
Masuk dengan langkah panjang dan segera menuju ruangan Raihan setelah mengambil beberapa berkas yang di perlukan untuk meeting siang ini. Dia tak ingin lalai lagi karena kemarin mengabaikan panggilan Raihan hingga merepotkan.
Kini ia masuk dengan tergesa dan di sambut sebuah adegan panas yang ada di depan mata. "SSHHIIIT....." Andika mengumpat kesal dua orang yang sedang memadu kasih tanpa aturan.
"Biasa banget nich orang berdua, ngerujak bibir nggak di kunci dulu pintunya. Nggak cukup apa semalam, ck...."
"UPS...." Tara menabrak kepala belakang Andika saat ingin menyerahkan laptop serta pekerjaan Andini.
"Ngapa berdiri di sini sich kak?" tanyanya dengan mengusap kening.
Mendengar pertanyaan Tara membaut Andika sadar akan adegan yang tak seharusnya menjadi konsumsi publik. Pria itu segera menutup kedua mata Tara dengan tangannya dan membawa Tara keluar ruangan.
"Ada apaan sich?" tanyanya Tara saat matanya sudah terbuka.
"Ck, adegan 21 plus, gue tau loe udah lebih umur tapi di larang liat karena loe nggak ada lawan buat menyalurkan!"
"Haish kirain apaan, udah biasa juga!" ucap Tara santai tapi mampu membuat Andika mendelik melihatnya.
"Eeeh.....loe mau kemana?" Andika menarik kerah Tara yang ingin kembali masuk ke ruangan Raihan.
"Mau ngasih ini kak, kerjaan Andini. Dia mau ngerjain di ruangan bos katanya. Makanya disuruh bawa ke sini ini laptop!" Tara memperlihatkan laptop yang ia bawa.
"Udah sini gue aja yang ngasih! loe nggak akan kuat melihat mereka. Di kantor nggak ada stok sabun banyak-banyak. Tapi kalo mau pake sabun cuci piring sama karbol boleh juga!"
Tara menggelengkan kepala, kemudian menyerahkan apa yang ia bawa pada Andika. Bukan ia tak sanggup melihat sehingga membuat tubuh adem panas mau. Tapi yang ada malah adem panas hatinya karena melihat wanita yang pernah di cinta bercumbu dengan suaminya.
"Udah ya kak, gue balik!"
"Hhmm..."
Andika kembali masuk ke dalam ruangan Rai, berharap kedua pasutri itu sudah menyelesaikan kegiatannya tetapi ternyata berlanjut ke babak selanjutnya.
"Enak ya Rai, tengah hari bolong dapet susu dari gunungnya langsung!" celetuk Andika yang sontak menghentikan pergerakan Raihan. Dia segera melepaskan apa yang sejak tadi ia nikmati dan memutar kursi Andini agar tak terlihat bagian depan.
"Ganggu aja loe!"
"Kalian yang nggak tau aturan! untung gue yang duluan datang, coba kalo Tara yang masuk duluan. Bisa colab loe bertiga!" sewot Andika.
Raihan yang kesal segera melemparkan pulpen ke arah Andika yang segera di tepis olehnya.
Setelah selesai merapikan kerusuhan yang Raihan buat, Andini segera beranjak menuju sofa melewati sang suami.
"Nich kerjaan loe!" ucap Andika memberikan apa yang Tara berikan tadi. Dengan cepat Andini terima. Ia memasang wajah cuek padahal dalam hati ia sangat malu sekali. Andini memilih duduk di sofa single dan membuka layar laptop dengan wajah datar.
Raihan pun segera mendekat, menatap tajam biang rusuh hingga membuat mood sang istri hancur.
"Ngapain?"
"Diiihh.....kerjalah, pake nanya ngapain lagi. Gue udah buru-buru biar nggak telat nyampe sini. Terus lanjut meeting malah di tanyain ngapain." Andika dengan sewot merebahkan tubuhnya di sofa.
"Mana ada meeting hari ini, loe kalo liat tanggalan jangan di cepetin aja. Meeting tuh besok, bukan sekarang."
"Iya kah?" Andika segera membuka jadwal dan mencocokan dengan kalender yang ada.
"Efek kebelet nikah pengennya buruan aja ini tanggal larinya. Pantes loe berdua santai," Andika segera beranjak dari sofa "udah lanjut lagi sana, mumpung belum jadi hak milik si kembar! nggak lucu kalo loe rebutan susu gantung sama anak-anak loe!"
"Keluar sana! rusuh!" usir Raihan yang begitu kesal apa lagi saat melihat Andini yang diam dengan wajah memerah.
Di jam istirahat kedua pasutri yang sempat debat setelah Kakak nya keluar ruangan, kini sudah duduk di depan pasangan yang sedang proses menuju halal.
Mereka ingin menikmati makan siang bersama di restoran cepat saji yang menyediakan ayam goreng berbalut bumbu merah dengan tingkatan level yang membuat bibir Jontor.
Awalnya mereka tak ada niat kesana, tapi bumil dengan permintaan yang tak terbantahkan membuat ketiganya berakhir menuruti.
Raihan menggerutu sejak tadi, melihat pesanan sang istri yang akan membakar lidah. Tidak tanggung-tanggung, ia meminta 3 ayam dada sekaligus dengan level 5. Membuat Erna dan Andika menggelengkan kepala membayangkan bagaimana pedasnya.
"Mas, udah donk jangan ngomel terus. Tadi katanya mau nurutin aku. Tapi kok kayak nggak ikhlas gitu!" Andini mengerucutkan bibirnya karena melihat bibir Raihan sejak tadi tak bisa diam.
Akhirnya, dari pada membuat mood bumil hancur. Raihan hanya diam tak menimpali. Fokus makan dengan pesanan yang hanya level dasar dan itu sudah membuat berkeringat.
"Ini level nyantai, judes tapi masih enak dimakan!" ucap Andika kemudian melirik ayam milik Andini yang mulai ingin di rasakan oleh adiknya.
Ketiganya meringis membayangkan rasanya tapi memilih fokus dengan pesanan masing-masing, hingga suara mommy kembar membuat ketiganya menoleh berbarengan.
"Mmmm...enak banget sumpah, nggak pedes," ucapnya menyakinkan tapi melihat Andini lahap membuat mereka terheran.
"Sekarang kalian harus nyobain!"
"Haaahh!"
"Ayo nyobain, kembar itu nggak pelit apa lagi mommynya. Harus saling berbagi dan mengasihi. Jadi kalo kembar makan enak kalian juga harus nyobain!"
Andini memindahkan ketiga ayam yang ia pesan ke piring mereka masing-masing.
"Din, tapi mbak nggak bisa makan pedas dulu!" ucap Erna seketika membuat wajah Andini mendung. "Eh ....nggak jadi, mbak makan kok. Aunty makan ya kembar."
Erna segera mencicipi ayam yang Andini berikan dan itu membuat binar di wajah bumil seketika cerah kembali.
Kedua pria di sana meringis melihat reaksi dari Erna saat mengunyah, sudah di pastikan pedasnya tak tertahan karena telinga Erna seketika memerah.
"Sayang..."
"Ayo donk mas di makan! Daddy nggak sayang kita?" rengek Andin dan segera di angguki oleh Raihan.
"Iya Daddy sayang." Raihan segera memakannya, menahan lidah yang ingin terbakar dan segera meraih minuman dingin yang telah ia pesan.
Melihat reaksi keduanya, Andika segera menarik ayam yang di berikan pada Erna. Dia tak akan membiarkan Erna makan pedas karena lambung wanita itu sedang bermasalah.
"Eh kok di tarik sich kak? nggak boleh di sisain! harus di habisin!"
"Iya, gue yang bakal abisin!" Erna mendelik mendengar ucapan Andika, begitupun dengan Raihan.
"Yakin?"
"Yakin Rai, demi kedua anak loe yang bisa nya ngerjain orang!" ketus Andika kemudian segera memakan dada ayam itu dengan wajah santai, tapi dalam detik berikutnya dia mengumpat si kembar yang masih ada di dalam perut.
"Mapuuuus!" Andika merasakan lidahnya seperti terbakar.
"Gila, ini api neraka mampir kali ke ini ayam ya?"
"Ayo abisin kak!"
"Salam buat anak-anak loe, kalo mau nyiksa jangan bikin orang jadi gila!" sewot Andika. "Modaaaar gue makan ini ayam!"