
Liburan hanya sekedar wacana, mungkin sudah menjadi kebiasaan orang-orang pada umumnya. Namun tidak dengan Abhay. Walaupun ia harus merelakan quality time-nya bersama Dara menjadi terganggu oleh kehadiran orang lain, Abhay tetap merealisasikan rencana liburan itu. Ruby, Vano, dan Gilang benar-benar diajak oleh Dara. Bagi Abhay memang begitu menyebalkan, namun bagaimana lagi? Dari pada tak pergi sama sekali, iya kan?
Dan kini, lebih tepatnya jam tujuh pagi, Ruby sudah tiba di rumah Dara untuk janjian di sana. Ia sudah berada di teras depan rumah Dara dengan perasaan was-was. Kenapa was-was? Tentu saja ia tak mau sampai bertemu dengan Andra. Karena sampai saat ini Ruby belum siap!
"Kak Andra gak ada, kan?" tanya Ruby pada Dara.
"Dia masih tidur, udah lo tenang aja," jawab Dara seakan mengerti kekhawatiran Ruby.
Tint tint tint.
Suara klakson mobil terdengar dari luar, sontak Ruby membelalakkan matanya antusias dan menggiring Dara untuk cepat keluar. "Ayo Dara, itu pasti suara mobilnya Kak Abhay," ajaknya.
Lengan Dara buru-buru ditarik oleh Ruby untuk segera keluar. Dan di situlah Dara langsung menghela nafas panjang. Ia tahu Ruby seperti ini bukan karena tak sabar ingin liburan, namun lebih tepatnya Ruby tak mau jika sampai Andra tiba-tiba saja menampakkan batang hidungnya.
Saat Dara dan Ruby sudah keluar, dengan kesadaran dirinya Abhay turun dari mobil dan menghampiri Dara. Ia melihat koper kecil yang dibawa Dara. "Siniin kopernya."
Dara pun memberikan kopernya dan langsung disimpan oleh Abhay di bagasi mobil belakang.
"Sekalian punya gue yah, Kak," pinta Ruby tak gentar.
Abhay pun melirik sinis ke arah Ruby. Namun yang dilirik malah nyengir kuda. Walau kesal, namun Abhay tetap saja menyimpankan koper Ruby juga. Karena seperti dikatakan Dara, Abhay kan anak baik guys.
Setelah selesai, Abhay membuka pintu mobil depan. "Vano. Lo duduk di belakang," perintah Abhay.
Vano hanya menoleh sekilas pada Abhay dan menyadarkan punggungnya lebih nyaman pada jok mobil itu. "Tapi gue udah nyaman di sini," ucapnya santai.
Abhay berdesis kesal. "Pake ngelunjak lagi! Sukur-sukur gue bolehin lo ikut!" tukas Abhay keras.
"Udah Kak biarin. Gue juga niatnya mau duduk di belakang," timpal Dara.
Abhay menatap Dara tak percaya. "Apa! Gak bisa gak bisa. Lo duduk di depan sama gue!" tegas Abhay.
Sudah cukup risih dengan kehadiran mereka bertiga, dan kini Abhay diperintah untuk berjauhan dengan Dara. Jika memang begitu, pastinya akan menjadi perjalanan yang sangat membosankan!
"Terus gue ngebiarin Ruby duduk sama dua jantan ini. Yang bener aja deh."
"Nah bener!" seru Ruby seketika. "Duh Dara emang bener-bener temen gue yang paling pengertian," lanjutnya.
"Dah yah gue masuk."
Tanpa meminta persetujuan Abhay, Dara langsung masuk ke dalam mobil. Abhay pun hanya bisa pasrah melihat Dara kini sudah duduk di jok belakang. Namun ia juga tak bisa mencegah, karena alasan Dara memang logis.
Dengan langkah gontai Abhay masuk ke dalam mobil. Sebelum ia menjalankan mobilnya, ia melihat sekilas kaca spion dalam dan langsung mendapati Dara yang duduk cukup menempel dengan Gilang.
"Dara, lo jangan duduk di tengah. Biarin temen lo yang duduk di tengah," perintah Abhay.
"Aduh Babang Abhay posesif bener sih. Gue juga gak akan ngapa-ngapain cewek elo kok," timpal Gilang.
"Gue gak mau tau. Pokoknya Dara harus di pinggir. Kalo gak mau nurut, gue gak mau jalan."
Abhay pun merengek bagai bocah SD. Mood nya sudah hancur dan ditambah hancur lagi saat melihat pemandangan yang sangat menggangu itu.
"Udah Dara turutin aja. Suami lo lagi dateng bulan tuh, lagi sensitif." Vano pun ikut-ikutan nimbrung. Ia memerintahkan Dara untuk menuruti keinginan Abhay.
"Ya iyah gue duduk di pinggir," balas Dara pasrah. "Ruby lo gak papa, kan?"
"Iya mau gimana lagi, dari pada gak jalan," jawab Ruby ikut pasrah.
Seperti keinginan Abhay, mereka pun bertukar posisi. Cukup ribet memang. Namun bagaimana lagi? Yang punya rencana Abhay, yang punya mobil Abhay, yang nyetir juga Abhay. Jadi yang menebeng mau tak mau harus menurut.
Setelah masalah tempat duduk beres, Abhay menjalankan mobilnya. Mobil dengan merek ternama itu meluncur mulus meninggalkan tempat kediaman Dara.
Saat perjalanan baru menempuh seperempat jam, suasana di dalam mobil langsung terasa sunyi senyap. Gilang yang notabene adalah orang yang tak mau diam dan paling berisik, ia lama-kelamaan menjadi tak betah. Jadi ia berniat untuk membuat kegaduhan.
"Sepi banget woy! Gue berasa dikuburan!" seru Gilang memecah keheningan.
"Ngomong aja lo sendiri," balas Vano.
"Gila kali gue."
"Ya udah kenalan aja sama cewek di samping elo." Vano memberi saran.
Gilang melirik sekilas ke arah Ruby. "Iya gue sih mau aja, dia nya mau gak kenalan sama gue?"
"Kenalan doang, kan? Gak masalah."
Tanpa disangka-sangka, Ruby ternyata peka sendiri. Ia mengulurkan tangannya pada Gilang dan mengajaknya kenalan. "Gue Ruby," ucapnya mengenalkan diri.
Gilang sejenak termenung melihat uluran tangan Ruby. Karena jika dilihat dari visual-nya, ia kira Ruby adalah sejenis gadis yang jual mahal. Namun ternyata sebaliknya.
Gilang pun membalas uluran tangan itu. "Gue Gilang cowok tertampan sepanjang masa," ucap Gilang mengenalkan dirinya dan pastinya dengan gaya khas tengilnya.
Vano dengan iseng berdehem lalu berpura-pura batuk, melihat pemandangan itu dari kaca spion, ia sangat tak tahan untuk tak menggoda Gilang. "Ada yang PDKT guys," goda Vano.
Tak lama Gilang dan Ruby sama-sama melepaskan cengkraman tangan mereka. Entah kenapa Gilang sedikit salting setelah mereka berkenalan, apalagi dengan Vano yang malah menggodanya. Ia jadi tambah gugup sendiri.
"Oh ya, sama Dara juga belum kenalan," ucap Gilang bermaksud menghilangkan rasa gugupnya.
"Buat apa kenalan. Kan udah tau namanya Dara," timpal Abhay dengan suara dingin.
"Tapi kan belum kenalan secara resmi. Belum juga salam-"
TINTT!!!
Baru saja Gilang mengulurkan tangannya di depan Dara, Abhay malah mengagetkannya dengan membunyikan klakson yang sangat keras.
"Makanya punya pacar. Lo juga nanti kaya si Abhay," timpal Vano.
"Ah masa sih. Perasaan dulu gue gak gitu-gitu amat dah," ungkap Vano.
"Lo pada bisa diem gak si! Atau gue turunin di tengah jalan!" ancam Abhay. Sungguh tak berbohong, ternyata mood Abhay benar-benar hancur. Mendengar ocehan Gilang saja ia tak mau.
"Galaknya Abang satu ini," gumam Gilang merasa ngeri.
Melihat percekcokan di antara mereka, Dara hanya bisa tersenyum-senyum. Ia tak berani menimbrung obrolan mereka mengingat Abhay yang kini tengah sensitif. Takut bila ia salah bicara, dan membuat Abhay kesal, bisa-bisa nyawa mereka terancam. Karena bagaimana pun kini penentu keselamatan mereka adalah Abhay.
Untuk itu Dara memilih untuk menyibukkan dirinya untuk melihat keadaan luar. Ia membuka jendela mobil hingga terbuka setengah. Ia memejamkan matanya untuk menikmati udara pagi yang masih terasa segar. Ia membiarkan wajahnya diterpa angin dan membiarkan anak rambutnya berterbangan ke sana ke mari. Yang jelas Dara akan mencoba menikmati perjalanan itu, walaupun ia tak tahu kemana Abhay akan membawa mereka pergi.
Dan omong-omong, Abhay memang merahasiakan tempat yang akan menjadi destinasi tur mereka. Biarlah menjadi suprise, kata Abhay sih begitu.
...****************...
Sekitar dua jam lebih mereka menghabiskan waktu untuk bisa sampai ke tempat tujuan mereka. Dan tempat yang Abhay maksudkan ternyata sebuah hamparan pasir putih berpadukan air biru yang menggulung. Sebut saja tempat itu pantai. Namun jangan salah. Pantai yang didatangi Abhay adalah pantai yang masih jarang dijamah manusia, karena pantai itu baru saja dibuka untuk umum dan tentu saja keindahan alamnya masih terlihat sangat asri.
"Wuh mantai cuy!" seru Gilang sangat antusias. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, mencoba menghilangkan kepenatan yang ia alami selama berada di perjalanan tadi.
Hal serupa dilakukan oleh Dara, ia begitu menikmati pemandangan yang ada dihadapannya saat ini. Tak lama, ia pun menoleh pada Abhay. "Kok Kakak tahu ada tempat kaya gini?"
"Ya tau lah. Orang gue searching sampe begadang," jawab Abhay jujur.
Dara tersenyum manis sambil menatap Abhay penuh arti. Ia sungguh salut dengan kegigihan Abhay yang merelakan dirinya begadang mencari tempat untuk mereka. Kadang sikap seperti inilah yang membuat Dara tersadar bahwa Abhay memang lelaki yang berbeda dan tentunya patut ia pertahankan.
"Kita agak ke tengah yuk," ajak Dara pada mereka semua.
Mereka semua mengangguk menyetujui ajakan Dara. Sama-sama mereka pun berjalan ke tengah untuk lebih dekat pada bibir pantai.
"View-nya bener-bener keren sih ini," ujar Ruby ikut tertegun.
"Gimana? Lo udah bisa ngelupain Bang Andra setelah lihat ini?" tanya Dara random.
Ruby sejenak berpikir lalu ia tersenyum simpul. "Mungkin," jawabnya singkat.
Tak lama ada sebuah jetski yang tak sengaja melintasi mereka berlima, sontak mereka semua pun langsung tertegun saat melihatnya.
"Wuih ada jetski-nya juga? Jadi pengen naik," ujar Gilang.
"Iya gue juga pengen. Dari dulu gue kepengen banget ngerasain naik jetski," timpal Ruby.
"Kita langsung naik aja yuk. Yuk yuk yuk!" ajak Gilang sangat antusias.
"Ayo." Vano menerima ajakan Gilang.
"Kalian aja sana. Gue cape abis nyetir," jawab Abhay menolak.
"Dara gimana? Lo mau naik juga?" tanya Ruby pada Dara.
"Gue—"
Dara menggantungkan ucapannya cukup lama, karena di sisi lain ia mau-mau saja untuk menerima ajakan itu. Namun mengetahui Abhay yang menolak, ia jadi tak tega jika ia harus meninggalkan Abhay sendirian.
"Gue di sini aja yah." Dara pun akhirnya menolaknya juga.
"Yah kok gitu." Ruby pun kecewa.
"Udah biarin aja mereka berdua di sini. Kita seneng-seneng aja sendiri," ucap Vano. Dan sadar atau tidak, Vano menjadi salah satu orang yang paling mengerti situasi.
"Kalo lo mau naik, naik aja. Itu juga kalo lo gak keberatan pergi sama mereka," ujar Dara pada Ruby.
"Gue sih nggak masalah kalo pergi sama mereka," balas Ruby. Karena sepanjang obrolan-obrolan mereka di perjalanan tadi, sudah cukup bagi Ruby untuk bisa akrab dengan Gilang dan Vano. Jadi ia tak masalah jika harus pergi dengan mereka.
"Ya udah masalah beres. Berarti kita bertiga ke sana yah. Ayo guys!" ajak Gilang sangat tak sabaran.
Namun saat ia baru melangkahkan kakinya, ada satu hal yang baru saja tertinggal. Lalu Gilang pun menghampiri Abhay.
"Bhay. Ongkosnya dong," palak Gilang tanpa malu.
"Emang gue bapak elo?!" balas Abhay keras.
"Kan elo yang punya acara."
Abhay menatap Gilang tajam. Sudah untung diajak berlibur, namun untuk biaya seperti ini, apakah dia juga yang harus membayarnya? Apakah ini sudah pantas untuk disebut teman benalu?
Tapi walaupun kesal, Abhay tetap menuruti keinginan Gilang. Ia merogoh dompet di saku celananya dan memberikan selembaran uang pada Gilang. "Nih!"
"Nah gitu dong," kata Gilang dengan senang hati menerima uang itu. "Ayo guys berangkat!" ajaknya pada Ruby dan Vano.
Mereka pun tak lama melangkahkan kakinya menjauhi Dara dan Abhay. Kepergian mereka bertiga tentu saja membuat Abhay merasa senang. Karena pada akhirnya ada sebuah momen yang membuatnya bisa berduaan dengan Dara.
"Akhirnya para pengganggu itu pergi," ucap Abhay.
"Trus kalo pergi?" tanya Dara.
"Iya kita pergi juga lah."
"Kemana?"
"Kemana aja asal berdua."
Abhay pun menautkan jari-jarinya pada sela-sela jari Dara, dan menggiring Dara untuk menjauh dari sana. Seperti apa yang dikatakan Vano, mereka akan mencari kesenangan mereka sendiri. Dan saat-saat seperti inilah yang menjadi kesenangan bagi mereka berdua.