
Pagi hari yang terasa suram bagi seorang gadis yang kini sedang duduk di meja makan tanpa adanya gairah untuk memakan sarapannya. Ternyata kejadian kemarin sore memanjang hingga sekarang. Semenjak Abhay pergi tanpa pamit, semenjak itu pula Dara tak menerima kabar dari Abhay. Malam hari yang biasanya ditemani oleh ocehan-ocehan Abhay lewat telepon, namun tadi malam tak seperti itu. Jangankan Abhay yang menelpon, ditelpon Dara lebih dulu pun Abhay tak menjawab. Sudah seperti ditelan bumi. Abhay tiba-tiba menghilang tanpa adanya kabar sedikit pun.
Hal sama terjadi dengan Andra. Setelah Andra pergi tepat di depan mata Dara, namun hingga kini lelaki itu belum kembali juga. Dalam waktu bersamaan, mereka menghilang tanpa adanya kejelasan.
"Andra semalem gak pulang yah? Kemana anak itu?" tanya Ayah Leo. Ayah Leo, Bunda Iis, dan Dara, kini sedang berada di ruang makan untuk sarapan bersama.
"Kan semalem Bunda udah bilang sama Ayah, kalo Andra belum pulang, ditelpon juga gak diangkat-angkat. Tapi semalem Ayah cuma bilang 'udah lah biarin', terus sekarang baru nanyain," timpal Bunda Iis.
"Ya maklum aja lah... Namanya juga udah ngantuk," kata Ayah Leo. Wajar saja, karena saat itu posisi Ayah Leo baru pulang kerja dan dalam keadaan lelah. Tentu saja beliau tak mau memikirkan hal lain selain beristirahat.
"Emang terakhir keliatan kapan?" tanya Ayah Leo lagi.
"Kemarim sore sih masih ada. Trus setelahnya Bunda gak liat lagi. Pergi pun gak bilang-bilang," jawab Bunda Iis.
Kemudian Ayah Leo mengalihkan pandangannya pada putrinya. "Dara. Kamu sendiri liat Kakak kamu pergi gak?" tanya beliau.
Seperti tak merasa ditanya, Dara tak mengindahkan pertanyaan ayahnya. Ia terlalu sibuk mengaduk-aduk nasi goreng yang ada di atas piringnya dengan pikiran yang teraduk-aduk pula.
"Dara?"
Dara tak menjawab.
"Adara Leona!" panggil Ayah Leo keras.
Baru lah saat ia merasa diteriaki, Dara memutuskan lamunannya. Ia tersentak kaget dan mendongak kepalanya cepat mengarah pada Ayahnya. "Hah iya? Kenapa, Yah?" tanyanya setengah linglung.
Ayah Leo menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Ada-ada saja kelakuan putrinya itu, masih pagi tapi sudah melamun. Aneh sekali.
"Kamu ngelamun yah?" tanya sang Bunda. Kemudian ia melihat nasi goreng di depan Dara. "Tuh. Nasi gorengnya juga cuma diaduk-aduk. Kamu kenapa sayang?" lanjut Bunda Iis dengan suara lembutnya.
Dara melihat nasi goreng yang dimaksud Bundanya. Dan benar, nasi gorengnya masih tersisa banyak. Hanya beberapa suapan saja yang baru masuk ke dalam kerongkongannya. Dara memang sedang tak berselera untuk makan. Beban pikirannya sudah mengambil nafsu makannya.
"Hmm... Dara gak papa kok Bun. Emangnya ada apa?" Dara balik bertanya, ia tak ingin memberi tahu alasannya.
"Ayah tadi nanya, kamu liat perginya Kakak kamu gak? Soalnya Bunda sendiri gak liat."
"Aku sih sempet liat dia pergi, cuma Bang Andra gak bilang apa-apa," jawab Dara apa adanya. Karena sesungguhnya kejadiannya memang seperti itu, sangat membingungkan.
"Apa kamu tau kemana arah perginya Kakak kamu?"
"Gak tau juga Bunda."
Bunda Iis pun mendesah berat. Ia merasa khawatir. Pikiran buruk mulai mengerubungi otaknya. "Ish... kemana sih tuh anak! Mending Ayah cari dia deh. Bunda gak tenang kalo terus-terusan begini," pinta Bunda Iis terdengar putus asa.
"Udah lah Bunda. Andra ini bukan anak kecil lagi, dia udah beranjak dewasa, gak akan ada yang mau cilik dia juga kok," balas Ayah Leo dengan sangat enteng.
Mendengarnya, spontan Bunda mendelik ke arah suaminya. "Hush! Ayah ngomong apa sih?! Culik-culik, sembarangan aja kalo ngomong!" ucapnya kesal.
"Ya maksud Ayah kan emang bener. Gak akan ada yang nyulik dia. Orang Ayah berprasangka baik kok malah dimarahin," ujar Ayah Leo membela diri. "Udah Bunda tenang aja. Paling dia nginep di rumah temennya. Ayah juga yakin, nanti sore atau enggak malem, tuh anak bakal pulang," tuturnya bermaksud menenangkan.
Namun tetap saja, perkataan Ayah Leo tak cukup menenangkan hati Bunda Iis. Karena seperti itulah seorang Ibu. Tak akan bisa tenang sebelum memastikan anaknya memang baik-baik saja.
Setelah selesai menghabiskan waktu sarapan dengan rasa tak nikmat, Dara keluar dari dalam rumah. Apapun masalah yang sedang ia pikirkan, Dara tetap mengutamakan sekolahnya. Walau pun sebenarnya, kini ia sedang dalam kebimbangan.
Bagaimana ia pergi ke sekolah hari ini? Apakah Abhay akan datang untuk menjemputnya seperti hari-hari biasanya? Apakah mungkin?
Dara tersenyum miris, karena rasanya tak mungkin Abhay akan datang. Kabar saja tak ada, apalagi orangnya.
"Sebenernya ada apa? Kenapa semuanya jadi mendadak menghilang kaya gini?!!" tukas Dara begitu frustasi.
Dara membuang nafas pasrah. Ia juga mencoba untuk tenang. Tak ada lagi waktu untuk terus begini, ia harus cepat-cepat pergi ke sekolah. Dan angkotlah pilihan akhirnya, ia tak mau meminta antar Ayahnya, bisa-bisa Ayahnya menanyai dimana Abhay. Jika sudah begitu, nantinya Dara mau menjawab apa? Karena ia sendiri pun tak tahu dimana Abhay sekarang.
...****************...
"Larutan penyangga atau buffer merupakan larutan yang pH-nya tidak berubah sama sekali jika ditambahkan air. Jika ditambahkan sedikit asam maupun basa, pH-nya pun tidak berubah secara signifikan atau hanya sedikit."
Suara itu berasal dari guru yang bernama Ibu Ani, guru killer pengajar kimia yang cukup ditakuti anak-anak. Salah satu kebiasaannya ketika mengajar adalah ia selalu berkeliling mengitari penjuru kelas untuk memperhatikan anak-anak didiknya apakah sedang fokus atau tidak.
Dan tepat saat Bu Ani berdiri di samping bangku milik Dara, beliau seperti mendapatkan sebuah jackpot. Ibu Ani melihat Dara yang tengah tertunduk dengan tatapan yang kosong dan tangan yang terus mencorat-coret buku tak jelas.
"Sepertinya Dara cukup mengerti penjelasan Ibu sampai bukunya pun dipakai corat-coret bukan menulis materi yang tadi Ibu bacakan," sindir Bu Ani dengan sangat sinis.
"Dara," panggil Bu Ani dengan suara dinginnya.
"Dara sadar Dara. Dara." Ruby turut bergumam pelan dengan sangat gregetan. Ia mencoba membantu menyadarkan Dara.
"Dara!" teriak Bu Ani sangat keras.
"Hah. I-ya Bu? Ke-kenapa?" Dara akhirnya tersadar dan langsung menanggapi Bu Ani dengan suara gelagapan.
"Sepertinya kamu sudah cukup pintar untuk mengerti materi dari Ibu. Kalo gitu coba Ibu mau tanya sama kamu, apa yang dimaksud dengan larutan penyangga?" tanya Bu Ani tanpa berancang-ancang.
Dara sejenak termenung. Bukannya Dara tak tau, tapi tau kah rasanya jika habis bangun tidur dan langsung ditanyai? Bingung, linglung, merasa bodoh, itulah yang Dara rasakan kini.
"Kenapa diem? Gak bisa? Makanya kalo ibu sedang menjelaskan..."
"Larutan penyangga adalah larutan yang dapat mempertahankan nilai pH-nya dan tidak terjadi perubahan pH yang signifikan jika ditambahkan sedikit asam atau basa."
Tanpa diduga-duga Dara ternyata mampu menjawabnya. Bu Ani sendiri sempat tercengang dengan jawaban Dara. Karena jawaban itu memang benar. Namun tak ingin merasa malu, Bu Ani berencana akan menguji kemampuan Dara. "Contohnya?" tanya Bu Ani lagi.
"Obat tetes mata," jawab Dara tanpa ragu.
"Penjelasannya?"
"Karena obat tetes mata mengandung larutan penyangga asam borat. Asam borat mampu mempertahankan pH sehingga sesuai dengan pH air mata. Dengan demikian, maka tidak akan menimbulkan rasa nyeri, pedih atau rasa terbakar pada mata."
Dan lagi, Dara mampu menjawabnya. Untuk kedua kalinya Bu Ani dibuat tercengang oleh Dara. Beliau pun tak bisa mengulik Dara lagi karena kemampuan Dara sudah teruji oleh pertanyaannya sendiri.
"Baik. Penjelasan kamu memang benar. Tapi walaupun kamu sudah mengerti, Ibu tidak suka jika kamu tidak fokus dalam pelajaran Ibu. Ibu merasa tidak dihargai!" pekik Bu Ani sangat tegas.
"Baik Bu. Maafkan keteledoran saya," balas Dara merasa bersalah.
...****************...
"Dara, lo tadi kenapa sih? Hampir aja lo jadi santapannya Bu Ani. Untung tadi lo bisa jawab," tanya Ruby. Omong-omong, mereka kini sudah berada di kantin.
Saat kejadian di kelas tadi, jujur saja jantung Ruby seakan sedang naik rollercoaster. Anehnya, Dara yang melakukan tetapi Ruby yang berdebar. Malahan Dara masih bisa bersikap biasa-biasa saja.
"Lo sebenernya kenapa? Gue perhatiin dari pagi lo udah kaya gini?"
Lagi, lagi, dan lagi. Dara terus saja diam sembari tangannya mengaduk-aduk minumannya dengan tatapan tak bernyawa. Hari ini Dara bukan lagi puasa berbicara, namun ia juga rajin mengaduk-ngaduk sesuatu yang ada di depannya.
"DAR-"
Ruby tak jadi berseru, ucapannya terpotong karena Dara tiba-tiba saja bertindak. Dara mendadak beranjak dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Ruby.
"Nah kan gue dicuekin lagi. Dan sekarang gue malah ditinggal." Ruby pun membuang nafas kasar, ia jadi capek sendiri. Sungguh, hari ini Dara sudah terlewat aneh. Sampai Ruby sendiri sudah kehilangan kata-katanya.
Ternyata tujuan Dara adalah untuk mendatangi Vano dan Gilang yang baru saja tiba di kantin. Saat matanya tak sengaja menangkap mereka berdua, tanpa berpikir lama-lama lagi, Dara segera mendatangi Vano dan Gilang.
"Kak Vano! Kak Gilang!" seru Dara memanggil kedua pemuda itu.
"Iyah, ada apa?" Vano pun meresponnya.
"Kak Abhay-nya mana?" tanya Dara tanpa ada niatan untuk berbasa-basi lebih dahulu. Rasa penasaran berlebihan membuatnya menjadi tak ingin tahu dengan hal lain.
Lalu Vano meresponnya dengan menautkan kedua alisnya. "Kok tanya gue? Bukannya lo yang lebih tau?" Vano pun heran.
"Emang Kak Abhay gak masuk?"
"Dia gak masuk," jawab Vano memperjelas.
Raut wajah Dara seketika kecewa. Beban di dalam pikirannya kini sudah lengkap. Karena kini tak ada satu pun orang yang mengetahui keadaan Abhay. Semuanya terlihat abu-abu.
"Coba nanti lo dateng ke rumahnya aja buat mastiin," usul Vano.
Usulan Vano langsung mendapat tanggapan baik dari Dara. Cewek itu mengangguk menurut. Cara satu-satunya yang bisa Dara lakukan memang itu, dengan mendatangi kediaman Abhay dan mengeceknya langsung, mungkin saja ia bisa mendapat jawaban di sana.
"Emang tuh anak ada aja masalahnya," celetuk Gilang turut nimbrung. "Yang sabar yah, Dara."
Dara tersenyum tipis. Walau sebenernya ia sudah tak bisa bersabar, ia tetap menerima ucapan Gilang.
Kak. Sebenernya apa yang terjadi sama elo. Jangan bikin gue khawatir kaya gini.