
"Dia adik dari Pak Andika! sekali lagi saya tegaskan pada kalian semua, dia adalah istri saya! Kalian yang tadi menghina istri saya, siap-siap menghadap keruangan Pak Andika!" tegas Rai kemudian beralih menatap Cika. "Dan kamu, angkat kaki dari kantor saya!"
Setelah ucapan tegas dari Rai, suasana kantin mendadak heboh. Semua panik akan kelakuan yang menyeretnya pada kesulitan. Ditengah peliknya ekonomi mereka tak menyadari apa yang di lakukan akan menjadi bencana untuk diri sendiri dan keluarga di rumah.
Cika pun langsung terduduk di lantai tak mengira semua akan berbalik padanya, apa lagi sakit di perutnya semakin terasa. Hingga ia mampu melihat darah segar keluar dari dalam rok kerja miliknya.
Melihat kondisi Cika yang lainnya ikut panik, semakin riuh saja suasana kantin. Cika yang mereka tau juga anak magang yang belum menikah kini terbuka sendiri aibnya jika ia sedang hamil di luar nikah.
Tara yang tadi membeku di tempat setelah mendengar fakta yang ada segera berlari menolong Cika dan membawanya ke rumah sakit. Rintihan Cika semakin terdengar dengan air mata yang terus mengalir. Bukan karena sakit yang ia rasakan saja tapi resiko yang akan ia dapat nantinya belum lagi orang tua yang pasti akan kecewa. Dia sudah tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi ke depan.
Di ruangan Raihan Andini segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sangat di sayangkan sikap Cika justru akan membawanya semakin dalam bahaya.
Sejak di bawa oleh Rai masuk ke ruangannya Andini belum juga membuka suara, ia hanya ingin segera membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian yang kotor oleh kuah kari. Entah apa yang ia rasakan saat ini, semua sudah tau akan statusnya. Bahkan semua yang tadi dengan lantang mencaci kini sedang di tangani langsung oleh sang kakak.
Raihan mengetuk pintu kamar mandi saat pesanan baju ganti Andini sudah datang, dia pun belum bicara apapun sejak tadi dengan sang istri. Hatinya masih kalut dan di selimuti emosi. Andai sejak pagi sang istri jujur atau saat istirahat datang menemuinya mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Diapun merasa bersalah, tak mampu menjaga Andini hingga kecolongan begini.
"Sayang buka pintunya, ini baju ganti di pakai dulu."
Mendengar suara ketukan serta suara Raihan yang telah membawakan baju ganti membuat Andini segera menyelesaikan kegiatannya. Kini tubuh yang tadi bau kuah kari hingga menyengat ke hidung, sudah berganti dengan wangi vanila yang melekat di tubuh. Hingga aromanya menusuk ke Indera penciuman Raihan saat pintu terbuka sedikit dan memperlihatkan tangan sang istri yang terulur keluar pintu.
"Keluar saja sayang pakai baju di kamar!"
"Sini aja mas sekalian, mana bajunya?"
Raihan memberikan satu paperbag yang berisikan dress formal dan pakaian dal@m. Andini tersenyum saat melihat isinya. Ini pasti selera Raihan karena Andini belum pernah memakai model seperti yang ia belikan apa lagi satu set pakaian dal@m dengan warna merah menyala, Andini pun tidak pernah membeli warna yang terang seperti ini.
Raihan memang memilih sendiri lewat aplikasi online, dia tak ingin meninggalkan sang istri sendiri dan tak juga ingin merepotkan orang lain lagi. Menunggu sang istri keluar dari kamar mandi dengan duduk di pinggir ranjang.
ceklek
Mata Raihan berbinar melihat penampilan Andini yang sudah segar dengan dress pilihannya. Membuat Raihan segera mendekat dan memeluknya erat. Mencium aroma tubuh sang istri yang menenangkan, membuat emosinya kian surut.
"Maafkan aku..." lirih Rai masuk ke dalam leher jenjang Andini yang terbuka jelas karena rambut sang istri masih terbungkus oleh handuk.
"Bukan salah mas.."
"Aku gagal melindungimu, tapi aku kecewa kenapa nggak jujur? ada masalah apa hingga terjadi seperti ini?" Raihan mulai merangkai dan menyambungkan sikap beda Andin sejak kejadian pingsan di kamar mandi. Tentang tekanan yang Bayu utarakan saat memeriksa sang istri dan sikap menghindar Andini tadi pagi.
"Duduk dulu yuk mas!" Andini merenggangkan pelukan Rai dan mengajaknya untuk duduk di sofa luar ruangan pribadi milik Rai. Merapikan penampilannya sebentar, dengan rambut basah tapi tak apa karena memang tak ada hair dryer di sana.
"Ada apa?"
"Awalnya semua memang sejak putusnya aku dengan Tara, atau mungkin jauh dari kejadian aku memergoki Tara dengan Cika. Dia tak terima hubungan kami apa lagi pacarnya juga menyukaiku terang-terangan di depannya. Dan itu semakin membuatnya tega menggoda Tara. Hingga tempo hari aku tau faktanya jika ia hamil, tapi dia tak terima jika aku minta Tara untuk menyelidiki anak siapa sebenarnya yang ia kandung. Dia semakin marah saat tau Tara menolak tanggung jawab dan menuduhku masih ada rasa."
"Apa benar masih ada rasa?" tanya Rai menatap dalam Andini.
"Mas, aku hanya peduli sebagai teman. Karna kasian Tara jika itu memang bukan anaknya. Yang aku tau sebelum kejadian itu Cika menangis meminta pertanggungjawaban Leo."
"Lalu perasaanmu bagaimana?"
"Perasaan apa?" tanya Andini balik.
"Cintamu saat ini?" lirih Rai mengunci pandang .
Andini tertunduk saat mengerti apa yang Rai maksud, lidahnya kelu untuk sekedar menjawab dan mengutarakan isi kalbu. Wajahnya pun sudah bersemu hingga ingin menghindari tatapan sang suami yang semakin lekat.
"Gimana sayang? apa sudah ada aku apa masih ada dia?"
Andini diam, masih dengan posisi yang sama hingga Rai mulai paham jika diamnya sang istri karena membuatnya berkesimpulan jika memang belum ada rasa untuknya. Hingga Rai mulai menggeser duduknya dan bersandar sofa dengan mata terpejam.
Pasrah, mungkin itu yang kini akan ia lakukan. Tak ingin memaksa hanya mampu berusaha terus memberi kasih sayang untuk sang istri agar mau lebih membuka hati. Kesempatan yang Andini berikan saja sudah sangat berarti dan ia akan lebih sabar lagi menunggu sang istri membalas cintanya.
Rai diam memijat pelipisnya, tepi begitu terkejut saat ia merasakan tubuh Andini yang naik ke pangkuan hingga membuat matanya terbuka sempurna. Masih tak mengerti Raihan melihat sang istri yang hanya diam menatap tanpa berucap.
"Sa... mmppfff...." mata Raihan membola mendapatkan serangan dari sang istri, hatinya tersentuh dan berfikir mungkin ini cara Andini mengekspresikan tanpa ingin mengucapkan.
Andini sudah menerobos benteng pertahanannya, melihat Raihan berubah sikap ia takut Raihan salah paham padahal sejak malam kedua ia menyerahkan tubuhnya pada sang suami saat itu juga hatinya terbuka lebar dan mencintai Raihan walaupun belum ia tunjukkan.
Raihan menarik pinggul Andin hingga semakin rapat tak bersekat, ia tak ingin menyia-nyiakan dan semakin memperdalam. Menghisap kuat menyalurkan isi hati dengan rasa lega dan bahagia. Saling memberikan, mengungkapkan lewat indera perasa yang saling membelit kuat menimbulkan suara decapan yang indah terdengar. Hingga keduanya semakin mempererat pelukan tak ingin melepaskan.
"Aku mencintaimu sayang...makasih sudah membalas cintaku."
"Aku pun sama mas, sama-sama suamiku."
Keduanya kembali menyatukan indera perasa setelah saling mengungkapkan cinta.