
Time zone.
Abhay menatap tulisan besar itu dengan wajah kebingungannya. Mengapa Dara membawanya ke sana? Lalu Abhay memutar kepalanya menengok Dara. "Bukannya ini tempat main anak kecil?" tanyanya.
"Anak kecil apanya?" Dara balik bertanya sedikit sewot.
Abhay kembali mengedarkan pandangannya, ia masih berkutat dengan kebingungannya. Abhay memang pernah pergi ke time zone sebelumnya, namun itu pun saat dirinya masih sangat kecil. Dan seingat dia, time zone hanya berisikan wahana-wahana hiburan seperti mandi bola, naik robot-robotan dan wahana kecil lainnya. Lalu apakah ia akan mandi bola juga di sana?
"Jadi kita masuk nih?" tanya Abhay lagi masih ragu.
"Ya trus mau Kakak kemana? Tadi katanya gak tau," balas Dara.
Abhay berpikir sejenak untuk mengumpulkan keyakinan. "Ya udah deh. Ayo masuk."
Abhay akhirnya setuju, ia pun menarik pergelangan tangan Dara untuk masuk ke dalam sana. Saat sudah masuk, Abhay sempat terkejut karena di dalam time zone itu banyak sekali wahana-wahana baru yang baru ia lihat. Maklum saja, terakhir Abhay ke sana sudah belasan tahun lalu jadi ia tak tahu bahwa kini teknologi semakin canggih dalam segi wahana permainan sekalipun.
"Gue bilang juga apa, bukan cuma anak kecil, banyak orang-orang gede yang main di sini juga," seru Dara. "Jangan-jangan Kakak belum pernah ke sini yah?" tanyanya.
"Ya pernah, tapi waktu kecil. Ya gue gak tau kalo sekarang udah beda," jawab Abhay begitu jujur.
Kejujuran Abhay seketika membuat hati Dara merasa iba. Ia tahu betul alasan Abhay tumbuh menjadi seseorang yang banyak tidak tahu mengenai hal semacam ini. Hal yang sama terjadi pada kejadian di pasar malam itu. Jangankan ingin pergi ke tempat hiburan, kehidupannya saja sudah sangat kacau. Untuk itu Dara tak akan memperpanjang soal itu dan memilih diam.
"Trus kita mau ngapain?" tanya Abhay.
Dara mengendarkan pandangannya, mencari game yang kira-kira cocok untuk dimainkan mereka berdua. Dan seketika bola mata Dara terhenti pada satu titik.
"Kayanya permainan yang cocok buat Kakak itu deh," ucap Dara sambil menunjuk sebuah mesin game.
"Apaan tuh?" Abhay memicingkan matanya merasa aneh dengan mesin game yang baru ia lihat.
"Arkade tinju," jawab Dara.
Abhay masih memasang wajah tak paham, Dara pun mendesah pelan. "Kita ke sana dulu, biar gue jelasin di sana," ucapnya.
Kini Dara yang menarik lengan Abhay untuk mendekati mesin game itu, akan cepat paham jika ia menjelaskannya secara dekat. Setelah sudah menghadapi mesin game itu, Dara pun menjelaskannya.
"Nih. Kakak pukul benda ini sekenceng-kencengnya. Semakin kenceng pukulannya, semakin tinggi skor yang bakal didapat," jelas Dara, ia sudah seperti seorang guru yang sedang mengajarkan anak didiknya.
Abhay pun mengangguk-anggukan kepalanya paham. "Oh gitu. Itu sih gampang," seru Abhay. Bukan Abhay namanya jika ia tak berlagak sombong terlebih dahulu.
Karena Abhay yang sudah paham, Dara izin pergi untuk membeli powercard yang sudah diisi saldo di dalamnya. Setelah dapat, Dara menempelkan card itu pada arkade tinju untuk memulai permainan.
Abhay pun bersiap-siap, ia segera memakai sarung tinju. Dengan sedikit ancang-ancang, ia langsung memukul sasaran tinju itu dengan kerasnya. Dan papan skor ternyata menampilkan tiga digit angka di sana.
Abhay menoleh pada Dara untuk menanyakan maksud skor itu. "Sembilan sembilan delapan. Itu gede apa kecil?" tanyanya.
"Dua lagi bisa skor maksimal itu," jawab Dara.
"Hah seriusan?! Wah ... emang permainan ini cocok sama gue!" seru Abhay begitu bahagia dan antusiasnya.
Sukses dengan percobaan pertamanya, Abhay meminta Dara untuk kembali menempelkan card itu lagi. Ia akan mencobanya untuk kedua kalinya. Dan ...
Bug.
Kini papan skor itu menujukkan tiga digit angka sembilan yang berderet rapi. Mengetahui hal itu, Abhay semakin kegirangan luar biasa.
Karena semakin nyaman, Abhay lagi dan lagi terus memainkan game itu. Dan hampir semua pukulannya menyentuh angka yang sempurna.
Melihat Abhay yang begitu bahagia, entah kenapa Dara pun turut merasakan hal yang sama. Ia sampai tak henti-hentinya tersenyum simpul di setiap Abhay selalu mencetak skor sempurna. Dan juga, setidaknya ada sedikit kelegaan di dalam hatinya saat melihat Abhay yang sudah lebih banyak tersenyum lepas di tengah circle kehidupannya yang begitu kacau.
"Katanya mau ngebahagiain gue, tapi kayanya gue yang ngebahagiain Kakak," gumam Dara dan ternyata terdengar di telinga Abhay.
"Oke deh, sekarang gantian elo. Bisa gak lo?" Tak ingin asyik sendiri, kini Abhay malah menantang Dara.
Dara hanya tersenyum miring. Dia sebelas dua belas dengan Abhay, Dara selalu tak tahan jika ada orang yang sudah menantangnya. Dan dengan senang hatinya Dara menerima tantangan itu, dan meraih sarung tinju yang diberikan kepada Abhay.
Sebelum melakukan aksinya, Dara berancang-ancang terlebih dahulu dengan menarik nafasnya dalam-dalam. Saat sudah siap, ia pun menggebuk benda itu dengan sekuat tenaganya.
Dan skor yang didapat Dara tak jauh berbeda dengan Abhay. Ia mendapatkan skor sembilan sembilan lima. Melihatnya, Abhay pun spontan membelalakkan matanya tak percaya, karena bagaimanapun skor itu terbilang besar untuk ukuran wanita. Namun siapa sangka, Dara benar-benar menunjukkan ketangguhannya.
"Wuih ... cuma beda dikit. Mantap juga," puji Abhay.
Dara pun tersenyum angkuh, lalu menatap Abhay dalam. "Jadi udah kebayangkan, kalo Kakak bikin gue kesel gimana?" ujar Dara mengintimidasi.
Merasa baru saja diancam, Abhay kembali membelalakkan matanya. "Anjir! Gue diancem!" seru Abhay.
Lalu Abhay kembali mengambil sarung tinju dari tangan Dara. Sepertinya ia ingin memainkannya lagi. "Gue mau lagi ah!" tegasnya.
"Kak udah! Itu orang lain juga mau coba!" seru Dara.
Perkataan Dara membuat Abhay tersadar. Ia pun menengok ke belakangnya dan memang mendapati orang-orang yang sedang mengantri dengan tatapan-tatapan kesal tersaji untuknya. Abhay pun tersenyum canggung, dan segera memundurkan badannya untuk mempersilahkan orang lain untuk memainkan permainan itu.
Setelah mereka pergi dari keramaian itu, Abhay bergumam kesal. "Padahal gue belum puas!" seru Abhay merasa dongkol.
Dara pun menoleh menatap Abhay, ia jadi penasaran apa yang membuat Abhay sangat senang dengan permainan itu. "Kakak kenapa suka banget sih sama game itu?" tanyanya.
"Karena gue ngebayangin muka songong Rakha. Jadi gue semangat," jawab Abhay.
Dara menarik salah satu sudut bibirnya, ia merasa heran. Apakah sebegitu bencinya Abhay pada Rakha? Sampai dalam masalah seperti ini pun Abhay masih sempat-sempatnya memikirkan Rakha.
Setelah pergi dari mesin game itu, mereka memilih permainan lain. Dan pilihan mereka tertuju pada sebuah permainan basket yang sepertinya sangat menarik untuk mereka mainkan. Dan benar saja, mereka begitu menikmatinya. Dengan canda tawa yang mengiringi permainan mereka, mereka terlihat sangat bahagia. Mungkin ini maksud dari istilah dunia hanya milik berdua, mereka sampai tak menghiraukan suasana sekitar.
Dari mulai permainan tembak-tembakan, balap motor, lalu hockey table, mereka sudah mencoba semua itu. Mungkin hampir semua game yang ada di sana mereka sudah jajali. Tak peduli dengan jumlah saldo yang sudah mereka habiskan, karena mereka begitu luput dengan kebahagiaan mereka.
Sudah hampir dua jam mereka menghabiskan waktu bersama. Saat energi yang semakin mengurang, mereka sama-sama memutuskan untuk segera pergi dari sana. Dan mereka berencana untuk mengisi energi mereka kembali.
"Kita mau makan diman-a."
Pertanyaan Dara sempat terjeda saat matanya langsung menangkap kehadiran seseorang yang tidak diduga-duga sudah ada dihadapannya saat ini. Kini orang itu menatap Dara dengan herannya.
"Dara," seru orang itu.
Dara membeku, ia bingung harus menyapanya bagaimana. Karena kondisinya kini sedang bersama Abhay dengan posisi mereka yang saling berdampingan. Dia super bingung, karena kini ia sudah tertangkap basah oleh Rakha.
"Kak Rakha," sapa Dara begitu canggung. "Kakak lagi ngapain di sini?" tanyanya, ia bermaksud untuk membuat keadaan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Gue mau nemuin adek gue yang lagi main di sini," jawab Rakha. Lalu Rakha beralih menatap orang yang ada di samping Dara "Kalian lagi ngapain di sini?" tanyanya.
"Kita lagi pacaran lah. Pake nanya lagi!" jawab Abhay sangat sewot.
Mendengar pengakuan Abhay, tentu saja membuat Dara terkejut bukan main. Di saat ia meminta untuk merahasiakan itu, namun Abhay dengan gamblangnya mengakui fakta itu dengan jelasnya. Lalu Dara melotot ke arah Abhay seolah menanyakan maksudnya.
Bukannya peka, Abhay dengan entengnya malah melingkarkan lengannya memegangi bahu Dara. Dan kembali, Dara dibuat terkejut untuk kedua kalinya.
Lalu Abhay beralih menatap Dara. "Ayok kita pergi," ajaknya.
Dara tak sempat merespon, karena Abhay dengan cepatnya langsung menggiring Dara untuk segera pergi dari hadapan Rakha. Dan Dara pun pasrah saja, karena ia sendiri terlajur kehilangan akal melihat tingkah Abhay yang sudah sangat kelewatan.
Sebelum benar-benar pergi dari hadapan Rakha, Abhay menyempatkan dirinya menengok ke belakang untuk melihat Rakha, lalu ia pun melontarkan senyuman penuh kemenangannya. Percaya kan lo sekarang, ucap batinnya