One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 111



Hari ini adalah hari dimana terselenggaranya pernikahan Andika dan Erna. Setelah melalui hal pelik dalam hidup akhirnya keduanya sah dalam ikatan pernikahan.


Rasa was-was akan benih yang Andika tabur beberapa bulan lalu akhirnya tak berbuah, hal itu menjadi kelegaan bagi keduanya. Setidaknya tak ada masalah yang berarti lagi. Dan perjalanan yang tak mudah bagi keduanya melangkah sampai sekarang telah mereka lalui dengan baik.


Andika dan Erna sudah berdiri di pelaminan menyalami para tamu undangan yang hadir. Keduanya begitu serasi, bahkan tak jarang para tamu memuji.


Begitupun dengan bumil yang saat ini ikut menjamu tamu undangan bersama suami. Auranya semakin keluar dan tak luput dari pujian.


Sejak awal acara tangan Andini selalu melingkar di lengan kekar Raihan. Mengikuti kemana pun sang suami singgah karena teman bisnis dan teman-teman sekolah hingga kuliah hadir bak acara reuni.


Selain itu usia kandungan Andini yang memasuki 9 bulan, membuat perut Andini lebih besar dari ibu hamil yang mengandung satu anak. Membuat Raihan tak mau meninggalkan sang istri walaupun hanya sekedar menyapa teman.


Skripsi telah usai, kini bumil tinggal menunggu waktu wisuda yang di perkirakan akan di laksanakan bertepatan dengan dirinya setelah melahirkan kedua buah hati


Andini pun lebih sibuk di rumah, belajar masak, bebenah rumah dan mengurus suami. Karena kelahiran kedua buah hatinya yang tinggal menghitung hari membuatnya harus banyak bergerak dan cukup dalam beristirahat.


Raihan pun sudah mulai mengurangi jadwalnya yang padat dan menghindari pekerjaan yang menuntutnya harus keluar kota. Hal ini demi sang istri dan kedua buah hatinya, pria itu ingin menjadi Daddy siaga dan tak ingin sampai sang istri melahirkan tanpa ada dia di samping mereka.


"Capek?" tanya Rai, melihat Andini yang mulai kepayahan membuat dirinya tak tega dan segera mengajaknya untuk duduk.


"Mas, tapi banyak teman mas yang harus mas sapa juga. Aku duduk sendiri aja dan mas kembali menemani mereka."


"Nggak sayang, mana bisa begitu. Udah nggak apa-apa, sebentar lagi juga pengantin turun dari sana. Udah malem waktunya mereka beramah tamah berbaur sama yang lain."


Andini menganggukkan kepala dan mulai duduk di kursi yang tersedia.


"Atau mau ke kamar aja, mamah papah juga udah naik. Kita juga bisa beristirahat kalo kamu mau. Tuh Andika udah mulai turun."


"Masih seru mas, ini kan tinggal acara anak muda jadi udah santai. Bisa sambil makan juga."


"Mau mas ambilkan makan?" tanyanya lagi, Raihan ingin selalu memastikan kenyamanan sang istri.


"Boleh..."


Raihan segera melangkah menuju meja panjang yang di penuhi dengan berbagai macam makanan. Mengambilkan makanan yang sekiranya tak terlalu berat karena sudah malam dan buah untuk sang istri.


"Ini sayang..."


"Makasih mas," jawabnya.


Raihan ikut duduk di sebelah Andini, mengusap lembut punggung sang istri karena ia paham jika tubuh Andini sudah mulai tak nyaman. Tapi masih ingin bergabung di tengah keramaian acara karena masih banyak tamu yang berdatangan.


"Dek..."


"Eh mbak, Kak Andika mana? kok sendiri?" tanyanya yang melihat Erna mendekatinya sendirian tanpa sang kakak.


"Itu lagi sama temen kuliahnya, mbak mau duduk sini dech. Capek kakinya," keluar Erna yang sejak tadi berdiri dengan high heels yang ia kenakan.


"Mau makan mbak?"


"Nanti aja sama Andika. Oh iya Cantika mana? apa kembali ke kamar atau pulang?"


"Cantika pulang di antar Tara," sahut Raihan dan di angguki oleh Erna.


"Emang udah jadian?" tanyanya lagi.


"Nggak tau dech mbak, berantem mulu tapi saling jeleous gitu."


"Bro."


"Widih... calon ayah datang. Malam banget sich!" Raihan menyambut kedatangan Bayu dan sang istri.


"Cika udah berapa bulan?" tanya Andini seraya keduanya cipika cipiki.


"Udah 4 bulan Din, Alhamdulillah..."


"Mudah-mudahan mbak bisa nyusul kalian ya." Harapan Erna dan segera di Amin kan oleh yang lain termasuk sang suami yang tiba-tiba datang dan mengecup pipinya.


"Mentang-mentang udah halal, main nyosor aja loe kak!" celetuk Andini melihat kelakuan kakaknya yang tak tau tempat.


"Ngapa sich, nyosor ma istri sendiri boleh banget kali. Katanya kan pengan cepet nyusul, lah gue sebagai suami yang baik penyedia bibit unggul kualitas dewa sudah mempersiapkan dengan baik dan pemanasan bisa mulai di cicil."


"Apa sich! malu tau." Erna menatap jengah Andika yang membuat wajahnya merona.


"Bikin gemes istri gue, hayo lah ngamar!" ucap Andika gemas dengan mencubit hidung Erna. Dan hal itu benar-benar membuat Erna semakin bersemu.


"Nggak sabar banget loe bro, loe nggak liat noh tamu loe masih banyak banget. Lagian gegayaan aja, udah nyiapin tisu belum loe!" sahut Bayu yang sejak tadi bibirnya sudah gatal ingin berkomentar.


"Nggak perlu tisu, si Joni udah gue traning tiga hari tiga malam. Di jamin gagah dengan otot-otot yang semakin kekar. Ya nggak neng!"


"Andika!" rasanya Erna sudah ingin kabur saja dari sana. Dirinya juga begitu gemas dengan ekspresi Andika yang tampak santai membahas masalah ranjang.


"Iya sayang, sabar ya. Kita bukan anak baru, jadi sampe kamar loe siap-siap aja gue tindih sampe pagi."


"Andini ada nggak ya tempat pertukaran suami, mbak mau daftar boleh nggak? aduh mbak mau tuker tambah aja dech."


Mendengar itu Andika segera menarik Erna ke dalam pelukannya. Sungguh tak di sangka mulut sang istri ternyata begitu tajam. Mana ada tukar tambah suami. Benar-benar minta di bungkus dan di bawa ke kamar istrinya ini.


"Bibirmu meresahkan sayang, minta aku gigit sampe bengkak!" lirihnya penuh penekanan.


Ancaman yang membuat Erna bergidik ngeri, bersama mantan suami ia menjerit kesakitan tapi dengan Andika dia akan tersiksa karena melenakkan.


"Main nyikep aja loe! ampun dah nggak sabar banget ini anak. Gue sumpahin gagal tuh si Joni masuk kandang, biar nangis sekalian!"


"Itu mulut!"


Setelah acara selesai,Raihan dan Andini masuk ke dalam kamar yang sudah di pesan sebelumya. Begitupun dengan sepasang pengantin yang sedang berbahagia. Andika sudah mengangkat tubuh Erna dan tak membiarkan wanitanya berjalan sendiri.


"Gue duluan ke kamar mandi apa loe yang?" tanyanya setelah menurunkan Erna dan di dudukan di tepi ranjang.


"Loe dulu aja, gue kan masih ribet sama ini riasan."


Andika mengecup bibir Erna dengan senyum nakal membuat Erna kembali merona. "Tunggu ya, gue mau mandi dulu. Nanti gantian loe gue mandiin."


"Apa sich, gue bisa mandi sendiri Dika!"


"Terserah, yang penting abis mandi pakai baju yang kayak di film-film itu oke!"


Erna menundukkan kepala, ujian memiliki suami sahabat sendiri, bicara tak pakai saringan dan mulutnya tak ada manis-manisnya.


"To the point banget sich!"


"Lah gue mah sat set sat set orangnya!" Andika menaik turunkan alisnya kemudian berlalu masuk ke kamar mandi.