One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 119



Hari ini di kediaman keluarga Raihan Putra Baratajaya di adakan acara 4 bulanan sang istri dan acara 7 bulanan Erna. Acara di selenggarakan berbarengan atas keinginan Andini.


Alasan diadakan di kediamannya karena rumah Raihan yang lebih luas dan bisa menampung banyak tamu undangan serta kolega bisnis dan keluarga besar.


Semua tampak berkumpul setelah melakukan sesi upacara adat Jawa dan siraman untuk acara nujuh bulan Erna. Tawa canda dan haru menyelimuti hati keluarga besar mereka.


Andini duduk bersanding dengan Raihan sedangkan Erna dengan perut besarnya duduk bersama di apit oleh Pak Nugraha dan Andika. Dan jangan lupakan yang lainnya sedang mengajak main kembar yang mulai aktif dan belajar merangkak.


Semua tamu undangan datang dengan mengucapkan selamat dan untaian doa untuk kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi yang mereka kandung. Rasa syukur terus terucap dari bibir Erna dan Andini yang sedang menikmati masa kehamilan dan perhatian lebih dari suami.


Tak jauh dari sana pun ada Cantika dan Tara yang mengecek segala keperluan serta ketering yang telah tersaji. Mereka memang di beri tugas untuk mengatur jalannya acara karena anggota keluarga yang lain sedang sibuk menyapa tamu yang datang.


Hubungan keduanya juga sudah resmi bertunangan, dan bulan depan Tara menikahi Cantika. Mereka memutuskan untuk segera meresmikan hubungan sebelum banyak dosa dan godaan yang terus datang.


Sore hari acara selesai dengan menyisakan anggota keluarga inti, mereka masih memenuhi ruangan dengan bercengkrama melepas lelah seraya berselonjor kaki di atas karpet tebal.


"Capek sayang?" tanya Raihan pada istrinya yang kini menyandarkan kepalanya di pundak.


"Lumayan mas, agak pegel aja kakinya," keluh Andini, dengan sigap Raihan segera mengubah posisinya kemudian memijat kaki sang istri yang berbalut celana laging.


"Bagaimana sayang? atau mau ke kamar saja, agar bisa rebahan di sana."


Raihan begitu perhatian dan khawatir akan keadaan sang istri, dia tak ingin Andini kelelahan hingga berpengaruh pada kesehatan sang bayi yang ada di dalam kandungan.


"Masih ramai mas, nggak enak kalo masuk kamar duluan. Nggak apa-apa aku bisa sandaran sama kamu mas." Raihan segera menarik tubuh sang istri kepelukan dan memberi kenyamanan untuknya. Sesekali tangan Rai mengusap bagian belakang tubuh Andini untuk mengurangi rasa pegal di punggungnya.


"Gimana nggak melendung terus bini loe Rai, orang loe kekepin terus!" celetuk Bayu yang baru saja datang dengan menggendong putra nya yang kini menginjak tiga bulan, serta menggandeng tangan Cika dengan erat.


"Kayak loe nggak aja, sekarang belum aja.... siap-siap kita buat taman bermain buat momong anak-anak kita nanti."


"Eiisttt.....gue sama Erna keluarga berencana ya, dua anak cukup! loe aja berdua kalo mau ternak!" celetuk Andika yang datang mendekati Andini dan memberikan air kelapa untuk adiknya.


"Makasih kak...." ucapnya Andini dan di angguki oleh Andika.


"Loe kata anak ayam di ternak!" timpal Bayu. "Duduk sayang! tapi jangan dekat-dekat dulu sama duo bumil takut ke tularan bebh!" Cika tak menggubris, dia segera duduk diantara Andini dan Erna dan saling menyapa, mengucapkan selamat dan tidak lupa mendoakan.


"Emang loe pikir bini gue panuan nular!" celetuk Andika yang kini ikut duduk mendekati sang istri. "Gue berasa kaya semenjak doi hamil besar."


"Kok bisa?" tanya Bayu dan Raihan berbarengan sedangkan para istri hanya diam memperhatikan.


Andika mengusap perut Erna yang terlihat sangat menonjol ke depan hingga banyak yang memprediksikan jika bayi yang di kandungnya adalah anak laki-laki.


"Berasa bumi di genggaman...auwh...." Erna memukul tangan Andika yang mengusap perutnya dengan arah memutar. Yang lainpun tertawa melihat wajah Andika yang meringis menatap sang istri.


"Mamam tuh....kalo ngomong nggak pake saringan! ulah loe itu!" celetuk Andini merasa puas melihat pemandangan yang kini sudah jarang ia lihat karena mereka jarang bertemu.


"Diem loe dek! gue mah cuma bergerak yang berulah tuh si Joni!" sahut Andika menatap tajam Andini.


"Kalo loe nggak banyak polah tuh si Joni juga nggak bakal bertingkah, kalo gue sich yes! gerakan yang menghangatkan dan membuat ketagihan! ya nggak sayang?" mendapat pertanyaan yang mengarahnya membuat Cika merona, iya mengulum senyum tak menjawab.


Ketiga pasang pasutri yang di landa bahagia itu tampak akur dengan segala perdebatan dan ucapan absurd yang mewarnai kebersamaan. Mereka pun berharap kelak anak-anak mereka bisa bersama seperti orang tuanya.


Setelah makan malam Andini merebahkan tubuhnya di ranjang. Raihan memang memintanya untuk segera beristirahat dan ia yang mengecek kedua anaknya sudah tertidur lelap.


"Mbak tolong malam ini jaga anak-anak ya, mbak tidur di kamar sini saja, karena istri saya kecapekan setelah acara tadi siang."


"Baik Tuan," jawabnya sopan.


Raihan segera kembali ke kamar dengan di sambut senyuman manis dari sang istri. Senyuman yang menghangatkan dan yang selalu dirindukan.


Dia melangkah mendekati sang istri, mengecup kening serta bibir Andini dan perut yang sudah tampak membuncit.


"Sini mas!" Andini menepuk sisi ranjang yang kosong meminta Raihan untuk duduk di sampingnya.


Andini segera memeluk Rai dari samping, menghirup aroma tubuh yang membuat candu kemudian menatap Raihan dengan pancaran cinta.


"Makasih ya mas...."


"Buat?"


"Buat semuanya, makasih sudah mencintaiku dan anak-anak, makasih sudah menjadi suami idaman dan makasih sudah menjadi Papah yang baik untuk anak-anak."


Raihan mengembangkan senyum, dengan gemas ia mengecup kening Andini kemudian turun ke bibir dengan sekali sesaapan.


"Sama-sama istriku, aku mencintaimu dan anak-anak. Sehat terus kamu dan selalu mendampingiku hingga rambutku memutih dan kulitku sudah tak kencang lagi. Bahkan tenagaku sudah tak sekuat saat ini dan hari lalu." Raihan mengecup tangan Andini.


Bahagia yang tak dapat terukir dengan kata dan terukur dengan ucapan. Berawal dari kesalahan dan berakhir dengan cinta. Hingga ia mampu melihat perjuangan kedua yang istrinya lalui dengan ia yang selalu mendampingi.


Membesarkan ketiga buah hati dengan kasih sayang dan ketulusan hati, hingga tak terasa kini semua telah terganti. Generasi muda yang melanjutkan tingkah dan polah kedua orangtuanya.


Dengan berbekal pendidikan dan didikan dari orang tua menjadikan Rafkha mampu menjadi sosok Kakak yang bisa menjaga mommy dan kedua adik perempuannya. Sikap yang dingin dan terkesan cuek seperti Daddynya tetapi memiliki sejuta kasih sayang terhadap keluarga.


Lika liku kehidupan yang tak mudah, hingga Raihan dan Andini bisa menikmati masa dimana ketiga anak mereka tumbuh menjadi remaja yang mulai mengenal cinta.


"Mom...."


"Iya sayang! mom di dapur, kalo pulang sekolah tuh jangan kebiasaan teriak-teriak!"


"Mom aku mau kasih info terupdate!"


"Apa sich sayang? jangan buat mommy penasaran!"


"Tapi mommy jangan syok ya, janji!"


"Apa Aara cepat katakan!"


"Tadi Aara lihat Rafkha lagi ciuman sama Tiara mom!"


"Hah......!"


Prang


"Tiara.....bagaimana bisa putraku berciuman dengan adiknya..."


...-Tamat-...


Alhamdulillah aku sudah menyelesaikan karyaku yang berjudul "one night with duda"


Makasih untuk para readers ku sudah setia membaca dan menunggu update bab di setiap harinya.


Makasih juga sudah memberikan ulasan pada tulisanku yang banyak kekurangannya ini. Maaf jika tulisanku masih banyak typo dan ceritanya tidak sesuai dengan apa yang kalian inginkan. Karena ini pure dari kehaluanku.


Ikuti terus aku dan baca karyaku yang sedang on going lainnya, "Istri kedua dosenku dan Menikahi Janda"


Dan nantinya akan ada cerita lain yang akan rilis. Semoga kalian masih setia terus dan sehat selalu🤗🤗🤗


...♥️♥️♥️♥️...


Kira-kira kalo ada lanjutan cerita tentang anak mereka gimana ya🤔