One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 51



"Andini!"


Raihan berlari menghampiri sang istri dengan muka pucat tergeletak di lantai. Sebelumnya Andini yang niat untuk mandi berendam dan akhirnya tertidur di bathtub malah kebablasan hingga berjam-jam. Dirinya yang lelah, tak menyadari hari sudah malam. Hingga tubuhnya pucat, kaku dan hampir membiru.


Keluar dari bathtub dengan langkah gontai karena kepala yang begitu pusing, hingga tak kuasa menahan sakit kepala kemudian terjatuh dan pingsan.


Setelah memakaikan pakaian sang istri dengan muka panik dan khawatir. Kini ia menunggu dokter datang untuk memeriksa sang istri. Duduk di tepi ranjang menyatukan kedua telapak tangan memberi kehangatan. Menelisik jemari sang istri yang sudah berkeriput dan biru sudah di pastikan Andini lama menghabiskan waktunya di kamar mandi.


"Sayang, bangun..." lirih Rai, kekhawatirannya membuat Rai lemah. Rasanya tak kuasa jika sampai Andini kenapa-napa.


"Den," simbok datang dengan membawa wedang jahe untuk menghangatkan tubuh Andin.


"Masuk mbok, dokternya sudah datang belum mbok?"


"Belum den, mungkin sebentar lagi, simbok lihat kebawah dulu."


Dokter datang dan segera di sambut oleh simbok kemudian meminta untuk segera ke kamar Raihan.


"Mbok," sapanya.


"Eh Dok, langsung saja Dokter sudah di tunggu oleh Den Raihan di kamarnya."


"Baik mbok, makasih ya," Dokter tersebut segera naik ke atas menuju kamar Raihan. Dia sudah hafal tata letak rumah ini, karena dulu saat Rai sedang patah hati dan sakit dia lah yang bolak balik memberi penanganan.


"Bro..."


"Eh, masuk!" Raihan berdiri mempersilakan sahabatnya untuk memeriksa sang istri.


"Bro, gadisnya siapa loe culik? loe nggak lagi buntingin anak orang kan?" tanyanya curiga karena dia belum tau akan pernikahan Rai dengan Andini. " Tapi kok kayak gue kenal, gue pernah liat dimana ya...."


"Adiknya Andika."


"Loe....gue bilangin Abangnya loe!"


"Ck, udah periksa dulu nanti lagi ngocehnya, kasian bini gue itu. Dia gue temuin tergeletak di lantai kamar mandi."


"Bini.....ngarang mulut loe," Dokter yang bernama Bayu itu segera memeriksa Andini, mengecek detak jantung, sarta mengecek suhu tubuh Andini yang cukup tinggi.


Raihan mengamati dengan teliti, tak ingin sang istri di sentuh berlebihan. Terlalu posesif hingga jarak dengan sang istri sangat dekat.


"Udah?" tanyanya serius.


"Udahlah, mau ngapain lagi. Posesif loe, bini loe beneran itu? kapan nikah? nggak loe jebak kan? njiiir Andika gimana?"


"Nanya mulu loe kayak tamu!" Raihan berdiri mendekati Bayu yang sedang merapihkan barang-barang kedokterannya. "Gimana bini gue?"


"Dia demam, abis main di bak mandi loe ya?" tanyanya penuh selidik.


"Mana ada, gue baru balik. Kalo main di kamar mandi udah pasti bukan kedinginan tapi kehangatan. Kawin makanya, jangan pacaran mulu hidup loe!" sahut Rai sambil sesekali melihat sang istri yang masih memejamkan mata.


"Kawin tiap hari, di ijabnya belum! bini loe kedinginan itu, demam juga. Nich gue kasih resep obat loe tebus di apotik. Lagian masih imut begitu udah di kasih tau uler kasur, syok kali makanya tertekan gitu."


"Mulut loe minta gue tabok semen, balik sono loe!" Raihan mengusir bayu, sahabatnya memang tidak ada yang di saring jika berbicara. Tapi itu yang membuat mereka dekat.


Kini keduanya berjalan keluar kamar, Raihan ingin mengantar sahabatnya ke teras dan meminta Pak Mugi untuk membelikan obat.


"Serius gue, dia kayak lagi ada pikiran gitu. Nikah sama loe beban kali, apa loe cuma nikahin siri doank? parah loe, bisa aja nyarinya yang masih muda, seger, ranum, lagi mengkel-mengkelnya, jangan-jangan loe kalo kerumah Dika suka ngintipin adiknya mandi ya makanya pengen ngawinin aja rasanya."


"Pulang sono loe! lama-lama omongan loe bikin tangan gue gatel pengen nonjok!"


"Serem amat loe, nggak kangen sama gue? udah lama kita nggak ngumpul, si Dika juga jarang main ke rumah sakit lagi, ayolah kapan kita nongki-nongki?"


Mereka kini sudah berada di halaman rumah Rai, "kapan-kapan aja, gue lagi fokus bereproduksi. Nanti kalo udah ada hasil baru gue traktir loe sama Dika!"


"Njiiir.....gue masih nggak percaya sama loe, hari ini gue harus nemuin Dika." Bayu berjalan menuju mobilnya.


"Terserah loe, tapi makasih udah periksa bini gue!"


Bayu melambaikan tangannya ke atas, lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman sahabatnya.


"Iya den."


"Tolong belikan obat buat istri saya ya pak, ini resep dan uangnya." Raihan kembali masuk kedalam rumah setelah memberikan resep dan uangnya kemudian segera melangkah menuju kamar.


Sampai di kamar, ia melihat Andini yang baru saja mengerjakan mata. Melihat sekitar hingga kedua mata mereka bertemu. Melihat sang istri yang sudah sadar raihan segera menghampiri, duduk di pinggir ranjang dan mengusap lembut kepala Andin.


"Minum dulu sayang...." ucap Rai kemudian mengambilkan wedang jahe yang tadi simbok buat.


"Ini apa mas?"


"Wedang jahe, biar hangat."


Setelah meminumnya, Andini kembali merebahkan tubuhnya. Kepala masih agak berat dan tubuhnya pun serasa dingin.


Raihan yang mengerti kembali merapikan selimut hingga batas dada, kemudian meletakkan punggung tangannya di kening Andini.


"Kenapa?"


"Hanya ingin menghilangkan rasa lelah mas, aku berendam seperti biasa. Kenapa denganku?" tanya Andini yang baru ingat jika tadi dia masih berada di dalam kamar mandi.


"Kamu pingsan, kamu buat aku khawatir, jangan suka ngelamun di kamar mandi. Aku menemukan kamu masih polos geletakan di lantai. Kamu buat aku tak tenang tau nggak. Besok lagi kalo mau mandi tunggu aku pulang!" Raihan begitu takut hal itu akan terjadi lagi, sang istri sudah dua kali kedapatan berlama-lama di kamar mandi, tapi hari ini benar-benar membuatnya cemas. Karena sampai terjatuh dan pingsan.


Melihat kecemasan di wajah sang suami membuat Andini merasa bersalah, dia yang hanya niat ingin menikmati berendam dan menghilangkan rasa penat malah berakhir ketiduran hingga oleng dan jatuh pingsan.


"Aku nggak apa mas, nanti sembuh. Hanya pusing dan kedinginan aja, tapi wedang jahenya lumayan bikin anget. Apa lagi kalo di peluk suami aku."


Raihan tersenyum, dia merangkak naik ke ranjang dan mengecup sang istri lalu mendekapnya. "Tumben manja, maaf ya aku pulangnya telat. Kesepian ya sampe males tidur di kasur?"


"Aku ketiduran mas, bukan mau berlama-lama di kamar mandi karena kesepian. Memang kamu kalo nggak dapet jatah, kamar mandi pilihan utama buat berkeluh kesah!"


"Memangnya kalo aku lama-lama di kamar mandi ngapain, hhmm?" tanyanya dengan tatapan meledek.


Andini yang di tatapan begitu jadi bingung sendiri, malu karena pikirannya yang sudah berlari kemana-mana tanpa permisi.


"Istri aku memikirkan apa?"


"Nggak ada!"


"Terus?"


"Maaaasssss jangan meledekku!"


Malam ini tak ada aktivitas yang berarti, Andini dan Rai hanya tidur dengan saling memeluk, tanpa melakukan aktivitas panas seperti yang Raihan bayangkan di perjalanan pulang tadi. Melihat sang istri yang sakit dirinya pun tak tega ingin mengusik.


"Gagal malam ini nggak apa-apa ya Jon, anggap aja si Jeni masih syok liat uler kadut"


"Sayang..." Raihan mendekat minta di pasangkan dasi. Kini keduanya sibuk menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor.


"Iya sebentar mas aku pakai sepatu dulu."


"Kamu yakin nggak mau istirahat aja di rumah?"


"Iya mas, aku udah baik-baik saja." Andini memasangkan dasi sang suami dengan sedikit mendongak.


"Nanti kalo nggak enak badan, keruanganku aja ya. Tidur di kamar kita, obatnya jangan lupa di bawa."


"Aku udah nggak sakit mas, lagian mungkin kemarin karena kecapekan. Seharian di buat kesel sampe bete jadinya."


Raihan menahan tubuh Andin yang mau beranjak pergi, penasaran dengan kata-kata yang Raihan yakin tak sadar terlontar.


"Siapa yang buat kamu kesel?"


"Hah!....eh nggak ada mas, cuma kesel gara-gara mantan mas kemarin aja kok." Andini berusaha menghindar dia tak ingin Rai kepikiran, apa lagi bertindak yang membuat Tara dan Cika kesulitan.


"Apa yang kamu sedang tutupi sayang, kamu nggak pandai berbohong..." Raihan menatap sang istri yang sudah berjalan keluar kamar.