One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 46



Mereka bertiga memutuskan untuk pulang saat pesan masuk dari Rai membuat Andini segera ingin meninggalkan cafe.


..."Kamu kemana? kenapa nggak pamit aku kalo pulang telat. Maaf jika sikapku tadi siang mengecewakan. Kutunggu kepulanganmu sayang..jangan jauh-jauh mainnya!"...


Bibir Andini tertarik ke atas, ia tersenyum melihat pesan dari Rai. Tadi memang Andin sengaja tak pamit, untuk memberi pelajaran bagi Rai jika ia cukup kecewa akan suaminya. Tapi mendapatkan pesan dari sang suami mampu membuat Andini luluh juga.


"Ayo balik, laki gue udah wa nich!"


"Duuuh yang udah punya laki, hawanya pengen cepet-cepet pulang aja. Gimana rasanya menikah dengan kak Rai? gurih-gurih nikmat nggak Din?" tanya Riri yang meledek Andin.


"Otak loe, nggak jauh dari begituan. Giliran di ajak cipokkan aja loe pada nggak berani."


"Ya kan sama loe juga, kalo nggak akibat kecelakaan juga loe belum tau rasanya surga dunia." Celetuk Tia.


"Eh loe pada ribut aja, lihat dech itu kan Cika sama Leo ya, tapi kok mereka kayak ribut gitu sich, Cika juga sedih banget sampe nangis."


Andini dan Tika menoleh mengikuti arah pandang Riri. Benar saja mereka melihat Cika yang begitu sedih dengan wajah memelas dan Isak tangis yang tertahan.


"Mau kita deketin nggak?"


"Gue nggak mau ikut campur RI, kalo mau loe aja sana!" ucap Andini yang kemudian membereskan penampilannya dan bersiap ingin pulang.


Tia pun tak ingin ikut campur lagi, apa lagi masih ada rasa kecewa karena Cika yang berani mengkhianati sahabat sendiri.


Mereka memutuskan untuk segera keluar tanpa memperdulikan Cika yang masih menangis sesenggukan.


"Tanggung jawab Leo!"


"Gue nggak mau tanggungjawab gitu aja, gue tau loe nggak cuma tidur sama gue, bahkan karena serakahnya loe, cowok dari sahabat loe sendiri di embat. Keterlaluan loe Cika, terus gue harus tanggung jawab gitu aja, bagaimana jika itu anak Tara?"


"Usia kandungan gue udah tiga bulan dan gue berhubungan sama Tara sebulan yang lalu. Berarti ini anak loe bukan anak dia! loe harus tanggung jawab, nggak bisa loe lari dari kenyataan kalo di dalam perut gue ini anak loe Leo!"


deg


Langkah ketiganya terhenti saat mendengar ucapan Cika yang memilukan hati.


Andini sempat melirik ke arah Cika yang menelungkupkan kepalanya di meja. Hatinya tak tega, tapi tak membuatnya ingin ikut campur dan masuk terlalu dalam dengan permasalahan sahabatnya yang dulu ia anggap polos.


"Ayo Din, biarin aja. Kita pulang sekarang, kasian laki loe nungguin di rumah. Dia udah bukan apa-apa kita lagi kan."


"Hhmm....." Andini kembali melangkah setelah peringatan dari Tia membuatnya tak ingin terlalu lama singgah.


Sampai di parkiran kedua sahabatnya masuk kedalam taksi yang sudah mereka pesan dan Andini pun segera pulang.


"Gue nggak nyangka Cika sampe segitunya, benar kata Tara, bukan cuma sama dia aja."


Sepanjang jalan Andini masih memikirkan nasib Cika, apa lagi Leo yang tak mau tanggung jawab. Sudah pasti menambah hancur hatinya.


"Gue cuma bisa doain yang terbaik buat loe Cika," gumam Andini.


Sampai di rumah tepat pukul 8 malam. Masuk rumah dengan di sambut oleh simbok yang sedang membereskan meja makan.


"Andini baru pulang to nduk?"


"Iya mbok, tadi ngumpul sama temen dulu. Kak Rai udah makan mbok?"


"Sudah nduk, naik ke atas dan temui den Raihan. Sepertinya sejak tadi gelisah, kasian nduk makan sendirian."


"Oh iya mbok, makasih ya mbok."


Andini segera naik menuju kamarnya. Membuka pintu kamar tapi tak menemukan Raihan di setiap sudut ruangan. "Kemana...."


Andini melirik pintu kamar mandi yang terbuka, berarti tak ada Raihan di dalam sana. Meletakkan tasnya di atas meja rias kemudian segera masuk kedalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


40 menit Andini di dalam kamar mandi, kini dia sudah berganti pakaian tidur lengkap dengan kimono yang menutupi dress tidurnya.


Setelah sampai di dalam ruang kerja Rai, Andini pun tak mendapati sang suami di sana. Bahkan meja kerjanya tampak rapi. Menarik nafas dalam Andini kemudian memutuskan untuk segera keluar. Tapi terkejutnya dia saat melihat Raihan yang sudah berdiri di belakangnya dengan bersidekap dada.


"Kakak! bikin kaget tau nggak!" seru Andini memegang dadanya.


Raihan tersenyum tipis, "kamu nyari aku?"


"Hhmm.....maaf aku tadi nggak pamit kakak."


Raihan menelisik penampilan Andini yang membuat sesuatu terbangun begitu saja.


"Aku yang harusnya minta maaf, karena membuat istriku kesal. Tapi sungguh, nggak ada niat hati tergoda sama Sarah."


"Ya udah, aku mau istirahat dulu kak," Andini melangkah kembali ke kamar. Bukan ingin menghindari Raihan, tapi dia malas jika harus kembali teringat kejadian tadi siang.


Sampai di dalam kamar langkah Andini terhenti merasakan tangan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Jangan marah lagi sayang, aku minta maaf," ucap Rai semakin mengeratkan pelukannya dan meletakkan kepalanya di ceruk leher Andini.


"Aku sudah memaafkan kakak, hanya sedikit kesal saja saat melihat begitu gatalnya wanita itu."


"Kamu cemburu hhmm?" Raihan mencium aroma tubuh Andini yang ia rindukan. Pulang kantor mendapati Andini yang tak ada di rumah membuatnya begitu gelisah. Apa lagi sempat marah dan pergi meninggalkannya tadi siang. Membuat dirinya tak tenang.


"Cuma kesal kak!"


"Cemburu juga nggak pa-pa, aku senang. Maaf ya, dari awal aku sudah mengusirnya, tapi dia yang terus mendekatiku. Aku akan lebih tegas lagi jika esok kembali bertemu dengannya. Dan aku harap nggak ada kesalahpahaman lagi seperti tadi. Kamu meninggalkanku makan sendiri."


Hati Andini tak tega, mungkin dia keterlaluan padahal jika wanita lain sudah pasti salah paham berlebihan. Melihat sang suami yang hampir di singgahi bibir mantan istri, sudah pasti membuat sakit hati.


Tapi penyesalan Raihan begitu terlihat, dia juga tau jika Raihan sudah menolak hanya kurang tegas padahal sebagai pria Raihan tak mungkin main tangan hingga mengusir Sarah dengan kasar.


Raihan membalikkan tubuh Andini, menatap dalam wajah yang tadi siang membuatnya gemas. "Mana yang tadi siang panggil aku dengan sebutan mas, coba aku mau dengar lagi."


Semburat merah di wajah Andin begitu ketara, hingga Raihan yang melihatnya semakin di buat gemas.


"Ayo sayang..."


"Apa?"


"Panggil seperti tadi siang! kamu melambungkanku setelahnya menghempaskanku begitu saja, dasar istri nakal!" Raihan mengecup bibir Indah.


"Ayo sayang..."


Andini menarik nafas dalam, menatap Rai yang menunggunya dengan tak sabar.


"Mmmm Mas Rai..." lirih Andin.


"Coba lagi sayang? lebih keras biar aku jelas mendengarnya."


"Mas Raihan.."


Raihan tersenyum dan kembali menarik tubuh Andini ke dalam pelukan. "Panggil aku dengan itu ya sayang, jangan panggil kakak lagi."


"Iya mas," jawab Andini malu-malu.


Raihan merenggangkan pelukannya, menyatukan bibirnya dengan bibir ranum Andin yang membuatnya ketagihan. Tak ada penolakan, Andini melingkarkan kedua tangannya di leher Raihan. Menikmati kecupan dari sang suami yang berujung tuntutan hingga menimbulkan lumaataan manja.


"Aku menginginkan mu sayang..."


"Dapatkah mas aku percaya nggak akan menyakiti ketika masa lalu mas Rai mulai menghampiri?"


"Percayalah, hatiku hanya ada kamu. Dan nggak akan tergantikan, kamu istriku dan kelak akan menjadi ibu dari anak-anakku. Ijinkan aku datang dan meminta hakku..."


Andini tersenyum dan memberanikan diri mengecup bibir Raihan.