
Ketukan pintu dari luar membuat Andini menatap Raihan yang duduk di kursi kerja dengan mata fokus ke layar laptop.
"Mas!"
"Masuk!" Raihan menatap sekilas Andin kemudian melihat siapa gerangan yang datang. Andini pun menoleh ke arah pintu siapa yang masuk.
"Pagi Pak Rai, sudah lama saya tidak kesini. Efek undangan yang mengejutkan hingga membuat saya singgah," wanita itu masuk dengan lenggak lenggok dan mendekati Rai yang beranjak dari kursi kerjanya.
Dengan santai dan tanpa beban wanita itu memeluk Rai, padahal Rai sudah mundur menghindar.
Melihat adegan di depannya Andini hanya memutar bola matanya, tak ada niat mencegah dan hanya diam menjadi penonton dadakan.
"Uler konde, belatung nangka, ulet bulu, cacing keremi jadi satu perpaduan yang begitu apik. Sampe minta gue garuk pake linggis ini Judik jadi-jadian!" gumam Andini saat melihat wanita yang pertama kali ia lihat dulu dan sempat salah paham dengan Rai di awal magang.
"Maaf Bu, bisa duduk dulu. Ada apa gerangan ibu tiba-tiba datang? kita sedang tak ada kerja sama." Raihan melepas pelukan wanita itu, dia menatap Andin dengan hati ketar-ketir kemudian segera duduk di sofa menghindari pergerakan yang tak terduga.
"Seperti yang saya bilang tadi pak, saya terkejut dengan siapa anda menikah. Tak menyangka karena kecelakaan yang menimpanya waktu itu membuat bapak jatuh cinta." Wanita itu menatap sinis Andini, ketika masuk tadi dia pun sudah sadar jika ada Andini di sana. Tapi tak perduli karena tujuannya menemui Raihan.
"Maaf Bu, tapi saat itu dia sudah menjadi istri saya."
"Anak magang yang ibu sindir bukan?" lanjut Andini.
"Ya, anak magang gegayaan!" ketusnya. "Saya masih nggak percaya dengan Pak Rai."
"Karena Pak Rai pintar Bu, dia lebih memilih yang muda. Karena yang muda yang masih kuat goyang." Andini membuat wanita itu semakin murka, wajahnya memerah menatap Andin tak suka.
"Tapi yang dewasapun lebih memuaskan!" sahutnya lagi.
"Dewasa atau tua? tapi umur tak bisa berbohong, lihat kulit kita pun beda. Yang muda lebih kencang dan menggigit, ini baru kulit luar belum yang dalam! jadi usia tetap akan berbicara."
Ucapan Andini semakin membuat wanita itu semakin geram, hingga ia mendekati Raihan mengikis jarak membuat Rai mundur mencari aman.
"Jangan terlalu dekat Bu, ibu nggak liat bahkan di sini ada istri saya."
"Istri anda keterlaluan Pak Rai, apa yang anda liat darinya. Sedangkan saya lebih menggoda. Anda tau setelah saya lihat undangan tadi pagi, jantung saya seperti tersengat petir pak. Ini sungguh tak adil bagi saya," ucapnya dengan tatapan sendu. Tapi hal itu membuat Andini mengusap perutnya.
"Amit-amit jabang debay. Pait-pait jangan ikut-ikut ya kembar."
"Maaf Bu, jika ibu datang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan lebih baik ibu pulang. Karena saya masih banyak pekerjaan yang harus di kerjakan dan ibu menyita waktu saya!" tegas Raihan membuat wanuta itu tercengang mendengarnya.
"Pak Rai ngusir saya?"
"Udah tua pantes aja mulai berkurang!" gumam Andini tapi masih bisa di dengar olehnya.
"Apa maksud kamu, tua berkurang. Kurang apanya? dan siapa yang tua?"
"Itu bu, ayam tetangga udah tua minta di potong gara-gara mulai kurang dengar dan pikun. Kasian kan Bu," jawabnya. "Apa lagi demen banget ngejar ayam lagi kawin. Tau nggak Bu, biasanya ayam begitu berisik Bu, mulutnya doank nyaring cuap-cuap tapi giliran di deketin keok duluan. Bisanya cuma ganggu tapi giliran di ganggu balik dia ngibrit!"
Ucapan Andini sukses membuat wajah Rai memerah menahan tawa, istrinya ini benar-benar kalem dalam menghadapi wanita mana saja yang menggodanya. Hingga ia tak menyangka Andin seberani ini.
Andini menutup mulutnya, matanya melebar melihat pemandangan romantis di depan mata. Sedangkan pria di depannya mengumpat kesal dengan posisi yang tak menguntungkan.
"Njiiiir......." umpatnya kesal kemudian berdiri merapikan kemejanya yang terkena lipstik merah wanita itu.
"Pak Andika mau curi-curi kesempatan ya! Jangan dikira saya murahan, patah hati dengan pak Rai dan lari dengan pak Andika. Selera saya masih tinggi!" sewotnya, karena terjatuh dan di tindih oleh tubuh Andika. Beruntung Andika bisa mengontrol dirinya agar tidak bablas meninggalkan kecupan.
"Maaf ya Bu, tolong nanti keluar dari ruangan ibu menoleh ke kanan kiri. Disini sepanjang jalan mau ke lift di kasih cermin besar itu ada alasannya, bukan hanya untuk pajangan."
Wanita itu di buat tambah kesal hingga memilih pergi dengan menghentakkan kakinya.
"Rai, kita nggak ada kerjasama sama dia, tapi ngapa itu orang kesini sich? nggak ada angin nggak ada ujan gue di serang sama dedeemit modelan kayak dia. Liat nich ninggalin lipstik lagi di kemeja gue!"
"Rejeki loe berarti, lagian yang bagian ngundang rekan kerja kan loe! loe berasa ngundang dia nggak?"
"Mana ada gue ngundang dia, gue tuh ngundang yang muda yang berkualitas. Om Vino kali yang ngundang." Andika duduk di sofa, dia yang tadinya mau meminta tanda tangan Rai dan senang karena bakal pulang cepat, malah berujung kesal dan uring-uringan.
"Bisa jadi, tapi dia masih perawan bro. Berkualitas tinggi dan multi fungsi."
"Mau di tawarin yang model begitu 5 orang juga gue ogah, perawan sich perawan tapi baru di masukin itu kulit ngikut semua. Mendingan sama janda, di kata udah jebol juga masih yahut. Oh Erna....Joni merindukanmu."
Bugh
Andini melempar bantal sofa ke wajah kakaknya. Mendengar khayalan Andika yang membuatnya risih sendiri.
"Ngapa sich loe dek!"
"Otak loe!"
"Otak gue pinter ya, mending loe pulang sono rebahan. Masih aja kerja besok mau resepsi juga, ntar kecapekan lagi. Ribet!" sewot Andika. Raihan hanya diam mendekati sang istri yang mulai merengut menatap tajam kakaknya. Alamat perang jika tak di dinginkan.
"Sayang, jangan marah-marah kasian kembar," ucapnya mengusap lembut punggung Andin.
"Nah, kasian tuh Ama dua cebong yang lagi berkembang. Liat emaknya sewot mulu mau launching juga ragu dia. Takut keluar langsung kena semprot."
"Heh....ini anak orang bukan anak katak ya! Dasar uncle nggak tau aturan!"
"Dika loe mending keluar dulu, bini gue lagi mode garong. Nggak kelar kalo kalian berdua debat terus! sini berkasnya gue tanda tanganin, abis ini loe balik ke ruangan loe. Gue mau ngelus-ngelus bini gue dulu."
"Modus aja loe! bilang aja mau nambah, loe kira gue nggak tau otak loe! besok resepsi jangan loe buat ulah. Bini loe nggak bisa bangun, ogah gue jadi pengantin pengganti!"
"Gue masih waras, apa lagi harus di gantiin pengantin pengganti modelan kayak loe! si Joni juga ogah Nerima uler kadut!"
...****************...
Hayo....ada yang ingat dengan wanita yang datang tadi?