
Setelah puas menghabiskan waktu sampai sore di pantai, Abhay mengarahkan mobilnya beserta orang-orang yang ada di dalam untuk pergi menginap di sebuah villa. Rencana awalnya memang begitu, supaya pagi-pagi nanti mereka bisa pulang dengan keadaan bugar.
Abhay menyewa satu buah villa dengan harga yang cukup lumayan. Villa itu cukup besar, karena berisikan dua kamar tidur, dapur, ruang kumpul keluarga, dan fasilitas lengkap lainnya.
Dan kini, di salah satu kamar di villa itu, mata Dara dan Ruby sama-sama berbinar saat melihat benda empuk itu berada tepat di depan mereka. Dengan kompak, mereka bergegas menghampiri kasur itu dan sama-sama menghempaskan tubuh mereka di atas sana.
"Huh. Enaknya," gumam Ruby.
"Kak Abhay baik banget sampe nyewain villa buat kita. Tadi juga di pantai dia ngebayarin semua kebutuhan kita," tutur Ruby. "Kak Abhay orang kaya yah?"
Dengan posisi yang sama-sama terlentangnya, Dara menjawab pertanyaan Ruby dengan santainya. "Bapaknya pengusaha batu bara."
Ruby terkekeh kecil menertawakan jawaban Dara. Ia berpikir bahwa Dara sudah salah bicara. "Batu bata kali." Dengan pedenya Ruby sok-sokan membenarkan jawaban Dara.
"Dibilangin batu bara," ulang Dara dengan jawaban yang sama.
"Seriusan batu bara?" tanya Ruby masih kalem.
"Ngapain juga gue bohong."
"Seriusan batu bara?!" Kali ini Ruby bertanya dengan suara ngegas, sampai-sampai ia membangkitkan tubuhnya menjadi duduk.
"Lo kalo liat rumah Kak Abhay pasti bakal percaya," ungkap Dara.
Lalu Ruby menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Ia begitu takjub. "Wah Dara. Lo mimpi apa waktu itu, sampe bisa dapetin cowok super tajir kaya Kak Abhay?" tanya Ruby asal jeplak.
"Kalo emang jadi, lo bakal jadi mantunya sultan dong," ungkap Ruby.
Dara tersenyum miring mendengar penuturan Ruby. Belum juga lulus sekolah, tapi Ruby sudah berpikiran sampai ke menantu-menantu. "Mantu pala lo pitak! Jangan ngomongin yang masih jauh," ujar Dara diiringi kekehan remeh.
"Jauh apaan. Palingan tujuh sampe delapan tahunan lagi. Gak akan kerasa."
Dara kemudian membangkitkan tubuhnya pula. Dia tak ingin menggubris omongan Ruby. Ia tak ingin terbawa dengan topik pembicaraan Ruby. Ia tak ingin membayangkan masa depannya yang masih jauh, karena yang seharusnya ia pikiran sekarang adalah masa depan terdekatnya, yaitu bagaimana caranya ia bisa lulus sekolah dengan nilai yang baik dan bisa diterima di universitas favoritnya. Memikirkan itu saja sudah membuat pikirannya sibuk. Lalu masalah pernikahan? Ia belum berpikiran sampai ke sana.
"Udah ah gue mau mandi. Atau lo mau duluan?" tanya Dara mengalihkan topik.
"Lo dulu aja deh. Gue masih mau rebahan di kasur empuk ini," balas Ruby. Cewek itu pun kembali menghempaskan tubuhnya pada kasur.
"Ya udah. Jangan teriak-teriak kalo gue mandinya lama."
"Mau lama juga silahkan. Gue bisa tidur dulu."
Karena Ruby sudah menolak, Dara bergegas pergi mengambil handuknya dan melenggang pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
...****************...
Menjelang larut malam tiba, mereka tak ingin melewatkan malam mereka hanya untuk beristirahat saja. Jadi mereka berinisiatif untuk melakukan pesta barbeque di halaman depan villa.
Di tempat itu, kini sudah ada Abhay dan Vano yang tengah membakar sosis lalu Dara dan Ruby yang tengah berbenah membereskan makanan di atas meja. Dan Gilang, ia baru menampakan diri karena baru selesai mandi.
"Wuih berbequan nih!" seru Gilang begitu antusias.
Abhay yang tengah membolak-balik sosis segera pergi saat mengetahui Gilang sudah datang. "Karena lo udah dateng, bakarin semua!" perintahnya pada Gilang.
"Baru juga dateng udah nyuruh gue. Tega bener lo, Bhay."
"Ya udah gue yang bakar, lo yang bayar semua ini," ucap Abhay mengskakmat.
Jika sudah membawa-bawa materi, Gilang pun tak bisa apa-apa. Seketika ia bungkam tak berani melawan Abhay lagi. Lebih baik seperti itu dari pada ia tambah melarat. Bukannya apa-apa, karena Gilang tahu, membayar semua makanan itu seharga dengan biaya makannya selama sebulan. Jadi biarlah Abhay selaku orang kaya yang harus membayarnya.
Tak lama, Gilang menyeringai. "Hehehe. Gue tadi cuma bercanda doang. Mau kok gue bakarin semuanya."
Dengan setengah hati, Gilang akhirnya menuruti perintah Abhay. Ia segera menggantikan posisi Abhay dan membakar sosis-sosis yang ada di atas pemanggangan itu.
"Sekalian semuanya yah," pinta Vano. Ia lalu melipir pergi membiarkan Gilang untuk membakar semuanya dan bergabung dengan lainnya yang kini sedang nyantai di meja makan.
"Kampret lo Vano!" kesal Gilang menatap sinis Vano. Dan ia dibuat kesal lagi karena orang yang ditatapnya malah nyengir kuda tanpa dosa, dan membiarkan dirinya terlihat begitu ternistakan.
Saat Gilang sudah merasa pekerjaannya sudah beres, ia pun menyajikan hasil bakarannya di atas meja. Dari luar memang terlihat begitu menggiurkan, namun saat dicoba.
"Kak Gilang, ini masih mentah!" seru Ruby lebih dulu, karena ia orang pertama yang mencoba makan hasil bakaran Gilang.
"Udah juga. Tuh kulitnya udah coklat," sanggah Gilang tak mau disalahkan.
"Iya luarnya doang mateng, dalemnya masih mentah!"
"Mateng itu! Lo kebetulan nyoba yang mentah kali!"
"Gak Kak! Ini keliatan sama. Pasti mentah semua!"
Menyaksikan percekcokan di antara mereka berdua, Abhay, Dara dan Vano lantas tertawa berjamaah. Dan setelah melihat interaksi mereka, sepertinya Gilang dan Ruby sudah tak sekedar saling mengenal saja, buktinya kini mereka sudah berani melempar argumen. Karena hal ini, terlihat bahwa Gilang dan Ruby sepertinya sudah cukup akrab.
"Makanya Ruby, ajarin Gilang dong cara bakar sosis yang benar," goda Vano dengan senyuman jahilnya.
"Ya Ruby. Sana ajarin," tambah Dara.
Ruby membuang nafas frustasi. Sebenernya ia sangat malas untuk mengikuti perkataan Vano. Tetapi jika ia menolak, bisa-bisa ia dikatai oleh mereka karena ia hanya berani berbicara saja namun tak berani untuk bertindak. Karena pemikiran itu, dengan berat hati Ruby pun beranjak dari duduknya dan berniat untuk mengajarkan Gilang.
Melihat tindakan Ruby, sama-sama mereka tersenyum geli saat melihatnya. Tak terkecuali dengan Vano. Ia menjadi orang yang paling semangat untuk menggoda mereka berdua. "Hmm ah. Beneran diajarin nih," godanya dengan senyuman jahil yang semakin merekah.
Dan kini, Ruby dan Gilang sama-sama berdiri di depan pemanggangan. Bagai mengajari bocah PAUD, Ruby mengajari Gilang dengan hati-hati. "Ini harus sering dibolak-balik. Kaya gini," ujar Ruby sambil mempraktekkannya.
"Kalo udah agak coklatan dikit langsung balik lagi. Udah gitu doang," lanjutnya. Dan pelajaran bakar-membakar pun telah usai.
Melihat jarak antara Gilang dan Ruby yang begitu dekat, entah kenapa Dara melihat sebuah kecocokan di sana. Tak ingin berpikiran sendiri, Dara berniat menanyakan hal itu para orang lain untuk mengetahui pandangan mereka.
"Kalo diliat-liat mereka cocok, bener gak sih?" tanya Dara.
"Sepemikiran," timpal Vano. "Tadi juga nih, pas kita naik banana boot. Cewek ini kenceng banget meluk si Gilang," ungkap Vano.
Tak mau terjadi kesalahpahaman, lantas Ruby segera menimpali penyataan Vano. "Gue takut Kak Vano, jadi gue reflek."
"Iyah. Tapi bikin anak orang baper. Iya gak, Lang?" tuduh Vano pada Gilang.
Gilang tak cepat menjawab, terlihat ia berpikir dahulu sebelum bersuara. Hingga sampai akhirnya ia menyangga tuduhan Vano. "Baper apaan. Gak b aja," jawabnya terkesan enteng namun dengan raut wajah yang tak sinkron dengan ucapannya.
Dan Vano tak menyangkal. Karena cukup dengan melihat mimik wajah Gilang, ia sudah tahu bahwa Gilang sedang berbohong. Baper kan lo.
...****************...
Sekitar pukul setengah dua belas malam, mereka mengakhiri pesta barbeque mereka. Dengan kelopak mata yang semakin berat, Gilang dan Vano segera pergi ke kamar mereka dan langsung melampiaskan tubuh mereka di atas kasur dan tertidur pulas. Namun tidak dengan Abhay.
Setelah terjadi kejadian ini, ia tiba-tiba menyesali dirinya sendiri karena ia memesan villa yang hanya berisikan dua kamar saja. Bukannya Abhay tak mau berbagi ranjang, karena ia mana bisa tidur jika posisi tidurnya di ganggu oleh Gilang. Gilang yang tidur di tengah dengan seenaknya jidatnya bergerak-gerak ke sana kemari dan beberapa kali menimpa wajah, perut, kaki dan semua anggota tubuh lainnya.
Dengan geram Abhay mendudukkan tubuhnya dari kasur dan mengambil gawainya. Ia membuka aplikasi chat, dan dengan iseng mengirim sebuah pesan teks kepada Dara.
^^^Me.^^^
^^^Udah tidur?^^^
Abhay sebenernya tak berekspektasi banyak jika Dara akan membalasnya. Ia akan memaklumi Dara jika gadis itu tak membalas chattingannya. Mengingat malam yang semakin larut, jadi wajar saja jika Dara sudah tidur.
Namun siapa sangka, beberapa detik kemudian ponsel Abhay bergetar dan ia segera mengetahui bahwa Dara ternyata membalasnya.
Adara Leona.
Baru mau tidur.
Seketika Abhay mengembangkan senyumannya. Lalu ia membalas chattingan Dara secepat kilat.
^^^Me.^^^
^^^Kok belum tidur jam segini?^^^
Adara Leona.
Gue biasa tidur malem.
Kakak sendiri kenapa belum tidur?
^^^Me.^^^
^^^Mana bisa tidur, orang gue tidurnya sama kebo.^^^
Adara Leona.
Mengirim emoticon ketawa.
Abhay sejenak berpikir, ia bingung pesan apa yang akan ia kirimkan kepada Dara. Sebenernya ada sesuatu yang ia ingin sampaikan, namun ia juga masih ragu, apakah nantinya Dara akan bersedia.
Tak ingin larut dengan kebimbangannya, Abhay dengan masa bodohnya akan bertanya langsung kepada Dara. Tak masalah jika Dara nanti akan menolaknya.
^^^Me.^^^
^^^Keluar bentar yuk.^^^