
Setelah meeting membahas pekerjaan, Raihan, Andika dan Pak Nugraha sedikit berbincang untuk mencairkan suasana.
"Silahkan di minum Pak."
"Panggil Om saja, kita sudah selesai membahas pekerjaan. Bagaimana kabar kalian berdua?"
"Baik om," jawab Rai.
"Saya juga baik om," lanjut Andika.
"Kalian masih kompak dan Andika masih stak menjadi asisten kamu Rai." Sindir Pak Nugraha, "Erna beruntung mendapatkan Gio, dia pengusaha muda sama seperti kamu Rai. Jika dulu kamu tidak menikah lebih dulu mungkin saya akan mengajak Pak Vino untuk berbesan."
Andika mengepalkan tangannya, sedikit emosi tapi masih bisa di tahan. Bukan emosi karena hinaan tapi ia kesal karena Pak Nugraha yang gelap mata karna harta hingga menyeret anaknya masuk ke neraka bersama pria tak bertanggung jawab.
"Menjadi pengusaha hanya karir dan kekayaan adalah keberuntungan semata. Tapi sikap dan attitude bukan di nilai dari sana om."
"Ya, tapi kita hidup harus realistis. Uang juga di butuhkan dalam segala hal. Jika bisa mendapatkan pengusaha kenapa harus memilih memiliki menantu seorang karyawan?"
"Maaf om, hidup memang butuh materi. Tapi jika ternyata orang yang Om sayang justru di sakiti hingga hampir mati, apa Om juga akan terus mempertahankan kekayaan dari pada darah daging yang sejak kecil Om besarkan?"
"Apa maksud kamu?"
"Saya tau Om sejak tadi menyindir saya, saya memang hanya karyawan biasa Om, tapi saya waras dan tidak gila. Seorang karyawan biasa lebih bisa menyayangi dan memberi kasih sayang tanpa main tangan. Suatu saat semua akan terbuka. Orang yang selama ini baik dan bersahaja, banyak uang dan kaya raya, hanya sebatas pecundang di balik jasnya."
"Kamu menyindir menantu saya?" sentak Pak Nugraha.
Andika tersenyum getir, " Om merasa jika menantu om seperti itu? jika ia kenapa Om menutup mata dengan keadaan Erna? Om pernah tanya tentang kebahagiaannya? Om pernah tanya kapan terakhir dia tertawa? Om pernah tanya rumah tangga seperti apa yang suaminya suguhkan? Jika Om sudah tau jawabannya, jangan lupa hubungi saya. Saya siap menikahi Erna walaupun dia seorang janda."
"Diam! kamu tidak tau apa-apa dengan rumah tangga mereka! jadi jangan pernah menggurui saya. Dan saya tidak sudi memiliki menantu seperti kamu! karyawan tapi belagu! mimpi kamu terlalu tinggi untuk menikahi anak saya! Dan jangan kamu pikir saya tidak tau jika kamu selama ini masih mengharapkan anak saya! Kamu yang harusnya buka mata, siapa keluarga kamu dan siapa keluarga saya, kita berbeda!"
"Cukup Om, yang Om hina bukan hanya asisten dan sahabat saya, dia juga Kakak ipar saya! serta keluarganya adalah keluarga saya. Jadi sama saja Om menghina saya dan keluarga saya!" Tegas Raihan. "Bukan saya ingin membela Pak Andika, saya juga sahabat Erna jika om lupa, Erna lebih memilih menjadi karyawan saya dari pada bekarja di perusahaan keluarganya. Berarti dia nyaman di sekitar orang-orang yang bisa menganggapnya ada dan penuh ketenangan. Saya berinteraksi setiap hari dengan Erna, saya melihat dia setiap hari dengan mata saya sendiri. Di luar pekerjaan, saya hanya ingin mengingatkan Om sebagai orang tua dari sahabat saya, jika Om menyayangi anak Om, cepat jemput dia sebelum hal yang tidak kita inginkan terjadi padanya."
"Rai....."
"Ini kenyataan Om, jika Om lebih percaya dengan mulut pengusaha, berarti Om harus percaya dengan saya!" Tegas Raihan.
"Dan jika Om tidak juga menjemput Erna dan mengeluarkan dari rumah suaminya, saya yang akan menjemput paksa dia. Karena orang yang benar-benar sayang tak akan membiarkan miliknya di sakiti orang lain!" lanjut Andika.
"Permisi!"
Keduanya pergi dari sana dengan meninggalkan Pak Nugraha yang tak bisa menjawab apa-apa. Apa lagi setelah ia tau jika Raihan adalah adik ipar dari Andika. Sedikit berpikir walaupun hatinya masih keras dan tidak percaya.
" Halo mah."
"Iya Pah."
"Minta anak dan mantu kita untuk kerumah!"
"Tumben papan minta mamah untuk memanggil mereka? biasanya cuek aja!"
"Mah, papah hanya rindu saja pada putri papah!"
"Oh oke!"
"Sayang..."
"Mas, kok lama!" protes Andini ketika melihat sang suami baru datang.
"Iya, tadi butuh ngobrol sebentar untuk membahas sesuatu. Kangen banget apa?" tanya Rai yang sudah membuka jasnya dan menggulung lengan kemeja hingga menambah kesan menggoda di mata Andini.
"Lihat apa sayang? mau disini apa di kamar?"
Wajah Andini bersemu saat menyadari jika Raihan sudah duduk di sampingnya.
"Apa sich, mesum aja pikiran kamu mas!" ucapannya mengelak kemudian segera membuka bekal yang ia bawa.
"Aku apa kamu yang mesum? aku tau kamu tadi lagi mikirin aku kan? pengen aku peluk?" tanya Raihan lagi sengaja menggoda sang istri.
"Mas....udah ikh, ayo makan!"
"Istri aku malu-malu padahal mau banget ya sayang?"
"Mas!" kesal Andin, wajahnya sudah memerah mendapat godaan dari Raihan. Apa lagi dengan sengaja suaminya membuka dua kancing kemeja hingga terlihat dada bidang tempat ternyamannya sekarang.
"Iya sayang, ayo makan, jangan cemberut gitu! bibir kamu meresahkan. Nanti malam mampir ke Joni ya, semalam lupa saking nikmatnya."
"Maaaasssss."
Raihan tertawa melihat sang istri yang merengek manja hingga menabrak dada bidangnya karena tak kuasa menahan godaan.
"Sayang, kapan resepsi kita di adakan?"
"Selesai magang gimana mas?"
"Masih beberapa bulan lagi, kelamaan dong. Gimana kalo seminggu lagi?"
"Kecepatan kali mas! persiapan belum ada mana bisa buru-buru."
"Kamu tenang aja, ada mamah Sifa dan mamah kamu. Besok Minggu kita berkunjung kerumah mereka ya, untuk membicarakan masalah resepsi kita. Mereka pasti senang, aku juga mau buat kamu menjadi ratu semalam seperti pengantin kebanyakan. Kamu sebagai wanita pasti punya impian sendiri untuk acara pernikahan kamu. Dan aku akan mewujudkannya."
"Makasih ya mas, jujur itu dulu impian aku. Menjadi pengantin dan duduk di kursi mempelai dengan di iringi lagu-lagu cinta. Berdansa bersama pasangan dengan diiringi lagu romantis seperti di film-film. Tapi itu dulu, setelah aku merasakan ijab kabul yang begitu sakral walaupun awalnya pernikahan itu bukan karena keinginan aku. Tapi aku sudah merasa cukup dengan itu semua. Aku seperti lupa tentang impian aku."
"Kamu bahagia dengan pernikahan kita?" tanya Rai dengan mode serius.
"Bahagia mas, begini cukup."
Raihan tersenyum kemudian membawa sang istri kedalam dekapan. "Aku akan berusaha terus bahagiakan kamu sayang, Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu mas, maaf jika terlambat. Karena awalnya aku tak tertarik dengan duda!"
"Tapi akhirnya kamu terpesona olehnya sampai nggak bisa tidur kalo nggak di peluk kan?"
"Hehehe iya."