One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 87



Setelah puas melihat Andika menghabiskan semua jajanan yang ia beli, tanpa merasa bersalah dan dosa Andini pulang ke rumah untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk pergi ke hotel tempat acara resepsi esok hari.


Sejak tadi Raihan gemas dengan kelakuan sang istri yang membuat Andika bolak balik kamar mandi setelah menghabiskan jajanan yang begitu banyak. Apa lagi dengan wajah memerah dan mata terpejam ia harus menghabiskan mangga beserta sambal yang begitu pedas.


Raihan tak habis pikir kelakuan kedua anaknya begitu bar-bar. Beruntung mereka tak iseng dengan papahnya, jika tadi harus ia yang menghabiskan di jamin acara resepsi akan di batalkan karena dirinya yang tak akan kuat memakan makanan yang asing baginya.


"Mas, tadi reaksi kak Andika lucu ya. Mukanya merah sambil merem-melek nggak jelas. Tapi aku puas mas, rasanya lega setelah melihat kak Andika menghabiskan semuanya."


"Kamu nggak kasian sayang?"


"Kasian, tapi kan kembar maunya begitu mas," jawabnya membuat Raihan menggelengkan kepala entah benar alasan Andini atau hanya ingin mengerjai Andika saja.


Sampai di rumah keduanya segera membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Hingga tepat jam 7 malam Andini dan Raihan bersiap-siap untuk berangkat ke hotel milik keluarganya.


Keduanya tampak serasi dengan dress hitam yang melekat di tubuh Andini yang senada dengan jas yang Raihan pakai. Tampak pegawai hotel membungkukkan dada saat melihat putra dari pemilik hotel tersebut datang.


Mereka melangkah menuju Restoran tempat dimana semua keluarga sudah berkumpul bersama. Formasi lengkap kedua keluarga yang hadir memenuhi meja makan, Andini memilih duduk di samping kedua mamahnya, tapi segera di cegah oleh Rai yang memintanya tetap duduk di sampingnya.


"Mau kemana sayang? sini aja dekat aku." Akhirnya Andini pun pasrah, duduk dekat sang suami yang tak ingin jauh darinya.


Andika pun sudah duduk anteng di sana, walaupun tampak cemberut karena masih kesal dengan kelakuan sang adik.


"Makan kak, jangan merengut aja!" Andini yang mengerti jika sang kakak sedang merajuk justru semakin meledek membuat Andika semakin kesal.


"Diem aja, loe puas kan udah ngerjain gue! dasar ponakan bar-bar, sama aja sama emak loe!"


"Andika nggak sopan ada orang tua Raihan juga!" ucap mamah mengingatkan.


"Anak perempuan mamah tuh yang ngeselin, ngeledek aja bisanya."


Papah Vino dan mamah Sifa sudah biasa dengan ramainya keluarga besan. Mereka ikut tertawa manakala Andika dan Andini terus berdebat.


Andini ingin kembali meledek sang kakak tetapi segera di cegah oleh Rai, suaminya tak tega dengan Andika yang seharian di buat susah oleh anak dan istrinya.


Hingga malam larut semua anggota keluarga masuk ke kamar yang sudah di siapkan. Raihan pun sudah menyiapkan kamar khusus untuk dia dan istrinya.


Dengan mengapit jemari sang istri Rai mengajak ke dalam kamar yang sudah di disain khusus untuk memanjakan sang istri. Raihan membukakan pintu untuk Andini, membiarkan masuk lebih dulu dan terkejut melihat kamar pengantin yang di tata dengan apik.


"Mas...." Andini menutup mulutnya, ia tak menyangka suaminya akan seromantis ini. Sejak awal menikah sikap hangat memang melekat tetapi tak dapat Andini pungkiri sang suami tak pernah memberikan kejutan atau memberikan momen romantis seperti pasangan lain yang mengawali hubungan dengan cinta.


Kamar yang di penuhi lilin-lilin kecil berbentuk hati dan Bunga mawar yang menghiasi serta aroma terapi yang menenangkan membuat serasa nyaman. Tak cukup di situ, Raihan pun menyiapkan beberapa foto yang ia ambil dengan sengaja tanpa sepengetahuan Andini sejak mereka menikah hingga keduanya di berikan kepercayaan dari Allah untuk menjaga titipan yang kini ada di rahim sang istri. Semua tampak terpajang di satu sudut kamar yang membuat Andini begitu terharu.


Langkahnya semakin dalam memasuki kamar hingga kakinya tak sengaja menginjak sesuatu yang membuat Andini terjingkat. Sempat menoleh ke belakang tepat sang suami berdiri kemudian mengambil kotak kecil yang tadi tak sengaja ia injak.


Mata Andini melebar saat melihat apa yang ada di dalamnya, sebuah kalung berlian dengan liontin berbentuk hati yang begitu indah. Raihan mendekat memeluknya dari belakang dan membisikkan sesuatu di telinga.


"Mungkin aku terlambat melamarmu untuk menjadi istriku, tapi aku tak akan terlambat melamarmu untuk menjadi ratu di dalam hidupku," bisiknya tepat di telinga Andini membuat senyuman dengan air mata bahagia lolos dari pelupuk mata.


"Mas...."


Raihan mengambil kalung tersebut, perlahan ia sibak rambut sang istri dan memakaikannya di leher jenjang Andini.


"Kamu semakin cantik sayang..," bisiknya dan kembali memeluk tubuh ramping yang kini mulai berisi.


"Makasih mas..."


"Maaf jika caraku kampungan dan tak seromantis yang kamu inginkan." Raihan menjatuhkan dagunya di pundak Andini dan mengeratkan pelukannya "tetaplah menjadi bidadari di hidupku, menemaniku, dan selalu mengiringi langkahku. Tegurlah aku, saat perahu yang ku kemudikan tampak tak seimbang. Dan bangkitkan aku saat aku mulai tumbang."


"Menikahimu suatu ketidaksengajaan, tapi mencintamu adalah kewajiban. Dan meratukanmu suatu keharusan." Raihan membalikkan tubuh Andin, menyatukan kedua kening mereka.


" I love you more than any word can say and more than every action I take." Kemudian Raihan meraih jemari Andini dan meletakkannya di dada. " I'll be loving till the end my life."


Andini tak kuasa menahan air mata, ia menangis memeluk suaminya dengan erat. Tak tau lagi harus berkata apa, ia sangat bahagia. Memulai dengan hal yang tak terduga hingga kini sangat di cinta dan di buat begitu bahagia.


Raihan membalas pelukan sang istri, bahagianya telah ia dapatkan setelah kegagalan yang pernah ia rasakan. Kini wanita yang sangat ia cintai ada di pelukan dan esok semua orang akan tau jika ia telah menemukan cinta sejatinya, wanita yang menyandang status istri dan ibu dari anak-anaknya.


"Makasih telah menerimaku dan bersedia mengandung anak-anakku...." lirihnya di telinga Andini.


Raihan merenggangkan pelukannya, menghapus air mata sang istri dan mengecup keningnya begitu dalam. Membuat Andini merasakan cinta tulus dari Raihan begitu nyata.


"I love you..."


"I love you too..."


Keduanya mengunci pandang, hingga merapat mengikis jarak dan berakhir dengan ciuman mesra yang menghangatkan malam. Kembali melebur dan menyatu, mencurahkan kasih sayang yang berbalut hasrat hingga keringat bercucuran.


"Sekali saja ya mas.... "


"Yes dear, I'm promise...."


Kamar hotel dengan lampu tamaram menjadi saksi pergulatan kedua pasang kekasih halal yang merengguk candu dunia. Hingga mencapai pelepasan yang melenakkan dengan saling berpelukan.


...🍀🍀🍀...


Nggak mau panas-panas, masih pagi woy..... kerja-kerja! ✌️🤭🤗