
Seminggu telah berlalu. Anak-anak di SMA Nusa Bangsa telah menyelesaikan ulangan semester mereka. Dan seperti tahun-tahun biasanya, sembari menunggu pembagian rapot, di sekolah mereka selalu diadakan class meeting. Class meeting sendiri adalah rangkaian pertandingan olahraga yang melibatkan seluruh kelas dari kelas 10, 11, dan 12.
Di saat semua orang sedang sibuk untuk mempersiapkan diri untuk class meeting, namun tidak dengan Abhay, Vano dan Gilang. Mereka dengan antengnya malah nongkrong di warung belakang sekolah. Jika tak ada absen masuk, mungkin sedari pagi mereka tak akan masuk.
"Bolos aja yuk. Udah absen ini," ajak Vano sesat.
"Ayo. Kemana? Ke rumah Abhay aja?" Gilang pun turut antuasias.
"Apa-apa rumah gue. Apa-apa rumah gue. Kalian lupa jalan pulang atau gak punya rumah?" sindir Abhay. Ia sudah tahu betul watak kedua temannya. Jika ingin sesuatu pasti larinya ke rumah dirinya. The real teman tak tahu malu.
"Ya jangan samain gubuk reot sama rumah elo dong. Nongkrong di rumah lo itu bagaikan healing tanpa mengeluarkan duit. Gimana kita gak enak," jelas Gilang.
Abhay pun beranjak dari duduknya, dan melihat Gilang malas. "Terserah lo dah. Ke sana ya ke sana sendiri," ujar Abhay.
Setelah mengatakan itu, Abhay langsung pergi meninggalkan mereka. Ia tak akan mengikuti keinginan kedua temannya karena ia sendiri memiliki tujuan lain.
"Eh lo mau kemana!" seru Gilang.
"Abhay!!"
Seruan Gilang tak berhasil membuat Abhay mengentikan langkahnya. Jika Abhay pergi, itu sama saja dengan menggagalkan rencana mereka. Karena mana mungkin mereka bertamu tanpa adanya tuan rumah, bisa-bisa mereka dikira maling.
...****************...
Di lapang utama, kini sedang berlangsung pertandingan olahraga basket putri. Dara dan keempat temannya diutus oleh ketua murid untuk menjadi perwakilan dari kelas 11 IPA 1. Dan kini mereka sedang bertanding dengan kelas 11 IPA 3.
"Dribble! Oper! Shooting! Yess! Wohoo! Dara lo emang keren!!" seru Ruby di pinggir lapang.
Ruby hanya bisa menjadi supporter karena teman-temannya tahu jika dia lemah dalam segala jenis olahraga. Jadi hal bermanfaat yang bisa ia lakukan kini hanya dengan meneriaki dan memberi semangat kepada teman-temannya yang sedang bertanding.
Setelah menyelesaikan dua babak, akhirnya pertandingan pun usai. Dara dan kawan-kawannya berhasil menjuarai pertandingan itu dengan skor yang cukup mencolok.
"Keren banget lo! Gara-gara lo, kelas kita menang," seru Ruby saat Dara sudah duduk di sampingnya.
Tak bisa dipungkiri Dara memang menjadi woman of the match dari pertandingan tadi. Lebih dari setengah skornya memang berhasil didapat oleh Dara.
"Jangan bikin gue seneng deh," timpal Dara dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
Lalu Dara menunjuk botol minum yang ada di samping Ruby. Ia benar-benar kehausan. "Coba minuman gu- Ah!"
Dara terkejut. Karena pipinya tiba-tiba merasakan sensasi dingin. Ia melihat penyebabnya, ternyata pipinya telah ditempeli minuman dingin oleh seseorang. Dan pelakunya tentu saja Abhay.
"Kak Abhay! Ngagetin gue mulu!" dumel Dara sedikit kesal.
Abhay hanya tersenyum tipis, dan mengulurkan minuman dingin itu pada Dara. "Nih minum."
Dara menatap Abhay sekilas dan menerima minuman dingin itu dengan senang hati. "Thanks," balasnya. Tanpa berlama-lama, Dara langsung meneguk minuman itu hingga menyisakan beberapa tegukan saja. Ia tak berbohong bahwa ia sungguh kehausan.
Dan ini adalah tujuan yang Abhay pilih. Dia sengaja menolak pergi bersama kedua temannya karena tadi pagi Dara memberitahunya bahwa Dara akan ikut bertanding. Mengetahui hal itu, jelas Abhay tak ingin melewatkannya untuk tak melihat Dara.
Abhay pun segera mendudukkan dirinya di samping Dara. Ternyata kehadiran Abhay menyebabkan salah satu orang merasa tersingkirkan. Jadi lalat ijo lagi gue, dumel Ruby dalam hatinya.
"Kok lo mau sih capek-capek ikut classmeet kaya gini, ngerelain buang keringet cuma demi kelas," jelas Abhay.
"Biarin aja, sehat ini," balas Dara, lalu ia kembali meneguk minumannya hingga habis tak tersisa.
"Oh ya mumpung ada kalian, gue sekalian mau ngomong kalo nanti malem bunda gue mau ngadain acara makan-makan. Terus gue disuruh ngundang kalian," ucapnya.
"Dalam rangka apa?" tanya Ruby.
"Ultah ayah gue."
"Bocah ini diajak juga? Ngapain sih?" Kini Abhay yang bertanya. Dan bocah yang Abhay maksud adalah Ruby.
Merasa tersebut oleh Abhay, Ruby menolehkan kepalanya dan melihat Abhay sinis. "Kakak kenapa sensi banget sama gue sih?" tanya Ruby sedikit sewot.
Abhay mengangkat bahunya acuh. "Gue juga gak tahu," jawabnya enteng.
"Pokoknya kalian harus dateng yah. Biar rame. Bang Andra juga disuruh ngajak temennya," tambah Dara lagi sekaligus mencegah perselisihan di antara mereka berdua.
Saat mendengar baik-baik perkataan Dara, Ruby menjadi sangat sumringah di saat Dara menyebutkan nama Andra. "Oh ya, Kak Andra kabarnya gimana? Udah lama gue gak tahu kabar dia," tanya Ruby begitu antusias.
"Dia udah normal lagi. Udah bisa jalan sekarang," ungkap Dara.
"Oh syukurlah," balas Ruby tersenyum lega. Karena untuk sekian lamanya Andra akhirnya bisa berjalan lagi, dan Ruby turut merasa senang.
"Ngapain lo nanya-nanya Bang Andra. Apa hubungannya sama elo?" tanya Abhay tiba-tiba kepo.
"Kok Kakak kepo sih? Bukan urusan Kakak," jawab Ruby ketus.
Abhay yang menyadari perubahan drastis sikap Ruby, ia lalu tersenyum kecut. Ruby kini sudah berani berbicara tak sopan kepadanya. Sungguh sikap yang begitu kontras dibandingkan dengan sikap Ruby di masa lalu.
"Ni bocah sekalinya lancar ngomong sekarang malah bikin gedeg," geram Abhay. "Eh gue kasih tau sama elo. Bang Andra mana mau sama elo. Jadi gak usah ganjen!" tegas Abhay sangat tak berperasaan.
"Kak Abhay! Kakak ngomong apa sih?" Dara pun ikut-ikut kesal.
Ternyata omongan Abhay berhasil menohok hati Ruby. Ia tak bisa membendung lagi rasa kesalnya. Lalu ia pun beranjak berdiri dengan raut wajah yang sudah cemberut. "Bodo gue pergi," pamitnya ketus.
Setelah pamit, Ruby benar-benar pergi dari hadapan mereka. Sudah jadi lalat ijo, kini ia juga merasa tersingkirkan. Malang betul nasib Ruby ini.
"Tuh kan jadi marah. Kakak kenapa sih ngomong gitu?" tanya Dara cukup kesal juga.
"Biarin, biar gak ada yang gangguin kita," jawab Abhay santai.
"Belum lama gue sebut anak baik, eh malah gini."
"Tapi gue lebih seneng disebut anak kurang ajar. Rasanya lebih enak," balas Abhay dengan senyum jahil terukir di bibirnya.
Tahu tentang apa yang sedang Abhay maksud, Dara melototi Abhay dengan sangat lebar. "Kak!" geram Dara. Di saat seperti ini, ia tak mau memikirkan kembali kejadian panas beberapa hari yang lalu. Dara masih malu.
"Pertandingan selanjutnya, mari kita sambut tim putra kelas 12 IPA 1 melawan tim putra 12 IPS 2. Beri tepuk tangan yang meriah!"
Suara pemandu pertandingan menggema di seluruh penjuru lapangan, sontak gemaan itu mengalihkan perhatian Dara. Ia pun mengalihkan pandangannya ke tengah lapangan dan langsung menangkap sosok yang sangat tak asing di matanya.
"Kak Rakha ikut juga," seru Dara.
Lalu ia kembali menolehkan wajahnya pada Abhay. "12 IPS 2 berarti kelas Kakak dong. Kelas Kakak ngelawan kelas Kak Rakha," seru Dara lagi namun tak direspon oleh Abhay. Seperti biasa, Abhay selalu tak tertarik bila Dara sudah menyebut nama Rakha.
Rakha lagi Rakha lagi!!