Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
66. Tanggung jawab



"Dara, lo gak papa?!" tanya Abhay sangat khawatir. Ia buru-buru menghampiri Dara yang sudah terduduk di tanah.


Dara hanya bisa meresponnya dengan gelengan kepala, ia mencoba terlihat baik-baik saja walaupun dalam dirinya ia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa di area pipinya. Namun tanpa sadar, setitik cairan merah mulai memenuhi sudut bibirnya. Dengan cepat ia segera menyeka darah itu, agar Abhay tak melihatnya.


Dan sayang, Abhay tetap menyadarinya. Hal itu membuat emosi Abhay mulai mendidih, ia begitu murka. Dengan wajah yang semakin memerah kini perhatian Abhay teralihkan pada Ray. "DASAR ANJING!!!"


Abhay berlari menghampiri Ray dan hendak menghajari Ray dengan brutal. Namun niatnya tak terealisasikan karena tiba-tiba saja datang segerombolan bapak-bapak dan menghalangi Abhay yang hendak memukuli Ray.


"APA-APAAN INI! BUBAR KALIAN SEMUA! ATAU SAYA TELPON POLISI!!" ancam salah satu bapak itu.


Mengetahui sudah banyak orang yang mengelilingi mereka, Ray pun jadi ciut. Ia tak mungkin melawan Abhay di posisinya yang sudah terkepung.


"Ayo ayo bubar!" perintah Ray kepada ketiga temannya. Dan temannya mengangguk nurut dan berlari terbirit-birit meninggalkan kekacauan itu.


Sebelum pergi, bapak-bapak itu sempat menanyakan keadaan Dara dan Dara merasa baik-baik saja. Lalu Abhay memperbolehkan bapak-bapak itu untuk pergi meninggalkan mereka berdua.


Abhay menghampiri Dara lagi. "Dara, lo gak papa?" tanyanya lembut.


"Gak papa kok. Cuman nyut-nyutan dikit aja," jawab Dara sok-sokan kuat.


...****************...


Sebelum pulang untuk menghantarkan Dara, Abhay menawarkan diri untuk mengobati Dara terlebih dahulu. Dara sempat menolaknya, ia hanya ingin cepat-cepat pulang, namun melihat Abhay yang sangat teguh dengan pendiriannya, akhirnya Dara hanya bisa pasrah dan membiarkan Abhay yang akan mengobatinya.


"Ngapain sih lo pake ikut-ikutan berantem segala? Jadi gini kan?!" tanya Abhay sedikit emosi setelah ia baru kembali untuk membeli sebongkah es dan obat oles.


"Ya trus gue ngebiarin Kakak ngelawan mereka semua. Mereka empatan. Masa satu lawan empat. Sehebat-hebatnya Kakak, pasti bakal keok juga," jelas Dara.


Abhay tak menggubris, karena yang dikatakan Dara memang benar. Namun jika ia tahu akan seperti ini, ia lebih baik dikeroyok dari pada harus melihat Dara yang berkorban demi dirinya.


Kini Abhay duduk tepat di depan Dara. Ia akan mengobatinya. "Siniin mukanya," pinta Abhay meminta Dara untuk lebih dekat.


"Udah biarin gue sendiri." Dara hendak menyerobot kompresan itu, namun Abhay malah menjauhkannya.


"Gak! Biarin gue aja. Waktu itu kan elo pernah ngobatin gue, sekarang gantian!" ucap Abhay tegas.


Dara kembali pasrah, Abhay lagi-lagi bersikap keras kepala. Jadi ia mau tak mau menuruti keinginan Abhay untuk mendekatkan wajahnya dan membiarkan Abhay mengobatinya.


Dengan hati-hatinya, Abhay mengobati Dara dengan begitu teliti dan tanpa adanya rasa sakit. Perlakuan Abhay benar-benar membuat hati Dara begitu bergetar. Apalagi dengan posisi mereka yang begitu dekat, Dara jadi bisa melihat dengan jelas bahwa sorot mata cowok itu memang terlihat begitu khawatir.


"Gue tau gue ganteng, tapi ngeliatinnya bisa biasa aja?" tanya Abhay tiba-tiba.


Seketika penglihatan Dara menjadi buyar. Ia jadi salah tingkah saat dirinya ketahuan sedang menatap Abhay begitu dalamnya. "Dih, geer," gumam Dara ngeles.


"Tadi siapa sih? Dateng-dateng ngajak ribut," tanya Dara mengalihkan topik.


"Lawan gue waktu tawuran."


"Emang bener kalo Kakak buat dia masuk rumah sakit? Pasti ada alesannya kan?"


Dari penjelasan itu Dara langsung bisa memahaminya, karena ia tahu, itu memang ciri khas kelakuan Abhay. Abhay tak mungkin tiba-tiba menyalakan api jika tak ada pemantiknya. Apa yang dilakukan Abhay memang selalu beralasan.


"Muka Kakak kenapa sih? Masih kesel sama orang tadi?" tanya Dara, karena ia melihat kedua alis Abhay yang masih bertautan seperti orang menahan kesal.


"Bukan! Gue kesel sama lo!"


"Loh kok?" tanya Dara bingung.


"Bisa gak sih lo diem aja? Gak usah ikut-ikutan berantem. Bersikap anggun kaya cewek pada umumnya. Bisa enggak?" pinta Abhay begitu memaksa.


Dara membuang nafas kasar. Dia pikir ia sudah berbuat salah pada Abhay, namun nyatanya Abhay malah mengkhawatirkannya. "Enggak bisa," jawab Dara enteng.


Kini Abhay yang ikut-ikutan membuang nafas kasar. Salahnya dia juga sudah meminta Dara melakukan hal konyol seperti itu. Ya jelas saja jika Dara tak akan mendengarnya.


Dara beranjak dari kursinya karena Abhay pun sudah selesai mengobatinya. "Udah ah jangan marah-marah terus. Kita pulang aja sekarang," ajaknya.


...****************...


Setibanya di depan gerbang rumah Dara, mereka secara kebetulan melihat keberadaan Bunda Iis yang sepertinya baru pulang dari minimarket. Dengan kedua tangan yang menjinjing dua kantung plastik berisikan belanjaan, Bunda Iis tak jadi masuk ke dalam rumah.


"Kemana aja kalian? Kok baru pulang. Pasti pacaran dulu yah?" goda beliau dengan senyum jahil yang sangat lebar.


"Apaan sih Bunda. Aku beli buku dulu nih," sanggah Dara. Ia mengangkat tinggi-tinggi buku yang baru saja ia beli agar Bundanya percaya. Ya walaupun sebenarnya, secara tak langsung mereka sebenarnya sambil pacaran juga.


Tak lama kemudian, senyum Bunda Iis memudar disaat ia menyadari keanehan dari wajah putrinya itu. "Itu muka kamu kenapa? Lebam gitu," tanyanya, kini rautnya berubah menjadi lebih serius.


Dara memengangi pipi yang dimaksud bundanya. Ia sejenak berpikir, apakah ia harus menjelaskannya?


"Oh ini-" ucapan Dara terpotong karena Abhay lebih dulu menyanggahnya.


"Ini gara-gara saya Tante. Saya yang udah buat Dara memar kaya gini," ungkap Abhay.


Bunda Iis mengerutkan keningnya tak paham. "Kok bisa?"


"Tadi ada anak-anak yang cari masalah sama saya, kita sempat berantem, trus Dara bantu saya tapi malah kena pukul. Maafin saya Tante."


Ternyata tanpa diminta, Abhay malah mengungkapkan fakta itu dengan sejujur-jujurnya. Tindakan yang sudah jarang sekali orang lain lakukan. Kejujuran. Selain jujur, Abhay pun sangat bertanggung jawab. Sudah tampan, baik hati, jujur, bertanggung jawab. Wah ... Dara bener-bener patut bersyukur karena memiliki Abhay.


Lalu bagaimana dengan respon Bunda Iis? Apakah beliau akan marah?


Tak lama, raut wajah serius Bunda Iis kembali ke bentuk semula. Mendengar kejujuran Abhay, beliau kembali mengguratkan kedua sudut bibirnya, ia tersenyum ramah kepada Abhay.


"Oh gak papa kok. Dara udah biasa kaya gini. Di taekwondo pun Dara sering banget pulang-pulang memar kaya gini. Jadi kamu gak usah ngerasa bersalah. Dan terima kasih sudah mau jujur sama tante yah," jelas Bunda Iis dengan bahasa yang sangat keibuan.


Mendengar penjelasan itu, Abhay sempat tak percaya melihat respon Bunda iis yang malah biasa-biasa saja. Dia pikir ia akan dimarahi habis-habisan, dan tadi pun ia sudah pasrah jika Bunda Iis akan memarahinya. Namun sekali lagi. Keluarga Dara memang berbeda dari yang lain. Banyak hal tak terduga yang sudah ia lihat selama ia kenal dengan keluarga Dara. Dan hal itu tentu semakin membuatnya semakin nyaman dan juga membuatnya semakin iri.