
Andini terbangun setelah Raihan memberikan minyak angin di hidungnya dan simbok memijat kaki Andini. Perlahan matanya terbuka dan melihat sekitar. Tapi kemudian ingatannya kembali akan ucapan suaminya.
"Sayang..."
"Mas..." lirih Andini dengan memegang perut ratanya.
"Sayang, sudah jangan di pikirkan. Kita periksa ke dokter ya. Toh jika memang kembar akan dapat adik, aku ikhlas. Ini rejeki yang sangat besar. Seharusnya kita bersyukur dan menjaganya sayang." Dengan sabar Raihan memberi pengertian pada istrinya. Ia tau Andini syok hingga pingsan.
"Tapi kembar masih kecil mas, bahkan baru 4 bulan. Masih asi dan masih banyak butuh perhatian kita. Lalu bagaimana jika aku hamil lagi mas?" Andini dilema, apa lagi sebagai ibu ia harus membagi kasih sayang pada kedua anaknya dan di tambah lagi dengan keberadaan adik mereka.
Apa dia mampu....apa dia bisa....sedangkan sekarang saja masih suka merepotkan orang lain.
"Jangan terlalu di pikirkan sayang, Allah sayang sama kita. Memberikan rejeky yang melimpah, kelak mereka akan menjadi anak Sholeh yang mendoakan kedua orangtuanya."
Andini terdiam, dia memikirkan semua ucapan yang Raihan lontarkan. Berusaha untuk tenang namun setelahnya ia teringat akan KB yang selama sebulan ia minum.
"Mbok...."
"Iya nduk.." pijitan terhenti, simbok menatap wajah gelisah Andini seperti ada yang ingin di tanyakan padanya.
"Andini kan udah magerin pake pil mbok, tapi kenapa masih numbuh juga? apa pil nya kw mbok? atau abal-abal?" tanyanya ragu, "Atau jangan-jangan aku nggak hamil mbok. Hanya masuk angin biasa?"
Simbok sempat diam mendengar banyaknya pertanyaan Andini tapi kemudian dia ingat dengan tetangganya yang dulu juga marah-marah karena gagal KB.
"Nduk, dulu simbok punya tetangga. Sama seperti ini juga, marah, nggak terima, bingung, kalut. Dia sudah KB tapi masih punya anak lagi. Mana dia orang sederhana yang bingung mau kasih makan apa nantinya. Setelah di periksa dan di tanyakan lagi. Ternyata ada satu hari yang ia lupa meminumnya nduk."
Andini teringat akan pil KB yang ia minum selama ini, setelah itu ia meminta Raihan mengambilnya lengkap dengan testpack yang masih belum terpakai.
"Mas tolong ambilkan Pil ku dan testpack di laci mas, aku mau mengeceknya."
Raihan segera turun dari ranjang dan mengambil apa yang Andini pinta. Andini memejamkan mata saat tau alasannya, ada pil yang lupa ia minum, bukan cuma satu tapi ada tiga.
Mungkin saat serangan fajar datang dan ia lelah hingga tak teringat akan pentingnya obat itu.
Ceklek
Raihan nampak cemas melihat wajah pucat istrinya, ia sejak tadi menunggu di luar kamar mandi. Sedangkan Andini mengeceknya di dalam sana. Dan simbok turun kebawah membuatkan teh hangat untuk Andin.
"Bagaimana sayang?"
"Aku harus bahagia atau sedih mas?" lirihnya dengan menatap Raihan dengan rasa yang tak karuan.
"Apa hasilnya?"
"Joni harus di hukum, dia terlalu aktif hingga ingin membuatku gendut lagi!"
Senyum Raihan mengembang, rasa syukur terukir di bibirnya. Pria itu segera menciumi seluruh wajah Andini hingga berakhir di perut sang istri.
"Sehat-sehat ya anak Papah, papah sayang kalian."
Cup
"Makasih sayang.."
Raihan memeluk tubuh Andini, rasa haru menyelimuti keduanya. Melihat Raihan yang begitu antusias dan bahagia membuat hati Andini lega dan ikut bersyukur dengan apa yang telah Tuhan titipkan.
"Kita sarapan terus ke rumah sakit ya!" Raihan merenggangkan pelukannya, menatap sang istri yang mulai tenang dan lebih menerima.
"Nggak sayang, aku ambil libur hari ini. Aku mau pastikan sendiri anakku sehat dan baik-baik saja. Setelah itu aku akan berkerja lebih giat lagi untuk kalian."
Air mata Andini menetes, ia tak menyangka akan sebahagia ini melihat sang suami begitu semangat. Andini pun tak pernah melarang kegiatan Raihan yang semakin padat. Dia hanya bisa mendoakan agar suaminya selalu di beri kesehatan dan perlindungan.
Karena suksesnya Raihan tak hanya ia yang merasakan, seluruh keluarganya pun ikut mendapatkan berkahnya.
" Bagaimana Dok?" tanya Rai saat dokter mulai meletakkan alat USG dan mencari titik dimana anak mereka tumbuh.
"Ini dia Pak, Alhamdulillah ya. Masih sangat kecil tapi Pak Bu, mudah-mudahan sehat terus. Dan di kehamilan kedua ini, tunggal ya pak."
"Alhamdulillah," keduanya tampak lega, terlebih Andini. Lega karena yang tumbuh satu bukan dua. Betapa repotnya dia jika kembali mendapatkan baby twins.
"Padahal aku sudah KB loh dok!" keluhnya setelah kembali duduk dan menunggu resep yang sedang di tulis oleh dokter.
"KB itu kan obat, masih dengan kendali manusia. Tapi jika tuhan berkehendak apa lah arti KB. Hanya setelah kehamilan kedua ini saya sarankan lebih berhati-hati lagi. Karena kesehatan dari mamahnya juga harus di pikirkan."
" Niatkan kb untuk penunda bukan untuk pencegah. Karena rejeki semua sudah di gariskan dan tidak untuk di tolak. Selamat ya, bayinya masih sangat kecil dan kandungan masih sangat muda jadi jangan kecapekan."
"Lalu bagaimana saya mengurus kedua anak saya Dok?"
" Di atur saja untuk jam makan, istirahat, jangan sampai kelelahan. Beraktivitas boleh banget, tidak di larang. Hanya saja harus dengan porsinya. Dan peran papahnya sangat di perlukan."
"Tentu dok, terima kasih."
Keduanya keluar dengan hati lega, saling berpegangan tangan dan melempar senyuman.
"Langsung pulang atau mau mampir kemana dulu?" tanya Rai yang ingin memanjakan istrinya, selagi ada waktu luang.
"Mau makan bebek goreng boleh?"
"Boleh donk sayang."
Keduanya berjalan menuju lobby setelah selesai menebus obat. Tapi seketika langkah keduanya terhenti saat melihat kedua orang yang mereka kenal berjalan dengan wajah pucat.
"Bayu!"
"Rai!"
"Cika, loe mau lahiran?" tanya Andini yang tau persis dengan wajah pucat Cika dan bulir keringat di keningnya. Sudah di pastikan ia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Iya Din, " jawabnya dengan menyisipkan senyum.
"Oh iya, ya udah Kak Bayu cepet di bawa keruang bersalin! pake kursi roda kek kak, kasian itu jalannya aja udah berat! loe mah gimana sich tau bikinnya doank!" oceh Andini yang segera bergerak aktif mengambil kursi roda dan memberikan pada Cika.
"Sayang hati-hati! kamu juga lagi mengandung, jangan buru-buru gitu jalannya!"
Ucapan Raihan membuat Cika dan Bayu menganga tak percaya, menatap keduanya dengan bergantian hingga rasa mulas Cika dan rasa panik Bayu hilang seketika.
"Loe bunting lagi?"
Andini dengan polos menganggukkan kepala, melihat keduanya dengan tatapan heran. Hingga suara Bayu memecahkan keheningan.
"Gila, itu Joni gas pol ya. Baandit...."