
"Ngapain sich mas pake nyusulin segala?" tanya Andini setelah keduanya kini duduk di cafe dekat kantor.
"Kamu aku telpon nggak di angkat, berarti kan minta di sentil!"
"Auw....iisshhh awas tangannya," kesal Andini saat mendapat sentilan dari suami. Keduanya sedang menunggu pesanan datang, Andini menatap sengit sang suami yang tersenyum mesum padanya. Mata Rai bagai ancaman untuknya, melihat penuh hasrat hingga Andini mendekat dan mencubit tangan Raihan.
"Mupeng banget sich mas, tau gini nggak usah makan di cafe. Mending bawa bekal terus makan di ruangan kamu biar nggak banyak yang liatin!"
"Suka ya makan di ruangan aku, abis makan kamu gantian kamu yang di makan."
Andini hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan sang suami yang tak jauh dari urusan ranjang. Pdahal semalam jatahnya dua kali lipat tapi masih saja bicaranya membuat tubuh gelisah.
Pesanan datang, seorang waiters yang sedikit centil sesekali menatap Raihan dengan tatapan berbinar. Raihan yang mengerti akan sikap waiters yang berusaha menggoda segera diam dengan mode datar. Sudah biasa ia mendapat perlakuan seperti ini dari wanita di luaran.Tapi Rai sama sekali tidak memusingkannya.
Berbeda dengan Andini, melihat waiters yang kecentilan membuatnya ingin menarik rambut hingga terjungkal ke belakang. Tapi bukan Andini jika menegur dengan cara kekerasan.
"Mbak, kenapa matanya? cacingan?"
"Eh...maaf kak."
"Lain kali siap garpu di saku mbak. Biar kalo liat cowok ganteng dikit, itu mata bisa cepet digaruk. Bahaya mbak, kalo ternyata udah punya istri bisa di cakar loh sama istrinya."
"I..iya kak, sekali lagi saya minta maaf. Saya pikir mas nya belum punya istri, maaf ya kak," ucap waiters salah tingkah.
"Iya nggak apa, untungnya saya nggak kasar jadi nggak pengen nyakar."
"Oh, jadi kakak.......ehemm saya permisi dulu silahkan di nikmati makanannya." Waiters tersebut segera undur diri dan kembali ke pantry. Sedangkan Raihan yang sejak tadi mendengarkan kini tawanya pecah. Dia senang saat Andini dalam mode cemburu dan galak.
"Istrinya ya kak?"
"Diem mas, makan!" celetuk Andini. "Seneng banget ada yang godain, diem aja minta di alem."
"Apa sich sayang, aku diem karena nggak mau nanggepin juga. Bukan seneng, kamu cemburu sama waiters."
"Nggak cemburu juga, tadi cuma kesel aja liat cewek kegatelan makanya jiwa manusia ku meronta, andai itu di alami oleh pria lain kan kasian istrinya."
"Iya kasian istrinya, untung istri aku bisa baca situasi jadi nggak asal jambak aja kalo hati panas. Besok lagi duduk dekat aku sini, jangan lepas tangan aku. Biar semua tau kalo kamu istri aku."
"Apa banget aku harus begitu, kenapa nggak situ aja!" sewot Andin.
"Oh oke dengan senang hati," Raihan segara berpindah duduk di samping Andini, membuat Andin mendelik melihat kelakuan sang suami. Raihan benar-benar mendekat dan menggenggam tangannya sambil makan.
Setelah hampir satu jam Istirahat di cafe, kini keduanya sudah kembali ke kantor. Tapi seperti yang Andini prediksikan, Raihan kembali membuatnya resah. Ia tak menurunkan wanita itu di divisinya tetapi malah membawanya sampai ruangan miliknya.
"Mas, ngapain kesini sich? awas aku mau masuk lagi!" Andini memberontak dan ingin kembali masuk ke lift tapi Raihan segera menahan dan menariknya masuk ke ruangan.
"Mas, jangan mesum apa!" kesal Andini.
"Sebentar aja sayang, aku nggak minta apa-apa. Cuma mau mengolah susu murni agar semakin berkembang dan banyak isinya."
Reflek Andini menutupi dada, matanya menatap wajah Raihan yang begitu kehausan. Apa lagi posisi keduanya yang sudah berada di dalam ruangan dengan Andin yang berdiri di belakang pintu.
"Mau apa mas?"
"Vitamin sedikit aku mau meeting, biar segar dan hati pun riang. Butuh asupan karena nanti aku mau presentasi pasti haus jika minumnya nggak mengandung nutrisi."
Tangan Raihan mulai terampil meraba dua gundukan bola yang semakin kencang menantang, kemudian membuka kancing kemeja Andin.
"Biasanya malah lebih dari ini. Dan kamu biasa saja, cuma sebentar sayang dan nggak lebih dari 10 menit." Andini pun pasrah, membiarkan Raihan yang tak terbantah.
"Tiga kancing cukup!"
"Kamu ngajak nego?"
Akhirnya Rai menuruti permintaan sang istri, tiga kancing cukup asal bisa hisap dengan kuat. Badannya sudah menunduk untuk meraih sumber vitamin sebagai kekuatan sebelum pusing meeting.
"Anak Gorilla loe turutin, bayi tua dalam mode manja! tuman nggak tau tempat!"
deg
Raihan memejamkan mata, ada saja pengganggu di saat diri butuh. Untung posisinya menutupi Andini hingga tak terlihat bagian yang terbuka.
Sedangkan Andini sudah mendelik melihat orang yang dengan santainya duduk di sofa bersidekap dada. Menatap dengan wajah tengil minta di sentil.
"Ngapain loe disini? ganggu!" Raihan mengancingkan kembali baju istrinya.
"Loe lupa 10 menit lagi ada meeting penting!"
"Justru ada meeting penting, loe udah gagalin momen penting!"
Raihan mengajak sang istri untuk duduk di sofa tetapi Andini menolak. Wajahnya panas menahan malu karena kepergok sang kakak.
"Udah nggak usah malu, duduk loe! sekarang puas-puasin pamer ke gue. Tapi kalo gue udah kawin loe berdua gantian gue pamerin!"
"Stress loe kak!" sewot Andin. "Aku mau balik mas, kalian berdua sama aja!" Andini segera keluar dari ruangan Rai. Ia tak perduli dengan panggilan dari Raihan dan Andika. Menurut Andini jika ia masih di dalam sana hanya akan menjadi bulllian sang kakak dengan kata-kata tak jelas.
Pulang kerja Andini menunggu Rai di lobby, dia yang tak membawa mobil tak juga di beri ijin memesan taksi. Erna sejak tadi duduk di sebelahnya sambil menunggu taksi online yang terjebak macet.
"Mbak, masih lama?"
"Kena macet pas putaran balik sopirnya, biarin dech sekalian nemenin kamu."
"Sabar ya mbak," ucap Andini dengan nada santai tapi bermakna dalam membuat Erna menoleh ke arahnya.
"Aku udah tau dari Kak Dika, aku berharap kelak mbak akan bahagia. Ntah dengan suami mbak atau dengan kakak aku."
Erna tersenyum memandang Andini, adik dari orang yang masih ada di hatinya. Andai tak ada perjodohan mungkin Andini sekarang sudah menjadi adik ipar.
"Makasih ya, hidup kan nggak melulu harus bahagia. Pasti ada lika liku di dalamnya yang menguras air mata. Aku hanya berharap semua akan baik-baik saja. Dengan siapapun nanti yang penting fokusku saat ini adalah buah hatiku. Dia yang menjadi prioritas," tutur Erna.
"Hamil buat bahagia ya mbak?"
"Bahagia, Rai usaha terus kan tiap malam?" ledek Erna membuat semburat merah di wajah Andini terlihat. "Nggak usah malu, sudah biasa kalo menikah ya seperti itu. Mudah-mudahan cepat jadi dedek ya."
"Aku masih ingin nyelesain kuliah dulu mbak, tapi kalo seandainya jadi ya mau gimana lagi."
"Raihan pasti bahagia andai kamu hamil, dulu dia sangat menginginkan seorang anak tapi tak kunjung dapat karena istrinya tak menginginkan."
"Tapi aku masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu mbak. Takut nanti malah membuat mas Rai kecewa. Apa aku kabe dulu ya mbak sampai aku siap?"
"Jangan!"