wanita yang mendekatiku!"


"Lalu siapa wanita yang menunggu kakak di cafe tempat biasa, yang dengan pedenya bilang kakak masih rindu, siapa?" tanya Andini sedikit menggebu. Raihan tak menjawab, dia perlu mengecek ponselnya. Membuka panggilan masuk terakhir kali, dapat Rai lihat nomor tanpa nama yang tertera di sana. Bahkan banyak panggilan tak terjawab darinya. Nomor yang sama dengan penelpon yang tadi pagi.


Rai menarik nafas dalam, dia tau siapa orang itu, ingin jujur tapi takut sang istri bertambah marah.


"Kalo aku kasih tau siapa pemilik nomor tersebut apa kamu akan marah?"


"Aku nggak akan marah, asal memang kakak nggak ada hubungan apa-apa dengannya."


Raihan mengecup jemari Andini dengan mata yang masih menatapnya. "Aku nggak pernah ada hubungan dengan wanita lain setelah bercerai dan saat ini aku hanya punya kamu. Ini nomer mantan istri aku, kita ada kerjaan bareng. Sejak kemarin ia yang menghubungi ku. Aku harap kamu ngerti!"


Ada rasa sesak di hati Andini, tapi dia cukup menghargai dengan kejujuran yang Raihan beri.


"Hhmm...asal nggak ada niat kawin lagi aja!"


Raihan tersenyum mendengar celoteh istrinya yang sudah kembali seperti biasa. "Kalo kawin tentu mau lagi!"


"Ikh kok gitu, ya udah kalo gitu pilih aku atau dia?" ketus Andini.


"Kawin aku mau tiap hari, tapi kalo nikah kamu yang terakhir." Raihan menatap dalam istrinya yang kini tengah tersipu, kembali menunduk dengan tangan memukul dada Rai.


"Apa sich kak, kesitu terus omongannya! nggak ada kata-kata lain apa?"


"Stop kak! ngomong sama kakak ujung-ujungnya ranjang, kakak kurang piknik ya?" Andini menepis tangan Rai, ia ingin segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap ke kantor.


Melihat Andini yang malah ingin menjauh membuat Raihan gemas, sejak kemarin menahan untuk tidak mencium bahkan memeluk saja takut-takutan tapi pagi ini tak bisa di lewatkan. Ia harus dapat sarapan pagi penambah semangat.


"Sayang..."


"Kenapa lagi kak aku mau mandi."


"Morning kiss!" Raihan menghadang Andini yang ingin masuk ke dalam kamar mandi.


Andini berkacak pinggang, "pengen banget aku cium?"


"Iya lah, dari kemarin siang aku nggak dapet jatah. Kamu selalu menghindar bahkan diam saja. Nggak kasian sama aku yang nggak tau apa-apa, sekarang sebagai gantinya cium aku!"


Andini menarik nafas dalam, kalo begini terus drama pagi nggak kelar-kelar malah tambah melebar. Andini melangkah maju, berjinjit mendekati pipi Rai tapi dia di kejutkan dengan gerakan cepat Raihan yang meraup bibirnya.


Mata Andini membola, terkejut mendapatkan serangan fajar. Tak dapat berkutik, nyatanya tubuh Andin merespon dengan baik. Mengimbangi Rai hingga keduanya lupa jika waktu terus berputar.


"Hhuuuuhhff....." wajah Andini memerah, nafasnya tersengal saat pasokan udara terasa berat.


"Makasih sayang...mau nambah tapi takut kamu telat. Makan siang di ruanganku ya, nanti kita lanjut setelah makan siang di ruangan pribadi kita!" Raihan mengedipkan sebelah matanya, cukup untuk pagi ini meraup manis hingga mampu membelit benda kenyal yang cukup nakal setiap di kunjungi.


"Aku mandi di kamar sebelah ya atau kamu mau ajak aku mandi juga?" alis Rai naik turun menggoda Andini.


"Maunya!"


"Katanya mau kenalan, biar nggak solo terus, baru mau ngajak mandi aja buru di tolak! dia bangun dan berdiri tegak!"


"Kamar sebelah masih banyak sabunnya kan kak, nanti kalo habis aku belikan. Tenang saja aku nggak akan marah jika hanya bersaing dengan sabun cair!" seru Andini yang sudah melesat masuk ke kamar mandi.


"Nasib loe Jon, mainan sabun Mulu nggak ada bedanya sama Andika. Duel aja loe sekalian!"


Pagi yang ia impikan penuh kehangatan lagi-lagi tak ia dapatkan. Andini yang masih belum bisa di jamah, hanya bisa setengah-setengah ia rasakan, padahal yang di bawah sudah meronta hingga sesak.


Sampai di kantor cukup mepet, Andini keluar dari mobil dan segera berlari memasuki gedung. Dengan bekal yang ia bawa wanita itu berjalan tergesa. Hingga tak sadar ia menabrak seseorang, beruntung bekal makannya tak terjatuh sudah di pastikan akan berhamburan kemana-mana.


"Maaf...maaf saya tidak sengaja, terburu-buru hingga jadi ceroboh begini," ucap Andini tak enak sebab orang yang ia tabrak hampir saja ponselnya terlepas dari tangan.


Dia menatap Andini dari atas sampai bawah, "cantik, menarik, tapi aku belum pernah liat, anak baru ya?"


"Oh, i..iya anak magang."


"Pantas saja, tak mengenal aku. Dan cukup asing bagiku, lain kali hati-hati. Anak magang datangnya semaunya sendiri, andai kuasaku masih seperti dulu, sudah ku kasih nilai minus kamu!" ucapnya kemudian berjalan mendahulukan Andini dan masuk ke lift khusus CEO.


"Siapa sich dia? oke banget emangnya, badan kayak triplek, dandanan kayak mau kompetisi manten, mending manglingin, dempulnya doank yang di tebelin! Tapi kayak kenal, dimana ya. Tinggi sich kayak model, tapi body masih mendingan gue!" Andini sewot sendiri, walaupun sadar jika dia yang salah karena tak hati-hati, tapi setelah minta maaf malah kena semprot. Lumayan buat moodnya oleng dikit.


"Kenapa bibirnya manyun gitu, ke ruanganku kalo vitamin pagi kurang!"