
Raihan yang sudah tidak tahan segera beranjak dan ingin sekali menarik ibu dari calon kedua anaknya untuk segera pulang. Dia yang sejak pagi tadi sudah merasa gila melihat penampilan sang istri yang semakin membuatnya terkesan tua, kini harus melihat Andini tertawa terbahak dengan teman prianya.
"Eeehhhh.....monyet mau kemana?" Bayu segera menarik tubuh Rai hingga kembali terduduk di kursinya.
"Kok monyet?" tanya Andika polos pada Bayu.
"Adik ipar loe main loncat aja, apa kalo bukan monyet?" tanyanya saat melihat Rai yang secepat kilat ingin mendatangi meja Andini.
"Bukan monyet njiiirrrr, kecakepan kalo monyet," timpal Andika.
"Terus apa?"
"Kutu beras! udah sich Rai, lagian siapa yang mau ama cewek bunting. Isinya dua lagi, ngempaninnya juga berat, udah loe doank juaranya!"
Raihan membuang nafas kasar, memang sang istri hanya bercengkrama tapi entah hatinya seakan tak terima. Cemburu tingkat dewa membuat buta dan pikiran tak karuan.
"Loe nggak inget, dulu loe nungguin orang bunting?" tanyanya mengingatkan.
Andika menatap sinis Bayu yang ucapannya memang benar. " Semenjak jadi dokter pinter ya loe! selain pintar ngegombalin cewek, loe juga pinter ngejulitin gue ya!"
"Itu gunanya gue sekolah tinggi!"
"Berisik loe berdua!" kesal Raihan, dia menghentikan perdebatan tak guna yang menambah pusing dirinya. Bahkan gertakannya membuat pengunjung lain menoleh heran tapi sedetik kemudian senyum-senyum sendiri melihat ketiga pria dewasa yang tampannya di atas rata-rata.
"Loe bikin ciwik-ciwik pada noleh kesini, liat noh! kan jadi berasa ganteng gue, padahal mah ujung-ujungnya mereka demennya sama loe Rai!" Andika tersenyum menatap para pengunjung yang merasa terganggu tapi berujung tersenyum menggoda.
"Inget sama yang lagi kerja, udah nanem saham juga, jangan aja loe bikin nangis anak orang!" Bayu mencoba mengingatkan Andika " lagi nggak pantes loe begitu! jiwa Playboy loe baru sekelas curut, belum kayak gue udah suhu."
"Lagian, orang temen lagi berduka loe malah tebar pesona."
"Eeehhh adik gue belum mati ya, noh liat masih hidup. Malah cakep bener lagi, udah kayak cibi-cibi. Coba masih ada itu Cherrybelle, udah gue masukin tuh dia jadi personil cadangan!" celetuk Andika, tapi seketika mendapat tatapan tajam dari Rai, begitupun dengan Bayu.
"Loe pada nggak bolehin gue kesana, tapi bukan ngasih solusi malah pada ngoceh bikin gue tambah pusing!" sewot Raihan.
"Udah loe tenang aja, adik gue mah tau aturan. Loe bisa pegang lidah gue kalo nggak percaya."
Raihan menatap jengah, sedangkan Bayu segera membenarkan ucapan Andika.
"Ucapannya yang di pegang, bukan lidahnya. Kalo lidah loe yang di pegang ntar nggak bisa ngelitikin si Erna!"
"Kan ada lidah si Joni!"
"Bangk3!"
Raihan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabatnya yang tak akan bisa di ajak serius jika sudah bersama. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Andini yang berada di ujung sana.
"Halo mas."
"Kamu dimana?"
"Lagi makan sama temen-temen aku, kenapa mas?"
"Udah pulang kuliah?"
"Udah selesai, ada apa sich mas? kok gitu banget nada bicaranya, kayak kesel gitu."
"Kenapa nggak langsung pulang, hhmm?"
"Kelar makan langsung ke meja aku yang ada di pojok belakang!"
Mata Andini membola dan segera menoleh ke belakang, benar saja ada suaminya dan kedua sahabatnya di sana.
"Mampuuuussss itu tiga soang ngapa ada di sini sich!"
"Siapa Ndin?" tanya teman prianya.
"Hah! oh itu suami aku, tuh liat aja lagi liatin loe. Pengen di caplok loe kayaknya."
Kedua pria yang ada di sana segera menoleh kearah dimana suami Andini berada. Dan benar saja ketika mereka menoleh ketiganya sedang menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Ngeri juga ya, gue yakin laki loe cemburu Ndin!"
"Iya bener banget Ndin, udah cepet abisin makan loe. Lihat noh kak Rai udah kesel gitu mukanya, kayaknya pengen melabrak kita tau nggak, padahal kita mah cuma makan ya. Itu mereka ngapa liat aja lagi ya, kan kita udah jauh begini posisinya," tutur Tia.
"Kan gue kata Tia, tiga soang! lehernya panjang makanya bisa tau kita disini, padahal jaraknya udah jauh kan?"
"Parah loe laki sendiri di kata soang!" timpal Riri.
"Lah gue mah sesuai realita yang ada, punya laki gue emang kayak soang." Andini dengan santai menimpali tanpa perduli ada kedua taman prianya di sana yang kemungkinan memang sedang ingin mendekati kedua sahabatnya.
"Mulut loe Andin!" sewot Tia.
"Lah ngapa sama mulut gue?" tanyanya polos, bersiap mengambil tasnya dan segera beranjak dari sana.
"Otak loe jangan pada lari kemana-mana, awas aja godain ini laki dua! Gue nggak mau ya ada berita kalo kalian keluar dari hotel terus nyalahin gue!" sebelum beranjak Andini memberi peringatan kepada kedua sahabatnya yang terkadang pikirannya merajalela kemana-mana.
"Gue nggak sableng kayak loe ya!" celetuk Tia.
Andini tak menggubris ucapan sahabatnya, fokusnya kali ini pada sang suami yang di landa cemburu.
"Nah ini, ini dia yang bikin lakinya uring-uringan seharian." Andika menyorot wajah sang adik yang datang dengan santai tanpa rasa bersalah. Tapi Andini cuek saja dan tak minat berdebat dengan Andika.
"Mas...." Andini duduk di samping Rai yang terus menatapnya dalam. "Jutek banget Daddy, nggak kangen sama mommy?" tanyanya mencoba merayu, membuat Andika dan Bayu berlagak enek melihatnya.
"Pada bunting loe ya kak! uwak uwek!" Andini kesal sendiri melihat ekspresi kedua sahabat suaminya yang justru merusak suasana saat dirinya berusaha menarik hati Raihan.
"Gaya loe basi! enek gue, kalo nggak salah ngapa jadi loe yang berusaha ngerayu jameeeettt!"
"Nah, bener banget! udah dek, diemin aja Raihan ngambek. Mau sampe mana sich dia kuat, loe suruh tidur di luar juga kicep dia!"
Mendengar itu Raihan segera melemparkan kulit kacang pada Bayu. "Jangan ngajarin bini gue! kalo sampe si Joni puasa, gue bikin loe nggak jadi nyelup malam pertama!"
"Sekali ngancem bikin badan gue sama si Joni langsung merinding!"
"Hay abang-abang terhormat. Bisa tinggalkan kami berdua, saya dan suami mau mesra-mesraan jadi sulit." Andini bersikap jumawa dengan berlagak dewasa.
"Yang ada loe yang minggir deeeekkk.....gue lelepin di kolam ikan loe lama-lama!" celetuk Andika.
Andini mendengus kesal, sedangkan sang suami masih saja diam tak menghiraukan dirinya.
"Mas, pulang yuk. Kita lanjutin di rumah aja. Ada mereka mas, aku tau kamu pasti mau hukum aku kan? disini nggak bebas mas, mendingan di ranjang!" Raihan segera berdiri dan mengajak Andini untuk segera pulang.
"Hhmmm kena kan soang, di rayu dikit bawaannya pengen nyosor aja!"