One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 95



Andika terjaga saat tangannya terasa begitu kebas. Perlahan matanya terbuka menatap wanita cantik yang kini berada di dalam pelukannya. Tertidur dengan wajah menelusup di dada.


Andika meraih bantal menggantikan tangannya, dia betul-betul tak tahan. "Auwh.....berapa jam ini tangan jadi bantalan sakit bener rasanya. Untung sayang....."


Andika kembali menatap wajah cantik yang semalam memberi kepuasan, dirinya mengukir senyum walaupun tau apa yang di lakukan adalah kesalahan.


"Akhirnya Joni menunjukkan pesonanya...."


Karena gemas kecupan demi kecupan ia layangkan. Membuat sang wanita melenguh dan menarik selimut hingga menutupi wajah ayu miliknya.


"Hey....udah pagi, malah ngumpet gitu bangun yuk!" Andika menarik kembali selimut yang menutupi wajah, hingga terjadi tarik menarik yang semakin membuat Andika gemas.


"Diem, nanti keliatan malu! mandi duluan sana!"


"Ngapain malu, orang udah dicicipin juga!" Andika terkekeh geli membuat sang wanitanya semakin mengeratkan selimut, dengan wajah merona menelusup ke dada bidang Andika.


"Maaf ya dan makasih...."


Tiba-tiba Andika menjadi serius, mengecup kening begitu dalam dengan tetesan air mata yang mengalir membasahi kening wanita yang kini terpaku merasakan keseriusan yang jarang ia temui.


"Kenapa? ini pelanggaran dan ke depannya bakal jadi masalah."


"Tau, tapi secepatnya kita nikah." Andika mengeratkan pelukannya.


"Nggak mau cerita dulu? ada apa?"


Andika menarik nafas dalam, dadanya begitu sesak. Andai semalam tak bisa terlepas, pasti sudah ada kesalahan lagi yang fatal lebih dari ini.


"Janji nggak marah?"


"Asal jujur!"


"Hhmm......" Andika semakin mengeratkan pelukannya, ia takut Erna marah.


Semalam ia benar-benar sudah di ambang batas, entah obat apa yang mempengaruhinya. Andika yang ingin pulang tapi seperti terus di tahan oleh Cantika padahal tubuhnya sudah ingin menelaanjangi wanita.


"Ayo mas ...." Cantika mengajak Dika masuk ke kamar, dia tau Andika sudah mulai masuk ke dalam permainannya. Berulang kali gadis itu meminta maaf atas apa yang ia lakukan, tapi tak menyesal karena beberapa bulan terakhir ini sudah segala upaya ia lakukan untuk menarik perhatian Andika tapi tak kunjung mendapat balasan. Jangankan di balas, ia malah harus menerima pil pahit jika akhirnya Andika kembali pada wanita pujaan hatinya.


Andika ambruk di atas ranjang, tubuhnya begitu gerah hingga ia membuka tiga kancing baju miliknya. Senyuman devil gadis itu mulai ketara, ia rela melepas keperawanan asalkan itu Andika yang melakukannya.


"Mas kenapa, kok mendadak gerah gini?" Cantika dengan sengaja menyentuh dada Dika yang sudah payah menahan. Hingga lenguhan Dika semakin membuat senyuman di wajah Cantika mengembang.


"Eugh..... Cantika."


"Iya mas, Cantika harus apa?"


Andika benar-benar sudah tak tahan, ia menarik tubuh Cantika hingga kini berada dalam kukungannya.


Awalnya Cantika begitu terkejut dengan Andika yang tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya, tapi saat Andika mulai merangkak naik ke atas tubuh Cantika ia mulai pasrah. Bahkan menutup mata saat Andika mengikis jarak dan ingin mencium bibirnya yang sudah siap di jamah.


Tapi beberapa saat mata Cantika kembali terbuka saat ia tak merasakan bibir Andika singgah, bahkan nafas Dika yang sudah memburu kian menjauh.


"Ada apa mas?"


"Obat apa yang kamu masukkan di kopiku? kamu mau menjebakku?" tanyanya dengan tatapan tajam, Dika berusaha keras sadar akan dirinya yang salah jika ia meneruskan kegilaan bersama gadis itu walaupun kepalanya serasa ingin pecah.


"Mas..." lirih Cantika, nyalinya ciut melihat kemarahan Andika. Mata sayu yang tadi ia dambakan kini berubah tajam dan ini yang pertama kalinya ia dapatkan.


"Aku tau, aku telah berjanji menjagamu. Tapi bukan berarti aku harus menikahimu! ibumu hanya menitipkan bukan memintaku untuk menjadi suamimu! ini cara gadis SMA menjebak pria yang ia inginkan? kampungan!"


Andika segera beranjak dari tubuh Cantika, reaksi obat itu semakin menjadi dan dirinya tak bisa jika terus berlama-lama di sana sehingga ia memutuskan untuk segera pergi dan meninggalkan Cantika yang berlari mengejarnya.


"Mas, tunggu mas! cantika minta maaf! Cantika tau ini salah, tapi Cantika nggak mau kamu menikah dengan wanita lain. Cantika cuma punya kamu mas!"


Ucapan Andika membuat langkah Cantika terhenti, ia akhirnya melepas Andika pergi. Isak tangis memenuhi ruang keluarga hingga rangkulan dari bibi membuatnya segera menumpahkan kesedihannya.


"Sabar non, nyonya akan sedih jika non seperti ini. Masih ada Bibi non, Bibi akan terus mendampingi non cantika."


"Tapi aku mencintainya Bi.."


"Tapi cinta nggak bisa di paksakan non dan apa yang non lakukan salah. Andai den Andika khilaf dan tidak mampu menjaga dirinya. Dia mungkin akan tetap bertanggung jawab walaupun semua karena terpaksa. Kalian pasti menikah, tapi apa non menjamin akan bahagia? sedangkan pernikahan kalian hanya karena terpaksa?"


Cantik semakin terisak, ia malu akan perbuatannya. Ia sadar telah menurunkan harga dirinya di depan pria. Bahkan rela melepas kegadisannya demi apa yang ia inginkan.


Andika melanjukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, beruntung jalanan malam sudah sepi sehingga memudahkan dia agar cepat sampai ke tujuan.


Berulangkali mengumpat hingga memukul setir mobilnya. Reaksi obat semakin membuatnya menggila dan ia butuh wanita.


"Bangk3!"


"Obat lucknut!"


"Sial!"


"Anjing!"


Umpatan demi umpatan ia layangkan, kepalanya semakin ingin pecah menahan tubuhnya yang sudah ingin menjamah wanita.


"Sabar Jon, loe bakal gue bawa ketempat seharusnya loe ngelepas keperjakaan loe!" keluh Dika dengan keringat yang bercucuran.


"Panas njiiiiir!"


Andika turun dari mobil dengan nafas menggebu, ia mengetuk pintu tapi tak kunjung di buka. "Bangsaaat!" Andika kembali mengumpat akan kesialannya hari ini.


Tapi bodohnya ia, sejak tadi ia tak memutar handle pintu. Saat tangannya memutar handle pintu, pintu terbuka dengan lebar tanpa ia harus bersusah payah.


"Bod0h!" tak menunggu waktu lama Andika segera berlari menuju kamar yang ia tuju. Kamar yang akan menjadi saksi bisu kesalahannya malam ini.


BRAK


Wanita yang baru saja ingin menarik selimutnya di buat terjingkat dengan kedatangan pria yang seminggu ini membuatnya dilema.


Dia tak menyangka pria itu tiba-tiba datang dan langsung menuju kamar. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, bukan waktu yang pantas untuk berkunjung.


Erna melihat wajah Andika yang berbeda, keringat bercucuran dan wajah memerah seperti ada sesuatu yang ia tahan.


"Andika..." lirih Erna menyibak selimutnya dan turun dari ranjang, tanpa ia sadar penampilannya membuat Andika semakin ingin menyerang.


Dengan langkah cepat Andika memeluk Erna dengan erat. Ia menutup pintu kamar dengan tendangannya dan membawa Erna ke ranjang.


"Dika loe kenapa?"


"Tolongin gue Er, please sayang ..gue tau gue salah. Tapi gue butuh loe, Joni udah nggak kuat. Please gue bisa gila kalo nahan ini semua. Gue janji nggak akan nyakitin jeni, pelan-pelan yang penting keluar....."


Erna yang mengerti di buat bimbang, menolong Andika tapi ia tau ini salah. Sedangkan membiarkan ia takut terjadi apa-apa dengan Andika. Apa lagi melihat Andika dengan wajah memohon dan mata berkabut gairah yang ingin segera di lepaskan.


"Please sayang, maaf .....gue butuh loe Er!" lirih Dika tak tahan, tangannya mulai menjamah tubuh Erna walaupun Erna belum menjawab.


"Iya, lakukan!" Andika seperti mendapat angin segar, ia segera menautkan Indra perasanya dan membuka semua kain yang menutupi keduanya.


"Gue nggak akan egois, gue juga bakal buat loe puas dan menghilangkan semua trauma yang ada di diri loe! ijinkan Joni masuk ya..."


Andika kembali memohon sedangkan Joni sudah memberi salam pembuka pada jeni hingga masuk dengan lancar tanpa hambatan.