Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
82. Sebuah keputusan



"Kuliah ke Amerika."


Abhay terpaku untuk sesaat memastikan pendengarannya tak salah. Kemudian kedua sudut bibirnya mengutaskan sebuah senyuman picik. Ia membuang wajahnya dari hadapan Dara.


Sudah diduga. Itulah yang ada dipikiran Abhay saat ini. Sebenernya ia sudah curiga sejak kali pertama ia melihat Dara keluar dari ruang kerja papahnya. Ditambah melihat gelagat Dara saat itu, ia semakin yakin bahwa memang ada suatu yang tak beres. Tetapi walau begitu, Abhay memilih menahan dirinya untuk tak langsung bertanya pada Dara dan ia akan menunggu waktu yang tepat. Dan ini lah saat yang tepat itu.


"Jadi ... gimana? Kakak ... bersedia?" tanya Dara sedikit ragu.


Abhay kembali memantapkan pandangannya pada Dara. Dengan senyum picik yang masih ia utaskan, ia pun menjawab. "Gak lah!" ucap Abhay dengan tegas, yakin dan tanpa pikir panjang.


"Kenapa?" tanya Dara lagi.


"Bukannya udah jelas," timpal Abhay. "Gue sama bokap gue aja hidupnya udah masing-masing. Jadi untuk apa gue turutin omongan dia," ucap Abhay dengan sinisnya.


Dari raut wajah Abhay, Dara dengan sangat jelas bisa melihat Abhay seperti sedang menahan emosi. Sangat wajar mengapa Abhay seperti itu, karena apa yang dikatakan Abhay sudah menjawab semuanya. Melihat sikap keras kepala Abhay yang sangat menjadi, Dara juga tak heran mengapa Abhay tanpa ragunya langsung menolak permintaan itu.


Namun di sisi lain, Dara pun cukup menyayangkan saat permintaan itu dibuang mentah-mentah oleh Abhay. Karena bagaimana pun, bisa berkuliah di luar negeri apalagi di universitas elite adalah impian banyak orang di luar sana. Namun Abhay, dia menolak permintaan itu dengan begitu mudahnya.


"Tapi Kak, ini bukan perkara yang gampang. Bisa kuliah di luar negeri itu impian banyak orang. Gue juga mau kalo disuruh kuliah di luar negeri kaya Kakak," ungkap Dara. "Apa Kakak gak coba pikir-pikir dulu?" tanya Dara mencoba memberi saran.


Sebenernya tindakan Dara sangat logis. Ia tak egois. Ia memposisikan dirinya sebagaimana manusia lainnya. Jadi tak ada salahnya jika Dara berbicara seperti itu.


Abhay mengelengkan kepalanya. "Gak. Gue gak perlu gue mikir kalo cuma jawab itu. Gue rasa alasan gue udah cukup jelas. Lo juga udah tau sendiri," tutur Abhay begitu bersikukuh.


"Tapi pendidikan tinggi juga penting Kak. Apa lagi papahnya Kakak bukan orang biasa. Dia punya perusahaan besar. Siapa yang akan nerusin usahanya kalo bukan Kakak? Sedangkan Kakak satu-satunya anggota keluarga yang papah Kakak miliki," jelas Dara percis seperti apa yang pernah Pak Arief katakan padanya.


"Buat apa gue mikirin usaha dia, Dara! Itu bukan urusan gue! Udah Dara, lo jangan pengaruhi pikiran gue!" seru Abhay cukup keras, dan malah terdengar seperti memarahi Dara.


Bodoh. Dalam hitungan detik Abhay merutuki kebodohannya. Tak seharusnya ia berbicara keras kepada Dara. Ia tahu Dara berkata seperti itu akibat permintaan papahnya. Dara tak salah apa-apa. Ia memaki di dalam hatinya, ia telah gagal mengendalikan emosinya.


"Maafin gue, Dara. Gue ... gak seharusnya gue marah sama elo. Gue tahu, lo ngomong gitu karena disuruh bokap gue. Maafin gue Dara," ucap Abhay merasa sangat bersalah.


Abhay pun mengacak rambutnya frustasi. Ia tertunduk, mulutnya pun berulang kali terus mengucapkan kata 'maaf'. Dia benar-bener menyesali perkataannya.


Lalu Dara, ia hanya diam. Namun ia juga tak kesal, marah, atau terbawa perasaan saat dimarahi Abhay. Karena ia tahu, emosi yang Abhay lontarkan bukan semerta-merta tertuju padanya. Abhay hanya tak bisa menahan diri saja. Dara cukup memahami itu.


Kemudian Dara menatap Abhay yang tengah tertunduk. "Kakak gak perlu minta maaf," ucapnya lembut. "Gue paham kok, malah sangat paham. Dan sebelumnya juga gue udah ngira-ngira pasti Kakak bakal kaya gini. Makanya gue tahan-tahan buat ngungkapin hal ini sama Kakak," jelas Dara.


Lalu Dara tersenyum simpul, dan ia pun bernafas lega. "Yah setidaknya gue sekarang udah lega. Gue udah ngelakuin amanah dari papahnya Kakak. Mana mungkin juga gue tolak permintaan papahnya Kakak, kan? Terus juga. Masalah mau atau enggak itu kembali lagi sama Kakak. Gue gak berhak maksa Kakak untuk mau atau enggaknya. Gue hanya bisa nyampein pesan aja. Karena bagaimana pun, masalah seperti ini lebih baik dibicarain sama keluarga Kakak langsung. Bicarain secara baik-baik juga, dan jangan pake emosi kalo bisa. Biar semuanya beres tanpa adanya salah paham."


"Udah Kakak gak usah ngerasa bersalah gitu. Tegakkin kepala Kakak," pinta Dara. Melihat Abhay yang masih tertunduk, ia menjadi tak tega dan melihat Abhay begitu iba.


Karena Abhay tak kunjung menenggakan kepalanya, Dara pun tak tahan. Ia memberanikan diri untuk menyentuh bagian bawah wajah Abhay lalu mendongakkannya. Ia sengaja begitu agar Abhay berani untuk menatapnya kembali.


"Gue baik-baik aja," ucap Dara begitu yakin. Kemudian Dara melontarkan senyum terbaiknya. Hal itu sebagai bukti tambahan bahwa ia memang baik-baik saja.


Melihat Dara tersenyum dengan begitu manisnya, Abhay dengan reflek langsung menarik kedua sudut bibirnya juga. Rasa bersalah dan penyesalan yang tadi menyelimutinya, seakan hempas begitu saja. Senyuman Dara seolah berhasil mengalihkan dunianya.


"Nah gitu dong. Kan gue jadi lega juga," ucap Dara saat melihat Abhay sudah tersenyum. Perlahan Dara melepaskan sentuhan tangannya dari wajah Abhay, ia pun bernafas lega.


"Lagian kalo gue pergi, apa lo rela kalo pacar ganteng lo ini pergi jauh?"


Bagai memiliki dua kepribadian, Abhay dengan cepat beralih ke mode asal. Ia kembali dengan rasa kepercayaan dirinya yang tinggi.


Dara menautkan alisnya heran. Perubahan sikap drastis Abhay sungguh membuatnya bingung. "Dih, apaan sih Kak? Kok langsung narsis," ucapnya.


"Udah jawab aja. Rela apa enggak?" tanya Abhay lagi sambil tersenyum jahil.


"Ya kalo gue ..." Dara berpikir sejenak, karena pertanyaan itu juga sering muncul saat ia termenung di malam hari. Sampai saat ini ia sendiri tak tahu jawabannya. Apakah ia akan rela atau tidak jika ditinggal pergi oleh Abhay?


"Selama itu baik buat Kakak, ya ... gue terima," jawab Dara pada akhirnya. Ia dengan lagaknya bersikap sok-sok tegar.


"Yakin?" tanya Abhay mengintimidasi.


"Yak-in," jawab Dara terbata.


"Kalo yakin yang yakin dong jawabnya. Yakin gak?" goda Abhay. Ia semakin semangat untuk menggoda Dara.


"Yakin."


"Yang bener?"


"Gue yakin."


"Ah yang bener?"


"Yakin Kak! Udah deh ah, nanya terus!" seru Dara geram. Ia tak tahan dengan tingkah Abhay yang terus saja mendesaknya. Masalahnya ia juga merasa malu.


Abhay pun melebarkan senyumnya. Menggemaskan. Rasanya sangat lucu jika Dara sudah kesal seperti itu. Kekesalan Dara sejak dulu sudah menjadi sebuah hiburan bagi Abhay. Karena tak tahan melihat Dara yang begitu menggemaskan. Pelan-pelan Abhay menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Dara. Ia hendak bertindak sesuatu kepada gadis itu.


"Gue mau peluk lo boleh? Gue gak tahan," izin Abhay. Karena Abhay anak baik, mau peluk saja ia harus izin dulu sama yang punya badan.


"Kenapa Kakak mau peluk gue?" tanya Dara dengan polosnya.


"Lo gemes banget soalnya," jawab Abhay jujur.


"Tapi ini sekolah Kak. Kalo ada yang liat?"


"Gak akan. Lagian ini kan perpus, sepi. Gak akan ada yang liat," jelas Abhay. "Boleh yah? Lagian peluk doang ini," pinta Abhay dan kini sudah memasang wajah memelasnya.


"Ya tapi-"


"Ya? Berarti boleh!" potong Abhay sangat antusias. Ia pun segera mendekatkan tubuhnya pada Dara. Saat kedua tangannya sudah siap menangkap Dara. Tiba-tiba.


"Oh ternyata kalian! Pantesan tadi ada suara ribut-ribut!"


Suara menyebalkan menggangu kegembiraan Abhay. Otomatis Abhay pun kembali menurunkan kedua tangannya dan tak jadi memeluk Dara.


"Sedang apa kalian?! Pacaran yah?!" tanya orang itu sangat keras.


Dengan santainya Abhay pun menjawab. "Iya, Bu." Dan Dara pun melotot sangat hebat saat Abhay berkata jujur.


Dan orang yang sudah memergoki mereka adalah seorang ibu penjaga perpustakaan yang terkenal galak.


"Jam belajar bukannya belajar malah pacaran!" tukas Ibu penjaga perpustakaan itu dengan kesal.


"Kita kebetulan lagi gak ada guru, Bu. Jadi kita-"


"Sudah jangan alasan kamu! Sana keluar!" sanggah ibu perpustakaan dengan sisa-sisa kekesalannya.


"Ish galaknya Ibu," timpal Abhay tanpa takut.


"Dah Kak, ayo keluar!" ajak Dara. Berbeda dengan Abhay, Dara justru merasa ngeri saat dimarahi. Karena ini pertama kalinya ia dipergoki seperti ini. Dengan cekatan Dara pun segera membangkitkan tubuhnya lebih dulu.


Melihat Dara yang sudah berdiri, Abhay pun dengan setengah hati harus berdiri juga. "Ah ganggu aja," gumamnya.


Dengan langkah gontai Abhay berjalan menuju pintu ke luar. Lain hal dengan Dara. Cewek itu dengan sangat cepat keluar dari sana dengan langkah setengah berlari. Ia takut.