One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 47



Andini tersenyum dan memberanikan diri mengecup bibir Raihan.


Menerima serangan kecil dari sang istri tentu tak membuat Raihan ingin menyia-nyiakannya begitu saja, ia menahan tengkuk Andini dan melummaat bibir mungil yang singgah tanpa salam. Menyesaap dan mengecaap benda kenyal yang membangkitkan hasrat.


Andini sedikit terkejut dengan pergerakan Raihan yang begitu cepat saat bibirnya hanya ingin mengecup dan melepas. Dia yang masih perlu banyak bimbingan tak mengira akan menerima perlawanan. Awal terkejut tapi selanjutnya dia mulai luluh, Andini melakukan apa yang Raihan lakukan padanya. Untuk berciuman ini bukan hal yang pertama bagi keduanya tentu saja Andini sudah pandai mengimbangi.


Wanita itu tau apa yang Rai inginkan membuka akses agar lidahnya menerobos pembatas, mengeksplor dan mengabsen seluruh yang ada di rongga mulut Andin. Bergerak lincah membelit lidah yang mulai pandai melawan. Saling membelit dan semakin dalam.


Tangan Rai mulai tak diam, ia memeluk tubuh Andin hingga begitu dekat tanpa sekat. Merasakan kehangatan yang ia rindukan, mencengkeram pinggul Andin dengan geregetan. Hingga lenguhan dari mulut Andin membakar semangat Rai yang bergelora.


Raihan membalikkan tubuh Andini memberikan dorongan lembut hingga tubuh istrinya bersandar pintu. Tangannya dengan cepat mengunci pintu dan kembali menyentuh pundak Andin. Tangan Andini mulai terangkat bertengger di leher Rai, keduanya semakin hanyut dalam gejolak yang begitu panas.


Raihan menanggalkan kimono tipis berbahan satin yang sejak tadi begitu menggodanya. Memperlihatkan pundak polos dengan dress berbahan sama yang masih melekat menutupi tubuh Andini sebatas paha. Ini lah keuntungan Raihan sejak awal menikah, tapi siksaan juga bagi dirinya. Andini terlalu cuek tak memikirkan dirinya setiap malam, memakai pakaian tidur sexy yang selalu mengekspos pahanya dan dada yang rendah.


Mata Raihan berbinar melihat dua gundukkan yang mulai menantangnya untuk singgah. Lenguhan Andini semakin menjadi, kecupan serta gigitan kecil mulai turun di leher jenjangnya dengan sapuan lidah yang memberi sensasi yang membuat suara manjanya mendayu di telinga Rai.


Tangan yang sejak awal mulai gatal kini berhasil menekan lembut dua bola yang lumayan besar baginya. Volume memenuhi tangan besar Rai, meremaaat halus membuat sang istri semakin kewalahan dengan racauan yang semakin tak karuan. Ruangan kedap suara aman bagi keduanya, Raihan yang sudah ahli begitu sabar mengawali. Tak ingin terburu-buru karena ingin menghapus kesan di awal yang membuat Andini ragu untuk mengulang malam panas itu.


"Maass......"


Suara yang benar-benar membakar biraahi Rai, di bawah sana sudah begitu mendesak ingin di keluarkan. Beberapa kali Joni mengetuk minta di buka tapi Rai hanya memberi tekanan ke tubuh Andini agar sedikit tenang.


Andini benar-benar di buat gila, sentuhan yang Rai berikan begitu halus tetapi menantang nalurinya. Membawanya terbang hingga kepalanya sejak tadi menengadah dengan dada membusung ke depan, entah sadar atau tidak pose Andini begitu liar. Tak seperti dirinya dalam keseharian yang cukup kalem walaupun ucapannya yang terkadang bar-bar.


Raihan mengangkat tubuh Andini dengan membiarkan kaki sang istri mengapit langkahnya. Perlahan membawa Andin untuk menepi di peraduan, merebahkan tubuh Andin dengan wajah sang istri yang tampak memerah. Menanggalkan pakaian dress tidur Andin yang sudah menyingkap. Hingga tertinggal dua pembatas yang membuat matanya semakin berbinar.


Andini mengalihkan pandangan, cukup malu saat Rai berhasil membuang selembar kain satin dari tubuh nya. Apa lagi gerakan cepat Rai yang saat ini sudah menanggalkan pakaiannya hingga tak tersisa. Merangkak naik ke ranjang dan memposisikan diri di atas Andini yang sejak tadi membuang muka.


"Sayang, suamimu di sini," Rai menarik dagu Andini hingga mampu mengunci pandang sang istri. Menatap dalam dengan tatapan penuh damba dan hati yang bahagia. Mengecup bibir yang sejak tadi memberi rasa manis tiada henti. Hingga kembali membawa Andini hanyut dalam singgasana cinta yang ingin memulai penyatuan.


Polos....tangan terampil Rai sudah kembali melempar kedua penutup terakhir di tubuh sang istri.


"Indah......" senyuman penuh hasraat dengan tatapan memuja melihat pemandangan yang begitu indah. Bukit permai yang masih kencang dan lembah yang di tumbuhi sedikit ilalang yang begitu sexy.


Sedikit bermain di bawah agar Andini tak tegang, membuatnya rileks agar Joni masuk dengan lancar.


Senyuman mengembang di wajah Rai kala mampu meluluhkan di sesi pemanasan. Mantan duda yang handal dan sudah begitu mahir di bidangnya kini kembali menghujani Andini dengan kecupan sayang. Cintanya semakin bertambah saat racauan Andini menyebut namanya dengan manja. Hal yang Raihan rindu, mengulang kembali kejadian yang membuat kedua keluarga bersatu.


Tak terbayang oleh Rai menjadikan Andini istri dan membawanya masuk ke dalam rumah yang dulu bagai neraka. Bahkan kamar yang dulu hampir tak berpenghuni kini sudah mulai di warnai dengan lenguhaaann Andini malam ini dan malam-malam berikutnya.


"Mas si Joni nggak bisa di kecilkan sedikit? sumpah masih sakit banget rasanya. Pelan-pelan...." keluh Andini saat hujaman pertama ia rasakan kembali. Rasanya tak jauh beda saat pertama, mungkin karena belum terbiasa dan sempat tak di gunakan.


"Nggak bisa dong sayang, hanya sebentar. Sabar ya kamu akan merasakan pesonanya setelah ini. Ijinkan aku masuk sedikit lagi sayang.." Raihan mengecup kening Andini begitu dalam. Menggumamkan doa dan harapan yang terselip di hatinya. Matanya basah saat ia berhasil kembali memasuki sang istri dengan benar, tak seperti di awal dengan nafssu yang mendominasi di dirinya.


"Mas Raii....."


"Maaf sayang, ini karena belum terbiasa."


Awal yang menyakitkan tapi berujung kenikmatan, Andini yang awalnya sempat mencengkeram lengan Rai hingga kukunya membekas di sana kini sudah kembali membawa kedua tangannya memeluk leher Rai yang sedang bergerak di atasnya.


Sahut menyahut suara keduanya memenuhi kamar, dengan keringat mengucur dan saling membaur. Akhirnya penyatuan yang Rai tunggu-tunggu dapat terlaksana. Penantian meluluhkan hati sang istri berhasil juga. Hingga ia kembali merasakan bahagia dan cinta yang membuncah di dada.


Kecupan sayang terselip di gerakannya yang membuat Andini tak mau diam hingga lupa jika tadi ia sempat menolak. Tangan Raihan yang tak mau diam jelas membuat Andini semakin bergerak liar, mengimbangi gerakan hingga mampu menguasai tubuh Rai yang mulai memberi akses untuk Andini mengeksplor kemampuannya.


Hampir dua jam dengan peluh yang sudah membasahi sprei, pergulatan yang memberi kesan panas hingga keduanya tak mampu menahan kala gejolak di dalam diri minta dihempaskan.


"Andini sayang mas sampai...."


"Maasss....."


Tubuh Rai ambruk di samping sang istri, setelah dua tahun menduda, malam ini malam yang benar-benar istimewa. Walaupun sebelumnya sempat terjadi hal yang sama dengan sang istri, tapi situasi yang berbeda dan bercampur rasa bersalah.


"Makasih sayang," Raihan menarik tubuh Andini kepelukan. Mengecup pundak polos Andini dan menarik selimut untuk menutupi keduanya. Tak ada kata yang keluar dari mulut Andini, dia hanya diam memejamkan mata merasakan sisa-sisa pertarungan yang membuatnya begitu lelah.


"Aku mencintaimu sayang...."


...****************...


Haaahhhh akhirnya sampai di sesi ini, kembang goyangnya jangan lupa ya. Like, coment, vote biar othor makin semangat 🤗🤗