One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 63



Andika mengantar Erna pulang, bahagia terselip kegetiran. Bahagia karena bisa berdua lagi dalam satu mobil. Getir karena yang ia antar adalah istri orang. Tapi rasa tak perduli membuat Andika cuek akan pandangan dan ucapan orang lain.


Berawal dari ikhlas dan berujung ingin merampas. Itu yang Andika rasakan, dia yang sudah bertahun-tahun lamanya menjalani hubungan dengan Erna harus menerima kenyataan jika Erna harus menikah dengan pria yang di siapkan oleh orangtuanya.


Sebagai lelaki Andika mencoba untuk ikhlas, legowo menerima semuanya. Walaupun tetap ada rasa sakit mendera hatinya. Tapi tak ada pilihan lain karena Erna tak ingin melawan orang tua.


Pernah Tio mengajaknya kabur, tapi Erna justru minta putus. Cinta yang sejak awal tidak direstui karena Andika yang hanya seorang karyawan bukan pengusaha. Hingga mereka memutuskan berteman setelah Erna menikah. Menjadi patner kerja dengan menjaga jarak.


Tapi itu semua tak lama, ikhlas yang Andika rasa salah. Beberapa kali Andika melihat wajah sendu Erna dengan berbalut luka lebam. Tak jarang juga Andika melihat Erna tampak lemas hingga berjalan dengan menahan kesakitan. Hingga Andika mendesak dan menyelidiki diam-diam.


Wanita yang ia ikhlaskan jatuh ke tangan pria yang salah. Maniak yang selalu main tangan saat bercinta, memaksa hingga Erna tak sanggup berjalan. "Bangs@t!" satu kata yang Andika ucapkan di depan wajah Erna saat tau kenyataan jika wanitanya di sakiti.


Hati Andika sakit melihat Erna hingga tak kuasa menahan tangis, keduanya sempat saling mendekap dengan rasa yang masih tertinggal. Andika meminta Erna untuk segera mengurus perceraian. Tapi nasib berkata lain, Erna harus mengandung anak dari pria b@jingan itu.


Dan Erna masih ingin bertahan demi sang buah hati, membuat hati Andika terasa nyeri. Dia rela di sakiti karena tak ingin mengecewakan kedua orangtuanya. Erna bertahan walaupun tanpa kasih sayang.


"Mau makan dulu?" tanya Andika memecah keheningan, membuat Erna yang fokus dengan jalan menoleh ke arah Andika.


" Tadi kan udah makan di restoran."


"Itu siang, ini sore. Kasian baby kelaparan!"


"Bisa makan di rumah Dika!" tolak Erna karena tak ingin nanti ada yang melihat kedekatan keduanya yang membuat suaminya murka.


"Bilang aja nggak mau makan sama gue!"


"Bukan gitu."


"Berarti setuju!"


Erna hanya bisa menggelengkan kepalanya, setiap dengan Andika memang tak ada kata menolak. Apa lagi jika Andika sudah mengajaknya makan, Andika paling tidak bisa di tolak. Karena dengan cara itu Dika bisa berlama-lama menatap Erna.


"Beneran mampir?"


"Hhm.... ayo turun!" Andika keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Erna. "Awas kepalanya!" dia menutupi kepala Erna agar tidak terkena bagian atas mobil saat turun.


"Kita makan di sini?"


"Emang mau makan dimana? gue tau loe lagi pengen banget makan bebek, kita pesen porsi jumbo buat makan sampe puas."


"Ikh nggak gitu juga, loe mau buat gue makin melar."


"Melar juga gue cinta!" jawabnya santai.


"Dika!"


Setelah memesan, mereka memilih duduk lesehan di bagian pinggir saung agar bisa melihat kolam ikan.


"Masih nggak berubah?"


"Apanya?"


"Masih aja nanya, ini apa?" Andika memegang tangan Erna dan menunjukan pada wanita itu.


"Kan emang udah biasa." Erna kembali menarik tangannya kemudian meminum minuman miliknya.


"Er, sampai kapan? gue siap nganter loe kerumah sakit untuk visum."


"Dik."


"Nggak ada rasa sama dia dan nggak akan pernah. Tapi orang tua gue?"


"Gue yang bakal maju, tapi kalo loe mau gue perjuangin. Gue bakal bilang sama kedua orang tua loe. Dan menyadarkan mereka kalo pilihan mereka salah. Erna, gue cinta banget sama loe. Gue nggak kuat kalo liat loe di sakitin terus." Andika menggenggam tangan Erna. "Kasih kesempatan buat gue, gue bakal rebut loe dari dia asal loe setuju."


"Loe nggak takut disumpahi banyak orang?"


"Gue nggak peduli, yang penting loe balik sama gue lagi. Mau orang ngomong apa, nggak ngefek buat gue! yang penting gue bisa dapetin loe lagi, nggak apa-apa janda yang penting gue cinta. Gimana?"


"Kalo gue nolak?"


"Kali ini gue bakal bawa loe kabur, gue udah nggak nerima penolakan apa-apa lagi dari loe. Capek gue dengar jangan Dika, udah Dika, gue nggak apa-apa, gue baik-baik aja. Tapi apa? loe bonyok sama dia."


"Kalo gitu ngapa loe nanya gue mau apa nggak?" kesal Erna.


"Biar kesannya romantis, iya aku mau Andika, aku juga masih cinta banget sama kamu, terus berakhir cipook-cipook." Ucap Andika dengan mata nakal dan senyum menggoda.


Erna melepas genggaman tangan Andika, duduk bersandar dan bersedekap dada. "Maunya!"


"Mau banget lah, loe nggak kasian sama gue. Semenjak loe nikah gue kekeringan, apa lagi semenjak adik gue nikah, mata gue suruh liat mereka mesra-mesraan terus. Tau gitu dulu gue duluan yang masukin loe, biar aja rasain si kepar@t itu dapet sisa. Biar si Joni nggak merana benget."


"Dika! mulai dech ngelantur."


Erna sudah biasa menghadapi tingkah absurd Andika, terkadang dia di buat kewalahan saat Andika bicara ngelantur kemana-mana. Tapi semenjak ia menikah, Erna merasa merindukan momen itu semua. Tawanya bahkan lenyap, tak seperti dengan Andika yang membuat kesal tapi hatinya bahagia.


Setelah selesai makan, Andika kembali melajukan mobilnya menuju kediaman Erna. Rumah Erna dengan suaminya, rumah yang bagai neraka bagi wanita itu. Mencoba menjadi istri yang baik tapi tak dihargai. Hingga Erna menyerah dan diam saja saat ia sudah mulai lelah.


"Makasih ya Dika."


"Kembali kasih."


Erna tersenyum kemudian membuka sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil. Wanita itu mendengus kesal setelah dia sadar jika Andika belum membuka pintu mobilnya.


"Apa lagi?"


"Mau di antar sampe dalam nggak?"


"Nggak usah bikin masalah Andika!" ucap Erna mengingatkan.


"Ya udah tapi basahin gue dulu!"


Erna mengernyit mendengar ucapan Andika, dia tak paham jalan pikiran pria di depannya itu. Hingga Andika yang merasa geregetan segera menyambar bibir Erna membuat mata Erna membola dengan jantung yang berdetak kencang.


Ntah apa yang ada di kepala Andika, rasanya ia sudah dalam batas sabar dan tak mau menyiakan. Bahkan tak perduli saat Erna berulangkali memukul dadanya, hingga tangan itu mencengkeram kemeja miliknya.


Sudah lama Andika tak merasakan manisnya dan rasa itu masih sama. Bibir yang dulu hampir setiap hari ia singgahi hingga setahun lamanya ia tak menyentuhnya lagi kini kembali ia nikmati.


Andika semakin memperdalam ciumannya hingga Erna di buat kewalahan, tangannya mengusap perut Erna yang menghalangi tubuh keduanya. Hingga belitannya terlepas saat Andika melepaskan cumbuannya.


"Manis, masih sama seperti dulu."


Erna menundukkan kepalanya, semburat merah terlihat hingga ia malu untuk menatap Andika. Dan itu sukses membuat Andika semakin gemas kemudian mengusak lembut kepala Erna.


"Jangan kayak anak baru, biasanya juga nich bibir nyasar ke kepala Joni!"


"Dika!"


"Auwh....."