
Abhay udah serius sama elo.
Abhay udah jatuh cinta sama elo.
Kedua kalimat itu kini tengah menghantui pikiran Dara. Raganya memang berada di dalam kelas, bersama dengan Bu Yati yang tengah memberikan materi. Namun pikirannya tak jauh-jauh dengan kedua kalimat itu. Apa yang sudah Vano katakan benar-benar sudah mengacaukan pikirannya.
Sial! Kenapa kata-kata itu terus ngiang-ngiang di otak gue! geram Dara dalam benaknya.
Ia sampai beberapa kali mengerjapkan kedua matanya dan menggelengkan kepalanya, berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiran itu. Namun sialnya, tak lama kalimat itu kembali hinggap di otak Dara.
Ruby yang menyadari tingkah aneh Dara, ia menjadi geram sendiri. Sejujurnya ia sudah menyadari hal itu sejak tadi pagi. Saat ditanya kenapa, Dara selalu menjawab baik-baik saja. Tapi buktinya, sampai sekarang Dara masih mengulangi hal yang sama. Untuk memastikannya lagi, ia akan bertanya untuk terakhir kalinya.
"Lo kenapa si, Ra. Dari pagi sampe mau pulang tingkah lo itu aneh. Kenapa?" tanya Ruby lirih, takut-takut Bu Yati akan mendengarnya.
"Ah? Emang iya?" Dara malah balik bertanya.
"Iya pake banget. Kaya lagi mikirin sesuatu. Mikirin apa sih lu?" tanya Ruby lagi.
"Enggak, gue gak mikirin apa-apa," jawab Dara berbohong. Ia tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Bisa-bisa ia diledek habis-habisan oleh Ruby setelah mengetahui penyebab aslinya.
Mendengar jawaban yang sama, Ruby memutar bola matanya malas. Sudah tak ada alasan bagi Ruby untuk bertanya lagi. Kalo temannya tidak ingin bercerita, dia bisa apa? Mana mungkin juga ia memaksa.
Tak lama bel tanda pulang sekolah berbunyi. Semua anak yang ada di sana pun bersorak ria mendengar suara yang mereka rindukan akhirnya terdengar juga.
"Baik anak-anak. Karena sudah waktunya pulang, kita lanjutkan materi ini dipertemuan kita selanjutnya," ujar Bu Yati.
"Baik Bu!" jawab mereka serentak.
Setelah itu, Bu Yati pergi dari kelas itu. Lalu diikuti oleh anak-anak lainnya.
Dara yang sudah siap dengan tasnya, ia turut beranjak pergi dari bangkunya. Tepat saat dia melewati pintu kelas, ia langsung dikejutkan oleh kehadiran Abhay yang tiba-tiba saja sudah berdiri di ambang pintu.
"Astaghfirullah!" seru Dara keras saking kagetnya.
"Kenapa lo? Liat gue sampe nyebut segala. Emang gue setan," timpal Abhay.
Saat Abhay membuka suaranya, tiba-tiba kedua kalimat itu kembali hadir di otak Dara.
Abhay udah serius sama elo.
Abhay udah jatuh cinta sama elo.
"Ditanya malah ngelamun," ujar Abhay. "Woy!" sentaknya keras karena melihat Dara yang malah melamun bukannya menjawab pertanyaannya.
Dara langsung mengerjapkan kedua kelopak matanya saat ia disadarkan oleh suara Abhay. Ia pun linglung.
"Ya ... Gu-gue ... kaget aja," jawab Dara gagu dengan penglihatan entah kemana. Tiba-tiba ia merasa segan untuk melihat wajah Abhay.
"Ya udah. Yuk pulang," ajak Dara tak ingin berbasa-basi. Lalu tanpa permisi, ia langsung berjalan dengan langkah cepat, meninggalkan Abhay yang masih diam di tempat.
Abhay yang melihat tingkah aneh Dara, ia pun mengerutkan keningnya bingung. Tak biasanya Dara bersikap begini. Seolah-olah Dara sengaja menghindari dirinya dan bersikap kaku.
Nih anak kenapa dah, ujar batin Abhay. Jadi mau tak mau Abhay pun mengikuti Dara dengan langkah yang cepat juga.
Kini Dara sudah sampai di parkiran dengan secepat kilat. Lalu ia menengok ke belakang namun tak melihat keberadaan Abhay. Ia pun berpikir, apakah langkahnya terlalu cepat?
Lalu ia pun menggerutu dalam hatinya menyadari apa yang sudah terjadi pada dirinya.
"Gue kenapa sih?! Kenapa gue jadi gak berani kalo liat Kak Abhay?" tanya Dara pada diri sendiri.
Lalu ia kembali menengokkan kepalanya ke belakang, dan langsung menemukan Abhay yang sudah berada di parkiran. Baru saja ia memerintah dirinya untuk bersikap normal, namun saat melihat Abhay, dengan refleks ia membulatkan matanya dan berjalan menghampiri motor yang akan mereka tunggangi dengan tergesa-gesa.
"Ayo, kok malah diem di situ?!" ujar Dara saat melihat Abhay yang malah berdiri dan menatapnya aneh.
Bukannya menjawab, Abhay malah tertawa.
"Dih malah ketawa. Ayo cepetan!" geram Dara. Sudah susah payah ia mencoba menghadapi Abhay, namun Abhay malah menertawakannya.
Lalu Abhay menghentikan tawanya. "Heh. Lo berdiri di motor siapa?" tanyanya sambil mencoba menahan tawanya.
"Emang kenapa?" Dara malah balik bertanya.
"Sejak kapan motor gue berubah jadi oren," seru Abhay.
Mendengar jawaban Abhay, Dara sontak melihat motor yang berada di sampingnya. Dan benar saja, motor itu berwarna oren. Itu artinya, ia berdiri di motor orang lain. Ia kembali menggerutu dalam hatinya karena sudah bertingkah bodoh di depan Abhay.
Aish. Gue kenapa sih!
Sadar akan kesalahannya, dengan sedikit rasa malu Dara pun beranjak pergi dari motor itu dan menghampiri motor Abhay yang sebenarnya.
Abhay kembali terkekeh kecil saat melihat tingkah Dara yang sudah kelewat aneh. Saat sudah berhadapan dengan Dara, ia pun memutuskan bertanya untuk memenuhi rasa penasarannya.
"Lo kenapa sih? Aneh banget. Kaya orang bingung," ungkap Abhay.
"Masa sih? Emang keliatan?"
"Banget," timpal Abhay tegas.
Dara pun sejenak berpikir. Tidak bisa dipungkiri ia memang sudah bertingkah sangat sangat aneh. Gara-gara omongan Vano, pikiranya benar-benar teralihkan. Ia juga merasa bahwa dirinya sudah menjadi orang yang berbeda.
Dara! Kendalikan diri elo, Dara! Lupain omongan Kak Vano! Lupain! Jangan kalah sama omongan Kak Vano! Dara meyakinkan dirinya lagi.
Untuk sepersekian detik Dara menarik nafas dalam-dalam, dan mencoba mengembalikkan jati dirinya yang tadi sempat hilang. Setelah berhasil menenangkan dirinya, ia pun memasang wajah datar.
"Ya udah yuk pulang. Nanti keburu ujan," ujarnya setelah melihat langit yang mulai menghitam.
...****************...
Bagai sengaja didoakan, butiran bening itu satu persatu mulai jatuh membasahi jalan aspal yang sedang mereka lalui.
"Kak udah gerimis!" seru Dara di balik punggung Abhay.
"Mau neduh dulu di rumah gue?! Rumah gue dekat sini!" ujar Abhay memberi saran.
"Hah! Rumah Kakak!" Dara terkejut luar biasa.
"Ya terserah elo! Apa lo mau terobos sampe hujan gede?!"
Dara pun bimbang, ia berpikir keras untuk mengambilnya keputusan yang tepat. Sebenernya apa yang Abhay sarankan memang solusi yang tepat, melihat langit yang seperti akan menumpahkan seluruh isinya dengan deras. Namun Rumah Abhay?! Apakah dia bersedia?
"Gimana?! Gerimisnya mulai gede!" tanya Abhay lagi karena Dara yang terlalu lama berpikir.
Dengan segenap keyakinan yang sudah ia kumpulkan, ia pun menjawab. "Ya udah deh."
Dan Dara pun pasrah untuk dibawa ke rumah Abhay.