One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 94



Sudah seminggu ini sikap Andika berubah, tak setengil biasa dan lebih banyak diam. Dalam pekerjaan pun ia tak fokus hingga Raihan merasa ada sesuatu yang di pikirkan oleh sahabat serta kakak iparnya ini.


Erna pun merasakan hal yang sama, ia melihat perubahan sikap Andika dan diamnya dia setiap di ajak bicara. Keisengan yang biasa pria itu lakukan hingga membuatnya kesal, belakangan ini tak Erna jumpai lagi.


Hingga saat keduanya makan siang tiba-tiba ponsel Andika berdering dan membuat pria itu mendengus menatap siapa si penelpon itu.


"Kenapa nggak di angkat?"


"Nggak penting, biarin aja. Ayo makan lagi, bentar lagi lanjut kerja."


Erna menarik nafas dalam, entah apa yang ia lakukan hingga membuat Andika bersikap tak seperti biasanya.


"Kenapa?" tanya Erna yang sudah tidak tahan.


Andika mendongakkan kepala, menatap sang pujaan hati dengan rasa bimbang. Apa lagi tatapan teduh Erna semakin membuatnya bersalah.


"Nggak ada," jawabnya dengan tersenyum.


Hal itu semakin membuat Erna semakin curiga, dia yang mengenal Andika lama sudah pasti tau jika saat ini Andika sedang tidak baik-baik saja.


"Apa yang loe tutupin dari gue?"


Andika menghentikan gerakan tangannya, ia meletakkan sendok dan garpu kemudian menatap Erna begitu dalam.


"Jangan berpikir macam-macam!"


"Gue kanal loe nggak cukup setahun dua tahun Dika, gue tau perubahan sikap loe akhir-akhir ini pasti ada alasan."


"Apa yang mau loe tau dari gue?" tanyanya membuat Erna semakin geram.


"Harus gue bertanya apa yang gue ingin tau, sedangkan loe lebih paham apa yang terjadi sama loe" ucap Erna menahan segala emosi yang ada.


Andika membuang nafas kasar, ia mengalihkan pandangannya dari Erna. Pria itu bingung harus mengucapkan alasan apa pada Erna. Walaupun ia tau tak baik jika ia terus diam dan membiarkan Erna semakin bertanya.


"Maaf... " satu kata yang keluar dari bibir Andika membuat Erna jengah dan segera beranjak dari sana. Memberi waktu untuk Andika berfikir mungkin itu lebih baik dari pada mendesak pria itu dan berujung perdebatan.


Erna sadar mereka sedang di fase dimana angin datang kala keduanya mulai bangkit. Entah apa yang Andika sembunyikan tapi Erna yakin, ini bukan hal mudah hingga membuat Andika berubah.


"Benar kata Dika, gue bukan anak ABG lagi. Dan hubungan ini bukan seperti anak muda yang harus bertengkar untuk menyelesaikan masalah...." Erna kembali ke ruangannya kemudian segera menyelesaikan pekerjaan. Mungkin pulang lebih cepat dan menghindar dari Andika lebih baik untuk saat ini. Agar sama-sama introspeksi diri.


Andini yang melihat wajah sendu Erna menjadi bertanya-tanya, tapi ia ragu untuk mendekat. "Kenapa dengan mereka...."


Andika mencari Erna tapi tak kunjung ia temukan, ponselnya pun tak aktif hingga ia memutuskan untuk bertanya pada Andini yang berjalan menuju lobby bersama dengan Raihan.


"Erna mana?"


"Udah pulang dua jam yang lalu."


"Dia sakit?" tanya Andika lagi.


"Justru loe yang sakit, kenapa?" bukan Andini yang menjawab tapi Raihan yang sudah tak tahan melihat sikap Andika yang berbeda.


"Gue nyari Erna, kenapa jadi loe nanya balik?"


"Seharusnya loe tanya sama diri loe sendiri, apa yang buat Erna pulang lebih cepat dan menghindar dari loe! gue tau ada yang loe pikirin, tapi kalo loe dewasa semua bisa di bicarakan baik-baik dari pada harus loe pendam sendiri yang nantinya bakal jadi Boomerang buat loe!" Raihan menepuk pundak Andika dan segera menggandeng Andini untuk pulang.


Andika terpaku di tempat, persoalan yang mungkin sepele andai ia mau jujur. Tapi entah kenapa dia takut Erna tak percaya dan tak mau lagi bersama jika ia menceritakan tentang sesuatu yang mengganggu pikirannya.


🍀🍀🍀


"Aku kesini karena kamu menelpon ku, ada apa?"


"Temani aku, sebentar lagi aku ujian. Aku ingin mas memberikan semangat untukku."


Andika memijat pelipisnya, ia tak ingin berlama-lama di sana tapi gadis itu memintanya untuk tetap tinggal. Sedangkan tadi Pak Nugraha mengirimkan pesan padanya jika sore tadi beliau dan istri berangkat keluar kota karena ada pekerjaan dan menitipkan Erna padanya.


Ingin rasanya Andika kerumah Erna untuk melihatnya karena sejak siang tadi wanita itu tak bisa di hubungi. Ada rasa khawatir, tapi melihat gadis itu yang memintanya menemani hingga selesai belajar membuatnya tak tega. Apa lagi ia tak punya siapa-siapa.


Hingga hampir larut Dika di sana, hanya diam menemani dan sesekali mengecek ponselnya siapa tau Erna membuka pesan yang ia kirim tadi.


"Mas udah makan malam belum? aku sampai lupa karena sibuk sendiri." Cantika yang sejak tadi fokus dengan bukunya mulai mengamati Andika yang hanya diam menatap ponsel. Ia tau jika Andika tak tenang ada di dekatnya dan itu membuatnya kesal.


Sikap hangat yang Dika berikan satu tahun lalu membuatnya jatuh cinta, tapi itu berubah saat ia mengungkapkan isi hatinya. Dika tak sehangat dulu, walaupun ia tau alasan apa yang membuat pria itu menjaga jarak.


Hingga beberapa bulan terakhir ini jarang mengunjungi atau sekedar menanyakan kabar.


"Mas!" sentak Cantika saat melihat Andika hanya diam melamun menatap ponselnya, ia mendengus kesal saat ia tau apa yang di lihat oleh pria itu hingga tak mendengarkan ucapannya.


"Maaf, kenapa? kamu sudah selesai?"


"Mas di sini tapi pikiran di sana," lirihnya.


"Aku di sini dan masih di dekatmu karena janjiku pada ibumu. Maaf sikapku membuatmu tak nyaman tapi aku harap kamu ngerti. Aku pulang ya, sudah larut malam. Nggak enak sama tetangga."


Cantika menarik nafas dalam, "aku buatkan kopi dulu ya. Perjalanan pulang lumayan kan, sepertinya mata mas mulai memerah. Biar nggak ngantuk di jalan."


Tanpa menunggu jawaban dari Andika, dia segera beranjak ke dapur. Gadis itu membuatkan kopi untuk Andika, kebetulan sekali bibi sudah tidur. Jadi ia bisa membuatkannya sendiri.


"Maafkan aku mas...."


Cantika segera membawa kopi yang sudah ia buat, meletakkan di depan meja Andika dan menggeser cangkir teh yang isinya sudah Andika habiskan.


"Di minum mas!"


"Hhmm....makasih." Andika menyeruput kopi buatan gadis itu. Dia memang sedikit mengantuk, tubuhnya juga agak lelah dan di tambah memikirkan Erna yang menurutnya sedang merajuk karena perbincangan di kantin siang tadi.


Hingga beberapa saat Andika merasakan tubunya tak enak. Hal tak biasa yang membuatnya hampir hilang akal, Cantika yang sadar akan perubahan Andika pun segera merapat. Walaupun Andika masih diam menahan.


"Mas kenapa?" tanyanya saat melihat keringat Andika yang memenuhi kening.


"Nggak apa-apa, aku pulang ya."


Andika beranjak dari sofa dan memutuskan untuk segera pergi dari sana. Sempat di tahan oleh Cantika tapi sekuat tenaga Andika melepaskan diri dari genggaman tangannya.


"Mas, tunggu! kamu sepertinya tak baik-baik saja."


"Aku nggak apa-apa, cepatlah tidur besok masukkan? aku harus pulang."


"Tapi mas_" Cantika terus menahan tangan Dika.


"Kamu mau apa?"


"Tetaplah tinggal jika tubuhmu tidak enak mas! kamu bisa pulang esok hari. Disini ada bibi dan tidak mungkin ada tetangga yang membicarakan kita."


"Maaf Cantika_"