
Setelah memastikan Cantika tertidur, Erna memilih merebahkan tubuhnya di sofa. Menunggu kedatangan Andika yang sedang menuruti keinginan calon ponakan.
Erna bersyukur Cantika sudah mulai mau menerimanya dengan baik. Seperti tadi sebelum gadis itu tertidur. Cantika menggenggam tangannya dan meminta maaf. Walaupun Erna tau masih ada rasa kecewa menyelimuti gadis itu. Tapi dia bersyukur, setidaknya Cantika sudah mau mengerti.
Menunggu Andika yang tak kunjung datang membuatnya tak bisa menahan kantuk.
Andika datang dengan membawa satu kantong makanan untuk berjaga-jaga jika mereka lapar. Meletakkannya di meja kemudian duduk di pinggir sofa tempat Erna memejamkan mata.
"Pules banget ... kasihan." Andika mencondongkan tubuhnya dan mengecup kening Erna kemudian melangkah menuju ranjang melihat kondisi Cantika.
"Makasih udah mau nerima semuanya, kamu adik aku juga sekarang. Aku akan menyayangi kamu sama dengan kasih sayang aku pada Andini." Andika membenarkan selimut Cantika kemudian kembali duduk di sofa samping Erna.
Andika menghela nafas berat, ia tak kunjung mengantuk sedangkan di sana semua sudah tertidur. Kemudian ia mendekati Erna dan merusuh menciumi seluruh wajahnya.
"Eugghhhh.... " Erna menggeliat merasakan tak nyaman, membuka mata dan menatap wajah Andika yang sudah memerah setelah merusuh wajahnya.
"Ngapain?" Erna beranjak duduk dengan mengucek mata.
"Nggak bisa tidur."
Andika duduk di hadapan Erna, mengukung tubuh wanitanya. "Cantik banget sich abis bangun tidur, natural. Calon istri siapa ini?"
Wajah Erna bersemu, ia sungguh malu mendapat pujian berbalut gombalan. Menggeser tubuhnya kebelakang membuat jarak tetapi Andika segera merapat hingga Erna tak bisa bergerak.
"Sanaan! itu belakang kamu masih lega. Jangan gini, ini di rumah sakit Dika!"
"Yang bilang kita lagi di pantai siapa?"
Erna mendengus kesal, akan lelah jika harus membantah perkataan Andika.
Andika mengusap pipi Erna, menatap dalam dan mengunci pandang.
"Gue kangen..."
"Tiap hari kan ketemu, ini juga lagi sama-sama, kangennya gimana?" tanyanya heran, kangen dalam konsep apa yang di maksud Andika sedangkan mereka sedang bersama hingga dia tidak pulang kerumah hanya untuk menemani Andika menjaga Cantika.
"Kangen itu, udah nggak tahan semenjak bisa masuk gawang. Kapan kita nikah?"
Erna paham sekarang kemana arah pembicaraan Andika, kangen seperti apa yang ia maksudkan.
"Sabar dulu, siap-siap aja dulu. Jangan terlalu di tunggu, nanti lama rasanya." Erna mulai mengusap rambut Dika, memberi pengertian agar lebih bersabar. Walaupun dia sendiri sudah ingin cepat di sahkan karena cukup khawatir dengan bibit yang Andika tanam tempo hari.
"Gue udah siap lahir batin, tuh celengan ayam juga udah siap di banting. Tinggal nunggu loe nya yang siap di kawinin, lama banget bikin pala gue pusing!" Andika merengut kesal, bukan hanya tak sabar. Ia pun takut kelakuannya akan ketauan pak Nugraha, dan mempersulit semuanya.
"Nggak lama banget, makanya jangan di arep-arep terus! Akan jadi sebentar andai mau ikhlas." Erna terus berusaha memberi pengertian untuk Andika. Pria itu tampak galau, dari wajahnya tersirat kegelisahan dan matanya nampak resah.
"Loe nggak takut semburan si Joni menghasilkan?" tanyanya ragu.
"Kalo emang jadi berarti ya rejeki, seenggaknya loe bisa nikahin gue setelah masa itu berakhir. Dan perut ini masih rata, jadi nggak perlu terlalu khawatir.
"Makasih ya, buat semua yang loe kasih buat gue," ucap Dika tulus dan di angguki oleh Erna. Saling melempar senyum dan entah siapa yang memulai, keduanya menyatukan benda kenyal yang saling membelit dan meluumat hingga menimbulkan decapan yang mengganggu tidur Cantika.
Gadis itu menatap nanar apa yang ia lihat di depan mata hingga tak sanggup dan memilih memejamkannya kembali dengan pipi yang basah.
"Segitu cintanya sampe lupa kalo ada aku."
Pagi ini mamah dan papah sampai di rumah sakit dengan tergesa karena harus segera menggantikan Andika dan Erna yang harus bekerja. Papah pun hanya ingin menjenguk sebentar setelahnya berangkat ke kantor.
Mereka masuk ke kamar Cantika tepat pukul enam pagi, membawa sarapan dan baju ganti Andika. Tapi baru membuka pintu kedua paruh baya itu di kejutkan dengan kelakuan Andika yang tidur menindih Erna bak guling yang tak bernyawa di dalam satu sofa. Membuat kedua orang tua itu menggelengkan kepala tak menyangka hal seperti ini di jadikan kesempatan.
Sedangkan Cantika sudah rapi dengan seragam sekolahnya yang di bawakan bibi setengah jam sebelum kedua orang tua angkatnya datang. Mamah segera melangkah mendekati Cantika dan papah pun membangunkan putranya yang minim akhlak.
"Andika bangun!"
Mendengar panggilan yang begitu nyaring terdengar membuat kedua pasang itu terjaga, membuka mata dan terkejut dengan adanya Papah Andika yang sudah bertolak pinggang. Erna yang benar-benar terkejut segera mendorong tubuh Andika hingga terjungkal ke lantai.
"Auuwhh ssssttt sakit sayang! kamu nich apa-apaan sich pagi-pagi dorong aku sampe pinggang aku sakit. Semalam aku apa-apain diam aja!" sewot Andika membuat Erna yang sedang beranjak dari tidurnya membolakan mata mendengar ucapan Andika yang mengandung arti yang harus di garis bawahi.
"aaaaarrrggghhh.....sakit Pah!" Papah menjewer telinga Andika hingga pria itu berdiri mengikuti tarikan tangan Papahnya dan yang lain hanya meringis melihat wajah dan telinga Andika yang sudah memerah.
"Ampun Pah!"
"Kamu Papah percayakan di sini untuk menjaga Cantika dan Erna juga Papah ijinkan untuk menemani kamu bukan malah kamu seenaknya cari-cari kesempatan! kamu apain Erna semalam?"
"Dikit doank Pah, nggak Ampe bersatu. Andika masih waras nggak mungkin main bola di rumah sakit. Yang ada viral ntar ada makhluk gancet di atas sofa!"
"Dika mulutnya!" Kesal Erna. "Maaf Om, Erna sama Andika semalam nggak melakukan hal lebih kok Om." Erna benar-benar tidak enak, bangun di bangunkan calon mertua dengan posisi yang sangat memalukan.
Akhirnya Papah melepaskan telinga Andika membuat Andika bernafas lega. "Udah kayak di hukum guru BP tau nggak Pah!" Andika segera melangkah menuju kamar mandi, melirik Cantika yang sudah rapi dengan seragamnya.
"Loh, mau berangkat sekolah?" Andika menghentikan langkahnya menatap wajah Cantika yang sudah kembali segar.
"Iya kak, sebentar lagi ujian nggak enak kalo harus ijin. Takut ketinggalan pelajaran."
Andika menganggukkan kepala, cukup lega dengan keadaan Cantika yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Udah nggak pusing?"
"Udah sehat kak." Cantika tersenyum canggung. Masih teringat jelas ciuman panas Andika yang mengusik tidurnya.
"Ya udah bareng aku aja, sekalian berangkat ke kantor."
"Cantika bareng sama Papah, sekalian mau mengurus datanya yang ada di sekolah karena sekarang sudah jadi anak Papah."
Andika bernafas lega, semua baik-baik saja. Dia mengusak rambut Cantika kemudian masuk ke dalam kamar mandi menyisakan hati yang nyeri dengan senyum getir yang gadis itu perlihatkan.