One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 102



Setelah mendapat kabar dari art yang bekerja di rumah Cantika ia segera putar arah menuju rumah gadis itu. Beruntung pagi ini Erna berangkat bersama dengan Pak Nugraha yang kebetulan sudah pulang dinas dari luar kota.


Butuh waktu 30 menit untuk sampai di sana, Andika melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sekelebatan percakapan antara mendiang ibu Cantika terlintas di pikiran.


Andika benar-benar khawatir, gadis itu hanya dekat dengan dirinya hingga di anggap sebagai saudara walaupun Cantika menganggapnya lebih. Hidup sebatang kara itu lah yang membuat Andika tidak tega.


Sampai di halaman rumah, Dika segara berlari masuk ke dalam menuju kamar gadis itu. Bibi keluar dari kamar membawa nampan yang masih tersisa banyak makanan. Sudah pasti gadis itu tidak mau makan.


"Den...."


"Masih panas Bi?"


"Masih Den, susah minum obat juga. Makannya hanya beberapa suap aja. Di suruh minum juga harus di paksa Den."


Andika yang mengerti hanya menganggukkan kepala dan segera masuk kedalam kamar Cantika. Disana tampak Cantika berbaring di balik selimut tebal yang membungkus tubuhnya, hanya wajahnya yang terlihat begitu pucat.


Andika melangkah mendekat kemudian duduk di tepi ranjang. Mengamati gadis dengan mata sayu menatapnya dengan nafas panas dan bibir memucat.


Andika menempelkan punggung tangannya di kening Cantika, mengecek suhu tubuh yang sangat panas. Pria itu menggelengkan kepala kemudian mengajak Cantika untuk segera ke rumah sakit.


"Aku antar ke rumah sakit ya, badan kamu panas banget."


Cantika menggelengkan kepala, ia tidak mau di rawat. Itu hanya mengingatkan ia pada ibunya, karena di detik-detik terakhir ibunya di rawat di rumah sakit.


"Badan kamu panas dan aku harus bekerja, kalo kamu nggak mau kerumah sakit aku nggak akan bisa tenang."


"Kalo begitu temani aku disini mas," lirih Cantika.


Andika menggelengkan kepala, ia tidak mau membuat Cantika semakin berharap padanya. Bisa saja dia merawat sampai gadis itu sembuh seperti dulu sebelum Cantika ada rasa padanya. Tapi saat ini semua berbeda, Andika menggunakan tanggung jawab tetapi Cantika menerimanya dengan perasaan cinta. Dan itu akan semakin menyulitkan.


"Kalo kamu mau aku rawat, kamu harus mau di bawa ke rumah sakit. Aku nggak bisa lama-lama di sini Cantika!"


Cantika menghela nafas berat, ia tau Andika sekarang semakin sulit di raih. Dia bagai pungguk merindukan bulan. Sebisa mungkin mengejar tapi Andika secepat mungkin menghindar.


Hubungan mereka sudah tak sehangat dulu, kejujuran Cantika yang merusaknya. Jika ia tau akan seperti ini, dia lebih memilih mencintai dalam diam. Setidaknya Andika masih bisa ia genggam walaupun cintanya tak berbalas.


Cantika memejamkan mata merasakan sakit di kepalanya yang begitu kuat. Banyak yang dipikirkan membuatnya kurang tidur dan malas untuk makan. Hingga kini ia sakit dan merasa lemah. Air matanya pun mengalir terasa amat panas.


"Mas kerja aja, Cantika bisa sendiri. Ada Bibi juga, Cantika nggak sendirian!" Cantika menekan kalimat terakhir jika dirinya tidak sendirian. Agar Andika tak khawatir. Percuma ada disini tapi pikiran pria itu di tempat lain. Sekalipun di rumah sakit, Cantika yakin ia justru akan semakin tertekan.


"Kamu bilang sayang sama aku, lalu kenapa sulit untuk menurutiku. Jika kamu sakit bagaimana dengan ujianmu yang tinggal beberapa hari?" Andika berusaha sabar menghadapi kerasnya Cantika. Gadis itu benar-benar menolak di bawa berobat. Dan membuatnya semakin merasa bersalah.


"Pergi mas!"


Sedangkan mamah mengirimkan pesan jika beliau sudah sampai di rumah sakit. Dan menunggu keduanya di lobby.


Andika membuang nafas kasar, melihat Cantika yang kini diam dengan pipi yang basah. Harus dengan cara apa membujuk agar gadis itu mau ke rumah sakit. Apa lagi Andika bisa merasakan tubuh Cantika yang mulai bergetar, sudah di pastikan ia menahan sakit dan panas tubuhnya.


"Jika kamu masih tidak mau, aku akan memaksamu!" Andika memposisikan diri untuk segara mengangkat tubuh Cantika. Sedikit kesulitan karena Cantika yang menolak. Tapi tak lama memberontak gadis itu pingsan di dekapan Andika.


Andika segera membawa Cantika menuju rumah sakit, berulang kali mengumpat kesal karena sikap Cantika yang keras kepala sehingga ia tidak kuat dan jatuh pingsan.


Setelah mobil terparkir rapi, Andika menepuk pipi Cantika yang masih tak kunjung sadar. Membuatnya lagi-lagi harus mengangkat tubuh gadis itu menunju IGD.


"Andika..." seru mamah yang melihat Andika berlari dengan menggendong seorang gadis.


"Bentar Andika antar Cantika ke dalam ruangan dulu Mah!"


Andika segera merebahkan tubuh Cantika di atas brangkar kemudian ia keluar setelah dokter datang. "Tolong adik saya ya dok!"


"Baik Pak."


Andika mendekati kedua orangtuanya yang duduk di kursi tunggu, Dika mengusap kasar wajahnya. Dia terlihat begitu banyak beban.


"Kenapa lama sekali Dika, mamah sama papah sudah sampai tapi kamu masih di jalan, kamu nggak lakuin apapun sama dia kan?"


"Astaghfirullah Mah, kalo mau ngapa-ngapain mending sama Erna, enak. Andika tadi tuh mbujuk Cantika dulu, dia nggak mau di bawa kerumah sakit. Sampe akhirnya Dika paksa."


Mamah dan Papah saling pandang, ia mengerti apa yang Andika rasakan, memberi perhatian salah diam pun lebih salah. Terkadang niat dan sikap yang baik, jika tidak bijak dalam menyikapi maka akan salah dalam mengartikan.


Sebelum Andika meninggalkan rumah sakit karena harus segera berangkat bekerja, ia menyempatkan diri melihat keadaan Cantika yang belum sadarkan diri. Dika menitipkan Cantika pada kedua orangtuanya. Memasrahkan pada beliau, karena Andika yakin inilah yang terbaik.


"Mah, Pah, Andika kerja dulu ya. Kasian hari ini Rai ada meeting. Andika nggak enak ninggalin kerjaan lama-lama. Nitip Cantika ya Mah Pah."


"Hhmm ...biar gadis itu dengan Papah dan Mamah. Kamu pergilah! akan menambah masalah jika kamu berlama-lama disini. Hati pria akan goyah jika berlama-lama melihat wanita di depannya begitu lemah."


"Iya Pah," jawabnya singkat dan dia paham arti dari perkataan Papah.


"Hati-hati ya, nggak udah dipikirkan! biarkan dia istirahat, gadis itu banyak pikiran hingga ia jatuh sakit begini. Nanti biar mamah yang memberikan pengertian sedikit demi sedikit, yang penting dokter sudah mengatakan jika dia baik-baik saja."


Andika menganggukkan kepala, kemudian keluar dari rumah sakit menuju kantor. Sedikit lega karena ada Mamah dan Papah. Nanti giliran memberitahu Erna, karena tadi belum sempat mengabari.


"Kayaknya emang harus buru gue nikahin dech, cobaannya banyak banget."