
Di jam istirahat, Andini yang sejak tadi bekerja dengan tidak nyaman segera meninggalkan meja. Dia sudah tidak tahan dengan mualnya yang membuat ingin segera menemui Raihan.
Tara yang melihat Andini tiba-tiba berdiri dan berjalan cepat di buat heran. Tapi tak lama ia teringat jika Andini akan menemui suaminya.
"Mungkin udah nggak sabar pengen ketemu..." gumam Tara.
Andini berjalan cepat, hingga ia tak memperdulikan sekertaris Raihan yang menyapa dan memberikan peringatan, ia menutup rapat mulutnya tanpa mau berhenti dan mendengarkan. Masuk tanpa mengetuk pintu kemudian segera memeluk dada bidang yang sejak tadi ia inginkan.
Aroma tubuh Rai menenangkannya, sesaat terdiam menghirup banyak-banyak hingga tenang. Setelah di rasa sudah, ia merenggangkan pelukannya. Agak heran dengan sikap Raihan yang diam saja hanya membalas senyuman tanpa berbicara. Dengan wajah memerah karena terkejut dengan masuknya Andini yang tiba-tiba memeluknya.
Raihan berdeham, mulai sadar akan posisi istrinya yang tak aman. Sedangkan kedua orang di hadapannya tersenyum canggung melihat adegan mesra di depan mereka.
"Maaf Pak, ini istri saya. Kebetulan sedang hamil muda jadi sedikit manja."
Mata Andini membola, otaknya ngeblank seketika. Dia melihat senyum canggung yang di berikan Rai padanya. Tapi Andini rasa ada yang tidak beres hingga ia segera membalikkan tubuhnya.
Deg
Wajah Andini memerah, dia tidak sadar jika di ruangan suaminya sedang ada klien. Melirik ke sebelah kanan Rai, Andika sedang menunduk menahan tawa. Perlahan ia turun dari pangkuan sang suami, menundukkan kepalanya menahan malu hingga rasanya ingin segera kabur.
"Maaf, saya pikir nggak ada orang." Ucapnya dengan meringis canggung.
"Iya tidak apa-apa, saya maklum mungkin bayinya sedang rindu dengan papahnya."
Andini memaksakan senyumannya, berdiri di samping Rai yang juga menatap dengan penuh tanda tanya. Kenapa dengan istrinya?
"Kalo begitu saya permisi dulu," dengan menundukkan kepala Andini segera kabur dari sana, tanpa peduli Raihan yang memanggilnya.
Jika tak ada klien mungkin Raihan akan mengejarnya, tapi saat ini ia sedang ada meeting penting yang tak bisa di tinggal. Jadi Rai memilih untuk menyelesaikan terlebih dahulu baru mencari istrinya.
Tawa Andika pecah setelah meeting usai dan klien sudah pergi. Ia membayangkan wajah malu adiknya karena tingkahnya sendiri. Sedangkan Rai yang melihat hanya diam dengan memijat pelipisnya, jika Andika merasa lucu, Raihan justru merasa kasian.
"Diem loe! kasian bini gue malu."
"Ha ha ha ....lagian ada aja kelakuannya. Nggak liat dulu ada tamu apa nggak main nangkring aja udah kayak jemuran." Andika menggelengkan kepalanya tak menyangka Andini akan bertingkah konyol.
"Gue yakin ada yang membuatnya begitu, sekarang kemana lagi dia." Raihan mencoba menghubungi Andin tapi tak kunjung di jawab.
"Kantin kali, makan dulu yuk! laper gue, Andini pasti di sana."
"Kalo nggak ada?" tanyanya.
"Ada, paling sama dua sahabatnya kalo nggak sama Tara," jawab Andika, dia sudah sangat lapar hingga berjalan duluan.
"Tara?" lirih Raihan kemudian segera beranjak dan mengikuti Andika. Dia masih sedikit cemburu jika Andini terlalu dekat dengan Tara.
Keluar dari ruangan Rai, Andini segera melangkah menuju ruangannya. Dia sangat malu dengan apa yang terjadi tadi, karena tak tahan dengan rasa mual hingga tak melihat situasi.
"Bodoh banget Andini, kalo gini kan nggak cuma malu sama kliennya, sama mas Raihan dan kak Andika juga." Andini merutuki kebodohan dirinya dan segera kembali ke ruangannya.
Makan di meja kerjanya dan tak ada niat ingin keluar lagi. Hingga Tara sudah selesai istirahat tampak bingung melihat Andini yang makan sendirian.
"Loh kok disini? nggak jadi keluar?" tanyanya mendekati Andini kemudian duduk di depan Andin.
"Loe sendiri udah kelar?"
"Udah, males lama-lama kerjaan masih banyak. Lagi pengen pulang on time gue," Tara melirik makanan andini yang sejak tadi hanya ia aduk-aduk dan memakan hanya seujung sendok saja. "Makanan itu, jangan di aduk-aduk sambil di liatin doank. Nanti ujung-ujungnya cuma loe buang, nggak kasian di luar masih banyak yang butuh makan."
Tara yang gemas melihat tingkah Andin segera merebut sendok yang Andin pegang dan menyuapinya.
Dalam keadaan normal pasti Andini sangat menolak karena sudah tak ada hubungan apa-apa, tapi entah mengapa mulutnya justru terbuka dan menikmati suapan dari Tara.
Tara pun awalnya ragu dan tau Andini pasti tidak mau, tapi ternyata dugaannya salah. Andini tanpa canggung justru mendekat dan menerima setiap suapan yang ia berikan.
"Siapa yang masak?"
"Simbok."
"Loe masih belum mau belajar masak?" tanyanya lagi seraya menyuapi Andin dengan telaten.
"Belum sempat juga, lagian sampe rumah udah matang, terus bangun pagi juga udah matang," jawabnya lagi.
"Si bos nggak minta di masakin, secara loe kan istri pasti ada kalanya suami minta di masakin sama loe!"
"Mas Rai nggak pernah nuntut gue apa-apa, dia orang baik. Bahkan sangat baik, pengen sich bisa masakin tapi masak apa, air putih doank sama Indomie bisanya." Andini sangat menikmati makanannya, padahal sejak tadi ia sudah tak ada niat apa lagi kalo harus menghabiskan. Porsi yang simbok buat agak banyak agar cukup untuk kedua anaknya juga sesuai perintah Rai.
"Makanya gue nanya loe nggak pengen belajar, sekali-kali masuk dapur. Kenalan sama panci dan wajan biar lebih akrab dan bersahabat!"
"Tapi kan gue udah kenal Tara, gue tau mana wajan mana panci, yang gue belum kenal itu sama bumbu dapur. Capek gue kenalan sama mereka, bentuk hampir sama tapi nama dan rasanya beda. Gokil kan!"
"Loe yang gokil! masak kalah sama orang laki, apa perlu besok gue bawain macem-macem bumbu dapur biar loe kenalan."
"Ck, nggak lah. Lagian loe ngebet banget pengen gue bisa masak, laki gue aja diem." Bukannya tersinggung Tara malah tersenyum dan sabar menghadapi mulut ketus Andini.
"Minum dulu!" Tara menyodorkan botol minum langsung ke bibir Andini dan ia terima tanpa penolakan.
"Loe itu perempuan nantinya loe bakal jadi ibu. Kalo pengalaman gue, namanya anak itu akan lebih merindukan masakan mamahnya dari pada rumah tempat mereka di besarkan. Kayak gue anak rantauan, gue pulang kampung yang gue kangenin masakan emak gue. Makanya istri kalo bisa ya harus bisa masak. Itu sich menurut gue..."
Mereka berbincang dan sharing layaknya teman, Andini pun tak merasa Tara adalah mantan yang kebanyakan akan dihindari. Hingga makanannya habis tak tersisa.
"Habis...." Tara memamerkan tempat nasi Andin yang sudah bersih tanpa ada sisa nasi sedikitpun.
"Gila, ini yang makan siapa?" tanya Andin polos.
"Ya loe lah masak gue!"
"Kok bersih banget, loe jilatin kali!" ucap Andin menyangkal tak terima jika dia yang menghabiskan semua isi makanan yang ia bawa.
"Ngarang aja loh, dari tadi mangap terus tiap gue suapin."
"Tapi itu sampe bersih loh Tara, nggak tersisa nasi satupun!"
"Ya bagus lah, berkah cuy....kita nggak tau dari setiap nasi yang tadi loe makan mana yang rejeki loe. Jadi jangan buang-buang nasi walaupun cuma satu butir."
"Semenjak putus dari gue sok bijak loe Tara!" Andini menatap Tara tak percaya, sekarang Tara pun sudah lebih dewasa. Dia berharap kegagalan yang mereka alami, akan membawa mereka ke jodoh masing-masing.
"Tau, gue juga nggak ngerti. Udah lah lanjut kerja, udah kenyang kan?" tanyanya lagi kemudian beranjak berdiri ingin kembali ke mejanya.
"Udah, makasih ya udah nyuapin gue," ucapnya dengan tangan mengusap perut.
"Hhmm...."
Tara kembali ke mejanya tanpa mereka tau sejak tadi Raihan diam mengamati keduanya.