Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
99. Pengakuan Rakha



Sebuah pertanyaan menarik baru saja terlontarkan. Tak ayal, semua yang ada di sana turut penasaran dengan jawaban Dara. Karena mereka semua tahu bahwa Dara sedang ditinggal sang kekasih ke Amerika. Tentunya jawaban Dara ini akan sangat menarik untuk dinantikan.


"LDRan selama lima tahun," jawab Dara tanpa berpikir panjang.


Semua orang lantas terkejut dengan jawaban Dara yang cukup cepat dan terdengar sangat yakin. Terlihat Dara sama sekali tak terbebani dengan pertanyaan itu.


"Wuih seriusan lo, emang lo bakal kuat? Lima tahun loh," ucap Bimo, satu-satunya orang yang meragukan Dara.


"Itu tandanya Dara cewek setia. Gimana sih lo," timpal seseorang yang tadi memberikan pertanyaan.


"Ah gue yakin, Dara ngomong gitu karena baru beberapa hari aja ditinggal. Coba aja pas udah setahun dua tahun, mungkin ceritanya beda lagi," tambah Bimo terkesan meremehkan.


"Lo laki-laki mulutnya julid bener yah," ucap seorang lainnya merasa geram.


"Ya sorry, gua mah cuma ngasih pendapat doang," timpal Bimo masih bisa santai.


Mood semua orang mendadak buruk gara-gara ulah satu orang. Kebanyakan dari mereka, terutama kaum hawa mendelik ke arah Bimo, karena mereka juga kesal dengan penyataan Bimo yang tak berperasaan. Namun tidak dengan Dara, ia hanya menyikapinya dengan santai, ia hanya tersenyum saja. Ia tak terlalu mempermasalahkan itu, karena menurutnya, semua orang boleh berpendapat.


Lalu Rakha, ia sama sekali tak menghiraukan Bimo. Jawaban Dara yang bersedia berhubungan jarak jauh selama lima tahun, itulah yang sedikit mengganggunya.


"Dah lah, mending kita lanjutin lagi."


Permainan pun diputuskan kembali berlanjut. Seseorang memutarkan botolnya lagi. Dan korban selanjutnya yang menjadi sasaran adalah...


"Rakha!!" ucap mereka serentak. Mereka begitu senang saat sang ketua ikut terkena juga.


"Truth or dare?"


"Truth," jawab Rakha cepat.


"Wah kesempatan bagus nih. Siapa yang mau nanya?"


"Gue! Gue aja! Gue aja!" ucap seseorang dengan bersemangat. Dan orang itu adalah Putri.


"Gue mau tanya. Kita kan sering banget barengan. Latihan bareng, tanding bareng. Karena keseringan barengan, ada gak sih di antara cewek-cewek ini yang bikin Kakak kepincut. Istilahnya cinlok gitu. Ada gak?" tanya Putri tanpa ragu terhadap kakak kelasnya.


"Bagus juga pertanyaannya, gue juga pengen tau," timpal seorang perempuan yang merupakan teman sekelasnya Rakha. "Ayo Rakha, jawab dong," ucapnya lagi tak sabaran.


"Ada," jawab Rakha tak lama.


"Wuih siapa tuh, sekalian sama namanya dong," pinta perempuan tadi.


"Gak usah, kasihan, nanti malu lagi," celetuk seseorang lainnya.


"Ya gak papa kali, biar kita gak penasaran. Iya, nggak?"


Sebagian orang penasaran dengan nama dari perempuan yang dimaksudkan Rakha. Namun ada sebagian lagi yang tak setuju, karena mereka pikir, jika Rakha sampai menyebutkan nama itu, bisa-bisa kecanggungan akan terjadi.


Di saat semua orang penasaran dengan jawaban Rakha, sialnya Rakha malah tak kunjung mengeluarkan suara. Rakha tak menolak maupun memberitahu. Hal itu membuat geram seseorang.


"Ah! Rakha nya juga gak asik nih! Masa diem aj-"


"Namanya Adara Leona," sergap Rakha pada akhirnya.


Jawaban tak diduga-duga Rakha jelas saja membuat orang-orang terkejut. Mereka serentak melotot dengan mulut yang sama-sama menganga. Apalagi orang yang tadi disebutkan namanya. Level keterkejutan Dara melebihi yang lain. Tubuh Dara seketika membatu, bagaikan habis tersetrum listrik bertegangan tinggi.


Kak Rakha nyebut nama gue? Apa gak salah? tanya batin Dara seakan tak percaya dengan keberanian Rakha.


"Parah lo. Cewek punya orang loh ini," ucap perempuan yang satu kelas dengan Rakha tadi.


"Emang kenapa? Emang cinta sebuah kejahatan? Lagian gue gak ngerebut ini."


Untuk kedua kalinya mereka dibuat terkejut dengan pernyataan Rakha. Kini mereka merasa seperti tak sedang menghadapi Rakha. Rakha yang mereka kenal adalah Rakha yang sangat tertutup apalagi mengenai hal percintaan. Lalu, mengapa kini ia mendadak menjadi orang yang berbeda?


Dan benar saja, akibat pengakuan Rakha tadi, suasana berubah menjadi begitu sunyi, senyap, canggung, dan kaku. Saking sunyinya, suara jangkrik malam bahkan bisa terdengar jelas di telinga mereka. Tak ada yang berani membuka suara lebih dahulu. Semuanya bingung, harus bagaimana mereka menimpali omongan Rakha.


Kekakuan itu terus berlarut-larut. Mereka saling melempar pandangan berharap ada seseorang yang berani memecah keheningan. Namun sayangnya tak ada, mereka semua masih saling diam.


"Udah malem, balik aja yuk," ucap seorang penyelamat pada akhirnya.


...****************...


Acara barbequean telah selesai dilaksanakan. Satu persatu semua berpergian untuk pulang. Dari lima belas orang yang hadir, tersisa satu orang lagi yang kini belum pulang. Orang itu masih berdiri di depan rumah Rakha untuk menunggu jemputan dari kakaknya.


"Iya, Kak."


"Pulangnya mau gue anter?"


"Gak usah Kak. Abang gue lagi perjalanan ke sini," tolak Dara.


"Oh gitu."


Setelah itu Rakha diam, dan Dara pun terdiam, menciptakan suasana hening dan canggung. Wajar saja mereka begitu, kejadian tadi sudah cukup menjadi alasan mengapa mereka menjadi kaku seperti sekarang ini.


Dara memainkan jari-jemarinya karena tak tenang. Kecanggungan ini sungguh menyiksanya. Ingin sekali Dara cepat-cepat sampai ke rumah, namun sialnya Andra tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


"Dara," panggil Rakha tak lama.


"Hmm-yah?" balas Dara sedikit gelagapan.


"Maaf atas pengakuan gue tadi."


Di saat Dara sedang berusaha melupakan kejadian tadi, Rakha malah membahasnya lagi. Alhasil kecanggungan semakin menjadi. Dara pun bingung harus menimpalinya bagaimana, mulutnya juga serasa kaku untuk digerakkan.


"Oh... yah... yah. Gak... papa," balas Dara tergagap-gagap.


"Gue tahu, lo sekarang gak nyaman karena itu. Gue minta maaf," ucap Rakha kembali melontarkan kata maaf kepada Dara.


"Iya Kak. Santai aja."


Walaupun Dara meminta Rakha untuk santai, namun percayalah, di dalam hatinya, ia sama sekali tak seperti itu. Jangankan santai, bersikap seolah tak ada apa-apa saja sulitnya luar biasa.


"Gue gak mau nyesel, Dara. Jadi gue ngakuin itu," kata Rakha lagi.


Pengakuan Rakha kali ini sedikit membingungkan Dara. Ia tak cukup paham dengan penyesalan yang dikatakan Rakha. "Hm... maksudnya?" tanyanya dengan pandangan yang sudah berani menatap Rakha.


Sekilas Rakha membalas balik tatapan Dara. Untuk sesaat pandangan mereka saling terkoneksi. Saat Rakha menatap gadis itu, ia terpikirkan suatu hal yang semestinya ia sampaikan kepada Dara. Sesuatu yang amat penting baginya dan sudah lama ia pendam. Dan Rakha pikir, inilah saat yang tepat bagi Dara tuk mengetahuinya.


Rakha memutus koneksi mata itu dan memandang lurus ke depan.


"Dari awal gue liat lo, tepatnya saat lo daftarin diri ikut taekwondo. Di situ gue udah tertarik sama lo. Ditambah kita yang sering latihan bareng, tanding bareng, perlakuan baik lo ke gue, tingkah unik dan lucunya lo di depan mata gue, ngebuat gue semakin yakin kalo gue itu emang ada rasa sama elo. Dan keinginan gue untuk memiliki lo itu lama-kelamaan semakin besar," tutur Rakha mulai menjelaskan isi hatinya.


Dara yang berdiri di samping Rakha, ia cukup tertegun dengan apa yang baru saja Rakha ungkapkan kepadanya. Ia juga tak menyangka bahwa Rakha menyukainya sejak kali pertama mereka bertemu. Jujur saja Dara sama sekali tak menyadari itu. Justru ia baru curiga saat Ruby menyadarkannya dimana posisinya saat itu sudah dekat dengan Abhay. Sebelum itu, Dara sama sekali tak sadar.


"Bahkan ada satu hari dimana gue hampir aja ngungkapin perasaan ini ke lo. Jujur aja, gue mau nembak lo. Tapi sayangnya, hari itu dirusak saat ada kejadian di kantin itu. Kejadian saat lo dan Abhay yang katanya berpacaran. Walaupun gue tau itu hanya permainan, tapi rasanya gak pas kalo gue nyatain perasaan gue pada hari itu juga," lanjut Rakha.


Rakha teringat betul, hari itu, ia sudah menyiapkan diri untuk mengungkap perasaannya kepada Dara saat waktu pulang tiba. Namun, di waktu istirahatnya Rakha tiba-tiba diberi tahu temannya mengenai Dara dan Abhay yang berpacaran. Akibatnya, rencana untuk menyatakan perasaan, Rakha memutuskan untuk menggagalkannya.


"Jadi gue memutuskan untuk ngulur waktu lagi, dan akan nunggu sampe kalian bosen sama permainan kalian sendiri," ucap Rakha. Kemudian Rakha menarik salah satu sudut bibirnya dan tersenyum miris. "Tapi siapa sangka. Kalian malah kejebak sama permainan kalian sendiri."


Kini ada dua hal yang Dara pikirkan sepanjang ia mendengar pengakuan dari Rakha. Yaitu mengapa Rakha berani berterus terang seperti sekarang ini? Dan apa tujuan Rakha dengan mengatakan hal itu kepadanya?


"Tapi... kenapa Kakak ngasih tau ini ke gue?" tanya Dara, ia sudah kelewat penasaran.


"Percis sama apa yang gue bilang di awal. Gue gak mau nyesel untuk kedua kalinya. Setidaknya setelah gue ngungkapin ini ke lo, walaupun terlambat, tapi ada kepuasan di dalam diri gue. Gue ngerasa lega. Akhirnya gue bisa ngungkapin perasaan yang udah lama gue pendam. Apalagi, gak lama lagi gue mau keluar SMA. Gue gak mau mendem perasaan ini terus-menerus. Jadi gue rasa, ini adalah saat yang tepat untuk ngungkapin semuanya," jelas Rakha.


Setelah itu tak ada pembicaraan lagi diantara mereka. Mereka kembali terdiam, sama-sama sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga suara klakson motor menjadi pemecah keheningan mereka.


Suara klakson motor itu terdengar dari luar gerbang. Rakha menduga bahwa suara itu berasal dari motor kakaknya Dara. "Abang lo kayanya udah dateng," ucapnya pada Dara.


"Iyah Kak, kalo gitu gue pamit yah Kak. Makasih buat acara makan-makannya," ujar Dara sekaligus berpamitan.


Dara pun mulai melangkahkan kakinya berjalan keluar rumah Rakha. Saat ia hendak membuka gerbang luar, Rakha tiba-tiba memanggil namanya.


"Dara!"


Spontan Dara pun kembali membalikkan badannya. "Ada apa, Kak?"


"Sekali lagi gue minta maaf kalo pengakuan gue ini bikin lo gak nyaman." Untuk kesekian kalinya Rakha meminta maaf.


Dara hanya mengangguk kecil sembari tersenyum simpul untuk mengiyakan. Lalu Dara kembali membalikkan badannya. Ia pun mendesah berat dengan batin yang berbicara pada dirinya sendiri.


Maafin gue juga Kak, kalo Kakak kecewa sama gue. Tapi kalau pun saat itu Kakak jadi nembak gue, gue gak yakin untuk menerima Kakak. Karena gue hanya akan menerima cinta dari seseorang yang udah buat gue sadar bahwa cinta itu memang ada. Dan satu-satunya lelaki yang berhasil menyadarkan gue adalah Kak Abhay.