One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 48



Pagi ini hari begitu cerah secerah hati Rai, setelah menaklukkan istrinya hingga tak kuasa menahan lelah. Kini dirinya di suguhkan dengan wajah cantik sang istri dan tubuh yang polos berbalut selimut.


Teringat pertarungan semalam yang di akhiri desaaahan panjang. Membuat si Joni celamitan, bangun mendesak tubuh Andini yang masih menempel memeluk Rai. Pergerakan di bawah sana membuat Andini terusik, matanya terbuka menatap wajah sang suami yang sedang tersenyum dengan mata berkabut.


"Mas, udah bangun dari tadi?" Andini merenggangkan pelukannya tetapi segera di tahan oleh Rai.


"Hhmm, tapi langsung sibuk."


Andini mengernyit, "sibuk apa?"


"Sibuk melihat keindahan di pagi ini, keindahan yang tak ternilai harganya."


"Apa sich mas?"


"Sibuk lihat wajah kamu," Rai kembali mengeratkan pelukannya. "Makasih buat yang semalam sayang, kamu luar biasa!" Rai mengecup pundak polos Andini.


Perlakuan Rai membuat Andini semakin mengeratkan selimutnya, menutupi semburat merah di wajah. Karena malu saat bayangan dirinya yang sangat menikmati permainan suami, yang menimbulkan suara-suara manja dari bibirnya.


"Kenapa harus di bahas sich mas, kan Andin malu! ini juga apa-apaan lagi si Joni pagi-pagi meresahkan. Minggir mas, aku mau ke kamar mandi."


"Ikut!" rengek Rai.


"Ikh mas jangan manja ya, nggak malu sama si Joni yang udah berjenggot. Aku mau pipis mas!" Andini merenggangkan pelukan Rai, dia harus segera lolos dan menjauh jika tidak ingin si Joni kembali membuat ulah dan memporak-porandakan si Jeni hingga tak kuasa menahan rasa.


Melangkah ke kamar mandi dengan tertatih, dua jam di hujam membuat bagian inti Andin terasa perih. Raihan diam mengamati, hingga tak tega dan segera mengangkat tubuh Andin.


"Agh, mas.."


"Kamu masih kesakitan sayang, jalanmu tertahan gitu, aku nggak tega lihatnya!" Andini mengalungkan tangannya di leher Raihan, keduanya masih polos hingga Andini menyembunyikan wajahnya di dada Rai.


"Keluar mas!"


"Mau ikut mandi dek."


"Tapi aku mau pipis."


"Aku juga mau pipis, kenapa sich sayang? Kalo bisa berdua kenapa harus masing-masing?" tanya Rai santai. Sedangkan Andini di buat geregetan. Bahkan dengan posisi polos begini saja sudah membuatnya malu tapi Rai terus saja membuntuti.


Akhirnya Andini menyerah, setelah membuang hajatnya ia memilih berendam membiarkan Raihan diam mengamati hingga bathtub yang cukup besar kini di tempati dua orang.


"Mas, kok masuk sini?"


"Terus maunya masuk kemana? ada yang sudah siap dimasukkan lagi, hhmm?"


"Mas Rai!"


Andini di buat mati gaya, Rai terus mendekati saat dirinya ingin menikmati acara mandinya sendiri. Membantu Andini menyabuni tubuhnya hingga selesai dan melilitkan handuk di tubuh sang istri.


"Aku sudah seperti bayi, padahal nggak perlu begini aku bisa sendiri."


"Terimalah sayang, ini bentuk perhatianku setelah semalam membuat tubuh istriku lelah." Dengan jail Rai meremas bola sedang yang menantang di balik handuk tebal.


"Mas, jangan iseng. Aku mau keluar udah kelar kenapa masih di tahan?"


"Joni..." wajahnya memelas melihat bagian tubuhnya yang sejak tadi menantang bebas.


"Mas, besok lagi masukin les privat aja si Joni biar tau tata Krama, orang lagi ngomong dia malah nantangin begitu. Nggak sopan!" Andini segera melesat keluar dari kamar mandi, cari aman dan cepat berpakaian.


Raihan terpaksa harus kembali menahan, pagi ini ia biarkan Andini kabur tapi tidak dengan malam nanti. Sudah pasti Andini tak akan bisa keluar dari kukungannya.


"Nambah mas!"


"Sudah cukup sayang, Alhamdulillah kenyang."


"Mbok, ada bekal untuk Andin?"


Simbok melangkah mendekat dengan membawa bekal untuk Andini. "Ada donk, spesial!"


"Telornya dua ya mbok?" celetuk Andini.


"Opo to nduk? kok telor dua?" tanya simbok heran, tapi sukses membuat Raihan tersenyum menatap sang istri yang bingung sendiri menjelaskan.


"Kan spesial, jadi telornya dua. Simbok nich nggak ngerti ya....belajar sama Andin mbok biar ngerti bahasa-bahasa kekinian."


"Masih inget semalam ya?"


Andini menoleh ke arah suaminya, menatap bingung apa maksudnya. "Inget apa?"


"Spesial telur dua, berarti aku spesial donk."


"Mas Rai, dasar mesum! nggak bisa deket-deket sama kamu mas, yang ada omongannya buat aku nggak nyaman."


Andini meraih tangan Rai dan menciumnya, "aku berangkat ya mas," pamit Andin.


"Iya sayang, nanti siang ke ruanganku ya." Raihan mengecup kening Andini.


"Mau, tapi kalo ada dia lagi aku nggak mau," ucap Andin kemudian melangkah keluar. Raihan segera mengikuti setelah mengambil jas dan tas kerjanya.


"Justru ada kamu aku rasa lebih aman sayang!" Raihan mensejajarkan langkahnya hingga berhenti di depan mobil Andin.


"Lihat nanti saja, aku nggak mau semua salah paham dan berpikiran tentang aku yang nggak-nggak mas, keseringan datang ke ruanganmu membuatku tak aman."


"Tak usah pedulikan dengan yang lain sayang, cukup pikirkan dirimu dan aku saja." Raihan mengecup kembali kening Andini kemudian membiarkan sang istri segera berangkat.


Sampai di kantor waktu masih lumayan senggang hanya untuk sekedar melangkah santai dan mengantri lift dengan perasaan aman. Andini masuk ke dalam lift yang cukup lengang tanpa menoleh orang yang ada di belakangnya. Fokusnya pada handphone melihat sosial media yang sudah lama tak ia buka, hingga jemarinya terhenti saat suara orang yang begitu ia kenal mengusik hati.


"Tara, gue serius!"


"Gue juga serius Cika!"


"Tapi ini anak loe Tara!" sentak Cika tanpa ada air mata, tak seperti kemarin saat dia menuntut pertanggungjawaban dari Leo. Mereka pun tak sadar dimana sedang berada dan siapa yang ada di dalam lift tersebut.


"Gue nggak yakin itu anak gue, bahkan gue nggak ngerasa apa-apa, ingin menyentuh perut loe aja nggak! dan gue yakin ini anak cowok loe! bukan gue!" tegas Tara.


"Keterlaluan loe Tara, tega loe nggak mau ngakuin!"


"Dan loe juga tega minta pertanggungjawaban sama pria yang bukan bapak dari anak loe!"


"Terserah loe mau bilang apa, kalo loe nggak mau tanggung jawab gue bakal gugurin anak ini!"


"Loe gila! ibu macam apa loe!"


"Gue nggak perduli, gue gila loe lebih gila karna udah biarin gue bunuh anak ini!"


"Cika!" seru Tara saat Cika sudah keluar dari lift, saat Tara ingin mengejar Andini segera menekan tombol agar lift tertutup kembali. Melihat itu Tara segera menoleh, melihat siapa gerangan yang tidak sopan menutup pintu lift padahal ia ingin keluar.


"Andini," ucap Tara begitu terkejut. "Jadi...."


"Iya, gue udah dengar semuanya." Andini menoleh ke arah Tara, "bukan gue belain loe atau ngebiarin loe merasa bersalah atas perbuatan Cika. Tapi kalo boleh gue kasih saran. Loe cari tau dulu siapa ayah dari bayi yang Cika kandung."


"Maksud loe?"


Andini tersenyum, "bayi itu milik loe atau Leo!" Setelah mengucapkan itu Andini segera melangkah keluar, karena bertepatan dengan ruangan mereka.


Tara pun ikut keluar, melihat perhatian Andini terhadap masalahnya saat ini membuat dirinya sedikit lega. Serasa ada peluang dan mengira Andini masih sayang.


"Din makasih ya, gue bakal cari tau siapa ayah dari bayi yang Cika kandung. Semoga bukan gue!" lirihnya.


Andini menghentikan langkahnya, menolah ke arah Tara dan kembali melangkah masuk ke dalam ruangan.


Hari ini entah kenapa Tara kembali mendekati Andini, senyumnya mengembang setiap kali menatap Andini yang sesekali memanggilnya meminta bantuan. Erna yang sejak tadi diam memperhatikan di buat heran dengan sikap Tara yang begitu lembut dan perhatian. Tak jarang sesekali tangannya mengusap lembut kepala Andin dengan wajah gemas. Sedangkan Andini yang cuek dan merasa Tara sudah cukup paham akan hubungan mereka sejak awal hanya menganggap biasa dan tak terlalu mempermasalahkan.


"Din, tumben hari ini sikap Tara beda sama kamu. Kamu nggak lagi PHPin anak orang kan?" tanya Erna penuh selidik setelah Tara buru-buru keluar di jam istirahat.


"Mana ada aku gitu, mau dapet amukan paksu." Andini membereskan mejanya dan siap mendatangi ruangan Raihan.


"Tapi dia beda banget loh Din, apa jangan-jangan dia berharap kamu balik lagi sama dia ya. Nggak bener kalo gitu."


"Biarin aja mbak, yang penting dari awal aku udah bilang kalo nggak bisa lagi sama-sama. Lagian aku udah punya suami mana bisa main hati dengan pria lain. Mau di getok pake centong sama mamah!"


"Sip dech, nyonya Raihan. Mudah-mudahan langgeng terus!"


"Aamiin..."