
Setelah drama di meja makan kini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga membahas tentang resepsi pernikahan. Mamah dan Papah tampak antusias apa lagi ini adalah pesta pernikahan pertama di keluarga mereka karena Andika yang sampai sekarang belum juga menikah.
"Lalu kapan acaranya akan di laksanakan Rai?" tanya mamah yang sudah tidak sabar.
"Niatnya seminggu lagi mah, Raihan minta tolong sama mamah untuk membantu mamah Sifa mempersiapkan sesuatu yang masih kurang. Sedangkan tamu yang akan di undang Raihan serahkan pada Papah dan juga Papah Vino. Raihan sudah menghubungi bagian event organizer. Jadi mamah bisa mengecek langsung, karena Rai dan andini bekerja jadi banyak merepotkan orang tua."
"Nggak apa-apa nak, mamah sangat senang jika ikut terlibat mengurus acara kalian. Ini yang pertama di keluarga kita. Mudah-mudahan berkah dan banyak yang datang untuk mendoakan. Iya kan Pah?"
"Iya mah, aamiin....Papah juga senang, apa lagi nanti bisa duduk sambil ngopi sama besan."
Setelah pembahasan yang menghabiskan waktu hampir dua jam, kini Andini dan Raihan pamit pulang. Sepanjang jalan Andini tertidur pulas, hingga sesampainya di rumah Raihan mengangkat tubuh Andini dan membawanya menuju kamar.
"Capek banget ya sayang," Raihan mengecup kening Andini kemudian menggantikan baju Andin agar lebih nyaman.
Setelah Raihan membersihkan diri, kini ia mendekap tubuh Andin membawanya dalam pelukan hingga ikut terlelap bersama sang istri.
Pagi ini Andini merasakan gejolak di perut yang begitu menyiksa, sudah lima kali ia bolak balik kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya hingga bersih dan tak tersisa. Mual yang ia rasa membuatnya lemas, sedangkan Raihan sibuk memijat tengkuk Andin dengan sesekali memberikan minyak angin.
"Gimana sayang, udah enakan?" tanyanya melihat sang istri memejamkan mata menahan mual yang masih tersisa.
"Udah mendingan mas, kamu mandi dulu aja mas, aku mau merem sebentar. Nanti gantian aku mandi mas."
"Kamu istirahat aja, nggak usah berangkat ke kantor dulu sayang. Aku nggak mau kamu kenapa-napa." Raihan mengusap perut Andini berharap mual yang istrinya rasakan semakin berkurang.
"Bentar aja aku istirahatnya, biar pulih dan nanti tolong bangunkan aku ya mas kalo kamu sudah selesai." Raihan tak menjawab, dia terus mengusap perut Andin. Hingga usapan itu mampu membuat Andini tertidur nyenyak.
Setelah rapi dengan setelan kantornya Rai segera turun kebawah, sebelumya ia sempat mengecup kening dan bibir Andin. Raihan memutuskan untuk tak membangunkan istrinya, ia membiarkan Andini istirahat dan memulihkan kembali tenaga yang terkuras setelah mual muntah tadi.
"Mbok, aku nitip Andini ya. Andin masih tidur di kamar. Nggak usah di bangunin tapi nanti tolong sampaikan, hari ini nggak usah masuk kerja dulu."
"Andini apa sakit to Den?"
"Lagi mual-mual mbok, hamil muda katanya seperti itu. Ya sudah saya langsung berangkat aja ya mbok," ucap Rai setelah menyeruput kopinya.
"Alhamdulillah akhirnya simbok sebentar lagi gendong bayi...tapi den, nggak sarapan dulu to?"
"Nggak dech mbok, saya mau buru-buru sampai kantor biar bisa mengerjakan pekerjaan dengan cepat jadi nggak ke sorean pulangnya." Raihan segera meraih tasnya kemudian berangkat ke kantor.
Waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi, tapi Rai sudah datang hingga mengejutkan scurity yang berjaga.
"Pak Rai, pagi Pak." Scurity itu menundukkan kepalanya dan di balas senyuman oleh Rai.
"Tumben Pak Rai jam segini udah datang, senyumnya juga merekah banget. Abis dapet jatah subuh kali ya..." Scurity itu cekikikan sendiri. Hingga mengundang tanya dari karyawan lain.
"Bapak kenapa?"
"Pak Rai pagi-pagi udah datang, tumbenan kan?"
"Lah iya, tapi ngapa bapak ketawa?" tanyanya heran.
"Nggak apa-apa, cuma bayangin aja si bos dapet jatah subuh dari istri cantiknya makanya rajin banget nyari duitnya."
"Hush, bapak nich kalo sampe kedengaran sama si bos bisa di semprot loh Pak!"
"Kan Pak Rai nggak denger, ya kamu jangan bilang-bilang!"
"Ck, bapak nich. Ayo lanjut kerja lagi Pak!"
Sampai di ruangan, Raihan segera membuka laptop dan mengerjakan pekerjaannya. Dia ingin hari ini berjalan lancar dan bisa pulang tepat waktu. Fokusnya terganggu saat Andika masuk dengan membawa berkas untuk meeting hari ini.
"Jangan lupa hari ini kita meeting, kata si Santi loe belum datang. Lah ini siapa kalo bukan bosnya, gimana sich tuh si Santi!"
"Gue datang dia belum ada di mejanya." Raihan menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.
"Emang loe berangkat jam berapa?" Andika duduk di depan meja Rai.
"Gue berangkat pagi, Andini subuh-subuh udah bangunin gue."
"Tumben, ngajak ngaji dia?"
"Kagak, ponakan-ponakan loe minta di perhatiin. Biasa dah orang hamil kalo pagi ngapain."
"Ngapain? minta ditengokin?" tanyanya lagi.
"Otak loe minta gue geser dulu kayaknya. Semaleman nonton apa loe? Apa jangan-jangan pas tidur kepala loe, loe adu sama tembok? Pagi-pagi pertanyaan loe nggak jauh dari bokeep."
"Lah gue mah normal, naluri pagi begini! Gue curiga punya loe kalo pagi nggak pernah ngajakin ngereog?"
"Justru gue curiga, kalo tiap pagi si Joni ngereog tuh masuk kandang buaya mana? Jangan-jangan anaknya Erna punya loe lagi!"
"Mulut! kalo ngomong asal mangap. Pengen gue sentil lidah loe!" kesal Andika.
Keributan keduanya terhenti saat panggilan di ponsel Dika berdering. Dia segera mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celana. Menatap layar dengan mata memicing kemudian menggeser tombol hijau.
"Halo.."
"Dika, tolong gue!"
deg
Dika segera menutup ponselnya, dia berlari keluar ruangan tak perduli dengan seruan dari Rayhan yang berulang kali memanggilnya. Dia berlari menuju ruangannya mengambil kunci mobil kemudian pergi dari sana.
Pagi tadi Erna sempat mengirim pesan jika ia tidak enak badan dan ijin bekerja. Andika tak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia percaya jika memang Erna butuh istirahat. Tapi mendengar suara Erna di telpon tadi, dia berpikir ada yang janggal.
Andika melajukan mobilnya menuju rumah Erna, ponsel miliknya sejak tadi terus berdering. Raihan menghubungi tapi tak di gubris oleh Dika. Yang menjadi pikirannya saat ini adalah Erna. Dia ingin segera sampai dan melihat bagaimana keadaan dan apa yang membuatnya hingga meminta pertolongan.
Sampai di teras rumah Erna, Dika segera turun. Disana ia lihat masih ada mobil Gio terparkir rapi. Hal itu semakin membuat Andika penasaran. Jantungnya berdebar membayangkan jika terjadi sesuatu dengan Erna .
Dika masuk ke dalam rumah yang ternyata tak di kunci. Di berlari mencari kamar erna. Tak ada siapapun di ruang tengah dan dapur. Andika pikir kamar Erna di atas, dirinya segera menaiki anak tangga, tetapi di tengah undakan tangga ia mendengar jeritan dari orang yang ia cari.
Andika kembali turun dan berlari ke asal suara, ada kamar di bawah tangga. Ia segera memasuki kamar tersebut. Langkahnya terhenti saat mata melihat apa yang terjadi di hadapannya hingga membuat aliran darah naik dan otak mendidih.
"B@jingan!"
...****************...
Makasih banget buat kalian semua masih setia baca karya aku. Jangan lupa like, coment, vote, dan ikuti akun aku agar bisa terus mengikuti karya aku yang lainnya.
Aku mau buat judul baru teman-teman, support aku ya karena cerita yang berikutnya sedikit menguras emosi dan mengandung bawang.
Makasih semuanya 🤗🤗🤗