Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
80. Back to school



Dua Minggu telah berlalu, liburan semester pun telah berakhir. Walau dua Minggu, rasanya seperti libur dua hari, selalu terasa singkat. Dan hari pertama sekolah selalu menjadi yang tersulit. Dimana mereka harus membangun lagi kebiasaan lama mereka, yaitu bangun pagi. Sangat sulit bukan?


Dara menggeliatkan badannya di atas ranjang. Sebenernya tubuhnya sangat malas untuk beranjak dari benda empuk itu. Jika saja Bunda Iis tak berteriak-teriak membangunkannya, mungkin dia akan memperpanjang sendiri hari liburnya.


Saat semua kebutuhan sekolah sudah beres, Dara pun siap untuk berangkat ke sekolah. Baru saja ia membuka pintu keluar, ia langsung disambut oleh senyuman hangat dari seseorang.


"Pagi!" sapa lelaki itu penuh keceriaan.


Dara mengangkat kedua sudut bibirnya. Hari pertama sekolah yang terasa suram, kali ini terasa cerah di kala ada seorang lelaki tampan yang menyambutnya dengan senyum matahari yang begitu menghangatkan hati.


"Seneng banget mau sekolah? Kangen belajar yah?" tanya Dara menggoda Abhay.


"Gak lah!" sanggah Abhay ngegas. "Pagi-pagi jok motor belakangan gue udah anget. Itu yang gue kangenin," lanjutnya.


"Kalo cuma soal jok motor suruh aja Kak Gilang yang duduk. Kayaknya lebih angetan pantat Kak Gilang dari pada gue," timpal Dara dengan candaan.


Abhay tersenyum geli. Ia pun menarik ikatan rambut Dara dan mengacak rambut yang terurai itu dengan geram. Inilah yang selalu ia rindukan saat bersama Dara. Ceplas-ceplos Dara selalu menjadi mood booster baginya.


"Kak! Gue udah susah-susah nata rambut gue kok malah diberantakin!" Kali ini Dara tak berakting bahwa dia benar-benar kesal.


"Mulut lo tuh yang bikin gue gemes. Masih untung yang gue acak-acak cuma rambut, gak mulut lo juga," balas Abhay tanpa dosa.


Spontan Dara membulatkan matanya lebar-lebar. Perkataan Abhay sudah membuat otaknya kotor, padahal ini masih pagi. "KAK!!" tukas Dara dengan geramnya.


Abhay hanya nyengir kuda tanpa dosa. "Iya iya, sini gue rapihin," tawarnya dengan lembut.


Abhay pun bergerak memegangi rambut Dara yang sudah terurai, ia sok-sokan ingin merapihkan rambut Dara yang acak-acakan itu. Ia menyisirkan rambut Dara dengan tangannya sendiri.


Dara yang diperlakukan seperti itu, ia memandang Abhay begitu lemah. Perlakuan Abhay malah membuat jantungnya berdebar sangat kencang. Abhay yang berniat merapikan rambutnya, malah terasa seperti cowok itu sedang mengelus-elus kepalanya. Dara tak kuat!


"Udah sini gue aja," pinta Dara. Ia merebut ikat rambutnya dari Abhay dan mengikat rambutnya asal. Setelah sudah terikat, Dara bergegas pergi menuju motor dan meninggalkan Abhay lebih dulu.


Abhay yang menyadari Dara yang salah tingkah, ia tersenyum lebar. Selalu menggemaskan jika Dara sudah seperti itu. Lama-lama gue bawa pulang lo!


...****************...


Di pagi hari di dalam kelas 11 IPA 1, di mana kelas Dara berada. "Selamat pagi anak-anak!" sapa Bu Yati kepada anak-anak didiknya.


"Pagi Bu!" jawab mereka serentak.


"Bagaimana liburannya kemarin? Sudah puas liburannya?" tanya Bu Yati lagi.


"Tidak Bu!!" jawab mereka jujur.


"Lalu apa kalian sudah siap belajar?"


"Tidak Bu!!!" jawab mereka lebih keras dari sebelumnya.


Bu Yati tertawa kecil. Beliau sebenarnya sudah menebak bahwa anak-anak didiknya akan menjawab seperti itu. Tadi beliau hanya mengetes saja.


"Ya sudah, karena kalian belum siap belajar dan Ibu sangat perhatian kepada kalian. Hari ini ibu tidak akan mengajar untuk memberi kalian materi," tegas Ibu Yati begitu jelas.


Lantas semua anak-anak yang ada di sana bersorak ria mendengarkan penjelasan Bu Yati. Bu Yati memang seperti itu. Spesialis guru yang sangat bersahabat dan mengerti keinginan anak-anaknya. Tak salah jika Bu Yati dinobatkan sebagai salah satu guru favorit di SMA Nusa Bangsa.


"Wohoo!! Hidup Bu Yati!" teriak salah satu murid laki-laki yang terkenal berisik di kelas itu.


Semua orang pun tertawa mendengar teriakan anak laki-laki itu. Hal itu semakin membuat suasana kelas semakin gaduh bagai di pasar malam. Bu Yati pun sampai kewalahan untuk menenangkan keadaan kelas.


"Halo!!!" teriak Bu Yati sangat keras. Kali ini seruan Bu Yati berhasil membungkam mulut mereka. Keadaan kembali terkendali.


"Tapi ..."


"Yah ..." Mereka semua seketika kecewa, karena satu kata yang menyebalkan baru saja terlontar terdengar dari suara milik Bu Yati.


"Tapi apa Bu?" tanya salah satu siswi.


"Tapi Ibu akan tetap memberi tugas kepada kalian," jawab beliau. "Tolong buat makalah tentang materi yang akan kita bahas. Ibu beri waktu selama seminggu ini. Nanti Minggu depan baru kita akan mulai belajar," jelas Bu Yati.


"Tugasnya perkelompok, Bu?" tanya salah satu murid di antara mereka.


"Iyah kelompok. Kelompoknya yang dulu saja."


Semua anak-anak pun mengangguk paham. Mereka tak kecewa walau baru saja diberi tugas. Dari pada mereka langsung diberi sarapan materi, lebih baik seperti itu, kan? Karena membuat makalah kan tidak harus hari ini. Jadi mereka masih punya waktu untuk berleha-leha di dalam kelas.


"Silahkan jika kalian mau pergi ke perpus untuk langsung mencari referensi makalah. Dan silahkan juga jika kalian mau bersantai-santai, asalkan jangan ribut yah," ucap Bu menjelaskan.


"Iya Bu!!"


"Ya sudah Ibu tinggal yah," pamit Bu Yati.


"Iya Bu!!"


Setelah itu, Bu Yati benar-benar pergi meninggalkan kelas, membiarkan anak-anak untuk melakukan aktivitas sesuka hati mereka.


"Trus kita mau ngapain?" tanya Ruby pada Dara sepeninggalan Bu Yati.


"Hmm ... Ke perpus aja yuk!" usul Dara.


"Mau langsung bikin tugas?!" tanya Ruby sedikit keras, karena ia sebenarnya tak mau jika ia diminta Dara untuk membuat tugas hari ini. Ia masih malas.


"Ya iyah. Tapi kita bisa leha-leha juga di sana. Di sana kan adem ada AC-nya," jelas Dara.


Seketika Ruby pun tersenyum sumringah. "Benar juga yah," ucapnya. "Ya udah yuk kita ke sana." Ruby pun tiba-tiba menjadi sangat bersemangat untuk pergi ke perpustakaan.


Dara dan Ruby serentak beranjak dari bangku mereka. Seperti keinginan mereka, mereka akan pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi tugas dan juga ingin bersantai-santai di sana.


Saat sudah tiba dan tinggal masuk ke dalam perpustakaan, Ruby tiba-tiba menghentikan langkahnya. Spontan Dara juga ikut mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam. "Kenapa?" tanya Dara heran.


"Gue kebelet pipis. Gue ke toilet bentar yah," izinnya pada Dara. Dan Dara pun mengangguk mengerti.


"Ya udah gue ke dalem duluan yah," ujar Dara.


Kini Ruby yang mengangguk paham. Setelah sudah meminta izin, Ruby langsung ngibrit pergi menuju toilet.


Karena sudah ditinggal sendirian, Dara segera masuk ke dalam ruangan buku-buku itu. Ia tak akan langsung berleha-leha, karena niat awalnya pun dia akan mencari referensi tugas, namun akan dimanfaatkan juga untuk bersantai-santai di sana.


Satu-persatu rak buku sudah Dara lewati, ia memilih buku yang ia cari. Namun saat ia berjalan mencari buku di rak terakhir, kakinya tiba-tiba tersandung oleh sesuatu dan membuat kedua lututnya mencium lantai. Dara pun menengok untuk mencari penyebabnya, seketika matanya langsung mendapatkan sepasang kaki yang sedang berselonjor.


Dara memicingkan matanya sambil melihat sepasang kaki itu. Sesaat Dara seperti de javu. Ia ingat, kejadian seperti ini pernah ia alami sebelumnya.


Untuk mengetahui rasa keingintahuannya, perlahan Dara mendekati kaki itu untuk mencari tahu siapa pemiliknya. Saat sudah melihat, Dara membuang nafas panjang. Karena apa yang ia duga ternyata benar. Kejadian yang sama dengan pemilik kaki yang sama.


Kak Abhay.