Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
85. Kecurigaan



Benda yang melingkar di pergelangan tangan Dara sudah menunjukan pukul 06.45. Namun tak seperti biasanya, di jam itu Abhay belum juga menunjukan batang hidungnya. Biasanya pada pukul 06.30 Abhay dengan setia sudah duduk di depan teras rumah Dara. Tetapi hari ini tidak, baunya saja belum tercium oleh Dara.


"Kak Abhay kemana yah? Tumben banget jam segini belum ngejugrug di depan rumah."


Karena tak sabar, Dara berjalan menuju ke luar gerbang, ia akan menunggu Abhay di pinggir jalan. Ia terus menengok ke arah kanannya, berharap sebuah motor ninja merah akan muncul di depannya. Beberapa menit Dara menunggu di sana, namun Abhay sama sekali tak menujukkan kedatangannya.


"Apa gue telpon aja yah?" Baru saja Dara hendak memencet nomer Abhay, tak lama ia jadi ragu sendiri. "Eh tapi kalo lagi di jalan gimana? Malah ngeganggu nantinya."


Dara pun tak jadi menelpon Abhay. Ia kembali mengedarkan pandangannya pada jalanan. Dengan sabar Dara kembali menunggu Abhay, namun tetap, motor ninja merah yang biasa ia tunggangi itu belum juga menampakkan hilalnya. Malahan yang ia lihat sebuah benda besi biru beroda empat. Sebut saja itu taksi.


Dara hanya melihat sekilas taksi itu, ia kembali memfokuskan dirinya untuk melihat jalanan. Namun saat taksi itu sudah dekat dengannya, tanpa diminta olehnya, taksi itu malah berhenti tepat di depannya.


"Maaf Pak. Saya gak pesen taksi," seru Dara pada sang sopir.


Tepat saat ia mengatakan itu, pintu belakang mobil itu tiba-tiba terbuka, lalu segera menampakan seseorang di sana.


"Ayo masuk," ajak orang itu.


Dara membelalakkan matanya, ia cukup terkejut melihat orang itu. Mengapa ada sang kekasih di dalam sana? "Kak Abhay? Kenapa naik taksi?" tanyanya heran.


"Masuk dulu yuk."


Dengan jiwa setengah linglung, Dara masuk ke dalam taksi itu setelah Abhay menyuruhnya. Ia duduk di samping Abhay dengan mata yang terus menatap cowok itu heran.


Seolah mengerti apa yang sedang Dara pikir kan, Abhay membuka suaranya. "Motor gue di servis." Abhay mengeles. Ia belum siap menceritakan kepada Dara tentang kejadian sebenarnya.


"Bukannya gue matre atau gak mau naik taksi. Tapi kan Kakak punya mobil. Kenapa gak bawa mobil aja?" tanya Dara cukup cerdik.


Abhay pun dibuat membeku saat diberi pertanyaan itu. Bodohnya dia sampai tak berpikiran sampai ke sana. Lalu jika sudah begini, apa yang seharusnya ia katakan?


"Hmm... gu-gue... " Abhay tergagu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia berpikir keras untuk mencari alasan lain. Namun sayangnya, otaknya tak ingin bekerja sama dengannya. Ditambah Dara yang terus menatapnya penuh curiga, ia sama sekali jadi tak bisa berpikir.


"Hoam... gue masih ngantuk. Gue pinjem pundak lo yah."


Akhirnya jurus menghilang yang bisa Abhay keluarkan. Dengan sangat sopannya Abhay merebut pundak Dara yang kosong untuk dijadikan sandaran tidurnya. Ia berpura-pura tidur, dan membiarkan Dara terbelenggu dalam kebingungan.


Maafin gue Dara. Gue belum siap.


...****************...


Jam pelajaran telah berganti. Sambil menunggu guru selanjutnya akan masuk, Dara dengan isengnya mencoret-coret bukunya dengan pikiran entah kemana.


"Dara, tugas makalahnya Bu Yati mau kapan dikerjainnya?" tanya Ruby, namun Dara tak menghiraukan seruannya, Dara begitu fokus dengan kegiatannya saat ini.


"Dara?"


"Woy Dara!"


Teriakan Ruby berhasil membuat Dara terlonjak kaget. Ia menoleh pada Ruby dengan wajah kesalnya. "Apa sih, By! Ngagetin gue mulu!"


"Ya lo ditanya malah ngelamun. Tuh. Malah corat-coret buku gak jelas gitu lagi," ungkap Ruby dengan mata yang mengarah pada hasil karya Dara.


Dara melihat apa yang Ruby maksud. Ia sendiri cukup terkejut dengan apa yang sudah ia lakukan. Buku tulis yang sebelumnya putih bersih kini sudah dipenuhi oleh guratan tinta hitam. Lalu ia melihat isi pulpennya, dan ternyata isi pulpennya sudah habis cukup lumayan. Dara membanting pulpen itu dengan kesal, dan merutuki dirinya yang sudah kelewat bodoh.


"Lo kenapa si?" tanya Ruby cukup heran dengan sikap aneh Dara.


"Gue mikirin sesuatu," kata Dara.


"Mikirin apa? Cerita dong sama gue, kali aja gue bisa bantu."


Dara sejenak berpikir, haruskah ia memberi tahu Ruby sesuatu yang kini tengah menganggu otaknya? Namun setelah ia pikir-pikir, tak ada salahnya juga ia memberitahu Ruby, toh bisa saja Ruby menjawab kebingungannya saat dia memberi tahu.


"Kak Abhay tingkahnya agak aneh," ungkap Dara.


"Aneh? Aneh gimana?" tanya Ruby terheran-heran. Kemudian dengan secepat kilat otak Ruby healing begitu jauh. Ia telah menduga suatu hal paling buruk tengah menimpa Dara. Ia membelalakkan matanya cukup lebar.


"Owh... jangan-jangan lo curiga Kak Abhay selingkuh yah?! Apa dia gak bales chattingan-nya elo?! Atau dia jarang main ke rumah elo lagi?! Atau dia jadi cuek sekarang?! Atau..."


"Lo ngomong apa sih, By?! Gue aja belum ngomong apa-apa. Kok lo malah nebak-nebak aneh kaya gitu sih," sergap Dara cukup kesal. Baru saja ia mengatakan kata aneh, namun Ruby lebih aneh lagi, cewek itu malah berpikir yang tidak-tidak.


"Hehehe. Ya maaf. Karena kan kebanyakan gitu. Saat seseorang merasakan sikap pasangannya itu aneh, umumnya ujung-ujungnya ya selingkuh," tutur Ruby bagai orang yang paling paham tentang percintaan.


"Enggak. Bukan aneh kaya yang lo maksud. Tapi ini anehnya beda."


"Coba lo jelasin deh supaya gue gak nebak-nebak lagi."


Sejenak Dara mendesah berat. Sudah saatnya ia mengaku pada Ruby, dengan sebuah harapan Ruby bisa menjawab kebingungannya. "Tadi pagi Kak Abhay jemput gue pake taksi."


"Trus?"


"Ya itu keanehannya," timpal Dara dengan mudahnya.


Sepersekian detik Ruby termenung, ia mencerna ceritanya Dara baik-baik. Ia sendiri bingung, Dara bilang Abhay yang aneh, namun setelah mendengarkan ceritanya Dara tadi, ia jadi meragukan bahwa Dara yang benar-benar aneh.


Dara jelas tak terima saat Ruby mengejeknya. Kini ia menseriuskan tatapan pada Ruby. "Ya bagi Kak Abhay aneh lah. Nih ya gue kasih tau."


Dara sedikit menggeserkan kursinya lebih dekat dengan Ruby. Ia dengan mantap bersiap membeberkan semuanya agar Ruby dapat mengerti maksudnya.


"Kak Abhay kan biasa jemput gue pake motor, trus tadi bilangannya motornya lagi diservis. Oke gue bisa paham. Tapi anehnya kenapa harus taksi, lo tau sendiri Kak Abhay punya mobil. Kenapa gak pake mobil sendiri aja. Iya, kan?"


Ruby jadi berpikir dua kali setelah mendengar penjelasan Dara. Bener juga yah. Namun di balik itu semua, Ruby memilki praduga lain. "Ya mungkin aja mobilnya lagi diservis juga atau dipinjem papahnya."


"Iya kalo mobilnya Kak Abhay cuma satu, gue bisa ngerti itu. Tapi masalahnya gue pernah liat mobil di rumahnya Kak Abhay itu lebih dari satu. Kalo gak salah empat atau lima," ungkap Dara.


"Seriusan lo?! Wah... Kak Abhay emang bener-bener kaya dong!" Ruby malah salah fokus dengan hal lain.


"Fokus Ruby. Gue belum selesai ngomong!" seru Dara sedikit ngegas.


Ruby pun nyengir kuda. "Oh iya iya maaf. Terus gimana lagi?"


"Trus ditambah aneh lagi, pas tadi gue nanya kenapa, Kak Abhay malah ngehindarin pertanyaan gue. Aneh, kan?"


Ruby merangkai semua fakta-fakta yang telah dibeberkan Dara. Setelah dipikir-pikir, Abhay memang aneh. Sebenernya kunci utama dari keanehan itu hanya satu, yaitu menghindari pertanyaan. Jika seseorang dengan sangat jelas sengaja menghindari pertanyaan, percayalah, hal besar sedang ditutupi oleh orang itu.


"Jangan-jangan lagi berantem sama papahnya," ucap Ruby mengungkapkan dugaannya.


"Itu yang lagi gue pikirin juga," timpal Dara. Karena jauh sebelum Ruby mengatakan itu, Dara sudah curiga pasti ada hubungannya dengan Pak Arief.


"Jangan-jangan berhubungan sama kuliah di Amrik itu. Karena Kak Abhay gak mau, trus dia dikasih hukuman dengan cara disita motornya beserta benda-benda berharga lainnya."


Berbeda dengan sebelumnya, kini Dara merespon penjelasan Ruby dengan raut yang berbeda. Dara benar-benar nampak terkejut, karena ia belum berpikiran sampai ke sana. "Ruby! Tumben lo pinter. Gue kok gak kepikiran tentang itu yah."


"Ya iyalah. Ruby gitu loh," timpal Ruby dengan angkuhnya.


Dara termenung. Ia meyakinkan dirinya bahwa dugaan itu memang benar, karena hanya alasan itu yang bisa masuk di akalnya. Kayaknya bener, pasti ada hubungannya sama kuliah di Amrik.


...****************...


Di tengah pelajaran yang sedang berlangsung, Dara meminta izin pada bu guru yang sedang mengajar untuk pergi ke toilet. Saat sudah menyelesaikan kebutuhannya, Dara keluar dari pintu toilet. Saat ia hendak kembali ke kelasnya, dari belakang, pandangan Dara menangkap punggung seseorang yang sangat tak asing. Ia sudah hafal bahwa pemilik punggung itu adalah Vano.


Melihat Vano yang sedang berjalan tak jauh darinya, tiba-tiba Dara kepikiran sesuatu. Sebuah pertanyaan besar muncul diotaknya.


"Kak Vano!" panggil Dara cukup keras.


Panggilan itu tentu saja dapat terdengar jelas oleh Vano, mengingat suasana sekitar yang cukup sepi. Cowok itu pun langsung membalikkan badannya dan melihat seseorang yang telah memanggilnya.


"Loh Dara, ada apa?" tanya Vano saat Dara sudah berada di depannya.


"Hmm... gue boleh tanya sesuatu," pinta Dara langsung.


"Tanya apa?"


"Kak Abhay di kelasnya gimana? Sikapnya aneh kah atau baik-baik aja?" tanya Dara sangat menjurus. Ia tak mau berbasa-basi, mengingat masa yang masih menunjukan waktu belajar.


"Jelas gak baik-baik aja lah," jawab Vano yang sama to the point-nya.


"Kok gak baik?"


"Jangan-jangan lo belum tau yah?"


"Tau apa, Kak?"


Melihat reaksi Dara yang benar-benar seperti orang yang tak tau apa-apa, Vano bisa menyimpulkan bahwa Abhay belum menceritakan apa-apa pada Dara. "Ternyata bener lo belum tau," gumamnya.


"Emang ada apa sih, Kak?"


"Abhay lagi ada masalah, kayaknya sama bapaknya. Trus dia pergi dari rumah. Semalem aja dia nginep di rumah gue."


"Apa!!"


Dara terkejut luar biasa. Matanya membulat sempurna dengan mulut sedikit menganga. Mengapa Dara tak tahu sama sekali tentang itu? Dan mengapa Abhay tak langsung menceritakan hal ini padanya? Dan seserius itu kah masalah yang sedang menerpa Abhay, sampai lelaki itu pergi dari rumah?


"Kakak tau gak masalahnya apa?" tanya Dara masih penasaran.


"Gue juga gak tau. Pas gue tanya juga dia diem aja, gak mau jawab," ungkap Vano. "Tapi setau gue, kalo Abhay sampe minggat dari rumah, pasti ada masalah serius yang terjadi sama dia. Entah itu sama bapaknya atau sama orang lain," lanjut Vano menjelaskan.


Vano melihat dengan jelas perubahan raut Dara yang sangat kentara. Raut wajah gadis itu terlihat begitu khawatir. Ya... wajar saja, namanya juga dua insan yang saling mencintai, jadi Vano cukup paham mengapa Dara bisa sampai sekhawatir sekarang.


"Jadi saran gue, lo coba bicara baik-baik sama dia. Tanyain masalahnya apa. Kali aja kalo lo yang nanya dia mau cerita," jelas Vano memberi saran.


Dara mendesah berat. "Iya, Kak. Nanti gue tanyain. Makasih yah Kak Vano," timpal Dara dengan suara yang begitu lemah. Wajahnya pun begitu memelas. Mood-nya seketika turun saat mengetahui fakta itu.


"Kalo gitu gue balik ke kelas yah," pamit Vano dan langsung diberi anggukan oleh Dara.


Tak lama setelah Vano pergi, Dara pun melakukan hal yang sama. Ia akan kembali ke kelasnya. Dengan langkah tak bernyawa, Dara memaksakan kakinya untuk berjalan. Kak Abhay, masalah apa lagi ini!